
"Jangan lama-lama lihatinnya, meskipun memang kelihatan dan cantik banget, tetap saja bini orang," bisikan terdengar dari arah samping Zakki.
Siapa lagi kalau bukan Reno. Sebenarnya pemuda itu amat sangat malas untuk ikut, selain tidak dapat undangan resmi, dia juga gak mau terlibat dengan drama yang akan terjadi. Dan ternyata dugaannya benar.
Sahabatnya itu tak bisa memalingkan sedikitpun wajahnya dari sang pengantin wanita. Tatapan sendu dengan hati yang nelangsa mengiring setiap deru napasnya. Sesesak inikah rasa cinta yang tak terbalas? Ah, bakan untuk membayangkannya saja sungguh Reno tak sanggup.
"Move on, Bro.Perpisahan bukanlaj akhir dari semuanya. Bisa jadi, malah menjadi awal pertemuan dengan orang yang lebih baik untuk hidupmu nanti. Jika memang dia tak bisa di lupakan, maka sekarang giliran hatimu yang harus dikuatkan." Reno menepuk sebelah pundak sahabatnya itu.
Zakki yang mendengar ucapan sahabatnya itu sontak menoleh. Dia tak menyangka ucapan itu keluar dari mulut seorang Reno. Lelaki yang bahkan untuk merayu saja meniru di buku panduan jodoh.
"Sehat, Bro?" tanya Zakki kepada Reno.
"Sehatlah. Apanya yang salah?"
"Ucapanmu! sejak kapan berubah jadi Reno Teguh?"
"Sekali-kali, jangan melihat siapa yang bicara tapi lihatlah isi bicaranya. Ambil yang baik dan buang yang buruk."
Zakki lagi-lagi takjub dengan ucapan sahabatnya itu. Sepanjang menjadi teman, Reno jarang sekali berbicara sebijak ini, mungkin ada sesuatu diotaknya yang harus diperiksa. Setelah ini Zakki akan membantu memeriksanya.
"Biuuuh ... cakep bener itu bocah. Gak kelihatan bocahnya kalau dandan gini, mah."
Mata Reno berbinar, menatap sesosok wanita cantik yang baru saja memasuki gedung. Zakki mengikuti arah pandang Reno, lelaki itu sedikit terkejut, melihat tampilan yang berbeda dari gadis somplak yang hampir tiap hari mengganggunya.
Sebuah gaun sebatas lutut berwarna cream membalut tubuh gadis itu. Dengan model dada yang sedikit terbuka tapi di tutup dengan kain tile mengekspos kulit putihnya. Rambut dicepol menjadi satu memperlihatkan leher jenjangnya. Malam ini, tak bisa Zakki pungkiri, bahwa gadis itu luar biasa.
"Manis," gumam Zakki.
"Apaan, Bro? kamu ngomong apa barusan?" Suara Reno menyadarkan lamunan Zakki. Pemuda itu sedikit gelapan, mencoba menutupi ekspresinya agar tak terlihat oleh Reno.
"Gak papa. Aku cuma mau ngomong, Saras cantik."
"Jiaaah, muji itu cewek lain, bukan bini orang!"
"Suka-sukamulah, Ren."
__ADS_1
Tatapan Zakki kembali kepada gadis manis bergaun cream itu. Gadis itu berdiri sendiri, sepertinya sedang mencari seseorang. Zakki sempat bertanya-tanya, apa Saras mengundangnya? tapi mereka baru bertemu sekali. Apa undangan dari pihak Damar? tapi mustahil.
Diujung sana, gadis yang sedari tadi menjadi bahan pergunjingan Zakki dan Reno melihat sekitar. Tak ada yang dia kenal di sini, selain Saras tentunya. Dia bahkan tak yakin kalau Saras masih mengingatnya. Kalau bukan karena ingin bertemu Zakki, tak mungkin dia mau menggantikan orang tuanya untuk datang ke sini. Ralat! bukan menggantikan, lebih tepatnya dia sengaja tidak memberitahu orang tuanya agar mereka tak datang.
Mata Sea berbinar saat melihat Zakki dan Reno sedang berbincang. Meskipun tak bisa dipungkiri jika mata Zakki tak lepas dari Saras sedikitpun.
'Tak apa, hanya memperhatikan. Bagaimanapun juga Saras sudah punya orang lain, Zakki tak mungkin lagi mengejarnya' batin Sea.
