
Aku menggeliat saat secercah sinar matahari menerobos masuk melalui celah jendela kamar. Setelah salat subuh berjamaah tadi, aku dan Mas Damar memutuskan untuk tidur lagi.
Untung saja tidak ada ibu di sini, kalau tidak bisa habis aku diomelinnya tujuh hari tujuh malam hanya karena tidur lagi setelah salat subuh. Pemalas katanya.
Aku memindahkan pelan tangan Mas Damar yang sedari tadi melingkar di pinggangku. Apa kalian berpikir semalam ada acara skidadap awe-awe? Big No! Mas Damar ternyata cukup pengertian dengan tidak menggempurku semalam.
"Malam ini, cukup tidur seperti ini saja," bisiknya dengan memeluk erat tubuhku.
"Tapi mungkin hanya untuk malam ini, karena malam-malam selanjutnya aku tak janji. Kamu terlalu menggemaskan untuk dibiarkan tidur sendiri," lanjutnya dengan berbisik manja.
Ternyata, Tak cuma Aldebaran, Mas Damar pun sudah jadi bucin sekarang. Bedanya, Al belum belah duren, coba kalau sudah, pasti dia lebih akut bucinnya.
oke skip tentang aldebaran. Si Mantan tak sampaiku.
Kamar Langit adalah tujuanku saat ini, masih terlalu pagi, biasanya bocah itu masih tidur pulas, tapi biarlah aku lihat dia sebentar, sejak kemarin aku belum puas menggendong bocah itu akibat di sekap bapaknya.
Benar saja, Langit masih tidur dengan Arin yang juga ileran di ranjangnya. Sepertinya niat untuk mendekat kubatalkan saja, takut akan mengganggu tidurnya.
Tak ada kegiatan lain, aku memutuskan turun ke bawah, sepertinya membantu Mbak Indri dan Mbok Darmi akan lebih menyenangkan.
"Pagi, Mbak Indri, Pagi Mbok Darmi," sapaku kepada dua orang yang sedang sibuk meracik bumbu.
"Eh, Saras, eh maksudku nyonya," jawab Mbak Indri dengan tersenyum kikuk.
Ah, sejujurnya ini yang gak aku suka. Akan ada sekat pembatas yang membuat mereka berbeda padaku. Padahal aku lebih suka mereka seperti biasanya. Bercanda tanpa beban.
"Mbak Indri, ih, siapa nyonya? Panggil aku Saras! gak pakai nyonya-nyonyaan," ucapku penuh penegasan kepada Mbak Indri.
"Lah gimana bisa gitu, kamu majikanku sekarang," jawab Mbak Indri setelah saling pandang dengan Mbok Darmi.
"Majikan kalian tetap Mas Damar. sedang aku tetaplah Saras yang dulu."
"Terus kalau aku dimarahin Pak Damar gimana?"
"Gak bakal, berani marah, gak aku kasih jatah," ucapku penuh kemenangan.
Mbak Indri dan Mbok Darmi saling pandang lagi, hingga akhirnya kemudian mereka terbahak.
"Beneran, ya? Ya sudah deh kita nurut. Eh ngomong-ngomong pengantin baru kok gak keramas pagi-pagi?" tanya Mbak Indri penuh selidik.
"Shampo habis Mbak," jawab sekenanya.
__ADS_1
"Masa? Waah, Pak Damar bisa marah ini. Gimana bisa lupa gak cek shampoo dikamar Pak Damar," gerutu Mbak Indri yang membuatku terkikik. Padahal kan shampoo masih banyak banget, meskipun memang sepertinya harus beli double mulai sekarang.
"Kalau odol, masih?" tanya Mbak Indri lagi.
"Masih, kalau odol gak mungkin habis, Mbak. Gak inget kata kakek? Mas Damar bisa produksi sendiri," jawabku sok serius.
Mbak Indri nampak berpikir sejenak, sepertinya belum bisa mencerna ucapanku. Aku berdiri menuju kulkas, mengambil buah pisang untuk ganjal perut.
Mbak Indri tiba-tiba tertawa kencang, mungkin sudah mulai sadar dengan ucapanku.
"Gayae yang habis nikah, bahasannya gitu terus. Tapi emang bisa dibuat odol, Ras?"
"Coba saja, Mbak. Pak Rusdi suruh puasa 2 atau 3 bulan, setelah itu coba pakai, barangkali sudah berubah jadi odol." Mbak Indri manggut-manggut, seolah mengerti. Awas saja kalau benar dilakuin, bisa-bisa di kubur hidup-hidup aku sama Pak Rusdi, menjauhkan burung dari sangkarnya.
"Eh, Mbak kakek sudah bangun belum?"
"Sudah, Ras. Ini lagi buatin kopi." Kali ini Mbok Darmi yang menjawab.
"Oke, nanti biar aku yang anter. Mbok Darmi bikin kopi biar aku bikin wedang jahe."
Aku mulai terampil mengiris jahe dan setelah cuci bersih kuletakkan pada gelas ditambah dengan sedikit gula. Air mendidih pun sudah ada, tinggal tuang, dan segelas wedang jahe pun siap.
Dengan nampan, aku membawa segelas wedang jahe dan kopi menuju taman samping. Pagi-pagi begini, biasanya kakek lebih suka membaca koran dan minum kopi di sana, hawanya masih sejuk katanya.
Lelaki tua itu mendongak, melipat korannya lantas tersenyum padaku.
