Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Sate Cinta


__ADS_3

"Ras," panggilan Mas Damar menghentikan langkahku.


"Itu, kamu salah pakai sandal sebelah. Punyaku yang kamu pakai." Aku sontak melihat ke bawah, Duh Gusti, lagi-lagi kejadian memalukan kembali menghinggapi.


Sembari menggaruk kepala yang tak gatal, aku kembali menukar sandalku dengan Mas Damar, setelah itu tanpa bicara lagi aku lantas pergi ke kamar.


Setelah kembali ke kamar, terlihat Arin sudah menggendong Langit.


"Dari mana, Ras?" tanya Arin saat aku mendekat.


"Itu, dari depan ngobrol sama Mas Damar."


"Ehciyee, PDKT, ya?"


"Harapannya begitu, tapi sayangnya malah dengerin curhatannya Mas Damar mengenang masa lalunya,"


"Tak apa dong, yang awalnya curhat bisa jadi terjerat, terjerat cintamu," ujar Arin dengan menaik turunkan alis. Bisa aja itu kutil badak.


"Ada sih cara cepat buat Mas Damar terjerat," ucapku sembari tersenyum miring.


"Apaan?" tanya Arin dengan penasaran.


"Pelet online," ucapku sembari tertawa terbahak. Arin langsung saja melempar bantal ke arahku. Di mana coba letak kesalahannya?


"Ras, Rin, kalian tidurkah? kalau tidak ayo kita keluar cari makan siang." Suara Mas Damar dari balik pintu membuat kami yang semula terbahak langsung terdiam seketika.


"Iya, Mas. Sebentar lagi kami keluar," jawabku dari dalam dengan menahan tawa.


Arin segera mengganti baju Langit, sementara aku menyiapkan keperluan Langit, seperti diapers dan tisue basah, hanya sebagai jaga-jaga saja, biar tak terlalu keteteran jika terjadi apa-apa nanti.


Kakek sudah siap di depan mobil, aku dan Arin segera menyusul.


"Kita mau makan di mana, Kek?" tanya Mas Damar saat sudah duduk di balik kemudi.


"Aku mau makan sate saja, kayaknya sate kelinci cocok," jawab Kakek sembari manggut-manggut.

__ADS_1


"Tapi ini kan masih siang, Kek. sate kelinci itu cocoknya buat malam hari saja."


"Lah itu kan kata kamu, kalau kata kakek ya, cocok-cocok saja." Tak beda jauh, akhirnya aku tahu sifat tak terbantahkan Mas Damar berasal dari mana. Sekarang dia bisa berkaca sendiri bagaimana rasanya tidak boleh di bantah.


Mas Damar melajukan kendaraan menuju restoran yang menyediakan sate kelinci. Aku tak terlalu paham ini daerah mana, pasalnya aku tak akan ke tempat ini kalau tidak ada yang traktir.


Hampir dua puluh menit akhirnya kami tiba disebuah rumah makan, tempatnya memang tidak terlalu besar, tapi untuk ukuran antrian, ini luar biasa, bisa jadi ini efek dari weekend.


"Mar, kamu pesan saja, aku akan mencarikan tempat duduk!" perintah Kakek kepada Mas Damar. lelaki itu pun mengangguk dan berjalan menuju antrian.


Aku, Arin dan Kakek akhirnya memilih meja yang dekat dengan kolam ikan. Untung saja masih ada bangku kosong, kalau tidak mungkin kami terpaksa harus menunggu entah sampai kapan.


Pesanan telah datang, Mas Damar pun sudah kembali ke kursi. Sengaja aku mengajak Langit agar Arin bisa makan terlebih dahulu. Awalnya tentu saja Arin menolak, dia tak enak kalau harus makan terlebih dahulu, tapi setelah aku memaksa, mau tidak mau gadis itu pun menurut.


Aku mengajak Langit berjalan-jalan, meskipun tidak besar, tapi letak rumah makan ini cukup strategis. Belum lagi ruang terbuka yang menbuat udara keluar masuk dengan leluasa, membuat udara semakin terasa sejuk.


Di samping rumah makan, ada kebun bunga yang cukup indah. Rasanya, jika dipakai untuk selfie akan menghasilkan gambar yang bagus, kembaran Nia Ramadhani dengan bunga-bunga indah menawan, perfecto!!


