
Semangkok bubur hangat telah siap. Aku berpamitan kepada Mbak Indri dan Bik Darmi untuk mengantarkan ke kamar Mas Damar.
Aku mengetuk pintu saat telah tiba di depan kamar. Ketukan kedua terdengat sahutan dari Mas Damar.
"Apa aku menganggu tidurmu, Mas?" tanyaku seraya masuk ke dalam.
Terlihat Mas Damar sedang mengerjapkan mata beberapa kali. Hampir tiga bulan di sini, baru kali ini aku melihat langsung saat Mas Damar bangun tidur. Mau dilihat dari sudut manapun, lelaki itu selalu terlihat menawan, bahkan menurutku dia lebih sexy dengan rambut acak-acakan seperti itu. Jadi pingin nyisirin.
"Memang sudah waktunya bangun, Kok, ini bahkan sudah kesiangan," jawabnya sembari membenarkan letak duduknya.
"Aku membuatkan bubur hangat untukmu. Untuk sementara jangan buat perutmu menunggu lagi, kecuali kalau Mas Damar memang senang sakit."
"Aku kapok sakit lagi, Ras. Aku kapok kamu omelin terus dari semalam."
Aku menatap tajam pada lelaki itu, sedangkan dia hanya tersenyum kecil sembari mangangkat bahu cuek.
"Lebih baik mana, mendengar omelanku apa membaca surat kabar yang isinya, Seorang pengusaha muda mati karena kelaparan? Apa gak malu-maluin banget?" ucapku seraya menyerahkan mangkok bubur padanya.
"Ya, ya, ya, aku memang tak akan pernah menang jika mendebatmu. Eh, hari ini kamu kontrol, kan? biar aku antar," tawarnya sebelum memasukkan sesendok bubur kedalam mulutnya.
"Aku akan berangkat sendiri, Mas. kamu istirahat saja di rumah. Pulihkan kondisimu."
"Aku sudah lebih baik sekarang, aku kuat menyetir."
"Mas, jangan protes terus. Aku gak mau sampai keadaan berbalik, bukannya mengantarku kontrol, yang ada aku malah mengantarmu."
Mas Damar menghela napas, mungkin merasa percuma berdebat terus denganku.
"Baiklah, tapi kamu harus diantar Pak Rusdi. Kali ini jangan protes!"
"Baiklah. Habiskan dulu buburnya. Aku mau melihat Langit sebentar," pamitku yang diangguki Mas Damar.
Kenapa aku jadi seperti seorang Ibu dan istri yang mengecek keadaan keluarganya? Bukankah memang ini yang aku harapkan? semoga cepat terwujud. Amin.
Usai melihat Langit, aku kembali ke kamar. jam sembilan nanti, aku harus segera sampai rumah sakit. Aku mandi dan bersiap-siap sebentar.
Usai mengganti baju, aku mengambil tas, dompet serta handphone yang sejak semalam aku letakkan begitu saja di meja. Ada beberapa pesan Whatshapp terlihat di sana, tak luput nama Zakki pun tertera, penasaran, akhirnya aku menyempatkan untuk membuka pesannya.
'Jangan lupa hari ini kontrol lukamu, aku akan menunggumu'
Kalau biasanya pasien yang akan menunggu dokternya, kali ini justru sang dokter yang menunggu pasiennya. Memang dasar Mbah Ciplek aneh.
'Ok'
Pesan terkirim, memastikan penampilanku sekali lagi di cermin, usai itu aku melangkah keluar menuju kamar Mas Damar. Aku mengetuk pintu, sekali dua kali tak ada sahutan, tak mau mengganggu aku memutuskan untuk turun.
"Ras, sudah mau berangkat?" tenya Mas Damar tiba-tiba saat aku baru menapaki tangga terakhir.
"Eh, ada di sini ternyata, pantesan aku ketuk pintu kamar gak ada sahutan."
"Iya, aku habis dari dapur tadi. Pakai kartu kredit yang kamu pegang saja nanti." Aku mengangguk kemudian berjalan menuju pintu keluar.