"Kamu tahu saja aku butuh yang anget-anget. Memangnya si Damar sekarang sudah ada kamu yang nganetin," ucap Kakek sembari mengangkat gelas berisi wedang jahe.
Memangnya sayur diangetin? Mas Damar sih, gak perlu nunggu dingin sudah minta anget terus. Eh.
"Duduklah, Ras. Aku ingin berbincang sejenak denganmu." Aku mengangguk, sembari mengambil tempat duduk di hadapan kakek.
"Gimana? benar, kan tebakan dulu, Kamu pasti jadi istri Damar." Aku hanya tersenyum malu-malu mendengar ucapan kakek.
"Sudah berapa ronde kalian semalam? lama menduda Damar masih tau lubangnya, kan?" Aku menepuk jidatku, orang tua ini kalau ngomong lupa naruh saringannya.
"Kakek, Astagfirullah. Mas Damar masih oke, Kek. Masih sangat lihai bagiku yang masih belum berpengalaman. Aku saja sampin kelepek-klepek. Jadi, Kakek mau cicit laki-laki apa perempuan sekarang?"
Kakek terbahak mendengar ucapanku, sengaja memang aku jelaskan semuanya, biar lelaki tua ini tak terus-terusan mancing-mancing. Malu euy didengar orang tentang bicaranya yang vulgar.
"Jelas saja dia hebat, siapa dulu kakeknya. Nenekmu saja dulu pas pengantin bari sampai masuk angin gara-gara terlalu sering gak pakai baju." Aku tersenyum kecut. Nenek, maafkan suamimu ini, pastinya dulu engkau sangat tertekan dengan sifat nyablaknya kakek.
__ADS_1
"Aku titip Damar padamu, ya? Jangan pernah dengarkan kalau ada perkataan-perkataan yang menyinggungmu kedepannya. Kamu istri seorang pemilik perusahaan, akan banyak hal yang diluar dugaan terjadi nanti. Tapi kakek yakin, kamu anak yang kuat dan tegas, kamu pasti sanggup menghadapi mereka." Wejangan kakek kudengarkan dengan seksama, kalau lagi bijak kayak gini, sudah persis di panggil kakek-kakek.
"Insya Allah, Kek. Tapi Saras juga masih butuh bimbingan kakek. Kehadiran kakek di sini akan menjadi sumber kekuatan Saras."
Kakek mengangguk mengerti.
"Tak salah aku memilihmu, kamu pasti sangat bisa diandalkan, apalagi tentang urusan ranjang." Gelegar tawa kakek terdengar lagi, memang ini kakek juga gak bisa diajakin ngomong serius terlalu lama.
"Baiklah, Kek. Aku naik dulu ke atas, mau lihat Langit dan Mas Damar apakah sudah bangun." Kakek mengangguk, aku lantas berdiri dari kursiku.
"Tinggalkan Langit untuk sementara waktu, Ras. Karena mungkin saja Damar mengajakmu naik ke temapt yang berbeda, naik ke tubuhnya mungkin, dan membantunya membangungkan adik kecilnya itu."
Kakek terbahak lagi, aku hanya geleng-geleng kepala, lama-lama di sini tak hanya kepalaku saja yang berdenyut, Anuku juga. Eh, jangan mikir anu yang lain, Guys. Kalian imajinasi sendiri saja.
Aku beranjak ke lantai dua, mungkin aku akan mandi terlebih dahulu lalu kemudian menemui Langit. Aku berbelok menuju kamar, Mas Damar masih anteng dengan tidurnya.
Aku segera menuju kamar mandi dan bersiap membersihkan diri. Ah, bodohnya kenapa gak bawa baju ganti, gak mungkin juga ke kamar pakai jubah mandi.
Aku keluar kamar, terlihat Mas Damar sudah bangun dan bersandar di tepian ranjang.
"Loh, sudah bangun, Mas? perasaan tadi aku masuk kamu masih tidur."
"Iya, tapi aroma tubuhmu saat lewat tadi membuatku langsung bisa mengenali," ucap Mas Damar sembari bangkit dari ranjang.
"Gombal aja teruus, dasar bucin" jawabku yang membuat Mas Damar terbahak.
Lelaki itu kini tiba tepat di hadapanku, perasaanku mendadak gak enak melihat tatapan Mas Damar yang mulai berbeda.
"Jubah mandi, berarti di dalamnya pasti belum pakai apa," ucapnya dengan menarikku dalam pelukannya.
"Memang, ini mau minta tolong Mas Damar ambilin baju ganti ke kamar."
"Oke, tapi nanti setelah kita cek apakah ada bagian dalam tubuhmu yang rusak atau lecet."
Tak perlu menunggu jawabanku, Mas Damar langsung mendaratkan ciuman ke bibirku. Tak melepas pagutannya, lelaki itu langsung mengangkat tubuhku di atas ranjang, dan tentu saja dengan jubah mandi yang sudah tak berbentuk. Selebihnya bagaimana? kalian pasti bisa berimajiasi sendiri.
Selagi kalian berimajinasi, maka biarkan aku menikmati sarapan pagi yang bahkan akan terasa lebih panas ketimbang penyetan mujaer. Penasaran? cari lawan sendiri!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saras sama Damar lagi sibuk, Guys. Jangan ganggu mereka dulu. Kalau ada yang baper tapi gak ada lawan, noh, Si Kakek masih oke kalau cuma sekedar genjot- menggenjot🤣🤣🤣
__ADS_1
Kecup jauh untuk kalian semua😘😘😘