Kuambil handphone dan siap berpose di depan taman dengan Langit yang ada di dekapanku. Bayi mungil ini sudah teramat paham kamera, buktinya saja tersenyum manis saat jepretan pertama kubuat.


"Bukankah aku sudah melarangmu untuk bermain handphone saat bersama Langit?" Suara Mas Damar mendekat.


Aku masih ingat betul dengan perintah itu, tapi pikirku tadi hanya satu atau dua foto, tak akan menghabiskan banyak waktu, bukankah pula Langit dalam dekapanku, jadi pasti aman.


"Maaf, Mas. Aku hanya ingin selfie bareng Langit di taman ini," jawabku sembari menunduk.


"Ya, sudah, sini Handphonenya!" perintah Mas Damar seraya meraih handphoneku. Aku hanya bisa pasrah bila memang harus menerima hukuman.


"Senyumlah!" Suara Mas Damar terdengar lagi.


Kali ini dia sudah berada di sampingku, dengan kamera handphone di depannya. Apa maksudnya ini? Dia mengajakku selfie?


Tak perlu menunggu lagi, aku segera memperlihatkan deretan gigi putihku. Jepretan pertama sukses, ternyata Mas Damar mengarahkan kamera sekali lagi, jarak kami kini amatlah dekat, Aku bahkan bisa mencium aroma parfum mintnya yang sangat merusak kenormalan otakku.


Tenyata, tak cukup hanya dua jepret saja, Mas Damar bahkan mengajakku berpose beberapa kali. Sesekali dia menyuruhku untuk berdiri sendiri dengan menggendong Langit, memperlihatkan taman bunga yang amat indah. Kami bahkan sudah seperti keluarga bahagia. Duh Gusti, Jangan carikan jodoh lain untuk Mas Damar, cukup aku saja!

__ADS_1


"Ohoo ... ternyata ini yang buat kamu gak balik-balik ke meja?" Kakek datang dari arah rumah makan dengan senyum lebarnya.


"Ah, aku sampai lupa. Kamu makanlah, Ras, biar Langit sama aku." Mas Damar menyerahkan handphone dan mengambil Langit dari gendonganku.


"Tunggu, Ras!" perintah kakek yang membuat aku dan Mas Damar menoleh.


"Tetap di tempatmu dan mana handphonemu!" Aku menyerahkan handphone dengan pikiran bertanya-tanya.


"Mar, lebih dekat!" Aku dan Mas Damar saling melihat dengan mengerutkan kening.


"Lah pas!" seru kakek dengan mengarahkan jempol kepada kami.


Ternyata pria tua telah mengambil gambar saat kami berpandangan tadi.


"Ganti posisi. Mar, pegang pundak Saras. Jangan kaku begitu! seperti orang marahan saja."


"Tapi, Kek. Kami tidak ada hubungan apa-apa," protes Mas Damar.


"Jangan banyak protes! cepetan, keburu sate si Saras jadi dingin!"


Meski ragu, Mas Damar menuruti perintah sang kakek. Tangan kanannya melingkar ke bahuku dengan Langit yang berada dalam gendongan tangan kirinya.


"Cakep! Anggap saja belajar foto prewedding," ucap Kakek sembari tertawa dan meninggalkan kami.


Aku hanya berdiri kaku dengan tangan Mas Damar yang masih melingkar di bahuku. Aku mendongak, dan ternyata Mas Damar juga menatap ke arahku.


🎵Kuingin, mempersuntingmu, Tuk yang pertama, dan terakhir. Jangan kau tolak dan buatku hancur, kutak akan mengulang tuk meminta. Satu keyakinan hatiku ini, engkaulah yang terbaik untukku.


Alunan musik dari Yovie and Nuno terdengar diantara pandangan kami yang masih terkunci. Andai saja lagu itu tak ada, mungkin Mas Damar bisa mendengar detak jantungku yang berdebar hebat.


Gusti, Kulo tresno kale tiyang ganteng niki.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ciye ... ciyee, yang senyam-senyum sendiri. Sudah manis belum ceritanya?

__ADS_1


Aku tunggu like, Coment dan Subscribenya😘😘


__ADS_2