
Tubuh zakki melemas saat tak melihat Sea di apartemennya. Awalnya dia berharap gadis itu menunggunya di rumah sehingga dia bisa minta maaf, tapi nyatanya, harapannya sia-sia.
Zakki langsung melesat keluar, dia menuju unit milik sea, mungkin saja gadis itu sedang di sana sekarang.
Zakki menekan bel berkali-kali, tak ada tanda-tanda Sea membuka pintu. Zakki bahkan hampir saja merusak bel di depanjya itu. Dia benar-benar mulai prustasi sekarang.
Tak hilang akal, Zakki mengambil handphone dari dalam sakunya, diketiknya sebuah nama yang sekarang sudah berganti gelar.
My_Sunshine.
Nada panggilan telah tersambung, hingga nada hilang Sea tak kunjung mengangkat telepon. Zakki semakin kalang kabut. Tak menyerah pemuda itu mencoba kembali menghubungi kekasihnya itu.
“Halo, Assalammualaiku. Sea kamu di mana?”
Zakki lega bukan main saat panggilannya terangkat. Tanpa menunggu jawaban salam dari seberang dia sudah nyerocos begitu saja.
“Waalaikumsalam. Aku di rumah,” jawab Sea singkat.
“Rumah? Rumah mana? Aku ada di depan apartemenmu sekarang, tapi kenapa gak kamu bukain pintu?”
Terdengar helaan napas dari seberang sana. Zakki memang sangat lemah untuk urusan bujuk membujuk. Lihat saja,harusnya Sea yang sedang marah sekarang, tapi kenapa dia ya ng sepertinya tersudutkan?
“Aku di rumahku sendiri,” jawab Sea lagi, singkat dan padat.
“Tumben? Kamu udah makan? Aku jemput, ya?”
“Gak usah, di sini ada mbak-mbak yang masakin aku.”
Kali ini giliran Zakki yang menarik napas berat. Sepertinya Sea memang dalam mode marah berat, tak biasanya gadis itu menolak ajakannya. Zakki harus bagaimana?
“Kamu marah?”
Andai saja Sea sedang di depan pemuda itu, ingin rasanya dia menelan hidup-hidup pacar tak pekanya itu. harus dia bertanya begitu? Harus juga dia menjelaskan bagaimana perasaanya sekarang ini?
“Sudahlah. Dokter istirahat saja dulu, aku mau makan dan belajar lagi buat ujian besok.”
“Dokter?” Zakki mengulang panggilan Sea lagi. Selama ini Sea tak pernah memanggilnya dengan sebutan itu, apakah Sea lupa dengan panggilan yang dia buat sendiri?
“Sudah, ya, Assalammualaikum.” Alih-alih menjawab, Sea justru mematikan panggilan begitu saja, bahkan tanpa menunggu jawaban salam dari Zakki.
Fix! Sea sedang ngambek berat.
“Arggh!"
Tanpa sadar zakki teriak-teriak sendiri di lorong kosong itu. Dulu, saat dia dalam tahap berharap kepada Saras, zakki selalu bisa mengontrol emosi, segala kemungkinan yang akan dia dapat dari hubungan tak nyatanya dengan saras pun sudah sangat dia pertimbangkan. Zakki terlampau sabar dan tenang.
Tapi sekarang?
Sea benar-benar membuatnya kalang kabut. Bagi Zakki itu hanya masalah sepele, jadi kenapa Sea harus semarah ini? Dan sialnya, Zakki tak tahu harus bersikap bagaimana.
\=\=\=\=\=Bibit unggul mas duda\=\=\=\=
Dua hari berlalu, Sea masih bertahan dengan amarahnya. Zakki pun makin uring-uringan tak jelas. Beberapa kali dia datang langsung ke rumah gadis itu, tapi gadis itu selalu tak di rumah. Saat di hubungi pun Sea selalu menjawab seadanya, tanpa basa-basi apalagi bertanya kabar Zakki.
