Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Batako Selai Kacang


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


Part 106


"Atas dasar apa aku mesti kerja sama dengan kamu?"


Reno menatap penuh selidik kepada Sea. Sedangkan orang yang ditatap malah dengan santai menghabiskan sisa makanannya.


"Ya, atas dasar simbiosis mutualisme. Aku butuh dokter, dokter butuh aku impas kan?" Sea maaik tuurunkan alis. meyakinkan Reno bahwa sarannya sangat bermanfaat.


"Tolong-tolong itu diralat! Jangan pakai bahasa saling butuh begitu, kalau ada yang denger dikira kita lagi mode iya-iya."


"Padahal juga mau iya-iya, kan?" goda Sea lagi.


"Hii, ogah! Biarpun jomlo, aku juga milih-milih kali, mana mau sama bocah yang bersihin ingusnya sendiri aja belum tentu bisa."


"Dih! Ngeledek! Dokter mau bukti? Sini ingus mana dulu yang mau dibersihin?"


Reno mengerutkan dahinya, mencoba mencerna sebentar ucapan Sea sebelum akhirnya bergidik ngeri.


"Hii ... lama-lama serem juga deket-deket kamu. Sudah aku mau balik."


Reno beranjak dari kursi, menyambar kunci mobil ditempat yang tadi disebutkan Zakki.


"Dok! Jadi gimana kesepatakan kita?" teriak Sea saat Reno sudah mencapai pintu.


"Nanti aku pikirin lagi. Sambil memastikan kalau kami bener-bener jago ngeluarin ingus!"


Reno terbahak dan menutup pintu Apartemen. Sea mendengkus di tempat. "Ada orang makan juga, malah bahas ingus"


Usai makan Sea membawa piring kotornya menuju wastafel Diwaktu yang bersamaan pintu kamar Zakki terbuka.


"Loh, Dok. Gak jadi tidur?" tanya Sea yang melihat Zakki justru terlihat rapi.


"Mau kebawa sebentar, ada yang lagi aku butuin."


"Ke supermarket bawah? boleh ikut?" tanya Sea antusias.


"Mau ngapain?"


"Mau nyari sesuatu juga. Di sini kan peralatan cowok semua, aku juga butuh perlengkapan cewek, Dok."


Sea mengedip-kedipkan mata, berharap Zakki menyetujui permintaanya.


"Aku ngijinin tinggal sementara di sini hanya sampai keadaan hatimu membaik, Sea. Bukan untuk tinggal selamanya." jawab Zakki dingin.


"Iya, Dok tahu. Gak perlu diingetin mulu. Sekarang memang tinggal sementara, tapi mungkin besok pas aku resmi jadi istrimu kan kamu gak perlu repot beli perlengkapan lagi, semua sudah ad lengkap." urai Sea dengan senyum semringah.

__ADS_1


Zakki hanya diam tak menanggapi. Dia tak mau ambil pusing ucapan-ucapan nyeleneh Sea.


"Boleh, ya, Dok?" tanya Sea lagi.


"Terserah!"


Sea melonjak senang dengan jawaban Zakki. Gadis itu lantas masuk ke kamar dan mengambil Dompet miliknya.


Zakki yang menunggu Sea di depan langsung menutup pintu saat gadi itu sudah sampai di disampingnya.


"Kenapa gak jalan?" tanya Zakki bingung karena Sea masih diam di tempat.


"Nungguin dokter."


"Aku gak mau jalan berdampingan." jawab Zakki dingin.


Sejujunrnya Zakki masih sangat trauma. Dulu dia selalu berusaha mensejajarkan dirinya dengan Saras, mencoba berada di sampingnya agar selalu bisa berdampingan. Namun nyatanya, kenyataan berkata lain, Saras justru berlari menjauh, meninggalkan dia dengan sebelah hati yang patah.


"Enggak kok. Aku dibelakang aja, kan Imam tempatnya di depan." jawab Sea nyengir.


Zakki tak menanggapi, dia berlalu begitu saja. Menbuat Sea menghembuskan napas kasar. Usahanya seperti harus lebih keras lagi.


***


"Sayang, Langit sudah tidur?" tanya Damar saat memasuki kamar Langi.


Terlihat di sana Arin dan Saras sedang mengobrol, dengan Langit yang berada dalam gendongan Saras.


