
Bibit Unggul Mas Duda
Part 72
"Tadi gak sengaja juga ketemu Zakki, Mas," ucapku berbohong.
"Ayo sini!" Mas Damar menarik tanganku keluar menuju balai di halaman belakang.
Dibelakang rumah, memang ada kebun tempat ibu menanam buah-buahan. Biasanya, kalau aku sedang merasa gerah atau bosan di dalam, tempat inilah menjadi tujuan. Selain hawanya yang sejuk, suasananya yang tenang membuat betah untuk berlama-lama di sini.
Mas Damar menyuruhku duduk di sampingnya, lelaki itu diam sejenak, sepertinya ada hal penting yang akan dia sampaikan.
"Aku mendengar pembicaraanmu dengan ibu tadi," ucapnya yang menbuatku kaget.
Dia mendengar soal apa? Tentang Zakki? Juragan Ipan? atau justru keraguan ibu padanya?
"Ibu tidak salah jika mempertanyakan perasaanku padamu. Sebagai orang tua, dia pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, tapi aku juga mau jujur padamu,
Aku pernah bilang, jika aku memang tak akan bisa memberikan hatiku utuh untukmu. Rachel, mendiang istriku itu menemani hari-hariku tujuh tahun lamanya, tak gampang untuk melupakan semua tentangnya, belum lagi, ada Langit yang kini diantara kami. Tapi, kini aku mau bangkit, aku mau hidup bahagia lagi bersamamu.
Aku akan berusaha mencintaimu seperti Rachel, hingga akhirnya nanti, bayangan Rachel terkikis dan tergantikan olehmu seutuhnya."
Mas Damar diam sejenak, menarik kedua tanganku yang sedari tadi berada dalam pangkuanku. Kami saling bertatapan, aku mencoba mencari kejujuran dari matanya, dan aku menemukannya.
"Sejujurnya, dari awal aku tak pernah menyangka akan memilihmu untuk menjadi ibu Langit. Tapi beberapa bulan bersamamu, aku merasa nyaman, aku menemukan kebahagian lain.
Aku pernah berusaha menghindar, mncoba menyakinkan diri bahwa aku hanya terbawa suasana, tapi nyatanya jauh darimu membuatku kembali merasakan rindu. Aku sayang kamu, Saras. Berjalanlah bersamaku, bantu aku menciptakan lagi dunia yang baru. Aku dan Langit membutuhkanmu."
Mas Damar mengakhiri ucapannya, mengangkat kedua tanganku dan menenggelamkan wajahnya ke sana.
Aku terharu, akhirnya Mas Damar mengungkapkan perasaannya. Mungkin memang harus begini akhirnya, ada satu hati yang dikorbankan demi mencapai bahagia bersama. Maafkan, Aku Zakki.
"Mas, Manis banget, sih. Belajar ngerangkai kata dari mana?," ujarku yang membuat Mas Damar langsung mendongak.
Lelaki itu melepas genggaman tanganku, tanganya terulur dan mengacak-acak pucuk kepalaku.
"Kebiasaan ngerusak momen," ucapnya dengan tertawa.
__ADS_1
"Tapi aku suka Mas Damar yang kayak gini, daripada kaku kayak kanebo kering, apalagi kalau keluar cueknya, biuh kalah itu kulkas," jelasku yang membuat lelaki itu justru tertawa.
"Kanebo kering, kulkas, besok panggil apa lagi?" tanyanya masih dengan lanjut tertawa.
"Sebenarnya banyak juga julukan buat Mas Damar, bos mesum juga termasuk. Apalagi kalau bahas lingerie merah, langsung keluar deh aura mesumnya." omelku yang membuat Mas Damar berhenti tertawa sesaat. tapi kemudian dia justru tertawa lebih kencang.
Aku mendekat ke arahnya, menutup mulutnya dengan tanganku. Kenapa bisa seenak ini lelaki tertawa, di samperin tetangga kan berabeh.
"Mas jangan keras-keras, elaah. Emang ini rumah mas Damar, jangankan ketawa, teriak-teriak juga gak bakalan ada yang dengar."
Mas Damar meraih tanganku, mengenggem tanganku kembali dengan sisa-sisa tawa yang masih terdengar.
"Ras, ayok nikah. Biar gak hareudang terus aku tiap deket sama kamu kayak gini," ucap Mas Damar yang membuatku menganga.
