
Dua gelas minuman di sodorkan dari arah yang berbeda, bingung juga mau memilih yang mana. Akhirnya tanpa pikir panjang lagi aku pun langsung mengambil dua-duanya. Bukan karena merasa tak enak, tapi lebih karena aku takut mati gara-gara kesedak. Kasihan dong Nia Ramadhani, bisa-bisa dia kehilangan panutannya.
"Mas Damar, kok di sini?" tanyaku saat napas sudah mulai stabil.
"Habis meeting sama klien, sekalian makan siang, dan kebetulan banget ada kamu di sini," jawab Mas Damar datar, sedatar dadaku, eeh ... ganti, gak enak banget di denger, sedatar TV LED.
"Maaf, Mas. Gak ijin dulu mau keluar, tapi ini juga mau pulang kok," jelasku takut-takut.
"Ya, sudah, ayo pulang sekarang!" ajak Mas Damar seraya dia bangkir dari duduknya.
"Pak, tolong jangan marahin Saras, saya yang ajak dia pergi. Kalau bapak masih ada pekerjaan, Saras biar saya yang antar pulang." Zakki membuka suara.
"Dia biar pulang sama saya, kebetulan ada yang mau saya ambil di rumah."
Merasa suasana sudah makin tegang, setegang wajah koruptor yang ketahuan korupsi, aku pun bergegas berdiri. Menjajarkan tubuh di samping Mas Damar.
"Zakk, makasih, ya, buat hari ini. Aku pulang bareng Mas Damar saja. Kamu hati-hati di jalan. Ayo, Mas!"
Tak menunggu jawaban Zakki, aku pun berbalik dan berjalan menuju pintu keluar, sesaat kemudian terlihat Mas Damar sudah menyusul di belakangku.
Aku masuk mobil dan duduk di samping kemudi, kalau lagi horor gini, sebenarnya akan lebih enak jika aku duduk di belakang, tapi nanti Mas Damar protes lagi, dikira sopir nanti.
Selama perjalanan tak ada satu kata pun keluar dari mulut Mas Damar. Suasana yang awalnya sudah horor berasa makin mencekam saja. Akan lebih baik kalau aku di caci, di maki atau bahkan di pukuli, kalau seperti ini aku berasa seorang istri yang tak pernah di gauli. Loh? Makin ngelantur gak karuan saja ini omongan. Maaf, skip, ya, Guys.
Mobil masuk ke halaman ke rumah, sampai sekarang pun Mas Damar tetap diam, jadi serba salah saja aku. Apa Mas Damar semarah itu?
"Mas, Maaf," ucapku memberanikan diri saat hampir saja mencapai pintu masuk rumah.
Mas Damar menoleh sesaat, kemudian beranjak lagi tanpa menanggapi. Duh, Gusti, laki nek nesu kok yo medeni ngene toh.
Aku terus berjalan menunduk, mengikuti di belakang Mas Damar. Hingga di depan kamar Mas Damar, lelaki itu berhenti sejenak dan menatapku.
"Istirahatlah, kamu pasti capek. Langit biar sama Arin dulu," ucap Mas Damar singkat kemudian masuk lagi ke kamar.
__ADS_1
Aaarrrgh ... pingin rasanya teriak aku. Sepeninggal Mas Damar, aku masih di depan kamarnya sembari mencak-mencak tak karuan. Kalau saja tadi aku pamit terlebih dahulu, mungkin keadaannya tak akan begini.
"Ras, ngapain mencak-mencak begitu?"
Aku langsung terdiam dan menoleh ke arah Mas Damar yang muncul lagi di pintu kamarnya.
"Eh, Lagi niruin dancenya BlackPink, Mas. Sapa tahu besok bisa gantiin si Lisa," jawabku sembari nyengir salah tingkah.
Duh, Gusti. Jawaban apa tadi. Ngehalunya kelewat batas kalau ini.
"Ouw, ya, sudah lanjutin. Aku mau ke bawah ambil minum," ucap Mas Damar seraya pergi meninggalkanku.