"Ya, sudah. Ayo tidur, sudah malam," ajak Damar yang diangguki oleh Saras.


Usai meletakkan Langit ke dalam boxnya, Saras berpamitan dengan Arin. Gadis itu mengedipkan sebelah mata, membuat Saras melotot tajam. Tanpa mengucapkan pun Saras sudah tau benar apa maksud dari Arin.


Damar lebih dulu masuk ke dalam kamar, beberapa menit kemudian Saras menyusul.


Damar sedang berdiri di balkon membelakangi Saras. Pandangan laki-laki itu lurus ke depan.


"Mas katanya tidur?" tanya Saras dengan berdiri di samping suaminya.


Saras melakukan hal yang sama dengan Damar. berpegangan dengan pagar balkon, dia menghadap lurus ke depan.


Sebuah dekapan dari belakang membuat Saras sedikit melonjak kaget. Tangan kekar Damar sudah melingkar di pinggang. Lelaki itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri, menghirup dalam-dalam aroma dari wanita yang beberapa hari ini dia rindui.


"Kangen banget sama kamu," ucap Damar tanpa merubah posisi.


"Lah, Lebay. Kan dari kemarin kita ketemu, Mas." Saras melepaskan pegangan, berganti membalas pelukan Tangan Damar yang ada dipinggangnya.


"Kan kemarin habis dari luar kota dua hari, pulang- pulang eh Langit sakit. Kamu juga sibuk banget ngurusin Langit yang rewel dua hari ini. Jadi, aku cuma bisa nahan hareudang pas lihat kamu."

__ADS_1


Saras terkekeh, tak menyangka suaminya itu akan merajuk hanya karena dia sibuk dengan anak mereka.


"Jadi, mumpung Langit udah gak rewel, ayook kita bikinin dia adek," ucap Damar penuh antusias.


Mendengar kata adek, tiba-tiba Saras mengingat sesuatu. Dia memutar tubuh menjadi berhadapan dengan Damar.


"Sebentar-sebentar, aku mau kasih tebak-tebakan dulu."


Damar mengerutkan alis. "Apa?"


"Coba tebak, apa persamaan aku dengan jeruk?"


"Jawab gak tau aja deh, biar cepet." Damar mendekatkan tubuhnya kembali, membawa Sarasa ke dalam dekapannya.


"Ish. Gak seru! Yawes, jawabannya, kalau jeruk mengandung vitamin C kalau aku mengandung anakmu."


"Oh" jawab Damar cuek


Saras hanya diam, menunggu respon dari Damar selanjutnya.


"Eh! Apa? Mengandung anakku? maksudnya kamu hamil?" tanya Damar antusias.


Lelaki itu memandang istrinya lekat-lekat, Saras tersenyum lebar dan mengangguk membuat Damar langsung menghujaninya ciuman bertubi-tubi.


"Alhamdulillah. Makasih banget, Sayang," ucap Damar dengan menciumi lagi wajah istrinya.


"Eh, tapi masih boleh gituan, kan?" tanya Damar menghentikan aksinya.


"Boleh, tapi nanti setelah Mas Damar menuruti permintaanku," jawab Saras.


"Apa? Kamu lagi ngidam sesuatu? boleh, ayo katakan."


"Ho'oh. Aku lagi pingin makan mie ..." Saras menggantungkan ucapannya membuat Damar memandangnya bingung.


"Iya? Mie apa? mie ayam? mie pangsit? mie kuah? mie goreng? bak mie setan? mie demit atau mie apaan?" tanya Damar bertubi-tubi.


"Mie instan yang habis di makan Lee Min Hoo pas shooting iklan."


"Hah?" Damar auto nyemil batako selai kacang di pojokan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Uuuwwwuuu ... dua setting dari tempat berbeda langsung yaak, biar yang kangen Damar Saras bisa terobati.


Hayoo yang kemarin nungguin Saras hamil, noh dia lagi ngidam, sapa yang mau nurutin? 🤣🤣🤣


Selamat membaca, ya, Guys. Ayee mau ngajakin Lee Min Hoo kawin lari dulu, biar si Saras makin kelimpungan kagak bisa nurutin ngidamnya🤣🤣

__ADS_1


Jangan lupa like, coment dan vote yakk


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘


__ADS_2