Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Cemburu?


__ADS_3

"Ras, kita makan dulu, mau?" ajak Alvin saat aku hendak bersiap naik ke motornya.


Ini laki kesambet apaan, ya? Kenapa jadi baik banget gini? Sebenarnya sih, sejak dulu Alvin memang baik, hanya saja dulu dia terlihat menjaga jarak. Jangankan untuk makan dan pulang bareng kayak gini, menyapa saja dia tak akan lama, hanya basa-basi sebentar setelah itu pergi. Mungkin reaksi pelet dari Arsy sudah luntur saat mereka putus hingga akhirnya sekarang dia sadar cuma aku yang pantas dia perjuangkan, eeaa ....


"Boleh, mau makan di mana?" tanyaku padanya.


"Kita makan penyetan saja di depan jalan sana, kamu suka penyetan, kan?" Aku mengangguk sembari tersenyum menjawab pertanyaannya.


Kami pun berboncengan menuju tempat yang dia maksud tadi. Sebenarnya, aku sangat lelah hari ini, belum lagi pikiranku yang selalu tertuju pada Langit, ingin rasanya segera sampai rumah dan istirahat. Namun, aku tak enak hati jika harus menolak Alvin. Lagi pula dia baru saja kembali dari kesesatan, sudah menjadi kewajibanku membimbingnya kembali ke jalan yang benar, jalan menuju hatiku.


Sembari menunggu pesanan, kami saling bercerita tentang kegiatan hari ini. Mungkin hari ini kita hanya bertukar cerita, tapi bisa kupastikan besok kita akan bertukar hati. Suara dering telepon menjeda pembicaraan kami, kuambil handphone yang sedari tadi di dalam tas dan melihat nama yang tertampang di layar, Ibu memanggil ....


"Assalammualaikum, Bu," jawabku menerima panggilan dari seberang sana.


"Waalaikumsalam, Nduk. Kamu sudah pulang kerja? Ibu ndak ganggu, kan?"


"Mboten, Bu. Saras susah pulang kerja. Ada apa? Kok tumben Ibu telpon?"


"Ya, bukan tumben. Lagian kalau bukan Ibu yang telpon duluan mana pernah kamu telpon Ibu, kamu kan pelit pulsa," oceh Ibu yang membuatku terkikik.


"Njenengan telpon cuma buat ngomelin Saras?" tanyaku sembari tetap terkikik.


"Ya, ndak gitu. Giniloh, apa gak baiknya kamu pulang aja? Dari pada di sana kamu hidup sendirian. Katanya mau ngerubah nasib, apanya yang mau di rubah? Lah wong kamu beli pulsa aja gak bisa."


"Lah ada apa ini, kok mendadak Ibu nyuruh Saras pulang?" tanyaku sembari melirik Alvin sejenak yang sibuk dengan handphonenya.


"Iniloh, juragan Ipan nanyain kamu terus, kapan dia bisa ngelamar kamu. Lah menurut Ibu sama Bapak dari pada kamu di sana gak ada yang ngurus, kan mending pulang aja kawin sama juragan Ipan, masa depanmu lebih terjamin."

__ADS_1


"Hah? Kawin?" Ibu tega bener ngawinin anak sendiri sama lelaki beristri banyak. Ibu rela Saras jadi madu?" protesku pada Ibu. Sempat kulihat Alvin mengeryitkan dahi mendengar ucapanku. Ah, Ibu merusak kencanku saja.


"Gak usah berlebihan. Kamu pikir ini sinetron yang nikahin anaknya sama juragan kaya supaya dapat uang? Jangan sok lupa kalau juragan Ipan itu sudah duda, istrinya memang tiga, tapi dua sudah meninggal, satunya sudah cerai gara-gara selingkuh. Lah kamu pikir Ibu setega itu ngorbanin anak sendiri biar jadi madu?" omel Ibu yang membuat telinga langsung panas.


"hehehe ... lah kan biar dramatis dikit, Bu. Lagian kalau cuma mau cari duda ngapain harus pulang kampung? Di sini juga ada duda, ganteng, kaya, masih muda lagi. Kalau Ibu emang mau Saras kawin sama duda, besok deh Saras cariin duda keren. Pokoknya jangan juragan Ipan," protesku yang tanpa sadar membuat beberapa orang menatap ke arahku.


"Iya, ada duda ganteng, kaya dan muda, tapi masalahnya dia mau kagak sama kamu? Wong kamu bikin kopi aja selalu kepaitan, sok-sok'an mau cari duda muda."


