Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Membuka Diri


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


Part 109


"Kamu udah tanya Dokter Zakki praktek jam berapa?"


"Belum, Mas. Ntar deh aku tanya rsepsionis dulu."


Siang itu, setelah adegan nyidam-menyidam yang tak biasa, Saras dan Damar sedang melakukan pemeriksaan kandungan di Rumah sakit tempat Zakki bekerja.


Demi menuruti permintaan aneh sang istri, Damar mau tak mau menyetujui nyidam nyeleneh sang istri untuk makan penyetan bareng si Zakki. Untunglah bisa di nego hanya bersama Zakki saja, kalau tidak, mungkin Damar harus pontang-panting dulu nyari si Nia oRamedeni.


"Saras?"


Sebuah sapaan membuat dua orang yang sedang menunggu obat dan vitamin itu menoleh bersamaan.


"Zakki? Kebetulan sekali," jawab Saras dengan semringah.


"Kebetulan? Siapa yang sakit?" tanya Zakii lagi.


"Siang, Dok. Kebetulan sekali bertemu dengan anda. Saya sedang butuh bantuan," jawab Damar seraya bangkit dari duduknya.


Zakki menautkan kedua alisnya. "Bantu apa?"


"Saras sedang ngidam makan penyetan, dan dia tak mau saya temani, dia minta anda yang menemani."


Sesaat Zakki terdiam, dia sedang mencerna ucapan Damar. Dia melirik ke arah Saras yang sedang nyengir tanpa dosa. Hingga akhirnya dia ikut terbahak.


"Kamu hamil, Ras?" tanya Zakki disela tawanya. Wanita yang ditanya iti hanya mengangguk dengan tersenyum lebar.


"Gimana, bisa, gak Dok?" tanya Damar memastikan.


"Bisa tapi ada syaratnya."


"Apa?" tanya Damar dengan mengerutkan dahi.


"Jangan panggil saya Dokter, panggil saja Zakki. Pak."


"Itu aja? Oke, tapi jangan panggil saya bapak juga, saya gak mau jadi bapak kamu."


Zakki dan Damar terbahak bersama, tak terkecuali Saras tentunya.


"Apa ini tidak akan menganggu jam kerjamu?" tanya Damar lagi.


"Enggak, kebutulan jam kerja saya sudah habis sejak tadi pagi, hanya saja IGD sedang ramai tadi, saya hanya membantu sebentar. Ini mau pulang sebenarnya."


"Baiklah kalau begitu, maaf kalau merepotkan." Usai berkata demikian kepada Zakki, Damar berbalik menghadap Saras. "Sayang, aku langsung ke kantor, ya? Nanti kalau sudah selesai, biar Pak Rusdi yang menjemputmu."


Damar mengecup kening istrinya, Saras hanya mengangguk. "Mas, nanti jangan terlalu malam pulangnya."


Damar membingkai pipi Istrinya itu dengan dua telapak tangannya. "Tenang aja, setelah semua beres, aku juga bakal pulang. Kan aku tahu kamu gak bisa jauh-jauh dari aku."


Damar hendak mendekatkan wajahnya lebih dekat, tapi suara deheman dari sanping membuat dia membatalkan niat.


"Tolong dikondisikan, ada jomlo di sini," ujar Zakki sembari terkekeh.


Damar hanya memutar bola mata malas, sedang Saras hanya tersipu malu-malu.


"Ya, sudad titip istriku, ya? Jangan lecet!" ucap Damar menghadap Zakki lagi.


"Tenang, Mas. Dijamin aman, kalau boleh biar saya saja yang mengantarkannya nanti. Eh, tapi kamu sudah gak cemburu lagi sama aku kan, Mas?"


"Tenanglah. Yang berhasil menaruh benih di perut Saras itu aku, jadi gak ada alasan buat aku cemburu."

__ADS_1


Ya, rasa cemburu itu memang benar-benar hilang dari hati Damar. Tak ada alasan yang mengharuskannya mempunya rasa itu, dia tahu benar Saras begitu mencintainya begitupun sebaliknya. Jadi, Untuk apa dia cemburu untuk hal yang sia-sia.


'Pamer! Harusnya dulu itu aku! Eh!'


Zakki menggerutu sendiri dalam hatinya saat melihat Damar pamer dengan sombongnya.


"Baiklah-baiklah. Aku akan jalan sekarang, kamu gak mau kan Mas anakmu ileran?"


Zakki melewati Damar begitu saja, dia menggandeng Saras begitu saja tak menghiraukan tatapan membunuh Damar.


"Hei, Itu tangan kondisikan!"


