
Hawa panas menyerang membuat mata yang semula terpejam mau tidak mau terbuka. Kuedarkan pandangan menuju jarum jam, mata membulat seketika melihat angka di sana, bagaimana aku bisa tertidur seperti ini?
Aku bergegas bangun dan menuju kamar mandi, akibat ketiduran aku lupa menyalakan AC, alhasil tubuh basah penuh keringat. Setelah mandi dan berganti pakaian aku bergegas menuju kamar Langit.
"Nyenyak tidurnya, Ras?" tanya Arin saat aku memasuki kamar Langit.
Terlihat gadis itu sedang mengganti pakaian Langit, sepertinya dia baru saja mandi.
"Maaf, ya, Rin aku ketiduran, harusnya aku bantuin kamu tadi buat menjaga Langit," ucapku dengan perasaan bersalah.
"Tak masalah , Ras. Sepertinya kamu juga lelah. Langit juga daritadi anteng kok," jawab Arin dengan senyum manis.
Aku mendekat ke arah Langit, bocah itu tersenyum melihatku. menggemaskan sekali. Mendadak hati pilu saat mengingat kejadian tadi, apa jadinya jika security tadi tak sigap menangkap Langit? ah membayangkannya saja membuat hatiku menciut.
"Ras, kenapa?" Sebuah tepukan di bahu membuatku tersadar.
"Ah, maaf. Aku hanya melamun saja. apa sudah selesai?" tanyaku padaku Arin.
"Sudah. Lihatlah, dia menggemaskan bukan?" tanyanya dengan mengangkat Langit dari tempatnya.
"Sini! biar aku yang gendong, kamu mandilah," ucapku seraya mengambil Langit dalam gendongan Arin.
"Oh, ya, Ras. Setelah ini kita belanja, ya? tadi Pak Damar menyuruhku untuk membeli perlengkapan Langit, ini kartu kreditnya." Arin menyerahkan kartu kredit padaku.
Mataku menyipit, biasanya selama sebulan ini, setiap akan belanja Mas Damar akan menyerahkan kartu kredit itu padaku, sekarang? semarah itukah Mas Damar padaku?
"Jangan berpikiran aneh-aneh, tadi dia mencarimu kemari, tapi aku bilang kamu sedang istirahat di kamar, mangkanya dia titipkan padaku," jelas Arin yang sepertinya melihat perubahan ekspresiku.
__ADS_1
"Ah, maaf. Aku tidak berpikir seperti itu."
"Kamu kenapa sih, Ras? kaku bener, dari tadi minta maaf mulu," ucap Arin dengan tertawa, aku hanya membalas dengan tersenyum kikuk.
"Entahlah, sejak kejadian tadi pagi, pikiranku jadi tidak tenang," jawabku sembari tertunduk lesu.
"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja, Pak Damar bukan tipe orang yang gampang mengambil keputusan begitu saja," ucap Arin dengan bijaknya. Aku mngangguk menjawab pertanyaanya.
"Satu lagi, Ras. kamu hutang penjelasan soal kejadian tadi pagi." Sebelum melangkah ke kamar mandi, gadis itu masih sempat-sempatnya berbalik menagih janjiku.
Arin telah siap begitu pun aku Langit, aku sendiri telah berganti baju dan siap untuk pergi.
"Rin, pakai kaos! jangan pakai seragam terus. Kamu lagi jalan sama aku, bukan Mas Damar," omelku saat lagi-lagi Arin siap dengan seragam baby sitternya. Padahal sudah berkali-kali aku katakan agar dia memakai baju biasa saja saat keluar denganku.
"Ini bagian dari pekerjaan, Ras. Pak Damar memang tak melihat, tapi Allah tahu, dan aku gak mau mengkhianati pekerjaanku."
"Ah, sok bijak mulu dari tadi. Ya, sudah terserah. ayo berangkat!" ajakku yang dibalas cengiran Arin.
Hampir dua jam berbelanja kami pun memutuskan pulang. Sampai di depan gerbang, terlihat mobil Mas Damar sudah terparkir, ah hanya melihat mobilnya saja aku sudah deg-degan tak karuan, apalagi bertemu orangnya.
"Tenanglah, bersikap biasa saja, tak usah resah begitu." Sikapku sepertinya telah diamati Arin.
Sebelum pulang tadi, kami memang mampir sebentar ke kedai minuman untuk istirahat, di sana pula lah aku menceritakan kejadian tadi pagi kepada Arin.
Aku dan Arin masuk ke dalam, terlihat Mas Damar sedang duduk di depan televisi.
"Kalian sudah pulang?" tanyanya yang kuangguki dan Arin.
__ADS_1
"Berikan Langit padaku, kalian bawa belanjaan dan bergantilah pakaian terlebih dahulu, setelah itu turunlah" ucap Mas Damar yang membuat aku dan Arin mendekat. Arin menyerahkan Langit kepada Mas Damar, sedangkan aku sendiri masih tetap menunduk, belum mampu melihat ke arah Mas Damar.
Aku dan Arin bergerak menuju lantai atas, Arin menuju kamar Langit dan aku menuju kamarku sendiri untuk berganti baju. Setelah sepuluh menit, kami sama-sama keluar dan turun menemui Mas Damar.
"Arin, tolong kamu jaga Langit dulu, ya, aku mau ngomong berdua saja sama Saras," ucap Mas Damar saat kami sudah di hadapannya.
Duh, Gusti ... ada apa lagi ini?
"Duduklah, Ras," perintah Mas Damar saat Arin telah pergi bersama Arin.
Aku mengambil tempat duduk di samping Mas Damar, tapi tentu saja di sofa yang berbeda. Hati sudah berdebar tak karuan, siap menerima segala keputusan yang Mas Damar ucapkan.
"Aku minta maaf," ucap Mas Damar yang spontan membuatku mendongak melihatnya.
"Saya minta maaf buat sikapku tadi pagi, saya sudah mendengar penjelasan dari para security, dan semua diperkuat dengan rekaman CCTV. Kamu tidak sepenuhnya bersalah, jadi sekali lagi saya minta maaf," ucapnya lagi seraya menatapku. terlihat jelas di matanya sebuah penyesalan, duh Gusti, kenapa makin hari makin ganteng saja ini Mas Duda.
"Gak papa, Mas. Saras paham," jawabku sekedarnya. Masih bingung harus berkata apa.
"Tapi saya juga tidak suka kamu sibuk bermain hp saat menjaga Langit. Saya tidak melarang kamu pegang hp, tapi lain kali, saat menjaga Langit, HP kamu tinggalkan saja di kamar." Aku mengangguk penuh semangat. Entah kamana hati yang sebelumnya gundah gulana, yang jelas sekarang aku telah lega.
Baik, Mas. Aku janji akan bekerja lebih baik lagi, Aku akan menjaga Langit lebih berhati-hati lagi."
"Terima kasih."
Merasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku pun pamit untuk menemui Arin dan Langit tapi langkahku terhenti saat mendengar ucapan Mas Damar dari tempatnya.
"Ras, saya butuh kamu, jadi tolong jangan kecewakan saya lagi," ucap Mas Damar dengan penuh keseriusan.
__ADS_1
Duh, Gusti, apa aku tidak salah dengar? kalau tidak ada orang di sini, aku pasti sudah koprol saking senengnya. Sekarang baru butuh, tapi nanti kamu akan lebih dari sekedar butuh padaku.
Lope sekebon, Mas Duda.