"Baru juga kopi yang pahit, hidup Saras ini malah lebih pahit. Apalagi kalau jadi dikawinin sama juragan Ipan, pahit dan getir jadi satu,"


"Lah kan maksud Ibu baik, dari pada di sana kamu cuma makan mie instan, kan mending di sini paling gak itu mie instan ada lalapannya."


"Pun to, Bu. Ini jaman apa pake dijodoh-jodohin segala. Saras janji deh, pulang lebaran besok Saras bawain mantu buat Ibu."


"Kamu sudah punya pacar?" sela Ibu.


"Pun, Bu. Saras mau makan, ini mau makan lele plus ada lalapannya juga. Gak perlu ngeramban dulu."


"Nggeh, kanjeng mami. Assalammualaikum," salamku sebelum akhirnya menutup panggilan.


Dua piring nasi sudah siap di meja tapi tak terlihat Alvin menyentuhnya. Keningnya pun berkerut, seolah-olah ada banyak hal yang akan ia tanyakan atau mungkin dia sedang bingung melihat sikap absurdku. Ahh jangan sampai dia batal naksir.


"Kok belum dimakan?" tanyaku sembari menarik gelas berisi es teh, ngoceh terus bareng kanjeng mami ternyata bikin haus.


"Lagi nunggu kamu. Jadi duda mana yang lagi kamu taksir?" tanyanya yang seketika membuatku tersedak. "Pelan-pelan, Ras," lanjutnya sembari menepuk-nepuk punggungku.


"Ehm ... itu, anuu ... maksudnya, cuma bohong aja sama Ibu, dari pada aku beneran disuruh pulang terus dikawinin," ucapku dengan gugup. Padahal duda yang kumaksud sebenarnya kan, sih, Damar, gak mungkin juga aku jujur sama Alvin.

__ADS_1


"Emangnya beneran mau dikawinin? Kamu mau?"


"Kalau aku mau, sih, mungkin sama orang tuaku bakal langsung dikawinin, tapi mereka gak maksa kok, cuma kasihan aja lihat aku kerja sendirian di sini."


"Terus, yang bakalan kamu bawa besok pas lebaran siapa? Emang kamu sudah punya pacar?"


"Ya, belum punya," jawabku nyengir. "Tapi lebaran kan masih lima bulan lagi, sapa tau dalam lima bulan ada keajaiban," jawabku lagi tak lupa dengan cengiran.


"Ouw ... Alhamdulillah, deh, kalau gitu." Kini ganti keningku yang berkerut mendengar jawabannya.


"Kok Alhamdulillah?"


"Hmm ... itu, sudah, yok, makan! Keburu gak enak nanti," jawabnya mengalihkan pembicaraan.


Biasanya kalau lagi nonton sinetron FTV, jawaban seperti ini menandakan si lelaki ada perasaan. Mungkinkah Alvin punya perasaan padaku? Semoga saja iya, karena kalau tidak, berarti si penulis cerita FTV itu gak pernah melakukan riset.


Seusai makan, Alvin langsung mengantarkanku pulang. Biasanya kalau sudah sampai kamar, ingin rasanya aku langsung mandi, tapi kali ini berbeda. Aroma dan beberapa sentuhan Alvin masih melekat di tubuhku, jadi malam ini biarkanlah aku tidur sembari menahan panas, yang terpenting aroma Alvin tak menghilang. Biar berasa tidur dalam pelukan si lelaki pujaan.


***


"Ras ... Ras, buru buka pintunya. Darurat, Ras, darurat!" Sebuah ketukan pintu menghancurkan mimpi indahku.


Lagian ngapain sih itu bocah pagi-pagi sudah gangguin orang. Kagak tau apa aku lagi asyik melihat antara Alvin dan Damar memperebutkanku. Berasa jadi wanita paling cantik di dunia. Sebuah ketukan lebih keras membuatku tersadar kembali, terpaksa aku bangkit dan membukakan pintu.


"Apaan sih, Din? ini masih jam delapan, kita janji pergi jam sepuluh kan?" gerutuku yang tak dihiraukan Dini.


"Bangun dulu! Lihat di depan ada mobil fortuner hitam seperti yang kemarin, apa jangan-jangan orang itu sudah tau keberadaan kita?" Mataku langsung terbuka lebar mendengar ucapan Dini.

__ADS_1


"Bukankah kemarin kata Mas Damar kita dijamin aman? Kok mereka datang lagi?" lanjut Dini panik yang mau tak mau membuatku ikut panik.


Gusti, bagaimana ini?


__ADS_2