Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Curhatan Othor


__ADS_3

Setelah hampir dua jam putar-putar tak jelas arahnya, aku dan Zakki memutuskan keluar dari kebun binatang.


"Kita nyari makan dulu, ya?" tawar Zakki saat kami berada di perkiran.


Aku melihat jam tangan, memastikan bahwa ini tidak terlalu sore. Sebelum Mas Damar sampai rumah, aku harus sudah di rumah lebih dulu.


"Boleh, tapi habis itu pulang, ya? aku gak enak kalau Mas Damar sampai di rumah lebih dulu. Lagian, aku juga gak enak sama Arin, dia jagain Langit sendiria," jelasku sebelum menaiki motor.


"Siap, nanti kita beliin oleh-oleh juga buat teman kamu itu. Dia udah baik hati bolehin aku bawa kamu keluar," jawab Zakki dengan senyum ala pepsodentnya.


Zakki sudah menaiki motor lengkap dengan helmnya. Seperti tadi pagi, lagi-lagi pemuda itu membantuku untuk memakai helm. Mau pagi, siang atau sore wajah ini laki mulus terus deh, heran dia pakai foundation apaan sih?


Zakki melajukan motornya saat aku telah siap. Lelaki itu membawaku ke restoran nasi penyet yang searah jalan pulang.


"Setahuku kamu paling suka sama pedes dan yang berbau sambal, masih suka kan sampai sekarang?" Aku mengangguk antusias. Pasalnya siang-siang begini paling enak jika makan penyetan apalagi ditambah es teh jumbo, biuuh sedap pasti.


"Penyetan di sini sambelnya enak banget, bisa request pedes juga, kamu pasti suka. Ayo masuk!" Zakki menggandeng tanganku masuk begitu saja.


Mungkin karean jam makan siang, restoren ini terbilang cukup ramai. Namun, syukurlah masih ada beberapa bangku kosong. Zakki mengambil tempat duduk lesehan di dekat kolam ikan. Udara yang sejuk serta pemandangan yang indah membuat suasana makin syahdu.


"Mau makan apa, Ras?" tanya Zakki saat seorang waiters menyerahkan menu makanan.


"Aku mau penyet bebek, tambah wader plus es teh jumbo. Eh, ini di traktir kan Zak?" bisikku kepada Zakki.


Sepertinya Waiters tadi mendengar bisikan, hingga terlihat dia menymbunyikan senyuman di balik buku catatan pesanan. Sedangkan Zakki sudah dipastikan dia tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaanku.


"Sudah pasti, Ratu. pesanlah sebanyak yang kamu mau, nanti kalau uangku kurang, kamu jadi punya cukup tenaga buat lari bersamaku," bisik Zakki yang membuat mataku melotot.

__ADS_1


"Gak mau! Gak mau! malu-maluin," omelku.


"Mbak, pesannya samain aja, ya? Jangan lupa yang pedes" ucap Zakki kepada Waiters tersebut. Gadis berseragam dengan nama restoran di dadanya itu pun berlalu setelah mencatat dan menyebutkan kembali pesanan kami.


"Lah, kenapa mesti malu? lari aja yang kenceng, aman deh," lanjut Zakki beralih melihatku sekarang.


"Zakki seriusan! aku gak mau dipukulin massa cuma gara-gara gak bisa bayar makanan," ocehku yang lagi-lagi cuma dibalas kekehan oleh Zakki.


"Becanda, Ratu. Masa iya dokter cakep kayak aku gini bayar makan aja gak bisa? bisa-bisa ditolak jadi mantu nanti sama ibumu."


"Ish ... sombong!" omelku dengan mulut mengerucut.


Lagian, bener juga, ya? kenapa aku jadi lupa begini. Zakki kan dokter, orang kaya lagi, masa bayar penyetan aja kagak bisa?


Tak lama menunggu, seorang pelayan membawakan pesanan kami. Dia menata nasi dan teman-temannya tepat dihadapanku. Sambal yang berlimpah spontan membuatku menelan ludah, tak sabar rasanya ingin segera menyantapnya.


Si Waiters berlalu, aku masih menatap makananku dengan mata berbinar.


