
"Mau kemana, Ras?" tanya Mas Damar saat aku hendak ke dapur.
"Mau bikin bubur, katanya Mas Damar lapar?"
"Gak jadi, sudah kamu duduk sini aja, temani saya nonton," ujar Mas Damar sembari menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya.
Entah kenapa aku ragu untuk menurutinya, bukannya tak mau, aku hanya merasa tak yakin, takut tuman.
"Eehm ... aku lihat Langit dulu aja, ya, Mas," jawabku ragu.
"Langit tidur sama Arin. Sudah, ayo sini! kamu suka film apa?" tanya Mas Damae lagi seraya kembali menepuk kursi disampingnya.
Mau tak mau aku mendekat, mendaratkan pinggul tepat di sebelahnya. Sebenarnya, kesempatan seperti ini amatlah aku tunggu, tapi saat kesempatan di depan mata, kenapa aku jadi salting begini.
"Kamu mau nonton film apa?" tanya Mas Damar yang membuatku tersadar dari lamunan.
"Ehm, Doraemon aja, Mas." Mas Damar mnegeryit mendengar jawabanku.
"Doraemon? yakin? kayak bocah aja. Kenapa suka film Doraemon?"
"Hmm ... anu, itu ... itu karena aku juga pingin punya mesin pengabul keinginan," jawabku sembari nyengir.
Duh, Gusti. Bodohnya aku. Kenapa bisa terjebak ucapan sendiri. Beneran kayak bocah aja, masa iya diajak nonton bareng malah minta nonton doraemon?
Mas Damar terbahak mendengar jawabanku.
"Memangnya, keinginan apa yang belum terkabul?" tanya Mas Damar masih dengan senyumnya.
__ADS_1
"Jodoh kayak Ardie Bakrie," jawabku jujur.
"Ardie Bakrie siapa?" Astaga, gini nih kalau orang sibuk kerja, masa sekelas Ardie Bakrie gak kenal? jangan-jangan dia juga gak tau Lee Min Hoo? padahal kan saudara kembarnya.
"Itu suami Nia Ramadhani. Aku sama Nia kan sebelas dua belas, jadi herusnya jodohku juga sebelas dua belas sama dia," jawabku sembari nyengir.
Mas Damar kembali tertawa mendengar jawabanku. Berasa lagi stand up comedy deh, masa tiap aku ngomong dia ketawa.
Mas Damar terdiam, perlahan dia mencondongkan wajahnya mendekat ke arahku.
"Apa aku masih kurang ganteng di banding si Ardie Bakrie?" Aku cuma bisa manahan napas. Jarak sedekat ini, benar-benar tak bagus untuk kesehatan jantungku. Dia harus bekerja ekstra.
Aku tersadar dan langsung memundurkan badan. Mas Damar pun demikian, dia tersenyum memundurkan tubuh setelah sebelumnya mengacak pucuk kepalaku.
Duh, Gusti wajahku. Aku langsung memutar tubuh menghadap televisi, berusaha menyembunyikan wajah yang pasti sekarang merah padam. Lagian, sejak kapan Mas Damar jadi begitu manis? Perasaan dulu selalu saingan sama kulkas.
"Terserah Mas Damar, aku ikut saja." Mas Damar mengangguk mendengar jawabanku.
Tadinya aku pingin bilang buat nonton film horor aja. Sapa tau aku jadi punya alasan buat peluk-peluk dia kayak di tipi-tipi itu. Tapi kuurungkan untuk berkata begitu, takut dibilang modus. padahal mah, iya.
"Oh, ya, Ras. kamu dulu sedekat apa sama dokter Zakki?" tanya Mas Damar yang membuatku menoleh ke arahnya.
"Dia hanya korban bullyanku, Mas. hanya saja, aku tak rela jika ada orang lain yang membullynya. Hanya aku yang boleh untuk itu. Bukankah aku sudah pernah menceritakannya?"
"Aku ingat. Tapi sekarang aku lihat Dokter itu menyukaimu." Aku mengeryit, bingung dengan kesimpulan Mas Damar yang sepihak.
"Kami tak sedekat itu hingga dia bisa menyukaiku, Mas."
__ADS_1
Mas Damar menyandarkan tubuhnya, mancari nyaman dalam rengkuhan sofa coklat yang dia duduki.
"Cinta tidak akan mendekat hanya karena jarak yang dekat. Tidak juga serta-merta menjauh hanya karena jarak yang jauh. Dekat bukan hanya perihal jarak, dan jarak bukanlah sebuah alasan untuk tidak bisa mendekat." Usai berkata demikian, Mas Damar menatapku, ada semacam rasa yang belum kumengerti yang terlihat dari matanya.
"Mas, Aku gak ngerti maksudnya," ucapku sembari nyengir.
Mas Damar lagi-lagi terbahak, "Kamu merusak moment saja, Ras. Aku lagi berusaha romantis biar bisa saingan sama Ardie Bakrie."
"Lah kenapa Mas Damar harus saingan sama Ardie Bakrie? Mas Damar ngefens juga sama Nia Ramadhani?" tanyaku yang jujur saja tak mengerti dengan kode-kode dari Mas Damar.
"Iya, Tapi bukan Nia Ramadhani yang asli. Nia Ramadhani yang di depanku," jawabnya pelan tapi langsung menancap tepat di hatiku. Untung hati ini buatan Gusti Allah, coba kalau buatan dalam negeri, besok di loakin ini.
"Ras!"
"Ya."
"Kamu suka sama Dokter Zakki?" Mas Damar menatapku dengan raut muka yang serius.
Aku harus jawab apa?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Haloo ... ada yang bisa bantuin Saras menjawab pertanyaan Mas Damar?
Terima kasih buat perhatian dan doa kalian yang luar biasa. Meskipun belum pulih benar, tapi Alhamdulillah aku sudah lebih baikan.
Maaf jika partnya sedikit, aku hanya tidak ingin mengecewakan kalian dengan up terlalu lama. Semoga besok atau lusa aku bisa up dengan jumlah kata yang lebih banyak. Amin.
__ADS_1
Kecup jauh untuk kalian semua😘😘