Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Restu


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


part 36


"Sebenarnya, kakek mau jodohin kamu sama anak teman kakek. Dia juragan sawah. Aku rasa anaknya itu pasti mau sama kamu. Lagi pula kamu juga enak kan dapat perawan, apalagi lihat bodynya."


Duh, Gusti baru kali ini aku lihat kakek-kakek macam begini. Tampilannya aja berwibawa, tapi bahasanya, kacau.


"Kakek! Apaan sih vulgar banget ngomongnya," protes Mas Damar.


"Lah, vulgar kenapa? lagian di sini juga gak ada anak kecil, jadi gak masalah. Langit juga pasti belum paham," jawab kakek dengan santainya. Aku hanya geleng-geleng kepala dibuatnya.


"Tapi di sini ada Saras, Kek. Apa kakek gak malu?"


"Lah kenapa mesti malu. Dia sudah besar ini. Lagian bukankah kalian juga sering melakukanya? kalian tinggal serumah, kan?" Terlihat Mas Damar membulatkan matanya. Sempat hendak protes tapi kalah cepat denganku.


"Maksudnya melakukan apa, Tuan?" tanyaku yang membuat mereka berdua menatapku.


"Kamu bener gak ngerti ucapanku?" tanya kakek seperti memastikan. Aku hanya menggeleng tanpa mengucapkan apapun.


"Melakukan Skidadap awe-awe, atau bahasa lainnya ena-ena." Kini giliran mataku yang membulat, bagaimana kakek bertanya seperti itu meskipun sebenarnya aku juga mau banget.


"Kakek! Astaga. Bagaimana kami melakukan itu, kami tidak ada hubungan apa-apa!" protes Mas Damar lagi, sedangkan yang diprotes tak memedulikan dan masih asyik bermain dengan Langit.


"Bener, Tuan. Lagian saya juga masih perawan." Aku menutup mulut dengan kedua tangan. Bodohnya, siapa yang tanya? bisa-bisanya berkata seperti itu.


"Bagus!" Teriakan kakek mambuat aku dan Mas Damar sama-sama melonjak kaget.


"Bagus kenapa?" tanyaku heran.


"Bagus saja. Kakek tambah seneng sama kamu. Kakek bakal batalin perjodohan dan merestui hubungan kalian," ucap kakek yang membuatku tanpa sadar tersenyum lebar, karena malu aku sampai tak sadar menggoyang-goyangkan tubuh.


Sepertinya banyak bunga-bunga juga yang sedang bertebaran, apa ini yang namanya bunga riba? Lah kagak nyambung, hahaha


"Lihat Damar! dia suka padamu. lihatlah dia sudah malu-malu begitu," lanjut kakek lagi yang makin membuatku tersipu.

__ADS_1


Mas Damar hanya geleng-geleng kepala melihat ulahku dan kakeknya. Lelaki itu berdiri dan pergi begitu saja, mungkin mempersiapkan mental untuk melamarku. asek ... asek ....


***


"Halo selamat malam."


Seperti biasa, Mas Damar sedang makan malam bersama kakek, sedangkan aku dan Arin menjaga Langit saat suara sapaan terdengar.


kami sontak menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat Titisan nyi blorong sedang berlenggak-lenggok menuju meja makan.


"Ternyata informasi yang aku dengar benar, kakek sedang ada di sini." Usai mengecup pipi Mas Damar, perempuan itu beralih mendekat ke arah kakek. Namun, saat hendak mendekat, kakek terlebih dahulu mengangkat tangannya dan menyuruh Angel menjauh.


Titisan Nyi blorong itu mendengkus, terlihat dia sangat kesal dengan kelakuan kakek. Aku dan Arin hanya cekikan melihat pemandangan mengasyikkan itu.


"Bagaimana perjalanannya, Kek? apakah lancar?" tanya Angel setelah mengambil tempat duduk di samping Mas Damar.


"Apa kamu tidak diajarkan agar tidak berbicara saat sedang makan?" jawab Kakek telak. Angel langsung terdiam tanpa banyak protes lagi.


"Sepertinya kalau kakek di sini terus peluangmu dapetin Pak Damar bakal terbuka lebar," bisik Arin ditelingaku.


"Dan peluangmu mendapatkan nyonya majikan kembaran Nia Ramadhani pun di depan mata," jawabku yang langsung mendapat jitakan dari Arin.


