
Bibit Unggu Mas Duda
part 37
Seperti rutunitas biasa, aku dan Arin menyuapi Langit taman samping rumah. Aku sudah sangat kapok mengajak Langit bermain di teras samping. Kejadian tempo hari benar-benar membuatku trauma.
Ada yang berbeda pagi ini, kami tak hanya bertiga, tapi ada kakek juga yang sedang melakukan olah raga pagi. Kakek memakai training dengan kaos pres bodi yang menonjolkan otot-ototnya. Usia bolej tua, tapi bodi? Biuuh ... tiga ronde masih kuat kayaknya.
Sebuah jitakan mendarat ke kepalaku, kelakuan siapa lagi kalau bukan Arin, gadis itu selalu saja merusak imajinasiku.
"Kamu pasti lagi mikir mesum, iya, kan?" Selidiknya dengan menatapku intens.
"Ih, enggak. Pikiranmu aja itu yang ngawur," elakku yang tak ditanggapinya.
"Halah, aku sudah mulai hafal kelakuanmu. Jangan macam-macam, kamu bisa kehilangan peluang dapatin Pak Damar kalau berani melirik kakeknya," bisik Arin dengan penuh penekanan.
"Lah kan namanya jaga-jaga, Rin. gak dapat cucunya, dapat kakeknya juga oke. Biar gak hilang kesempatan mendapatkan bibit unggul."
"Emang kamu doyan kakek-kakek?"
"Lah kalau kakeknya model begini siapa yang gak doyan? Lihatnya lekukan tubuhnya. Duh Gusti pingin menjamah aku tuh, apalagi kalau sampai terjamah," ucapku sembari menatap ke arah kakek. Enggan rasanya berpaling dengan pahatan indah dari sang pencipta ini.
"Ya Allah mesum banget kamu, Ras. Tapi sejujurnya bener juga sih, itu kakek bodinya gitu banget di kampung olahraga pakai apaan ya?"
"Nah, kan! Akhirnya otakmu normal juga." Aku tertawa terbahak melihat eksprsi Arin yang ternyata tak jauh beda dariku.
"Hei, Babu! kerja yang bener, jangan bercanda terus!" Sebuah bentakan membuatku dan Arin menoleh seketika. Tak hanya kami, Kakek pu bahkan ikut menoleh.
Siapa lagi yang punya kelakuan seperti itu kalau bukan titisan nyi blorong! Dulu emaknya ngidam TOA masjid mungkin ya, suarany cempreng banget.
Dia mendekat ke arahku dan Arin. Sejenak kemudian dia mengambil Langit dari stollernya.
"Ih, kenapa dia jorok banget sih! Kamu itu gak bisa, ya, jaga anak yang bener!" Bentak Angel lagi setelah meletakkan Langit kembali ke stoller.
Baju mahalnya itu tak sengaja terkena makanan Langit yang tertinggal di mulut bayi itu. Terang saja Langit masih belepotan, makanannya saja belum habis.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Anda bisa lihat sendiri kan kalau Langit sedang makan, tak salah jika dia masih belepotan," jawabku dengan membersihkan sisa makanan di mulut Langit.
"Kamu itu bisanya bantah saja. Kalau kamu bisa ngerawat dengan baik tentu saja gak bakal kayak gini." protes Angel dengan bersunggut-sunggut.
"Hei, Topeng monyet! gak perlu teriak-teriak di sini. Ini bukan tempat asalmu. Hutan." Kini ganti suara kakek yang menggelar mendekat ke arah kami.
"Tapi, Kek. Babu ini memang dari dulu kurang ajar. Dia gak pernah bersikap sopan sama aku," aduh Angel ke kakek.
"Siapa yang kurang ajar? Bukankah Saras sudah bilang kalau Langit masih makan? Lagipula kamu memang sepertinya gak cocok jadi ibu, baru kena makanan gitu saja sudah teriak-teriak."
"Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut?" Mas Damar datang dengan jas yang sudah lengkap.
"Eh, Mar. Ini nih kelakuan pembantu kurang ajar kamu. Lihat bajuku jadi kotor," rengek si titisan nyi blorong. Dia memperlihatkan sisa makanan Langit yang ada di bahunya kepada Mas Damar.
Bukan cuma sekedar itu saja, dia bahkan merapatkan tubuhnya kepada Mas Damar. Kalau dilihat, jelas sekali itu dadanya melekat di bahu Mas Damar. Ih ... dasar kegatelan!
