
Aku menyambut emak, bapak serta Adit dengan mata berbinar. Tadi pagi, Mas Damar menyuruh seorang sopir untuk menjemput mereka, jadilah sekarang meraka di sini dengan senyum semringah.
"Buk, Pak, Ngapunten nggeh, Saras gak bisa ikutan jemput," ucapku seraya mencium tangan Bapak dan Ibu. yang kemudian di susul oelh Mas Damar.
Aku menggiring mereka ke ruang tamu.
"Ndak papa, Nduk, kamu pasti sibuk mempersiapkan resepsi pernikahanmu. Kita sudah dijemput saja sudah senang," ujar Bapak dengan senyum.
Mas Damar terkekeh pelan, apalagi yang membuatnya tertawa kalau bukan mengenai omongan bapak. Dia tahu persis apa yang menbuat kami sibuk.
Bapak tidak tahu saja, aku bukannya sibuk mempersiapkan resepsi, malah sibuk ngelayani suami ganteng di sebelahku. Kata Mas Damar, mumpung bapak ibu belum datang, sungkan kalau mereka datang terus kami tidak keluar kamar. Padahal dia saja yang doyan, untung enak. Halaah ... kalimat itu lagi, mancing reader banget nih.
Semalam, lagi-lagi aku di gempur olehnya, bahkan entah berapa ronde kami semalam. Aku yang sudah lemas masih harus melayani Mas Damar yang entah kapan staminanya turun. Itu saja gak pakai obat kuat, coba kalau pakai, biuuh ... siap-siap dilalerin.
"Nduk, rumahnya gede banget, ya? ini kalau buat jemur padi pasti enak, ya? mana gak ada ayam," ucap Ibu dengan mata mengitari seisi rumah.
Nak, Kan? aku bilang apa, pasti ibu seneng banget ketemu ruamh segede ini, jiwa petaninya meronta-ronta.
"Jemurnya di sini, masa panennya di sana? ruwet banget, Bu," jawabku sembari terkekeh.
"Mbak Saras, Mbak Saras, boleh berenang gak? kalau di sana kan renangnya di sawah, pingin nyoba renang yang bawahnya pakai keramik" ucap Adit dengan polosnya.
"Boleh, tapi makan dulu, ya? biar gak masuk angin."
"Horeee," sorak Adit dengan senangnya. Aku dan bapak hanya geleng-geleng melihat tingkahnya.
"Bapak ibu gimana perjalanannya? lancar?" tanya Mas Damar kepada ibu bapak.
"Lancar, Mas. Uenak adem mobile," jawab Ibu yang membuat aku sontak menepuk dahi.
__ADS_1
"Aku kebelakang dulu, ya? mau cek makanan, sudah siap apa belum," pamitku yang diangguki oleh semua orang di sana.
Aku melangkah menuju dapur, di sana Mbak Indri dan Mbok Darmi sudah menata makanan di atas meja makan.
"Mbak, maaf, ya, jadi ngerepotin masak segini banyak," ucapku seraya membantu merapikan meja makan.
"Loalah, Ras. Yo gak papalah, wong kamu majikannya sekarang. Malah aneh, ada majikan minta maaf ke pembantunya," jawab Mbak Indri dengan terkekeh.
"Yo gak gitu, Mbak. Aku tetap Saras yang sama. Wes gak ada majikan sama pembantu. Kan aku sudah bilang, majikan Mbak Indri cuma Mas Damar."
"Iya-iya. Wes ini makanane wes siap, ajakin keluargamu makan sekarang. Kasihan pasti lapar," ucap Mbak Indri dengan senyum semringah.
Aku mengangguk lantas berjalan ke ruang tamu.
"Pak, Buk, Ayo makan dulu," ajakku yang diangguki bapak dan ibu.
Orang tua dan adikku itu berjalan lebih dulu, sedang Mas Damar tiba-tiba berjalan di sampingku sembari memegang pinggangku.
Aku menoleh ke arah Mas Damar, lelaki itu mengedipkan mata sembari tersenyum jahil.
"Kerjaan Mas Damar memang. Ngajakin olah raga mulu tiap malam," omelku yang lagi-lagi membuatnya terkekeh.
"Semalam itu yang terakhir, Sayang. lima hari kedepan sampai resepsi berlangsung, aku siap buat puasa. Tapi aku gak jamin kalau kalap setelah resepsi besok."
"Huu ... yakin beneran puasa?" godaku yang membuat mas Damar tiba-tiba menarik pinggangku lebih dekat.
"Tergantung kalau bapak dan ibu bisa diajak kompromi dulu," jawabnya dengan senyum jahil.
Aku hanya mencubit gemas perutnya, suamiku itu terkekeh. Hingga akhirnya pembicaraan vulgar itu berhenti saat kami sampai di meja makan.
__ADS_1
***
Di tempat lain, di sudut apartemennya, Zakki menatap sendu sebuah kertas undangan yang berada di tangannya.
Di sana, Ada Saras yang sedang tersenyum lebar di pelukan Damar. Zakki tersenyum miris, sebongkah daging merah di hatinya menganga. Gadis pujaannya terlihat bahagia, tersenyum lebar tapi sayangnya sumber bahagia itu bukan darinya.
Dulu, dia pernah memimpikan sebuah kebahagiaan. Saras selalu akan tersenyum karena dirinya. Dialah yang menjadi tempat Saras berlabuh baik suka maupun duka. Saras pulalah yang akan dia lihat saat menutup dan membuka mata kalah pagi hari. Namun semua, kini hanyalah mimpi semu baginya.
Sekuat apapun Zakki mencoba, hatinya tetap saja rapuh. Dia memang mengikhlaskan, tapi sayangnya rasa sakitnya lebih menguasai. Dan untuk kesekian kali dalam kesendiriannya, Zakki meneteskan airmata.
081556556***
Selamat pagi, Dokter.
Pagi ini aku menyapa mentari dari jendela kamarku. Sinarnya masih sama, hanya saja bagiku kehangatannya berkurang. Mungkin saja karena tak ada senyummu yang menyapaku. Jadi, sudahkah dokter merindukanku? biar aku punya alasan kuat untuk menemuimu.
Zakki mengeryit, merasa tak mengenal nomor baru yang baru saja mengirim pesan. Tapi melihat cara memanggilnya, Pikiran Zakki tertuju pada satu orang.
Namun, darimana dia mendapatkan nomor handphonennya?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Haloooo ... Selamat pagi, ciyeee yang liburan panjang, ngamar terus pastinya ini.
Vote nya mana woee, ah elaaah, mimpes bener itu rangking😅
Maaf, Ya,updatennya lamaan, lagi ngurusin resepsinya di Damar Saras. Lagi buat tetel, kucur, apem, sama lemper buat suguhan.
Orang kaya makanannya begono? bodo amat, pan biar beda dari yang lain🤣🤣
__ADS_1
Eh, Denis Mutia juga update yaak,jangan lupa mampir juga
Wes, Ah. Kecup jauh untuk kalian semua😘😘😘