Tak menunggu waktu lama, kami sudah siap dengan makanan masing-masing. Aku melahap semua makanan di hadapanku, Zakki pun sama. Bahkan dia tak segan-segan menggerogoti daging yang menempel di tulang-tulang. Sapa yang menyangka bahwa lelaki itu adalah seorang dokter. Benar-benar wibawanya hilang saat ini.


"Kamu bener, sambelnya enak banget, mana nendang lagi," ucapku di sela mengunyah sambal extra pedas ini.


"Benar kan? Lain kali aku bakal lebih sering mengajakmu makan ke sini." Lagi-lagi aku mengangguk antusias.


Sambal yang enak dipandu dengan bebek kremes yang digoreng garing ditambahi dengan wader yang sekali hap langsung hilang, Duh Gusti nikmat mana lagi yang bisa kudustakan?


Entah kenapa dihadapkan dengan hidangan seperti ini, naluri wanitaku yanh harusnya lemah lembut lenyap seketika. Sama halnya Zakki aku pun tak ragu menggerogoti daging yang tersisa di tulang-tulang.

__ADS_1


Aku merasa jadi diri sendiri di sini. Tak perlu sungkan apalagi berusaha jaim. Makan lahap seperti ini hanya bisa kudapatkan saat bersama Dini. Dan kini, bertambah Zakki yang akan menjadi teman makan tanpa perlu merasa malu-maluin.


"Lahap banget, Ras. Enak makanannya?"


Merasa terpanggil aku menoleh, dan sontak saja mataku melotot melihat dia yang kini duduk di sampingku. Makanan yang masih penuh di mulut kutelan langsung, alhasil aku tersedak tak karuan.


Dua orang di hadapanku kini dengan sigap menyodorkan gelas minuman. Aku hanya bisa menoleh ka kanan dan ke kiri, bingung harus memgambil yang mana.


Duh Gusti, rasanya kok kayak istri lagi ketahuan selingkuh gini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Haloo ... aku up lagi nih, maaf kalau gak panjang, karena up ini fungsinya juga untuk menyalurkan keluh kesahku.


Aku mau curhat nih, dari kemarin-kemarin kan banyak tuh yang beda pendapat soal judul dan isi. Saras yang akhir-akhir ini dekat dengan Zakki membuat kalian protes, karena kalau sesuai judul harusnya Saras berakhir dengan Damar.


Bagiku, segala jenis protes itu aku anggap lumrah. Kita bebas berpendapat, selagi tak mengandung unsur adu domba dan sara, bagiku masih oke.


Lah kemarin, ada sebuah coment yang bilang intinya sperti ini, Harusnya pikir dulu ide ceritanya, baru tentuin judul, biar gak melenceng dari judul! Dan jujur saja, ada yang sedikit teremas di dalam sini.


Oke, biar gak makin runyam, aku jelasin lagi di sini. Novel ini, adalah cerita lamaku, sengaja memang baru aku up di sini. Harusnya cerita awal, novel ini berakhir di bab 35 tapi karena aku melihat antusias kalian yang luar biasa aku berniat mengapresiasi dengan memperpanjang bab.


Aku merombak total dari cerita semula. Aku buat agar semanarik mungkin, tidak mengurangi kesangklekan Saras yang sudah melekat di hati kalian. Cerita ini pun masih belum berakhir, jadi segala kemungkinan masih ada.


Ditengah kesibukan dunia nyata yang menyita. Saat kesehatan tubuh yang makin melemah, aku tak ingin membuat kalian kecewa dengan Up terlalu lama. Aku tak ingin di kasihani, tak mau pula di puji ataupun di puja. Cukup bijaklah dalam berkomentar agar tak menyakiti perasaan.


Sekali lagi, cerita ini belum berakhir, segala kemungkinan masih bisa terjadi. Wes, Guys, aku pegel ngetik. Aku wes lega, tak anggap ini sudah selesai. Kalian tenang saja, menghadapi hal seperti ini bukan hal baru bagiku, jadi semua tak akan berpengaruh. Bukan karena tingkah satu orang maka aku akan menyama ratakan semua, itu bukan aku.

__ADS_1


Kalau memang cerita ini tak sesuai dengan harapan kalian, aku minta maaf🙏🙏 tapi cerita ini tercipta berdasarkan kehaluanku pribadi.


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘


__ADS_2