
Hari ini, aku bangun lebih pagi dari biasanya, aku sudah tak sabar rasanya ingin berkreasi dengan makanan Langit. Semalam aku bahkan mengubek-ubek mbah google hanya untuk mengetahui menu makanan apa yang pas untuk bayi yang baru belajar makan.
Kemarin aku dan Arin begitu Antusias belanja segala alat dan bahan yang dibutuhkan. Segala sesuatu yang menurutku berguna, aku beli semua, bodo amat dengan yang namanya harga, toh ini uang bapaknya, buat aku beli sandal harga ratusan ribu aja orangnya gak masalah, apalagi kalau untuk kebutuhan anaknya, dia pasti tak keberatan.
"Ras, sibuk amat, mau ngapain sih?" sapa Mbak Indri yang sedang membantu Mbok Darmi menyiapkan masakan.
Mbok Darmi bertugas sebagai koki di rumah ini, kalau pagi begini, Mbak Indri selalu membantunya menyiapkan makanan. Sejak dulu, hanya pertanyaan ini yang belum kutemukan jawabannya, hanya dua majikan saja asisten rumah tangganya banyak banget, Apa Mas Damar gak sayang sama uangnya?
"Eh, Mbak. Ini lagi mau buatin menu makan buat Langit, dia kan sudah mulai makan," ucapku dengan mengupas wortel.
"Loh, sudah boleh makan toh? Beruntung den Langit punya pengasuh kayak kamu, Ras. Perhatian, telaten sayang lagi sama den Langit."
"Kan memang tugasku, Mbak. Keren itu Mbok Darmi, hafal banget apa yang boleh dan gak boleh Mas Damar makan. Bener gak, Mbok?" tanyaku sembari menoleh ke arah Mbok Darmi.
"Ho'oh," jawab Mbok Darmi sembari tersedu.
Aku dan Mbak Indri langsung menoleh mendengar isakan Mbok Darmi.
"Mbok, kenapa nangis?" tanyaku sembari masih memandang ke arahnya.
"Ini, bikin mewek aja," ucapnya seraya mengangkat bawang merah yang telah dia iris tipis. Aku dan Mbak Indri langsung terbahak mendengarnya.
"Kumenangiiiisss ... Melepaskan, kepergian dirimu dari hidupkuu," sembari mengupas wortel, aku menirukan lagu fenomenal sinetron ikan terbang. Dibandingkan lagu BTS dan teman-temannya, aku lebih suka lagu si penyanyi imut ini, apalagi lagu Umi Elvy, biuuuhh gak ada tandingan.
"Ehem, seru amat pagi-pagi." Suara ornag yang amat kukenal tiba-tiba saja terdengar. aku langsung menutup mulut dan berbalik ke arah pintu dapur.
__ADS_1
Terlihat Mbak Indri dan Mbok Darmi cekikan sendiri. Emang dasar itu emak-emak, gitu kok gak ngasih tau, pan aku takut diajak rekaman.
"Eh, Mas. sudah bangun, iniloh biar mereka terhibur sedikit masaknya. itu Mbok Darmi kan lagi ngulek sambel, sapa tau nanti sambelnya makin sedep kalau nguleknya sambil goyang," ucapku sambil nyengir.
Mas Damar hanya geleng-geleng mendengar ucapanku. Dia berjalan menuju lemari pendingin kemudian mengambil buah apel dari sana.
"Kamu tumben pagi-pagi udah di dapur?" tanyanya sambil duduk di meja makan.
"Iya, ini lagi buatin makan buat Langit, aku lagi semangat ini, pingin tahu reaksi dia pas pertama kali makan."
"Terus rencananya kamu bikin apa?"
"Menurut mbah google, karena Langit ini baru mulai makan, jadi kita kasih menu satu rasa dulu, selain biar dia gak bingung mengenal rasa, kita juga tahu dia alergi apa enggak, jadi untuk dua minggu ke depan, aku bakal kasih dia makan berbeda-beda terus, pingin tahu reaksinya." jelasku dengan mencuci wortel terlebih dahulu.
Aku hanya mesam-mesam tak jelas mendengar ucapannya, aku juga bakal lebih beruntung kalau jadi emaknya, eaaa ....