Gadis itu melangkah dengan anggun menuju Reno dan Zakki. Sedikit kagum dengan tampilan Zakki dengan jas hitamnya.
Reno pun tak kalah tampan. Jas maroon yang dia kenakan membuat tampilannya sedikit berbeda dari biasanya, tak salah jika banyak yang bilang dia seperti Aldebaran, artis yang sedang naik daun itu. Hanya saja, hati Sea terlanjur terpaut kepada Zakki. Di mata Sea tak ada yang semenarik Zakki saat ini.
"Selamat malam para dokter," sapa Sea kepada Zakki dan Reno.
Kudua dokter yang sebelumnya berbincang itupun menoleh ke sumber suara. Jika dari jauh Sea terlihat manis, maka jika dilihat dari jarak sedekat ini gadis itu makin terlihat sempurna. Ada sedikit riasan di wajahnya, minimalis tapi berhasil membuat wajahnya makin manis.
"Halo, Dok." Sea melibaskan telapak tangannya di depan Zakki.
"Ah, iya, gimana?" tanya Zakki yang sedikit gelapan.
"Apanya yang gimana?" tanya Reno dengan tertawa. Zakki menatap lelaki itu, sedang Sea tersenyum lirih di tempatnya.
"Apa begitu cantik hingga kamu begitu terpana, Dok?" tanya Sea dengan percaya diri.
"Apa sudah ada yang berkata seperti itu?" tanya Zakki balik.
"Belum sih—"
"Kalau begitu itu hanya perasaanmu saja." Ucapan Sea di sela begitu saja oleh Zakki.
Sea mengerucutkan bibir, kesal dengan ucapan Zakki.
"Kamu belum mengambil minum, Ladies? boleh aku mengambilkannya untukmu?" tawar Reno kepada Sea.
__ADS_1
"Tentu, Dok. Terima kasih," jawab Sea dengan mengulas senyum.
Reno bukan sedang berbaik hati, dia hanya tak mau saja bergabung dengan situasi yang sebentar lagi akan memanas. Lagipula, memberi kesempatan mereka untuk berdua tidaklah ide yang buruk. Mungkin saja Sea bisa membantu Zakki untuk sembuh dari luka hatinya.
Reno berjalan menuju meja yang berisi minuman, saat mengambil satu gelas minuman tak sengaja tangannya memegang gelas yang sudah di pegang orang lain.
Dokter itu menoleh, sedikit terkejut dan takjub dengan wanita di depannya saat ini.
"Maaf," ucap Wanita itu dengan meraih tangannya kembali.
"Tak apa. Ladies first," jawab Reno dengan senyum menawan.
Reno melihat penampilan gadis itu dari atas ke bawah. tampilan gadis ini berbeda sekali dengan terakhir kali mereka bertemu. Jujur saja, Reno takjub dibuatnya.
Dibalut dengan kebaya kuning dan rok lilit, tubuhnya terlihat sempurna.
Reno mengulurkan tangan. " Reno. Kita bertemu di rumah sakit waktu kamu mengantar undangan."
Arin nampak berpikir sejenak, kemudian dia tersenyum dan menjabat tangan Reno.
"Arin." jawabnya singkat.
"Lagi tak ada teman? mungkin kita bisa ngobrol?" tawar Reno ramah.
"Ah, maaf. Sayangnya aku harus menjaga Langit anak Saras. Mungkin lain kali. Permisi." Arin berlalu begitu saja, meskipun ada senyuman di bibirnya tapi sepertinya itu tidak cukup untuk Reno.
"Menarik," gumam dokter itu lirih.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kita lanjuut acara weddingnya ya, Guys. Nanti satu persatubkita bahas pemainnya. Ingat! gambar bukan visul, hanya keisenganku saja biar bisa berimajinasi.
Sekalian aku mau mengucapkan banyak terima kasih buat kalian. Terima kasih buat apresiasi dan kesetiaan kalian pada novel ini.
Alhamdulillah, bulan ini, novel Bibit Unggul Mas Duda bisa naik dua level, dan bagiku yang newbie, itu sangat membanggakan. Semua ini tak akan terjadi tanpa dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Terima kasih untuk tetap yang tetap setia. Aku akan berusaha agar cerita ini tak jadi membosankan.
Kecup jauh untuk kalian semua😘😘