Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Titisan Nyi Blorong


__ADS_3

"Kamu makin lama makin ngelunjak, ya!" Tangan kanan titisan Nyi Blorong iti bersiap menampar, untung saja aku sigab untuk menahan. Kupegang tangan itu dan langsung kuhempaskan begitu saja.


"Beraninya kamu! Dasar babu gak tau diri. Pergi dari rumah ini!" usirnya dengan muka merah padam.


"Maaf, Nona Angel yang terhormat. Aku memang babu, tapi babunya Mas Damar, jadi tak ada sedikit pun hak anda untuk mengusir saya!" ucapku tegas. Angel tersenyum sinis.


"Baiklah, kamu salah mencari lawan. Kita lihat siapa yang akan menang. Kamu cuma sampah kecil bagiku. Sekali hentak, kamu musnah, babu!" cemoohnya dengan menekankan kata babu.


"Terima kasih untuk tantangannya, Nona. Sekarang aku harus bekerja. Tentunya anda juga tak mau menghabiskan banyak waktu untuk babu sepertiku," sindirku yang akhirnya membuat dia berlalu begitu saja.


Aku langsung bernapas lega, jika boleh jujur sebenarnya aku sangat takut. Berhadapan orang berduit seperti mereka tentu tak sesederhana itu. Namun, ada harga diri yang harus aku pertahankan di sini. Aku memang babu, tapi babu pun punya hak untuk melindungi miliknya.


"Ras, kamu nekat banget, sih? Kita semua di sini saja tidak ada yang berani sama dia," tutur Mbak Indri padaku.


"Selagi kita gak salah kenapa harus takut, Mbak. Orang kayak dia harus dilawan, kalau didiemin malah ngelunjak. Bisa diinjak-injak terus kita," paparku padanya.


"Tapi dia bisa ngelakuin segala cara, Ras. Gak cuma pekerjaan, nyawamu bisa terancam juga," jelas Mbak Indri khawatir.


"Jodoh, maut itu semua di tangan Allah, Mbak. Kalaupun aku harus keluar dari sini, itu mungkin karena rejekiku bukan di sini lagi," ucapku mencoba menenangkan Mbak Indri.


"Kamu hati-hati saja, ya? Aku doain dia gak berbuat macam-macam." ujar Mbak Indri terlihat tulus.


"Amin."


***


Setelah mandi sore, aku dan Arin mengajak Langit jalan-jalan ke mengitari rumah. Sejak kejadian tempo hari, Mas Damar melarang siapapun membawa Langit keluar rumah tanpa persetujuannya.


"Kalian di sini rupanya." Suara khas yang sangat kukenal terdengar dari arah pintu samping. Mas Damar masih berbalut kemeja kerja datang menghampiri.


"Kami sengaja ajak jalan-jalan Langit biar gak jenuh, Mas."

__ADS_1


"Oke, tapi ingat! Jangan sampai keluar rumah," tegurnya seraya mengambil Langit dari kereta dorongnya.


"Oh, ya, Ras. Soal yang kemarin sudah kamu pikirkan? Aku gak mau loh kejadian kayak tadi pagi keulang lagi."


"Sudah, Mas. Aku mau tinggal di sini, tapi beri waktu dua hari buat pamit dan beres-beres," terangku padanya.


"Oke. Tapi besok jangan telat lagi!" tegasnya yang kuacungi jempol.


Suara dering telepon terdengar dari saku celana Mas Damar. Terlihat dia sedikit kesulitan karena menggendong Langit.


"Mas, Langit biar aku gendong," tawarku yang diangguki olehnya. "Ayo, Nak, sama Mbak Saras," ujarku seraya mengambil Langit dari gendongan ayahnya.


"Mbak? Bukannya kemarin mama?" bisik Arin saat Mas Damar menjauh untuk menerima panggilan.


"Ada bapaknya, sungkan," ucapku sembari tersenyum nyengir. Arin hanya membalas dengan sebuah cibiran.


"Kok bisa? Saya ke sana malam ini juga, besok pagi adakan meeting!" Samar, terdengar Mas Damar sedang marah dengan seseroang di seberang sana. Aku da Arin hanya saling menggidikkan bahu melihat itu.