"Terus apa yang bisa kubantu, Ras?" tanyanya lagi hendak berdiri.
"Gak ada, Mas. Ini tinggal ku kukukus doang bentar, habis itu diblender, saring, udah. Jadi Mas Damar diam aja di situ, gak perlu bantuin apa-apa."
"Jadi, aku cukup lihatin kamu aja ini?"
"Bisa, tapi awas naksir sih, pesonaku diatas rata-rata soalnya," ucapku dengan tampang tak tahu malu.
Mbak Indri dan Mbok Darmi hanya cekikikan saja mendengar ucapanku. Sedangkan Mas Damar mungkin sudah enek mendengar ucapanku hingga reaksinya pun begitu-begitu saja, lempeng terus.
__ADS_1
Kami melanjutkan pekerjaan masing-masing dengan sang juragan yang masih duduk anteng menikmati apelnya, buah cuma sebiji, tapi lama banget habisnya. Dihisap dikunyah, dihisap lagi kunyah lagi, kan aku jadi ngiri sama apelnya, pingin dihisap juga. Ehh ... Astagfirullah Saras, tobat ... tobat!
"Makanan sudah siap," ucapku girang.
"Oke, bagus. Sekarang kita tinggal menunggu Langit."
Mas Damar mengambil handphonenya dan sepertinya dia menelpon kamar Langit menyuruh Arin agar membawa Langit turun.
Aku dan Mas Damar beriringan menuju ruang tamu, jangankan menuju ruang tamu, beriringan menuju pelaminan aja, aku ayookk.
Beberapa menit kemudian, Arin dan Langit turun, aku menyiapkan stoller untuk Langit duduk nanti. Sengaja aku belum membelikan kursi makan kemarim karena memang belum mengetahui reaksi Langit.
Mas Damar menyarankan agar kami makan di halaman saja, sembari berjaga-jaga, apakah Langit rewel nanti. Bocah itu amat suka di alam terbuka, jadi mungkin dengan suasana diluar yang sejuk dan segar akan membuat Langit makan dengan lahap.
Mas Damar mendorong kereta Langit, sedangkan aku mencoba menyuapi suapan pertama. Awalnya bocah itu seperti merasakan apa yang masuk ke mulutnya, hingga beberapa detik kemudian dia tersenyum semringah, seakan berkata, ini Enak.
Aku, Mas Damar, Arin saling berpandagan, merasa senang karena sepertinya Langit menyukai makanan pertamanya. Buktinya saja dia terus melahap setiap makanan yang aku suapkan ke dalam mulutnya.
Saat kami sedang asyik menikmati menyuapi Langit, pintu gerbang terbuka, sebuah mobil fortuner warna silver masuk. Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki bertubuh tinggi besar turun dari mobilnya. Rambut dan jenggotnya memang sudah beruban, tapi tak mengurangi kesan gagah dalam dirinya. Bisa dibilang, dia Mas Damar dalam versi tua nanti.
"Kakek," ucap Mas Damar saat melihat lelaki itu.
Apa? Kakek? Melihat tatapan tajam lelaki yang dipanggil kakek oleh Mas Damar itu membuatku sedikit ngeri. Gusti, akankah cerita-cerita di sinetron ikan terbang itu akan terjadi padaku? Disiksa dan dimusuhi oleh keluarga sang juragan? bahkan mirisnya, kami tidak akan direstui, meskipun ya, kenyataannya tidak ada hubungan apapun yang butuh restu.
Lelaki itu mendekat, Mas Damar yang semula jongkok di depan kereta dorong Langit pun ikut bangkit. Makin lelaki itu mendekat aku makin ngeri, belum lagi tatapannya yang melihatku dengan tajam. Aku menelan saliva berat, semakin lelaki itu mendekat, semakin terlihat jelas sisa-sisa kharismatik saat muda dulu. Satu hal yang kini kuyakini, keluarga ini memang lahir dari bibit unggul kualitas super. Dan oleh karena itu, aku bertekad medmndapatkan salah satu dari mereka, tapi tentu saja Langit tidak termasuk, bisa dibilang pedofil aku. Amit-amit.
__ADS_1