
Usai basa-basi sejenak, Alvin pun pamit berangkat kerja. Seneng juga sih, sekarang bisa sedekat ini sama dia, padahal dulu tak lebih dari sekedar bertukar sapa. Semoga saja ini akan menjadi awal yang baik, karena ditinggal pas sayang-sayangnya itu lebih nyesek ketimbang ditinggal pas janji mau ditraktir.
"Alvin sekarang sering ke sini, ya?" tanya Dini saat aku kembali masuk kamar.
"Dia udah kembali ke jalan yang benar, dan tugasku sekarang membimbingnya ke arah yang lebih baik," ucapku sok bijak.
"Lah, emangnya kemarin dia dari jalan mana? Bukannya dia asli orang sini? Bisa gitu kesasar?" tanya Dini lagi dengan muka bloonnya. Gusti, sudah lama gak kumat, kirain udah sembuh lemotnya, ternyata makin parah.
"Sudah sana berangkat kerja! Kelamaan sama kamu Langit bisa ikut konslet ntar!" usirku yang justru tak diperdulikan olehnya. Dia malah asyik menjilati sisa-sisa makanan yang ada di jarinya.
"Jorok banget, sih! Gitu pingin cari pacar ganteng, keburu kabur duluan."
"Sapa bilang aku mau cari pacar ganteng? Aku mau cari lelaki yang terima aku apa adanya, yang menjadikan aku satu-satunya, bukan salah satunya."
"Wuuiih ... keren amat itu kata-kata, nyolong di mana?"
"Kemarin lihat di belakang truk gandeng, aku post di IG, eeh banyak yang muji loh, cakep kan?" ucapnya dengan bangga.
"Pantes aja, kalau hasil pemikiranmu sendiri mana percaya, kan itu otak beli di loakan."
"Mending aku beli di loakkan, lah punyamu malah hasil tukar tambah sama si Patrick," ucapnya seraya berlari keluar. Sial emang itu bocah.
Seharian ini aku menghabiskan waktu bersama Langit. Melepas rindu dengan tertawa dan bercanda bersama. Kata Mas Damar, usia Langit menginjak empat bulan, lagi senengnya belajar tengkurap. Tubuhnya yang gembul membuat ia harus mengeluarkan semua tenaga untuk bisa tengkurap, wajahnya berubah seperti orang nahan BAB. Benar-benar menggemaskan.
Beberapa kali Mas Damar mengirim pesan, memastikan keadaan anaknya. Bahkan terkadang dia meminta kiriman foto Langit, rindu dia bilang. Anaknya saja disayang seperti ini, apalagi ibunya? Jadi pingin bikinin adik buat Langit.
***
Sore ini, aku mengajak Langit jalan-jalan keliling kampung. Wajahnya yang ganteng dan lucu membuat setiap orang gemas saat melihatnya. Beberapa orang memang mempertanyakan siapa Langit, karena merasa tak ada yang perlu disembunyikan lagi, maka kuakui saja bahwa dia anak asuhanku.
Bunyi klakson terdengar dari belakang, biasanya kalau seperti ini Alvin yang muncul, dan benar saja lelaki yang tingginya sekitar 175cm itu duduk dengan gagahnya diatas motor lengkap dengan seragam kerjanya.
__ADS_1
"Hai, Vin. Sudah pulang? Tumben sorean?" tanyaku saat lelaki itu datang mendekat.
"Iya, biasanya sih, pake nongkrong dulu, ngopi sama teman-teman, sekarang lagi males, pingin pulang aja," jelasnya sembari memegang tangan Langit.
"Emang di rumah ada yang nungguin?"
"Pinginnya sih, ada. Pulang ke rumah ada istri yang nyambut lengkap dengan secangkir kopi di tangannya."
"Manis banget. Buru nikah deh."
"Yang mau diajak nikah gak peka-peka," ucapnya yang entah kenapa membuat aku salah tingkah padahal belun tentu aku yang dimaksudnya. "Eh, ini anak cakep banget, ya? Anaknya orang mana, sih? Bukan orang sini, kan?" lanjutnya lagi seraya mengambil alih Langit dari gendonganku.
"Emang orang mana yang mau diajak nikah?" tanyaku kembali ke topik awal.
"Adalah, ntar juga tau. Eeh belum dijawab pertanyaanku, dia anak siapa?" tanya Alvin mengelak. Gagal, deh, buat introgasi.