Teriak Damar tanpa beranjak sedikitpun dari tempatnya. Zakki hanya menoleh sekilas dan mengangakat tangannya dengan senyum licik.


"Aman, Bos!" teriak Zakki sembari terus berjalan.


'Satu sama kita' batin Zakki penuh kemenangan.


Saras yang digandeng Zakki hanya menatap dua orang manusia itu dengan bingung. Sejak kapan mereka jadi akrab begini?


"Ras, besok-besok kalau ngidam kayak gini aja, biar aku punya alasan buat ketemu kamu," ucap Zakki dengan terbahak. Sedang Saras langsung menoyor kepala Zakki.


"Maumu itu!" jwab Saras yang akhirnya membuat mereka tertawa bersama.


***


"Duduklah! Aku akan pesan makanan untukmu."


Saras hanya mengangguk mendengar ucapan Zakki. Gadis itu mengambil tempat duduk sembari menunggu Zakki memesan makanan.


"Bagaimana kandunganmu? Apa dia sehat-sehat saja?" tanya Zakki sembari mengarahkan dagunya ke arah perut Saras.


"Alhamdulillah dia baik. Aku masih belum bisa membayangkan jika perutku membesar nanti."


"Pasti lucu. Selama ini aku hanya melihat orang-orang hamil dan sekarang aku sendiri yang mengalaminya." Zakki terkekeh mendengar penuturan Saras.


"Apa ada morning sicknes?"


"Ada tapi bukan aku?"


"Lah maksudnya?"


"Iya, kadang Mas Damar yang justry muntah-muntah saat bangun pagi sedang aku cuma melihatnya dengan senyum kemenangan."


"Serius? Ah, pasti seru!"


"Tentu saja. Mangkanya cepet nikah!" Mendengar ucapan Saras, Zakki mendadak tersenyum miring.


'Bagaimana aku akan menikah jika hatiju saja dipenuhi dengan nama dan segala macam tingkahmu, Ras' Zakki membatin sendiri dalam hatinya.


"Doakan aku bisa cepat move on darimu, Ras,"


"Zakki, ayolah! Bukankah kamu sudah berjanji padaku untuk terus bahagia?"


"Menyimpan rasaku padamu itu membuatku bahagia."


Saras menatap nanar Zakki yang tersenyum di depannya. Sedalam itukah rasanya lelaki itu padanya?


"Kamu berhak bahagia lebih dari ini. Sea bagaimana?"


Zakki menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa dengan Sea?"


"Sepertinya dia cukup layak dan pantas untukmu, Zakki."

__ADS_1


Zakki menerawang jauh. Sea memang gadis yang baik. Meskipun kadang aneh dan konyol, tapi gadis itu selalu bisa hidup dengan caranya. Sea terlihat begitu mandiri, dia yakin gadis itu sedang menyimpan banyak luka tapi dia selalu bisa menutupinya dengan baik.


"Apa kamu ingin aku dekat dengannya?" tanya Zakki dengan menatap Saras lekat.


"Kamu berhak bahagia, dan beri kesempatan Sea untuk membantumu."


Zakki menghela napas berat. "Baiklah. Demi kamu aku akan belajar untuk itu."


Saras tersenyum mendengar ucapan Zakki. Zakki sendiri entah kenapa begitu lega melihat Saras tersenyum seperti ini. Jika cara ini bisa membuat Saras bahagia, sungguh dia tak keberatan meskipun mungkin nantinya akan menyakiti hatinya dan mungkin juga, Sea.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Yuhuuu ... Sekalian numpang promosi boleh yakk. Sapa tau ada yang nyantol😅😅


Ini akan dibuat versi cetak, ya. Kalau ada yang mau baca beberapa part, silahkan cek profilku. Akan aku up bab 1-10 nantinya.


Judul: Bukan Gadis FTV


Erin Fridayanti


Tak ada yang istimewa dari seorang Naina Hapsari. Dia hanya gadis biasa yang tak cantik apalagi menarik. Disaat remaja seusianya sibuk mempercantik diri, Naina justru sibuk bergulat dengan kopi. Di waktu gadis lain asyik memikat lawan jenis, Naina justru sibuk mempertahankan Beasiswanya.


Ya, Beasiswa itulah yang membuat Naina ada di kampus ini. Salah satu kampus ternama yang ada di kota itu. Untuk ukuran anak seorang petani sepertinya, bisa belajar di kampus sebaik ini tentu menjadi hal yang sedikit mustahil. Namun, berkat kegigihan dan kepandaian Naina, semua mimpi dan harapannya terkabul dengan mudah.


