Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Cemburu?


__ADS_3

Arin melongo saat tahu akulah yang menyelamatkan Langit saat diculik dulu. Ekspresinya persis banget kayak ikan ****** yang minta di cium.


"Pantes aja dapat hak istimewa, bisa-bisa besok jadi ibu bos, nih," ucap Arin dengan menaik-turunkan alis.


"Hussh ... jangan ngomong aneh-aneh, tapi aku aminin, ya?" ucapku malu-malu yang langsung dapat lemparan bantal dari Arin.


Lah, bener to? Salahku di mana? Masa ada orang mendoakan baik tidak aku aminin? Padahal aku mau bernadzar, kalau besok beneran jadi ibu bos, dia aku angkat jadi kepala ART, keren kan?


Langit menggeliat, membuyarkan lamunanku yang indah nan mempesona. Kuciumi bayi yang makin hari makin menggemaskan itu. Penampilannya sekarang sangatlah berbeda dengan dia saat bersamaku dulu. Bajunya sekarang lebih bagus dan pastinya mahal, belum lagi aroma bedaknya yang entah ditambahin apa jadi makin wangi. Makin menarik perhatian.


"Kamu hanya beberapa minggu, kan bersamanya? Tapi kamu kelihatan sayang banget sama dia. Belum lagi, maaf, ya, kamu kan cuma sekedar pengasuhnya," ucap Arin pelan karena merasa tak enak padaku.


"Entahlah. Aku memang sekitar dua minggu bersamanya, tapi rasanya aku benar-benar menyayanginya. Bukankah kasih sayang ibu dan anak juga tak bisa dibatasi dengan status?" jawabku yang membuat Arin tersenyum sembari mengangguk.


"Tak salah kalau Pak Damar menjadikanmu penjaga Langit, dia pasti aman di tanganmu. Eeh tapi beneran sayang, kan? Bukan karena bapaknya?" goda Arin lagi.


"Sial! Dasar resek! Bapaknya urusan belakang, kalau berhasil ya, berarti bonus," jawabku sembari tertawa yang disusul tawa juga oleh Arin


Aku mengajak Langit jalan-jalan keliling rumah, pingin nyoba aja gempor kagak kaki kalau keliling rumah segede ini. Jadi pingin kenalan sama yang bagian ngepel lantai, bungkuk kagak, ya, badannya? Kalau penghuni rumah aja capek gimana sama yang bikin rumah ini, ya? Gempor ... gempor deh.


"Ras, ngapain bengong di sini?" sapaan Arin membuatku gelagapan sendiri. Gadis itu memang hobi ngagetin mungkin, ya? Baru sejam di sini sudah dua kali dia bikin jantungan.


"Ah, elaahh ... Mau cari kolam lele, ada kagak di mari?"


"Lah kamu pikir ini pemancingan? Emang mau buat apaan?"


"Mau jorokin kamu ke dalamnya. Habis berisik," ucapku seraya melenggang pergi.

__ADS_1


Tak terasa waktu berlalu, seharian menjaga Langit sembari berkeliling berkenalan dengan orang-orang di rumah itu ternyata melelahkan juga. Ada beberapa asisten rumah tangga di sini, satu untuk memasak, dua untuk beres-beres rumah, satu tukang kebun, satu supir dan dua satpam, eh satu lagi baby sitter Langit. Delapan ART di tambah lagi aku total sembilan orang sedangkan tuan rumah hanya dua orang saja, ini rumah apa penampungan?


Suara mobil memasuki halaman, sepertinya Mas Damar sudah pulang. Benar saja, tak lama kemudian lelaki itu masuk dengan senyum terkembang, sudah jadi ciri khasnya mungkin. Dia menghampiriku dan Langit yang sedang duduk di kereta bayinya.


"Eh, Mas. Maaf, baiknya cuci tangan dulu. Kalau kata orang dulu, biar setannya ilang, tapi kalau dari segi medis sih, kan biar bersih, kita gak tau tadi di luar pegang kuman apa gak?" jelasku saat Mas Damar mengulurkan tangan hendak meraih Langit.


Mas Damar mengeryitkan dahi tapi sesaat kemudian dia tertawa.


"Bener kamu, dulu waktu kecil aku juga gak boleh pegang keponakanku kalau belum cuci tangan Mungkin alasannya seperti katamu, biar gak ada hantu yang ikut," ucapnya dengan tetap tertawa. "Tapi aku lebih percaya tentang medisnya sih, biar bersih, ya, tergantung kepercayaan masing-masing, kan?" lanjutnya yang kubalas dengan anggukan.