Tak mau mengulang kesalahan yang sama, aku pun bergegas masuk ke kamar. Sepertinya aku butuh siraman air dingin, biar otak kembali adem.
Malam semakin merajai, sama seperti biasa, setelah Mas Damar makan, kini giliran aku dan Arin yang makan. Entah kenapa semua terasa hambar saja, Mas Damar masih bertahan dengan diamnya, sama sepertiku yang masih setia mempertahankannya di hatiku.
Usai makan, Arin mengajak Langit ke kamar, bocah itu sepertinya sudah ngantuk berat, mungkin lelah setelah bermain-main bersama papanya. Aku memutuskan mengambil tempat duduk di taman samping rumah.
Sapaan Mas Damar bagaiakan angin segar di tandus yang gersang.
"Belum, Mas. Mas Damar juga belum tidur?" tanyaku balik. Lelaki itu mengambil tempat duduk di sampingku. Berasa dejavu dengan kejadian beberapa hari lalu.
"Tadi jalan-jalan kemana?" tanya Mas Damar tanpa menjawab pertanyaanku. Tapi paling tidak ini lebih baik daripada dicuekin seperti tadi siang.
"Hanya ke kebun binatang, naik gajah," jawabku seraya menghadap ke arahnya.
"Naik gajah? Astaga, Ras. Kemarin Doraemon sekarang naik gajah, bener-bener kayak bocah, ya? Gini, ini kira-kira bisa bikin bocah, gak?" tanya Mas Damar dengan tawa menggelegar.
"Hah?" hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Kaget tentunya mendengar Mas Damar bertanya seperti itu.
Jadi pingin jawab, Ayo kita buktikan, Mas!
"Ish ... Mas Damar bisa banyol juga, ya?" jawabku mencoba agar tak salah tingkah.
__ADS_1
"Besok-besok kalau mau kemana-mana lagi, kamu tinggal bilang, Ras. Kalau aku sempat, aku bakal turuti, jangan malah main ilang kayak tadi," ujar Mas Damar yang kini berubah jadi serius.
"Maaf, Mas. Janji gak bakal diulangi lagi," jawabku sembari tertunduk.
Tak di dugu, Mas Damar mengulurkan tangan dan mengacak-acaka pucuk kepalaku.
"Anak pintar," ucapnya sembari tersenyum.
"Ish, biarpun aku suka doraemon dan naik gajah, aku bukan anak-anak lagi, kali, Mas. Bisa dibuktiin kok kalau aku juga bisa bikin anak." Oopps ... seketika aku menutup kedua mulutku.
Dasar setan gak ada Akhlak, demen banget sih godain aku terus. Mas Damar, lihatlah! Setan aja seneng banget godain aku, masa kamu enggak?
"Ciyee, mulai berani nantangin nih sekarang?"
"Enggak! enggak! mana berani aku, Mas." jawabku dengan geleng-geleng kepala.
"Masa? kalau aku yang nantangin, gimana?" tanya Mas Damar dengan mendekatkan wajahnya ke arahku.
Aku memundurkan wajah, bingung harus berekspresi bagaimana. Mas Damar, kamu udah kayak tukang bangunan saja, mengaduk-aduk hatiku.
"Ras, mau gak bantuin aku untuk bangkit lagi?" tanya Mas Damar dengan posisi masih tetap seperti tadi.
Duh, Gusti, jangan beri aku cobaan seberat ini, jadi pingin nyosor saja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Haloo ... lama, yak? Maaf banget, ya? Aku lagi proses brojolan anak kedua, jadi fokusnya makin terbagi.
Eh, brojolan anak bukan melahirkan anak beneran loh, lagi proses novel solo kedua, ada yang mau sekalian pesen?😅😅 tetep promosi terselubung😂😂
Besok diusahain up lagi deh, tapi Insya Allah😅
Kecup jauh untuk kalian semua😘😘
__ADS_1