Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Rasa Suka


__ADS_3

Total sudah lima hari aku di rumah sakit, selain bosan, punggungku rasanya remuk sekali karena kebanyakan tidur. Belum lagi Mas Damar yang selalu melarang ini itu, padahal hanya luka goresan saja, dia memperlakukanku seperti penyakitan parah. Untung sayang.


Kemarin, Ada Dini yang menjagaku seharian. Dia diutus Mas Damar langsung karena lelaki itu sedang meeting di luar kota. Seperti biasa, gadis itu selalu membuat keonaran disetiap kehadirannya.


"Masa preman bisa ketusuk? Kamu butuh di rukiyah buat balikin kekuatan," oceh Dini kemarin.


Aku langsung melemparinya dengan bantal meskipun harus menahan sakit di lengan. Dia kira aku Sailormoon? Kan aku jelmaan siluman ular putih, sukanya matok, apalagi matok cowok ganteng, aku jagonya.


"Selamat pagi, pasienku yang paling manis," sapaan dari arah pintu membuatku menoleh.


Zakki muncul dengan senyum menawannya. Salah satu sumber penghilang rasa bosenku di sini. Lelaki itu hampir tak pernah absen berkunjung meskipun jam kunjungnya sebagai dokter telah usai.


"Selamat pagi juga, Dokter ciplek yang tampan," balasku yang membuatnya langsung terbahak.


"Sendirian saja? kemana bodyguardmu yang biasanya itu?"


"Bodyguard? Mas Damar? Astaga, dia majikankku, Zak," jawabku seraya memperbaiki dudukku.


"Kamu sejak kapan jadi pengasuh? setahuku kamu dulu kerja di supermarket kan?" Zakki mendaratkan pinggulnya di ranjang, tepat di hadapanku.


"Belum lama, sih. Gimana lagi, duitnya lebih gede," jawabku sambil terkikik.


"Tapi bagus juga sih, jadi kamu siap kapan aja jadi ibu, sudah ada calon?"


"Sapa yang mau sama aku, Zak? Ya, meskipun secara fisik aku sebelas dua belas sama Nia Ramadhani, tapi secara nasib, aku bagaikan debu di sepatunya."


"Hei, sejak kapan kamu jadi orang yang minderan begini? bukankah dulu kamu orang yang punya rasa percaya diri paling besar?"


"Bukan minder, Zakk. Tapi lebih tahu diri saja. Lagipula jodoh bisa datang dengan sendirinya nanti, di sini aku murni karena ingin mencari rezeki."


"Iya, sapa tahu jodohmu justru dari kota kelahiran sendiri."


"Ah, padahal aku niatnya nikung si Ardie Bakrie loh, masa malah kamu doain dapat petani," ucapku berlagak sok manyun. Zakki justru tertawa mendengar ucapanku.


"Astaga, segitu ngefensnya kamu si Nia, apa aku harus jadi pengusaha juga biar bisa gantiin Ardir Bakrie buat kamu tikung?"


"Hah? Maksudnya?" tanyaku dengan dahi berkerut.


"Sudah lupakan, jadi kamu tinggal dimana sekarang? apa lain waktu aku bisa mengajakmu jalan?"


"Aku tinggal bareng Mas Damar, Eh maksudku aku tinggal di rumahnya, bareng dengan para ART lain."


"Akan susah kalau begitu aku bertemu denganmu."

__ADS_1


"Kata siapa? Mas Damar baik kok, kalau sedang libur, aku bisa jalan keluar."


"Tapi aku tak yakin kalau aku mendapatkan ijin."


Belum sempat aku menjawab ucapan Zakki, Mas Damar masuk dengan membawa Langit dalam gendongannya. Ah, jujur aku sangat merindukan bocah gembul itu.


"Langiiit," seruku dengan merentangkan kedua tangan, bersiap untuk menyambutnya dalam gendongan.


Mas Damar mendekat bersama dengan Arin dibelakangnya. Dia menyerahkan Langit padaku, namun seruan Zakki membuatku menoleh.


"Saras, Awas lenganmu!" teriaknya.


Terlambat, benar saja aku tak bisa menangkap Langit dengan baik. Untung saja Mas Damar dengan sigap menangkap Langit. Aku meringis menahan sakit pada lenganku.


Zakki berdiri dan memeriksa lenganku. Terlihat ada sedikit darah yang keluar di sana.


"Maaf, Mas. Aku tak sengaja," ucapku kepada Mas Damar, merasa bersalah karena hampir saja menjatuhkan Langit.


"Tak apa, Ras. Justru aku yang minta maaf, aku lupa lenganmu belum sembuh benar."


"Bisakah kalian keluar sebentar? biar aku memeriksa lukanya." Potong Zakki sembari menekan tombol darurat.


Mas Damar dan Arin mengangguk kemudian keluar, disusul dengan seorang suster masuk ke dalam ruangan.


"Apakah sangat sakit? apa perlu kubantu tiduran?" tanya Zakki seraya melihatku.


"Lumayan Zakk. Tak apa aku begini saja, maaf sudah merepotkanmu lagi," jawabku dengan meringis masih menahan sakit.