Satu hal yang pasti, Zakki mulai merindukan gadisnya itu.
__ADS_1
Jadwal padat di rumah sakit membuat Zakki tak bisa berkutik. Beberapa kali dia ingin mencoba menjemput Sea ke kampusnya, tapi rencana hanyalah rencana karena pekerjaannya memang tak memandang kondisi hatinya.
“Burem amat itu muka, udah kaca spion yang keseringan diajak ngelihat masa lalu aja. kenapa?” Reno, si dokter gila itulah satu-satunya tong sampah Zakki sekarang.
Meskipun Zakki paham betul Reno tak cukup pengalaman dalam hal percintaan, tapi entah mengapa asal sahabatnya itu mau mendengarkan keluh kesahnya saja itu sudah lebih dari cukup. Ya, meskipun terkadang selalu ada saja saran nyeleneh dari mulut dokter muda itu.
“Sea masih belum bisa dihubungi. Dia masih mengindariku.”
Reno geleng-geleng kepala. Zakki sudah menjadi bucin akut sekarang, lihat saja, dokter muda yang sering mendapat lamaran dadakan dari para pasien yang ingin menjodohkan anaknya itu sudah seperti mayat hidup. Wajahnya benar- benar tak terurus.
“Usaha dong, Bro. Kirimin makan kek, ajak jalan, kek, kirim berlian atau paket honeymoon, kek. Cewek itu butuh pembuktian, bukan Cuma tawaran.”
"Peket honeymoon palamu? Nikah aja belum!" protes Zakki.
"Ya, sudah nikahin sekarang."
"Ck! Gak guna banget sih curhat sama kamu!"
"Gak guna tapi dari kemarin tiap ngobrol larinya pasti ke Sea lagi. Tapi kalau aku jadi Sea sih, pasti marah juga, malah gak bakal itu telepon tak angkat."
Zakki melirik tajam ke arah Reno, gak Sea gak Reno sama saja! Berlebihan!
"Kalian lebay! Apa salahnya aku? Wajar kan kalau aku gak suka dia deket-deket dengan mantannya?" Zakki membela diri, ya, sampai di detik ini pun lelaki itu masih tak terlalu paham di mana titik salahnya.
"Hei, dokter teladan tapi bego! Apa kabar otakmu? Emang kamu gak gitu? Kamu lupa gimana saat menyuruh Sea buat menunggumu? Menunggumu sembuh dari M-A-N-T-A-NMU?"
Reno sengaja mengeja dan menekankan kata mantan. Apa iya Zakki tak berkaca dari dirinya sendiri?
"Aku sama Saras gak pernah pacaran, dia bukan mantan!"
Zakki diam sejenak, mencoba mencerna setiap perkataan Reno. "Lah tapi kan aku udah jelasin sama dia, dan dia ngerti kok. Sedangkan dia gak pernah bahas mantannya, tau-tau nongol aja. Kan bikin panas."
Reno mendadak gemas sendiri mendengar jawaban-jawaban Zakki. Gak ada peka-pekanya.
"Ya, karena dia lebih menggunakan hati dari pada logikanya! Kamu juga kenapa seenaknya? Dia suruh ngertiin kamu, tapi kamu ngertiin dia sedikit aja gak bisa!"
"Terus aku mesti gimana?"
"Putus ajalah! Kasihan dia. Aku juga siap banget gantiin posisimu buat jadi dokter cintanya."
Zakki melotot seketika. Dia langsung bangkit dan siap menghajar muka tak tahu dirinya Reno.
"Weeh .. becanda, Bro! Sabar-sabar!" Reno buru-buru meralat ucapannya. Zakki sedang kalap sekarang, jangan sampai wajah gantengnya yang seperti Aldebaran babak belur di tangan Zakki.
"Kamu ngomong aneh-aneh lagi, tak patahin hidungmu!"
"Eh, busyet. Sadis bener."