"Eh, tapi aku gak bawa baju ganti, Mas."


"Nanti saya pinjami punya Rachel, tubuh kalian hampir sama, jadi pasti ukurannya pas." Uwuuh ... ternyata selera Mas Damar yang berbadan-badan rata seperti aku ini. Ada peluang, Saras.


"Jangan, Mas. Aku gak enak," selaku saat Mas Damar hendak beranjak.


"Saya gak biasa mendengarkan protes!" ucapnya tegas seperti biasa. Kalau dia sudah begitu, mau tak mau aku pun harus menuruti.


Kami beriringan masuk ke dalam rumah, Mas Damar masuk ke kamarnya, aku dan Arin membawa Langit kembali juga ke kamar.


Sembari menunggu baju yang dijanjikan Mas Damar, aku dan Arin memutuskan bergantian untuk mandi. Arin pergi terlebih dahulu, selaian karena Langit sedang tidur dalam gendonganku, baju dari Mas Damar pun belum muncul.


Pintu diketuk, Mbak Indri muncul dengan sebuah dress di tangan.

__ADS_1


"Ras, ini dari Mas Damar," ucapnya seraya menyerahkan baju tersebut kepadaku.


"Iya, makasih, ya, Mbak." Mbak Indri pun berlalu bersamaan dengan Arin yang keluar dari kamar mandi.


Melihat Arin telah selesai, aku pun meletakkan Langit ke tempat tidur, dia menggeliat, sedikit kutepuk-tepuk dadanya seperti biasa, hingga akhirnya dia berhasil tertidur kembali.


Aku orang yang biasanya paling tidak suka berlama-lama di kamar mandi, mendadak tak ingin keluar. Belum siap bertemu siapapun dengan baju seperti ini. Dress selutut berwarna pink dengan lengan sesiku, modelnya sederhana tapi sangat terlihat mewah dan elegan. Beberapa kali berkaca, rasanya aku tak pantas memakainya, dada ini terlalu rata.


Aku melangkahkan kaki keluar, kulihat Arin yang sebelumnya menyisir rambut langsung menghentikan aktifitasnya.


"Cantik banget," serunya dengan bibir terkembang.


"Terlalu berlebihan gak sih buat aku? Lihat ukuran dadaku? Membuat gaun ini terlihat buruk," ucapku seraya menunjuk bagian dada.


"Cakep kok, ya, biarpun kurang gede dikit," goda Arin dengan tawa menggema.


"Ah, reseekk!"


"Ras, bawa Lang--." Tanpa aba-aba, Mas Damar tiba-tiba membuka pintu. Ucapannya terhenti saat melihat ke arahku.


Kenapa langsung diam? Apakah aku seburuk itu? Dia bukan sedang menyesali memberiku baju bekas mendiang istrinya, kan?"


"Kenapa, Mas? Aku gak pantes, ya? Kan aku udah bilang tadi gak usah, baju sebagus ini bisa terlihat tak menarik kalau aku yang pakai," uraiku panjang lebar.


"Baju itu pas untukmu, kalau kamu mau, kamu bisa ambil beberapa lagi. Rachel pasti senang kalau barangnya berguna buat orang lain," ucap Mas Damar yang mengejutkanku. Wow, di luar dugaan ternyata. Mungkin kata lain dari ucapannya ialah, aku cantik.


"Ehm ... boleh emangnya, Mas?" tanyaku memastikan. Siapa juga yang bakal nolak, apalagi bajunya pasti keren-keren banget.


"aku sudah memberi tahu jawabannya, kan?" balas Mas Damar dengan gaya khasnya. Lelaki ini mungkin kalau diajak saingan sama kulkas menang kali, ya? Dinginnya sama.


Aku mengangguk menanggapi ucapannya. Dia pun berlalu seraya berpesan agar aku membawa Langit turun. Dering ponsel terdengar, tumben, siapa? Aku mengambil ponsel dari dalam tas, sedikit mengembuskan napas kesal saat melihat nama yang tertera.

__ADS_1


Lelaki itu, makin terlihat aneh saja bersikap seperti ini.


__ADS_2