Mas Damar mengangkat sebelah telapak tangannya padaku, sepertinya itu isyarat agar aku menunggu. Lelaki itu pergi ke arah kamar tamu dan beberapa menit kemudian datang dengan mengangkat kedua tangannya. Menunjukkan tangannya telah bersih.


Mas Damar mengangkat Langit dari keretanya, dengan isyarat mata dia mengajakku untuk mengikutinya. Tempat duduk di samping kolam menjadi pilihannya, aku pun mengambil tempat duduk tepat di hadapannya.


"Ras, kamu mau gaji berapa?" tanyanya membuka percakapan.


"Terserah Mas saja. Samakan seperti Arin atau yang lainnya juga boleh, biar gak ada yang iri," jawabku sok manis dan lugu.


"Baiklah kalau begitu. Gajimu biar aku yang tentuin. Oh, ya, satu lagi, aku pinginnya kamu tinggal di sini juga sih, selain biar gak bolak-balik, aku juga kan sering keluar kota, biar aku lebih tenang gitu."


"Hmm ... boleh aku pikirkan dulu, Mas? Aku terlanjur nyaman juga di sana, terlebih kasihan Dini kalau tak ada temannya," jelasku.


"Kamu pikirkan saja dulu, di sini kamu tak perlu mengeluarkan uang untuk Bayar indekos dan makan," lanjutnya yang membuatku berpikir lagi.


Ah ... iya, benar ucapannya. Uang gajian otomatis akan full kudapat. Jika semua di sini terpenuhi, aku bisa kirim ke ibu lebih banyak, tapi bagaimana Dini? Dia pasti kesepian.


"Untuk masalah Dini, dia besok kan sudah mulai masuk kantor, jam kerjanya sampai jam empat sore, tapi bagian marketing biasanya sering lembur bisa sampai jam tujuh atau delapan. Dia pulang, capek, terus tidur, kamu gak akan punya banyak waktu dengannya," lanjutnya lagi.

__ADS_1


Mas, apakah segitu pinginnya kamu buat aku tinggal di sini? Sampai merayu-rayu seperti itu? Sebenarnya, ada satu alasan yang bisa buat aku tinggal di sini tanpa menolak. Halalin adek, Bang.


"Nanti biar aku pikir lagi, ya, Mas?" sekarang, bolehkah aku pulang?"


"Baiklah, kamu pulang biar diantar Pak Rojak, ya? Di sini susah ojek," jawabnya yang akhirnya kuangguki.


Setelah basa-basi sejenak dan menyerahkan Langit pada Arin, aku pun berpamitan pulang


Seperti perintah Mas Damar sebelumnya, aku pulang dengan diantar Pak Rojak. Sampai di depan pintu, terlihat motor Alvin sudah terparkir di depan gerbang. Tumben, dia cari siapa?


Aku turun dari mobil setelah berpamitan dengan Pak Rojak. Sepertinya Alvin tahu kepulanganku, dia menyusul ke depan gerbang dan memperhatikan mobil Pak Rojak yang telah menjauh itu.


"Hai, Vin. Ada apa? Tumben?" tanyaku sembari mengajaknya masuk kembali.


"Siapa tadi, Ras?" tanyanya tanpa menggubris pertanyaanku.


"Oh, itu mobil Mas Damar, itu tadi sopirnya disuruh buat nganterin aku pulang."


"Ayah anak yang kamu rawat itu?" aku mengangguk sembari tersenyum.


"Ras, yakin dia hanya ingin kamu jadi pengasuh anaknya?" tanyanya lagi dengan muka serius.


"Maksudnya?" tanyaku yang tak mengerti arah pertanyaannya.


"Dia terlalu baik untuk ukuran majikan, Ras. Belum lagi, kamu yang dengan santainya panggil dia dengan sebutan mas. Tak pernah ada hubungan setulus ini kecuali kalau kalian memang ada hubungan lain selain antara majikan dan pengasuh," cerca Alvin dengan ekspresi muka yang tak bisa kutebak.


"Maksdumu apa? Kamu pikir aku cewek apaan? Hah?" caciku penuh emosi. Tak ingin emosiku makin tak terkendali aku memutuskan masuk kamar.

__ADS_1


Berkali-kali Alvin terdengar memanggil namaku, tapi aku tetap acuh. Hingga saat pintu kamar hampir terbuka, sebuah pernyataan dari Alvin membuatku diam di tempat.


__ADS_2