"Ini sudah tugasku, Ras. Untuk beberapa minggu kamu belum boleh menggendong bayi itu dulu. Beban dia terlalu berat. Apa tidak sebaiknya kamu pulang dulu? Aku bisa mengantarmu jika kamu mau."


"Tak perlu, Zak. Aku gak enak sama Mas Damar. Aku janji tidak akan menggendongnya dulu. Ibu dan Bapak tidak tahu keadaanku sekarang, aku tak mau mereka khawatir."


"Jadi mereka tidak tahu kejadian ini?" Aku menggeleng menjawab pertanyaan Zakki.


Suster tadi kembali, Zakki memulai pengobatannya. Untungnya tak ada robekan dengan jahitannya, jadi tidak perlu dijahit ulang. Zakki dengan telaten membersihkan lukaku, dengan pasien saja dia sesabar ini, bagaimana dengan istrinya nanti? benar-benar suami idaman.


"Selesai. Istirahatlah dulu. Aku akan kembali nanti sore saat jam kerjaku dimulai." Aku mengangguk mendengar ucapannya.


"Cepat sembuh, aku pergi dulu," pamitnya dengan mengelus pucuk rambutku sebentar. Entahlah, aku merasa ada yang berbeda dari setiap tindakannya, apa itu? aku tak tahu.


***


POV ZAKKI

__ADS_1


Hatiku teremas saat aku melihat Saras meringis kesakitan, harusnya aku mencegah dari awal agar kejadian seperti ini tidak terjadi, atau bila perlu aku membawanya pergi dulu hingga keadaanya benar-benar pulih, tapi sayangnya aku belum ada kuasa melakukannya. Belum jadi wewenangku melarangnya.


Aku keluar kamar setelah membersihkan lukanya. Di depan pintu kulihat lelaki itu berdiri, dengan sang anak digendongan seorang gadis, sepertinya dia baby sitter juga.


"Apa dia baik-baik saja?" tanyanya seraya mendekat ke arahku.


Aku mengajaknya sedikit menjauh, agar tidak terdengar gadis yang sedang duduk tersebut.


"Dia baik-baik saja. Tapi saya mohon, jangan biarkan dia melakukan hal berat dulu, termasuk menggendong anak anda," jawabku berusaha seraya menekankan.


"Saya mengerti. Anda tak perlu khawatir begitu," jawabnya dengan muka tanpa ekspresi, benar-benar menyebalkan.


"Saya dokternya, saya hanya memastikan keadaannya."


"Saya tahu. Tapi saya rasa, kekhawatiran anda melebihi dari rasa seorang dokter kepada pasiennya." Dahiku berkerut, setengah kaget dengam tebakannya yang tiba-tiba.


"Apa maksud Anda?"


"Saya rasa anda tahu maksud saya. Anda menyukainya kan?" todongnya tiba-tiba.


Aku tersenyum samar mendengarnya, "Sudah ketahuan? Baiklah, saya memang menyukainya kalau anda mau tahu. Maka dari itu saya tegaskan agar anda menjaga dia baik-baik, kalau tidak saya akan mengambil paksa dia," ancamku.


Entahlah, aku sendiri bingung kenapa harus bersikap seperti ini. Padahal sejak awal kami tidak punya urusan apa-apa, tapi sebagai lelaki aku tahu persis jika dia juga menyimpn perasaan kepada Saras.


"Anda tenang saja. Dia selalu aman bersama saya."


"Oh, ya? Bukankah keadaan Saras sekarang karena dia menolong putra anda dari mantan pacar anda?" Raut wajahnya berubah saat aku mengatakan itu.


Beberapa hari lalu, ada dua orang polisi yang datang untuk meminta kesaksian Saras, hanya saja aku melarang mereka karena Saras belum sadarkan diri, dari situlah aku tahu kejadian yang sebenarnya.


"Harusnya anda sadar, berada di dekat anda membuat dia tak seaman pemikiran anda," ucapku seraya berlalu dari sana.


Ya Allah, ampuni jika ucapanku menyakiti hati orang lain, hanya saja aku tidak ingi hal buruk terjadi kepada Saras. Gadis itu, gadis yang lama kutunggu kehadirannya, tak mungkin kusia-siakan dia lagi hanya untuk orang yang belum tentu menjaganya dengan baik.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Uwuuu ... dua POV dalam satu bab, semoga kalian kagak bingung yakk.


Aku mau ngucapin apresiasi yang sebesar-besarnya untuk dukungan kalian semua. Terima kasih sudah sangat menyukai karyaku ini. Aku sering ketawa-ketawa sendiri membaca coment-coment kalian, jika ada beberapa tulisanku yang salah, aku juga sangat berterima kasih saat kalian mau mengoreksi tanpa meghakimi.


Soal Visual Saras? Aku bingung, Guys. Jujur kagak nemu yang pas😂😂 kalau kalian ada ide, ayok sini sebutin, sapa tau pas😅


Sudah yak, capek ngetik mulu.

__ADS_1


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘😘


__ADS_2