Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Ciuman Pertama


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


Part 30


Aku dan Arin sibuk mempersiapkan keperluan Langit. Hari ini, Mas Damar mengajak kami jalan-jalan ke kebun binatang dan tentu saja Aku dan Arin menyambutnya dengan gembira.


Langit telah siap dengan celana pendek dan kaos oblong, sengaja aku beri kaos yang sedikit longgar agar dia bisa bebas bergerak di sana nanti. Tubuhnya yang gembul juga tidak akan kegerahan karena baju yang sempit.


Aku sendiri telah siap dengan celana jeans dan T-shirt yang sedikit pres body, tapi diluarnya tak lupa kututupi dengan sweter tipis agar tak terlalu menonjolkan bentuk tubuh, mengundang kejahatan kata bang napi.


Sedangkan Arin? tentu saja dia masih keukeh dengan seragam baby sitter kebanggaannya. Dia membuatku menjadi seperti nyonya besar saja.


"Saras, Arin, sudah ditungguin bapak di bawah." Panggilan Mbak Indri di depan pintu kamar membuat aku dan Arin menoleh bersamaan.


"Iya, Mbak. kami sudah siap sebentar lagi turun, kok," jawab Arin seraya mengambil Langit dari tempat tidur.


"Mbak Indri gak ikut?" tanyaku dengan membawa tas keperluan Langit.


"Enggak, Ras. takut nanti pegawainya salah tangkap."


"Salah tangkap? Salah tangkap gimana?" tanyaku dengan dai berkerut.


"Iya, salah tangkap karena gak bisa bedain mana Indri mana gajah, kan bodi kita sama," jelas Mbak Indri dengan tertawa.


Aku dan Arin yang semula berpandangan langsung ikut tertawa mendengar penjelasannya. Ternyata bisa ngebanyol juga mbak-mbak satu ini.


"Ish ... Mbak Indri kalau ngomong suka bener deh," timpalku yang membuat kami malah terbahak bersama.


"Ras, Arin, ayo buruan! sudah siang!" Terikan Mas Damar dari lantai bawah sontak membuat kami terdiam seketika.


Aku dan Arin langsung saj ngacir turun ke bawah sebelum Mas Damar semakin ngamuk.


"Kami sudah siap, Mas. maaf lama, tadi lagi jinakin gajah dulu," jawabku yang membuat mata Mas Damar menyipit.


"Gajah? maksudnya?"

__ADS_1


"hehehe ... bukan, bukan apa-apa, Mas. ayo berangkat," ucapku seraya berjalan lebih dulu. Terlihat Arin menyusul dengan menggerutu, entah apa yang gadis itu ucapan, suka-suka dia sajalah.


Aku memasukkan tas perlengkapan Langit di bagasi mobil, tak lupa dengan stollernya. Bocah segede itu, sapa yang betah gendong lama-lama, Meskipilun Arin berbody sexy, tapi tetap saja tak akan kuat jika menggendong Langit mengitari kebun binatang yang gede itu.


Mas Damar masuk ke mobil, sengaja hari ini dia memilih menyetir sendiri. Aku dan Arin duduk dibangku belakang dengan Langit yang masih dalam gendongan Arin.


"Loh, kalian pikir saya ini sopir? Ras, ayo pindah ke depan!" perintah Mas Damar yang menbuat aku dan Arin berpandangan.


Tanpa menunggu perintah lagi, aku segera pindah ke kursi depan.


"Maaf, Mas," ucapku dengan tertawa nyengir. Mas Damar hanya geleng-geleng kepala melihatku.


Perjalan setengah jam berjalan lancar, hari minggu seperti ini, kota yang tiap harinya ramai akan mendadak sepi jika hari minggu telah tiba. Mungkin setelah enam hari lamanya bergulat dengan kemacetan, para warga memilih berdiam diri di rumah menikmati liburan. Lagian salah siapa sekarang dealer mobil bertebaran di mana-mana, pan orang jadi gampang buat kredit, Alhasil lebih banyak mobil ketimbang motor, macet-macet deh.


Mas Damar menurunkan kami di depan kebun Binatang, sementara dia sedang mencari parkiran. Setelah sepulub menit menunggu, mas duda ganteng itu datang dengan mendorong stoller yang lengkap dengan tas Langit di atasnya, pesonanya benar-benar pingin nyosor saja.


Arin meletakkan Langit di atas stollernya, dan kemudian dengan sigap mendorong mendekat ke arah loket. Di sana sudah terlihat Mas Damar sedang antri untuk memberi tiket.


Tiket siap di tangan, Aku dan Arin berjalan bersisian, sedangkan Mas Damar berjalan di depan kami. Meskipun belum terlalu mengerti, tapi Langit terlihat begitu antusias menikmati pemandangan sekitar.