"Ih, Mas Damar beneran, ya. Kemarin nembak cuma begituan doang, sekarang ngelamar, juga cuma kayak gini doang? di kebun pisang lagi, ya Allah Mas, romantis dikit napa." omelku lagi yang membuat lagi-lagi lelaki itu tertawa.
"Kamu itu, justru aku ngajakin nikah biar kalau aku lagi gemes sama kamu kayak sekarang, aku bisa bebas hukum kamu apa saja," jawab Mas Damar dengan menoel hidungku.
"Ih, emang dihukum apaan? pasti mikir mesum kan?" tunjukku padanya.
Astaga, lelaki ini. Ternyata tingkat kemesumannya tinggi sekali. persis banget kayak kakek. Jadi ngeri bayangin besok pas malam pertama.
"Eh, kenapa mukanya merah gitu, bayangi apa hayoo?" tanya Mas Damar dengan mendekatkan wajahnya.
Aku langsung meraba wajahku, jangan sampai lelaki itu tahu aku sedang berpikiran yang iya-iya.
"Lagi sebel, ngelamar gak ada romantis-roamantisnya," gerutu kesal.
"Terus aku mesti gimana, Sayang? Masa iya aku mesti berubah jadi Ardie Bakrie dulu?"
Mendengar nama Ardie Bakrie di sebut-sebut, sontak aku menoleh ke arahnya. Lelaki itu memandangku dengan muka memelas.
Hei, Nia Ramadhani, tenang-tenanglah kamu sekarang, karena usahaku menikung Ardie Bakrie tak akan lagi terjadi. Aku sudah punya lelaki yang bahkan jauh lebih manis dari suamimu itu. Ah, aku justru mulai kepikiran bagaimana caranya memakai lingerie merah itu.
"Eh, jangan. Biarin Ardie Bakrie bahagia dengan Nia. Nanti kalau Mas Damar jadi Ardie Bakrie juga, ditaksir Nia, terus aku sama siapa?" rajukku yang membuat Mas Damar tersenyum.
"Ciyee ... takut kehilangan, ya?" godanya yang mau tidak mau membuatku mengangguk.
__ADS_1
"Mangkanya ayok nikah!"
"Ngebet banget sih, kebelet, ya?"
"Emang kamu enggak?" tanyanya balik.
"Mancing-mancing, Nih," godaku lagi.
"Kamu itu, tapi aku rela kok dipancing kamu," jawabnya dengan mengacak lagi rambutku.
"Ciyee mulai pinter ngegombal, ya, sekarang."
"Ketularan kamu ini," jawabnya yang membuatku berganti tertwa.
Lelaki itu mengubah arah duduknya. Dia kini berhadap ke depan, dengan kaki dibiarkan menjuntai kebawah.
Aku mendekat, merebahkan kepala dibahu kirinya. Nyaman rasanya, bersandar dengan orang yang selama ini hanya menjadi mimpi bagiku.
Maaf, Zakki. Maaf jika aku terkesan bahagia diatas luka hatimu. Kini, aku mulai tahu hakikat mencintai seperti apa yang kamu katakan. Jika kamu nerimo keputusanku, maka aku pun harus legowo menerima perasaan bersalah kepadamu yang entah kapan akan sembuh.
"Ras, manikahlah denganku," ucap Mas Damar lagi, kali ini tanpa memandangku dan merubah posisinya.
Aku mengangguk, menerima tawarannya dengan senyum semringah.
Lelaki itu meriah tanganku, menggenggamnya erat. Semoga ini akan menjadi awal yang baik untuk kami berdua.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Wohaa ... sudah, yak, part sedih-sedihnya. Sekarang yang manis-manis aja dulu, sembari mengobati luka hati yang patah karena Zakki.
Tapi tenang saja, ini tak akan serta merta membuatku lupa dengan Zakki. Aku pingin Zakki juga bahagia, jadi nanti insya Allah kita buatkan sendiri dunia Zakki yang lebih seru tentunya.
Tim Zakki mau berhenti baca? Monggo, aku sih woles aja. Tapi jangan nyesel kalau sampai kelewatan, karena ditengah kebahagiaan Saras nanti, pasti ada cerita Zakki yang nyempil-nyempil di dalamnya, so stay tune, Guys.
Selamat pagi, semoga harimu mneyenangkan, jangan lupa sarapan dan Jangan makan batako!
Kecup jauh untuk kalian semua😘😘
__ADS_1