Bukannya menemukan jalan, Zakki makin dibikin pusing dengan jawaban-jawaban Reno. Pemuda itu mengusap-usap wajahnya kasar, bingung harus melakukan apa lagi.
"Sudah. Sana samperin! Pasien gak seberapa banyak hari ini, biar aku yang handel."
Zakki yang semula meredup langsung mendongak, sebuah senyuman terbit dari bibirnya. Namun semuanya tak bertahan lama, mengingat Sea yang sangat susah dihubungi membuat semangatnya turun lagi.
"Percuma. Dia gak bisa dihubungi. Menghindar terus," jawab Zakki lesu.
__ADS_1
Reno mencoba berpikir sejenak, mencoba mencari cara lain. Reno bukan mau sok peduli dengan penderitaan Zakki, sungguh bukan! Dia hanya terganggu saja dengan sikap uring-uringan Zakki selama dua hari ini. Sudah persis saat Sea sedang PMS.
"Kalau kamu gak bisa nemuin dia di sana, kita bikin dia yang ke sini!" ucap Reno dengan mantab.
Zakki hanya memandang Reno tak mengerti.
"Mungkin cara ini sedikit drama tapi biarlah, yang penting gak sampai seperti sinetron ikan terbang."
Zakki makin tak mengerti dengan perkataan Reno. Dia hanya melihat tingkah dokter di depannya itu yang kini sudah sibuk dengan ponselnya.
Reno melakukan sebuah panggilan. Sengaja pemuda itu menyalakan loudsepaker agar Zakki ikut mendengarkan langsung.
Dering pertama terabaiakan.
Dering kedua tak ada harapan.
Dering ketiga menghilang seperti gebetan.
Dan
Di dering ke empat?
"Halo, Assalammualaikum."
Reno dan Zakki spontan langsung melebarkan senyum secara bersama saat mendengar jawaban dari ujung sana.
Suara itu, suara yang saat ini Zakki rindukan. Baru saja dia hendak menyahut, Reno sudah lebih dulu mencegahnya.
"Waalaikumsalam. Sea kamu dimana?" tanya Reno.
"Lagi di kampus." Lagi-lagi cuma jawaban singkat yang Sea suarakan.
"Sea, Zakki sakit. Maagnya kambuh, kamu bisa tengokin gak?"
Zakki melotot tak percaya dengan kebohongan Reno. Dia sehat walafiat, ya, meskipun tidak dengan otak dan hatinya. Tapi, kenapa mesti berbohong?
Sea tak langsung menjawab, terdengar suara helaan kecil di sana.
"Dia kan dokter, dia tahu apa yang mesti dilakukan."
Zakki langsung melongo mendengar jawaban Sea, gadis itu benar-benar mengabaikannya sekarang.
"Aku emang udah kasih dia obat, tapi maksudnya kamu tolong jemput dia, ya? Aku gak bisa anterin karena rumah sakit lagi ramai." Reno masih tak mau menyerah.
"Biar dia istirahat di sana saja, selain pasti lebih terjamin aku juga gak bisa jagain dia di apartemen."
"Lah, kok gitu?"
"Itu rumah sakit, kan? Udah pas banget buat jagain orang sakit, jadi kenapa mesti dibawa pulang?"
Reno dan Zakki langsung terdiam. Mereka dibikin syok dengan jawaban Sea.
"Udah, ya? Aku masih ada ujian lagi. Aku titip dokter Zakki. Assalammualaikum."
Lagi dan lagi, Sea menutup telepon begitu saja. Zakki makin lesu saja di tempatnya, sedang Reno hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengelus dada sendiri, karena dia tak mungkin elus dada tetangga apalagi dada istri pak duda.
__ADS_1
"Sabar, ya, Bro. Aku bisa resepin sianida kalau kamu mau. Atau kalau pingin lebih natural aku bisa siapin suntik mati dengan dosis yang agak banyak biar gak terlalu menyakitkan. Tenang saja, aku pasti mau bantuin kamu untuk bisa tenang selama-lamanya.