Melihat pemandangan seperti itu, mungkin sebagian orang beranggapan kami keluarga kecil yang sedang berbahagia. Bayangkan saja, Mas Damar menggendong Langit, aku sendiri berjalan di sampingnya dengan sesekali memegang tangan Langit, dan Arin? Maafkan kalau aku harus perkiran seperti ini, lagian siapa suruh dia pakai baju baby sitter, pan jadinya aku kayak majikan bersuamikan lelaki tampan yang menggoda iman. Astagfirullah, maafkan kekilafanku, Gusti.


Sudah hampir dua jam berjalan, kini saatnya makan siang. Restoran pinggir kolam menjadi tempat kami beristirahat, setelah mengingat pesanan Mas Damar dan Arin, kini gantian aku yang pergi memesan makanan.


Setelah memesan makanan, sebuah panggilan alam membuatku mau tak mau menuntaskan hasrat. Setelah sepuluh menit di kamar mandi, aku kembali persis bersamaan seorang pelayan restoran menghampiri Mas Damar.


"Pak, maaf, dompet istri anda ketinggalan," ucap pelayan itu sembari menyerahkan dompetku kepada Mas Damar.


Aku masih berdiri terpaku dibelakang Mas Damar. Mataku membulat seketika, bagaimana pelayan itu bisa berbicara begitu, matilah aku!


"Oh, iya, terima kasih. dia memang sedikit pelupa," jawab Mas Damar sembari tersenyum.


Aku makin melongo, Sedangkan Arin yang sudah sadar akan kehadiranku, menetapku penuh arti, bibrinya tersungging seakan mengejekku.


Namun di sisi lain, mendengar Mas Damar tak mengelak ucapan si pelayan membuat hatiku berbunga-bunga. Andai saja aku beneran menjadi nyonya Damar, duh Gusti kabulin dong.

__ADS_1


Aku kembali ke temapt duduk dengan seolah-olah tak tahu apa-apa. Mas Damar memangku Langit dan bercanda dengan putranya itu, sebelum akhirnya dia menatapku.


"Ini dompetmu, Ras? Lain kali jangan teledor lagi," ucap Mas Damar. Aku hanya mengangguk dan tersenyum kaki.


Sedangkan Arin, di bawah sana kakinya bergoyang-goyang ke arah kakiku, aku melirik kearahnya, dan dia memainkan mata. Gadis resek!


Kami memutuskan pulang setelah makanan habis. Seperti saat berangkat tadi, Aku berada di samping Mas Damar dan Arin di belakang dengan Langit yang sudah tertidur di gendongannya.


Jalanan sudah tak selenggang tadi pagi, beberapa titik sudah terlihat kemacetan. Langit masih pulas di dalam gendongan Arin, sedangkan aku sendiri mulai lelah dan ingin sekali beristirahat.


"Ras ... ras ...." Sebuah panggilan untukku sedikit terdengar. Ingin sekali aku membuka mata, tapi entah kenapa rasanya begitu berat.


Sebuah aroma parfum tercium amat dekat dengan hidungku. Aroma parfum yang amat sangat ku kenal.


Aku membuka mata tepat saat tubuh Mas Damar di depanku.


"Pakai sabun pengamannya, akan sangat bahaya kalau kamu ketiduran," ucapnya dengan memakaikan sabuk pengaman.


Wajahnya masih tetap didepan wajahku. jarak kami mungkin hanya beberapa centi saja. Tatapan kami saling terkunci, hingga kulihat dia semakin mendekat.


Hati berdebar tak karuan, mungkinkah ciuman pertamaku akan kulepas pada Mas Damar? Dia mendekat dan semakin dekat, aku memejamkan mata, bersiap menerima sebuah rasa terindah.


**Hai ... Hai .... Saras datang lagi.


karena Hari ini Author baru saja mendapatkan berita bahagia, Oleh karena itu aku update lumayan panjang dikit. hehehe ...


Oh, ya, Aku mau dong dibantuin vote.


KALAU HARI INI VOTE MENCAPAI 1000, BESOK AKU LANGSUNG UPDATE LANJUTANNYA, GIMANA?


kenapa mesti di target, thor? Iya dong, Aku pingin tahu saja seberapa cintanya kalian sama Mas Damar. Lagipula hanya 1000vote, jika tiap orang kasih 100 vote, 10 orang yang vote lunas deh, syukur-syukur dapat lebih, hehehe ...


Anggap saja, keihklasn kalian kasih vote menjadi camukan semangat Author untuk terus berkarya.


So, Aku tunggu ya, guys.

__ADS_1


Kecup sayang untuk kalian semua😘😘😘**


__ADS_2