Langit dan Arin sudah tidur di kamar, dan seperti biasa aku bertugas menutup semua pintu dan jendela di lantai atas. Sebenarnya ini tugas Mbak Indri, tapi aku memaksanya mengambil alih, hanya menutup jendela bukan pekerjaan berat bagiku.


Saat akan menutup pintu balkon, terlihat kakek sedang duduk sendiri sembari melihat ke arah Langit. Aku turun ke bawah dan berinisiatif membuatkan sesuatu untuknya.


"Tuan, Maaf jika aku menganggu, aku hanya ingin memberikan ini. Wedang jahe akan membantu menghangatkan tubuh tuan." Aku meletakkan wedang jahe yang sudah kubuat tadi di atas meja.


"Kamu bisa membuat wedang jahe?" tanyannya dan mengambil gelas dari meja.


"Saya biasa membuatkan bapak, Tuan. Di kampung, minuman ini menjadi salah satu faforit," jelasku yang diangguki kakek.


"Enak, Siapa namamu?"


"Saras, Tuan,"

__ADS_1


"Duduklah, temani aku sebentar," pinta kakek yang aku angguki.


"Aku dengar dari Damar kamu yang menemukan Langit saat di culik dulu. Dan nama Langit itu darimu."


"Benar, tuan."


"Jangan panggil tuan, panggil aku kakek." Lagi-lagi aku mengangguk.


"Sudah lama bekerja di sini? apa kamu betah?"


"Baru dua bulan, Kek. Alhamdulillah betah."


"Baguslah. Aku senang kamu di sini, melihatmu mengingatkanku kepada Rachel. Hanya saja dia lebih kalem tapi kamu tipikal yang menyenangkan." Aku tersenyum mendengar ucapan kakek.


"Sebenarnya aku sangat kesepian di rumahku sendiri, hanya saja hanya dirumah itu aku bisa menemukan setiap kenangan istriku. Itulah sebabnya aku mengisi kekosongan dengan memelihara kambing-kambing, selain sebagai kesibukan, tentu saja untuk memperoleh keuntungan."


"Apa kakek tidak berniat menikah lagi?" tanyaku yang justru membuat kakek tertawa keras.


"Siapa yang mau menikah dengan orang tua sepertiku? lagipula aku mencari perempuan yang punya bodi kayak truk gandeng, hanya saja setiap aku mendekat mereka justru lari ketakukan, aku seperti pedofil saja," lanjut kakek dengan tertawa keras.


Aku sendiri semakin tidak mengerti dengan pemikiran lelaki ini, tapi benarkah dia pedofil? spontan aku menutup dadaku dengan kedua tangan, kakek memang mempesona, tapi Mas Damar lebih menggairahkan.


"Apa kamu pikir aku benar-benar akan mencari istri baru hingga kamu ketakutan seperti itu?" Sepertinya kakek mengetahui ketakutakanku.


"Eh, bukan begitu, Kek." Aku tersenyum kikuk, malu sendiri rasanya, semoga saja kakek tidak mencabut kembali restunya.


"Lupakan saja. Aku serius dengan ucapanku tentang merestui hubunganmu dengan Damar, hanya saja Damar bukan tipikal orang yang gampang jatuh cinta, jadi berusahalah."


"Tapi kenapa kakek begitu mempercayaiku? aku hanya pelayan, tidak mungkin Mas Damar menyukaiku."


"Ya, karena aku percaya. tak ada alasan lain. Untuk masalah Damar, dia akan menikah dengan manusia, dengan orang yang sayang kepada anaknya. Bukan dengan jabatan, kecantikan ataupun pendidikan, jadi jangan khawatir. Aku selalu mendidiknya untuk lebih menghargai orang lain dan memanusiakan manusia, jadi tidak ada kamus bibit, bebet dan bobot dalam keluarga dan keturunanku."


Aku kagum dengan cara pemikiran kakek, tentang cara didikannya juga. Jarang sekali orang kaya berpikiran sepertinya, benar-benar keluarga bibit unggul.


Kakek bangkit dari duduknya, dan hendak pergi ke dalam kamar.

__ADS_1


"Berusahalah, Ras. Sesekali jangan ragu untuk menggodanya, bila perlu ajak skidadap awe-awe," ucap kakek dengan tertawa kemudian masuk ke dalam.


Ya Salam, kenapa kakek tua ini justru membuatku ingin cepat-cepat kawin.


__ADS_2