"Ras, hati-hati." Pesan Mas Damar lagi yang lagi-lagi kuangguki dan kuberi senyuman manis. sapa tahu dia klepek-klepek.
Lima belas menit perjalanan, aku sampai di lobi rumah sakit. Pak Rusdi menungguku di parkiran, alergi bau obat katanya.
Aku mengambil antrian di resepsionis rumah sakit. Menunggu sekita sepuluh menit akhirnya tiba giliranku untuk masuk.
__ADS_1
Awalnya aku kira akan bertemu Zakki, karena lelaki itu bilang akan menunggu, tapi ternyata justru Dokter Reno yang sedang duduk di depanku saat ini.
"Mbak Saras, tungguin sebentar, ya? Aku takut ada yang ngamuk kalau aku mengambil alih tugasnya," ucap Dokter Reno yang membuat keningku berkerut.
"Maksdunya gimana, Dok? Tugas siapa?"
Dokter Reno tersenyum dan hendak menjawab, tapi derit pintu yang terbuka membuat dia membatalkan ucapannya.
"Assalammualaikum," sapa sesorang. Aku berbalik seraya menjawab salam, di sana terlihat Zakki mendekat dengan senyum khasnya.
"Nah ini dia orangnya datang. Telat lima menit saja, aku tak akan peduli dengan ancamanmu, kasihan pasienku yang sudah antri di depan," omel Dokter Reno yang membuat Zakki garuk-garuk kepala. Aku makin bingung saja dengan dua orang ini.
"Maaf, maaf, kayak gak pernah muda aja bro," balas Zakki yang kini berdiri di sampingku.
"Lah kamu pikir aku udah tua?"
"Ayo, Ras!" Zakki menyuruhku berdiri, tak peduli dengan Dokter Reno yang melotot ke arahnya.
Aku yang masih bingung hanya menurut saja saat Zakki membawaku ke kamar pasien. Zakki mengambil peralatan medis, dan kembali mendekat seraya memeriksa lenganku terlebih dahulu.
"Kok kamu yang periksa? bukannya Dokter Reno?" tanyaku heran.
"Jadi kamu maunya diperiksa Reno?" Dahiku makin berkerut mendengar jawaban Zakki. Terdengar ada nada kesal dalam ucapannya.
"Kan aku cuma tanya. Lah habisnya aku bingung dengan tingkah kalian berdua."
"Jam kerjaku memang sudah habis. Tapi aku sengaja nungguin kamu, tadi juga pesen sama Reno, kalau kamu datang, yang boleh periksa kamu cuma aku," jawab Zakki kini dengan senyum.
"Kenapa begitu?"
"Maksudnya kenapa kamu mesti repot, kan kamu atau Reno sama saja, sama-sama dokter juga."
"Kenapa mesti repot? aku gak repot kalau itu berurusan denganmu." Lama-lama aku yang sebal sendiri setiap mendengar jawaban Zakki.
"Terserah deh," jawabku acuh.
"Marah?"
"Kenapa mesti marah?" Kini, jawaban berbalik arah, biar rasa dia.
"Ih, gemesin deh," ucapnya seraya mencubit kecil hidungku.
"Ish, kayak anak kecil aja di gituin," protesku yang ternyata membuat Zakki tersenyum.
"Terus maunya diapain, dicium?" ucapnya lirih, seraya menatapku intens.
Aku yang ditatap seperti itu mendadak gelagapan sendiri. Kenapa deg-degan, Gusti.
"Hallo, Antrian masih panjang, kalau sudah selesai silahkan lanjut di luar," Suara Dokter Reno dari arah depan terdengar. Ah, jangan sampai dokter itu berpikiran macem-macem.
"Jangan hiraukan dia. Setelah ini ada waktu? kita makan sebentar, mau?" tanya Zakki masih berdiri tepat di hadapanku.
"Ehm, anu, eeh anu, aku sudah makan."
"Kenapa grogi begitu, sih? Kalau begitu temenin aku makan, boleh?"
Ah, lelaki ini menyebalkan, siapa yang gak grogi kalau harus ngomong sedekat ini, berdua pula.
__ADS_1
"Tapi, aku ditungguin supir."
