Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Ketagihan


__ADS_3

"Assalammualaikum,"


Usai mengucapkan salam, Zakki terpaku sendiri di tempat. Sejak kapan dia mengucapkan salam dengan suara keras begini?


Dulu, dia memang selalu mengucapkan salam, tapi merasa tak ada orang, dia hanya mengucapkannya dalam hati. Tapi sekarang? Mungkinkah di mulai mengakui keberadaan Sea di tempatnya itu?


"Ah, aku sudah gak normal ini." gumam Zakki sendiri.


Usai meletakkan kunci mobilnya, lelaki itu mengedarkan pandangan. Sepi. Tak ada suara apalagi wujud Sea di sana. Zakki menoleh ke arah kamar gadis itu, Kamar itu terbuka. Entah dorongan dari mana, Zakki melangkah mendekat ke arah kamar gadis tersebut.


Zakki melihat sekeliling, kosong. Zakki melangkah ke dalam, dia membuka lemari pakaian dan lagi-lagi yang di dapat hanya kekosongan.


"Kemana Sea? Kenapa tak pamit dulu?" Zakki bergumam sendiri.


Dia melangkah keluar lagi, menuju meja makan dan kulkas, mencoba mencari catatan yang mungkin saja Sea tinggalkan. Lagi-lagi dia tak mendapatkan apapun.


"Apa dia baik-baik saja? Apa ada kata-kataku yang menyakitinya hingga dia pergi dari sini tanpa pamit sedikitpun?"


Zakki terus menerka-nerka, dia bingung mencari jawaban. Kalau memang dia marah, paling tidak keadaannya baik-baik saja. Tapi kalau sampai ada sesuatu yang terjadi padanya bagaimana?


"Kemana kamu Sea?"


Zakki menarik kursi di meja makan, baru saja dia hendak mendaratkan pinggulnya, sebuah bunyi bel terdengar di depan pintu.


Zakki menoleh dengan cepat. "Sea."


Tak menunggu waktu lebih lama lagi, Zakki melangkah mendekat ke arah pintu, dan benar saja di depan sana ada Sea yang sedang tersenyum dengan membawa sebuah mangkok ditangannya.


"Assalammualaikum, Dok!" sapanya.


"Waalaikumsalam." Zakki menghela napas lega, setidaknya ketakutan tak beralasannya tak pernah terjadi.


"Ah, sykurlah. Prediksiku tak pernah meleset. Dokter sudah datang ternyata."

__ADS_1


Zakki mengeryitkan dahi mendengar ucapan Sea, tapi dia tak berniat menanggapi, dia justru ingin menananyakan hal lain.


"Kamu dari mana?" tanyanya.


"Boleh masuk dulu? Ini opornya masih panas."


Zakki mundur dari pintu, memberikan akses jalan kepada Sea. Gadis itu langsung masuk dan menuju meja makan. Zakki menutup kembali pintuny dan menyusul Sea ke dalam.


"Maaf aku tak pamit, Dok. Aku sudah kembali ke apartemenku," jelas Sea setelah meletakkan opor ke atas meja.


"Kartu aksesmu?"


"Sudah berhasil aku dapatkan lagi. Aku minta kartu baru kepada resepsionis di bawah."


Zakki lagi-lagi mengerutkan dahi. Bagaimana bisa? Selama ini, kalau bukan pemilik aslinya, kartu akses cadangan tidak bisa di miliki oleh siapapun. Berikut dengan sandinya. Apartemen itu memang punya Sea, tapi zakki yakin pemilik aslinya pasti milik orang tuanya.


"Bagaimana bisa?"


"Hmm ... bisa saja. Dokter gak usah ikut pusing, mending dokter makan saja. ini buatan aku sendiri loh."


"Ish, dokter negativ thinking terus ih, aman. Dok. Tenang saja."


"Baiklah."


Zakki menarik kursi, sedang Sea menyiapkan piring serta sendook.


"Sebelum pergi, aku udah masak nasi tadi buat dokter, jadi sekarang tinggal makan saja."


Zakki memperhatikan lekat-lekat tingkah bocah itu. Sea dengan cekatan menyendokkan nasi dan ikan kedalam piring zakki.


"Kamu gak makan?" tanya Zakki saat sea tak mengambil makan.


"Nanti saja. Sekarang lihat dokter saja, aku sudah lupa dengan segala jenis rasa, bahkan lapar sekalipun. Tapi tenang saja, aku tidak akan lupa rasa cintaku padamu," celoteh Sea dengan senyum semringah.

__ADS_1


Zakki hanya merespon dengan geleng-geleng kepala.


"Baiklah, dokter makan saja dulu. Aku akan kembali ke kamarku." Sea berdiri dari kursi.


"Kenapa buru-buru?" cegah Zakki cepat.


"Dokter menahanku?" jawab Sea membatalkan langkahnya.


"Bukan begitu, aku belum mengucapkan terima kasih," jawab Zakki dengan kikuk.


"Tak perlu begitu, Dok. Aku sennag bisa masak buat dokter. Aku pamit.'.


Baru beberapa langkah Sea melangkah, Zakki sudah menahannya lagi. "Sea!"


"Ya,"


"Terima kasih."


"Sama-sama."


"Sea!" panggil Zakki lagi.


lagi-lagi Sea menghentikan langkahnya. "Ya, Dok?"


"Ehm ... ehm .. kamu boleh kembali ke sini kapanpun kamu mau," ucap Zakki ragu-ragu.


Sebuah senyum mengembang di bibir Sea. Gadis itu tak mengira Zakki akan berbicara seperti itu.


"Pasti! Tapi nanti, setelah kamu menghalakanku."


Usai berkata demikian, Sea melangkah lagi menuju pintu keluar. Zakki terus memperhatikan hingga punggung gadis itu tak lagi terlihat.


"Kenapa tadi ngomong begitu?" Zakki bergumam sendiri.

__ADS_1


Zakki akhirnya melanjutkan makannya dalam diam. Sesekali dia memperhatikan sekeliling, Ah kenapa begitu terasa sepi baginya. Biasanya, akan ada celoteh Sea yang meramaikan tempat ini.


"Aku sudah benar-benar ketagihan dengan coletah gadis itu."


__ADS_2