"Kamu, kalau gatel, sana garuk! kalau gak bisa sini tak garukin pakai sekrop. Jangan malah dipepet-pepetin ke Damar," ujar kakek seraya mendekat ke arah Angel.
Lelaki tua itu menarik tangan Angel menjauh dari Mas Damar. Terlihat wanita itu amatlah kesal, terbukti itu bibir bisa dikaretin. Dikaretin pakai karet bekas jempol Bu Tejo asyik mungkin, ya.
"Ih, Kakek. kenapa sih sensi banget sama Angel?" protes Angel.
"Aku gak sensi, cuma gak suka. Kamu itu gak tahu diri, sudah ditolak masih saja datang terus," jawab Kakek yang membuat Angel langsung merah padam menahan amarah.
Aku dan Arin hanya diam saja melihat pemandangan gratis ini. Gak perlu nonton sinetron ikan terbang, lihat kelakuan Angel saja sudah sangat drama.
"Damar, lihat. Kakekmu menghinaku di depan para babu." Kini si Angel berganti merengek kepada Mas Damar.
"Panggil orang yang bener. Mereka punya nama. Kamu saja gak bisa menghargai orang, bagaimana mau merawat cucu dan cicitku?" Kali ini terlihat ada penegasan dalam setiap ucapan kakek.
"Sudah ... sudah. Ini masih pagi, jangan ribut. Lagian kamu kenapa pagi-pagi ke sini?" ucap Mas Damar menengahi.
"Selain kangen Langit, aku juga pingin ngajakin kamu dan Langit jalan-jalan besok, kan weekend," rayu Angel dengan lagi-lagi melekat kepada Mas Damar. Mungkin dia masih saudara sama cicak, pinter merayap.
"Gak bisa! besok kami akan pergi sendiri." Belum sempat Mas Damar menjawab kakek lebih dulu menjawab pertanyaan Angel.
__ADS_1
"Loh, kita mau kemana, Kek?" tanya Mas Damar heran, sepertinya ini memang belum direncakan.
"Kita akan ke Malang. Kakek rindu suasana di sana."
"Kalau gitu aku ikut," seru Angel girang, persis kayak bocah yang baru dikasih permen.
"Enggak. Aku cuma mau ngajak Saras dan dia," ucap Kakek sambil menunjuk aku dan Arin.
"Lah tapi kan aku pacar Damar, Kek," protes Angel lagi tak terima.
"Pacar ngaku-ngaku! Ingat, Mar. Kalau kamu bersikeras ngajak si topeng monyet itu, jangan salahin kakek kalau besok kakek bawa sapi ke rumah ini!" ucap kakel seraya masuk ke dalam rumah.
"Damar, kakek kamu nyebelin banget sih."
"Maaf, Ngel. Kalau kakek sudah kasih perintah aku gak bisa nolak," jawab Mas Damar seraya masuk juga ke dalam rumah, tak lupa dengan titisan Nyi blorong yang selalu ngintilin kayak upil.
Setelah semua orang pergi, Aku dan Arin saling pandang, aku tersenyum semringah begitupun Arin. Akhirnya kami merasakan jalan-jalan.
"Rin, kita ke Malang. Dingin kan? Aku siap jadi penghangat kalau Mas Damar kedinginan," ucapku dengan mata berbinar.
"Maksudnya kamu yang pegangin kompor di samping Pak Damar gitu?"
"Ih, sok polos banget, sih! Kamu kan tahu maksudku," protesku tak terima.
"Oalah, Ras, Saras. Emang yakin kamu berani? Lihat kucing kawin aja tutup mata, apalagi kawin sendiri, pingsan duluan pasti," jawab Arin sembari mendorong Langit masuk ke dalam.
Sialan itu bocah, bikin malu aja. Tapi kemarin kan kucing, kalau yang mendekat Mas Damar jelas aku gak tutup mata, tak bukain malahan. Apanya? pintunyalah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai, aku datang. Maafkan, ya, sudah menunggu lama. Kemarin, kebetulan si Nia Ramadhani lagi cuti shooting, jadilah aku yang gantiin. Tapi boongππ kagak ada yang percaya juga, yaπ π
Sebenarnya, aku lagi buntu banget ini, bingung mau nulis apalagi, tapi karena kasihan banyak yang menanti, jadilah aku nulis ini, jadi maaf ya, kalau part ini kurang greget. Sengaja juga sih, agak lama, biar pada kangen, sudah kangen belum? π
So, enjoy dan selamat membaca, Guys. jangan lupa like, vote, dan comentπππ
__ADS_1