"Ouw, Langit. Dia anak Mas Damar. Kenalnya juga gak sengaja sih. Aku terlanjur sayang sama Langit, mangkanya pas dia nawarin buat jagain ini bayi, aku iyain aja."
"Ibunya sudah meninggal. Mangkanya Mas Damar nyari baby sitter." Aku dan Alvin berjalan beriringan kembali ke rumah, karena konon katanya kalau waktu Magrib bayi harus di dalam rumah, biar gak kena sawan.
"Berarti ayahnya duda?" tanya Alvin yang langsung menghentikan langkahnya.
"Iya, kalau langit umur empat bulan, berarti istrinya baru meninggal empat bulan lalu." jelasku sembari terus berjalan.
"Kenapa gak kerja di toko aja, sih? Kan lebih santai."
"Duitnya lebih gede ini," ucapku sembari tertawa, sesaat kemudian sebuah mobil terios putih berhenti di depan rumah, sepertinya itu Mas Damar.
Senyum manis khas Mas Damar muncul saat ia keluar dari mobil. Dahinya sedikit berkerut saat melihat Langit dalam gendongan Alvin. Aku yang paham dengan gerak-geriknya langsung mengambil Langit dari Alvin.
"Mas, eh, Pak sudah pulang?" tanyaku sedikit basa-basi.
__ADS_1
"Panggil mas saja jika sudah terbiasa, lagian aku gak tua-tua banget sampai harus dipanggil bapak," jawabnya seraya mengambil Langit dari gendonganku. Dia ciumi putranya itu. Meskipun telah lelah seharian bekerja, tapi aura ketampanan Mas Damar tak pernhah berkurang. Selalu mempesona.
"Gak enak, Pak. Kan kamu bos aku."
"Tapi aku gak pernah anggap kamu anak buah." Suara Deheman terdengar dari arah Alvin.
"Ras, aku pulang dulu, ya? Sudah malam," pamit Alvin.
"Oh, iya. Hati-hati," ucapku yang akhirnya diangguki oleh Alvin.
"Pacar?" tanya Mas Damar tiba-tiba yang membuatku tertawa.
"Bukan, Mas. Cuma teman. Tadi kebetulan dia lewat pas aku ajakin Langit jalan-jalan, jadi mampir."
"Ouw ... eh, Ras. Saya laper, ayo ikut makan! Gak enak makan sendirian."
"Emang gak papa, Mas?"
"Siapa yang ngelarang?" tanyanya dengan dahi berkerut. Aku hanya bisa menggaruk kepala yang tak gatal, bingung juga mau jawab apa.
"Ya, sudah, aku ganti baju dulu, ya, Mas," pamitku yang diangguki olehnya.
Setelah bergantian pakaian, aku, Mas Damar dan Langit melesat untuk mencari makan. Sebuah restoran itali menjadi pilihan lelaki berkulit bersih itu. Makan enak, nih. Kapan lagi aku bisa makan masakan Itali, gratis lagi.
Tak mengerti dengan menunya, pesanan aku serahkan sepenuhnya kepada Mas Damar. Sembari menunggu pesanan, kuamati sekitar, beberapa mata melihat ke arahku, apa yang salah? Ah, iya, Mas Damar dengan dandanan berwibawa datang denganku yang bahkan hanya memakai sandal jepit, tak salah jika akhirnya berpikir aku adalah pembantunya. Namun, bukankah itu benar? Aku hanya baby sitter anaknya. Mengingat kenyataan itu, tiba-tiba hatiku menciut. Namun, saat melihat Langit yang begitu menempel padaku, semangatku kembali lagi, bukankah jodoh di tangan Tuhan? Semua bisa terjadi atas kehendaknya.
"Hai, Mar. Di sini juga?" Seorang wanita cantik dengan blouse yang senada dengan warna tas dan sepatunya tiba-tiba saja menyapa Mas Damar.
"Hai, Rin. Iya kebetulan lagi makan," jawab Mas Damar membalas sapaan wanita itu.
"Sama siapa?" tanyanya lagi sebelum akhirnya melihat ke arahku, dia pindai penampilanku dari atas sampai bawah. "Ouw sama pembantu kamu, ya? Kamu sejak dulu memang baik, pembantu saja kamu ajak direstoran mewah kayak gini." lanjutnya dengan tertawa mengejek.
__ADS_1
Dasar mak lampir!