Naina berjuang sendirian di kota besar. Kuliah dan bekerja menjadi pilihannya untuk bertahan hidup. Sebuah kedai kopi menjadi pilihannya mengais rejeki. Tak hanya uang, bahkan sahabat dan saudara pun dia dapatkan di sana. Membuat Naina merasa tak sendiri.


Jika kalian berpikir Naina adalah gadis cupu berkepang dua dengan buku-buku tebal di tangan. Big No! kalian salah besar. Meskipun tak cantik, Naina tergolong manis. Penampilannya pun memang minimalis tapi cukup mampu membuat sang idola kampus menangis teriris.


Naina juga bukan gadis yang dijauhi hanya karena dia mahasiswa beasiswa. Naina mempunyai teman, bahkan seorang sahabat yang selalu ada untuknya dalam keadaan apapun.


"Naina Hapsari? Mahasiswi ekonomi semester lima? Aku Dilan, bukan pacar Milea, mahasiswa pindahan yang baru hari ini masuk,"


Sebuah kesan pertama bagaimana seorang Dilan sang idola kampus mengenalkan diri padanya waktu itu. Naina memang cukup terkesan, tapi sayangnya itu tak bisa menumbuhkan perasaan lebih di hatinya.


Ini bukanlah cerita gadis gadis FTV yang mendadak si miskin bertemu dengan idola kampus yang sekali tabrakan langsung jatuh cinta. Semua tak semudah itu, Marimar!


Terlalu banyak sekat yang harus Naina lewati untuk bisa merasa sebahagia itu. Sang idola kampus memang tertarik padanya bahkan tanpa ragu menyatakan cinta, tapi bukankah gelar idola saja tak bisa menjanjikan sebuah bahagia?


"Bebaskan hatimu, Nai. Biarkan dia merasakan apa yang seharusnya dia rasa. Jangan terlalu terpaku kepada ekspetasi dan realita. Kamu berekspetasi menjauhiku, tapi realitanya kamu justru terpaku di tempat bersamaku. Jadi, kenapa tidak kita jalani saja apa yang terjadi ini?"


Pertahanan Naina jebol saat lagi-lagi Dilan menguratakan rasa. Lewat sebuah anggukan, kedua anak manusia itu bersatu dalam sebuah ikatan yang bernama, pacaran.


Semenjak saat itu Naina yang sebelumnya tak pernah percaya kisah cinta gadis FTV, mendadak menyatakan bahwa semua bisa saja terjadi. Termasuk merubah dia yang bukan siapa-siapa menjadi sang pemeran utama di film yang dia buat sendiri bersama Dilan.


Hari-hari Naina memang berubah, tak ada lagi Naina si gadis biasa. Semua orang menatapnya iri saat genggaman tangan sang idola menempel erat di tangannya.


"Kamu sudah punya aku sekarang, Sayang. Jadi, apapun yang kamu butuh dan inginkan semua akan menjadi tanggung jawabku sekarang."


Kalimat sederhana dari Dilan, tapi sukses membuat Naina terbang ke awan. Naina memang sepolos itu, panggilan sayang saja terkadang bisa membuat dia menegang. Namun, ternyata takdir sedang tak sebaik itu terhadap Naina.


Disaat baru saja mengecap manisnya cinta pertama, Naina justru dihadapkan kepada kenyataan lain. Sebuah keadaan di mana dia harus memilih bertahan atau melepaskan.


Satu persatu masalah mulai menghampiri, termasuk kenyataan lain tentang seorang Rama, pemilik kedai tempat Naina bekerja. Lelaki itu selama ini selalu tampil dengan perhatian dan kasih sayang layaknya seorang kakak. Namun, bekalangan Naina tahu bahwa lelaki itu mempunyai cerita lain tentang dia dan dirinya.


Belum lagi sosok lain yang tiba-tiba muncul. Dia yang harusnya menjadi saingan Naina, tapi justru bersikap baik dan terbuka kepada Naina. Lantas tegakah Naina bersikap buruk kepada gadis itu?


Lantas bagaimana kah Naina harusnya bersikap? Bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Dilan? Bukankah Naina selalu dikenal gara-gara kepintaraannya, lantas tak bisakah dia memecahkan masalahnya dengan kemampuannya itu?


Berhasilkah Naina merubah hidupnya seindah layaknya film FTV? atau justru dia mampu membuat ceritanya sendiri dengan lebih berwarna?


Tak hanya Naina, novel ini juga menceritakan banyak hal. Tentang persahabatan, tentang bagaimana cara mengikhlaskan dan tentang cinta yang seharusnya.


Simpan rasa penasaran kalian dan temukan jawaban lengkapnya di novel Bukan Gadis FTV.

__ADS_1



__ADS_2