"Suruh dia balik dulu, nanti aku yang antar." Entah sihir dari mana, aku mengangguk begitu saja. Terlihat Zakki tersenyum lebar mendengarnya.
"Ayo!" Dia mengulurkan tangan, membantuku untuk turun dari ranjang.
Aku keluar dari kamar dengan tatapan menyelidik dari Dokter Reno dan suster di sampingnya. Ah, mukaku, aku yakin memerah saat ini. Zakki justru terlihat sangat santau, dia duduk di depan Reno dan menulis sesuatu, sepertinya resep obat.
"Sudah, Ayo, Ras! Thanks, Bro!" pamitnya kepad Dokter Reno.
Zakki berjalan ke pintu keluar, dia menungguku di sana sembari menahan pintu.
"Mbak Saras, kalau memang mau kontrol lagi dua hari lagi, gak masalah kok," ucap Dokter Reno yang membuatku makin salah tingkah.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum samar, Zakki membuatku malu saja.
"Harusnya kamu jangan begitu tadi, aku malu sama Dokter Reno," rengekku saat kami berjalan di lobi rumah sakit.
Sebelumnya, aku sudah menghubungi Pak Rusdi untuk pulang terlebih dahulu tadi, awalnya lelaki separuh baya itu mau menunggu, tapi karena aku bilang akan pulang sendiri, dia mau tak mau menurut.
"Emang aku ngapain, sih? perasaan dari tadi gak ngapa-ngapain deh."
"Tadi harusnya biarin Dokter Reno aja yang meriksa aku, kalau kamu ngajak jalan kan bisa janjian, biar gak diledekin kayak tadi."
"Biarin aja. Reno itu sahabatku, dia hanya menggoda saja." Aku mengangguk, tak berniat mendebat lagi.
"Kita makan dimana?" tanyaku saat melewati kantin begitu saja.
"Makan diluar saja, ya? Aku bosan masakan kantin, kamu tungguin di sini dulu, aku mau ke parkiran sebentar." Aku hanya mengangguk.
Zakki sedikit berlari menuju parkiran, jas putihnya mungkin dia tinggalkan di ruangannya, menyisahkan kemeja slimfit warna hitam, membuat kulit putihnya makin terekspos.
Sebuah mobil sedan berhenti di depanku. Tentu saja ini bukan sedan sembarang, apalagi sedan punya tetangga desaku yang berbunyi ngok-ngok kalau di pakai. Mobil ini begitu mengkilat dengan warna merahnya, terlihat begitu mewah, pasti pemiliknya adalah orang kaya.
Pintu depan terbuka, aku menunggu denga tak sabar. Penasara seperti apa sang pemilik, aku melongo kaget saat melihat sang pemilik keluar dan menghampiriku.
"Ayo! ngapain bengong di situ." Ajakan Zakki masih tak menggoyahkanku.
Mungkin karena tak direspon, pemuda itu langsung menggandengku menuju mobilnya. Aku mengerjab, kembali kepada kesadaranku.
Setelah beberapa saat aku sadar, bagaimana bisa lupa jika Zakki memang dari keluarga kaya, mempunyai mobil mewah seperti ini harusnya normal-normal saja.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Zakki saat sampai di belakang kemudi. Aku mengangguk dan tersenyum.
Duh, Gusti, maafkan jika jiwa matreku meronta-ronta, tapi mau bagaimanapun aku tetap padamu, Mas Duda.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Nungguin lama, ya? maafkan, yakk. Akhir-akhir ini duta lagi sibuk banget, untung saja ini masih bisa curi-curi waktu.
Btw, Viewerku makin hari makin merosot, apa udah mulai bosen, ya? apa partnya kepanjangan? Kalau iya, aku persingkat saja, nanti cus cerita sebelah. Masih ada dua novel yang belum aku lanjutin, mungkin setelah ini kelar, aku bisa fokus mereka.
Vote dong, mau yang Dikejar Om Seksi atau Bukan Gadis FTV? udah baca, kan? belum? Baca gih, dijamin sama serunya๐ ๐
Aku tungguin coment kalian, yak.
Kecup jauh buat kalian semua๐๐๐
__ADS_1