Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Hakikat Mencintai


__ADS_3

Aku melangkah menuju kali yang di maksud juragan dengan hati tak karuan. Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepala. Semua harus tuntas sekarang, entah aku, Zakki atau Mas Damar yang terluka, semua harus ada titik kejelasannya.


Benar kata Juragan Ipan, Zakki terlihat duduk sendiri di pinggir kali. Matanya menatap lurus ke depan, entah kenapa aku bisa merasakan sakitnya. Sekejam itukah aku padamu, Zakk?


"Zakki," panggilku lirih, lelaki itu menolehh, sempat terkejut tapi langsung tersenyum tanpa beranjak dari tempatnya.


Aku mengambil tempat duduk di sampingnya, merasakan semilir angin yang tak sedikitpin menyejukkan hatiku.


"Kok tahu aku di sini?" tanyanya menoleh ke arahku.


"Dari juragan Ipan. Kenapa, Zakk? kenapa kamu mencintaiku sedemikian besar?" tanyaku menatapnya.


Zakki menoleh sejenak ke arahku, dia menghembuskan napas, terlihat berusaha membuat nyaman untuk dirinya sendiri.


"Paklik sudah cerita?" tanyanya yang kuangguki. Lelaki itu kini mengubah duduknya berganti menghadapku.


"Jangan jadikan itu beban untukmu, Ratu. Anggap saja aku juga tidak pernah melamarmu tadi. Aku yang salah, tak menanyakan dulu perasaanmu padaku."


Aku menggeleng, tak sependapat dengan ucapannya. Air mataku lolos lagi. Kenapa sebesar ini hatimu, Zakk?


"Aku tak ingin kamu merasa bersalah hingga akhirnya merasa tertekan. Bebaskan hatimu, Ras. Jangan jadikan aku beban, aku menerima semua keputusanmu. Ah, aku lupa, sepertinya aku harus membiasakan diri memanggil namamu lagi." dia terkikik sendiri.


"Kenapa, kenapa kamu tak pernah mengungkapkan perasaanmu, Zakk?" Zakki mendekat, mengusap air mata yang sudah membasahi pipi.


"Jangan menangis, ah. Kalau Nia Ramadhani nangis masih cakep, kan kamu KWnya," ucapnya di selingi tawa. Aku makin tertusuk mendengar tawanya.


"Zakki, please?" ucapku memohon.


"Kamu sudah tahu semuanya dari Paklik, Ras. Aku butuh waktu untuk memantaskan diri. Aku butuh waktu untuk keluar dari jati diri Mbah Ciplek. Aku pingin terlihat layak bersanding denganmu. Tapi kenyataannya, aku tak selayak itu untuk memenangkan hatimu, Ras."


Aku menggelengkan kepala berkali-kali, makin terisak dengan pengakuan Zakki. Kenapa harus dia yang memantaskan diri? padahal aku tak lebih dari gadis sembrono yang tak selayak itu untuk diperjuangkan.


"Andai aku tahu perasaanmu dari dulu, Zakk. Mungkin keadaannya tak begini."

__ADS_1


"Jangan menyalahkan diri, Ras. Tak ada yang kebetulan di dunia ini, semua Allah yang mengatur. Aku terima semua keputusanmu, kamu tak perlu memikirkan hatiku, Aku baik-baik saja, Ras." Zakki menghela napas.


"Hakikat mencintai itu berpasrah, Ras. Legowo lan nerimo. Saat kamu siap untuk mencintai, maka kamu pun harus siap untuk tersakiti. Jauh sebelum bertemu denganmu, Aku sudah mencintaimu dengan caraku. Aku cinta kamu dalam diam, aku cinta kamu dalam jauh, dan aku cinta kamu di dalam doa-doaku.


Kalau sekarang aku harus kehilanganmu lagi, Maka sudah waktunya aku kuat dan bangkit lagi. Sama seperti saat harapanku mulai pupus untuk menemukanmu dulu. Bedanya kali ini, aku harus benar-benar move on, melepasmu untuk bahagia meskipun bukan karenaku."


Aku terguguh, menutup mata dengan kedua tanganku. Ya Allah kenapa kamu ciptakan cinta jika akhirnya menyakiti? Kenapa aku bisa menyakiti lelaki sebaik dia? bahkan disaat seperti ini pun dia justru menyalahkan dirinya sendiri, bukan orang lain.


"Berbahagialah, Ras. Raih mimpi dan bahagiamu. Aku baik-baik saja di sini. Aku akan datang nanti, meminta maaf pada bapak dan ibu atas lamaran yang tak beralasan tadi."


Aku masih belum bisa berkata-kata, semua terlalu menyakitkan, bukan untukku, tapi untuk lelaki yang sebaik Zakki.


"Berjanjilah, berjanjilah padaku untuk tetap bahagia, Zakk." ratapku padanya.


Zakki mengangguk, tak sedikitpun lelaki itu melepas senyumnya.


"Apa aku masih bisa bertemu denganmu, Zakk?"


"Tentu, Ras. Kita masih teman, bahkan aku belum menagih upahku untuk mendapatkan traktiran makan siang yang kamu janjikan, bukan?"


Zakki bangkit, menepuk-nepuk sedikit bokongnya, menghilangkan kotoran yang menempel di sana.


"Udah, ah. Berhenti adegan sedihnya. Ayo pulang! Pak Damar nanti nyariin kamu. Lagian di sini lama-lama bisa bahaya."


"Kenapa?" tanyaku sembari menyeka sisa-sia airmata.


"Katanya kalau malam disini sering terdengar suara cewek nangis. Sedih banget gitu, persis kayak kamu tadi, jangan-jangan dia patah hati," Zakki terkikik. Aku langsung berdiri dan bergidik ngeri.


"Ayo!"


Aku dan Zakki berjalan beriringan, tanpa suara dan tanpa candaan seperti biasa. Aku merasa asing dengannya. Benarkah? Benarkah keputusanku ini?


Kami sampai di perempatan jalan, jalur kami berbeda di sini.

__ADS_1


"Ras, gak papakan pulang sendiri? Maaf aku gak bisa nganterin sampai rumah. Nanti aku yang akan datang sendiri ke rumahmu," ucap Zakki yang kuangguki.


Zakki mulai berjalan, mengambil alih jalan lurus yang menuju rumahnya. Aku berbalik arah, mengambil jalan berlawanan darinya.


Baru tiga langkah aku berjalan, entah kenapa berat terasa. Aku berbalik lagi, memperhatikan punggung Zakki yang kini kian jauh.


Kamu baik, Zakk. Bahkan teramat baik. Kamu pasti mendapatkan yang lebih baik dari aku. Aku akan menyebutmu selalu dalam doa-doaku, Aku akan meminta kepada Allah agar memberimu pasangan yang layak dan membuatmu bahagia.


Aku berbalik lagi, melangkah pelan menuju rumah. Meninggalkan Hati yang tak bisa kubagi.


Aku memang bersedih, Aku memang menangis, tapi bukan lantaran karena tak bisa memiliki Zakki. Hatiku sudah terpaut di Mas Damar. Aku hanya tak tega, kenapa? kenapa harus Zakki yang merasakan sakit ini? Tapi aku yakin, ini akan semakin menguatkanmu, Zakk. Kamu berhak bahagia.


Rumah terlihat sepi. Adit belum pulang sekolah. Bapak dan Ibu mungkin sedang istirahat.


Aku menuju dapur, berniat mengambil air minum dan masak untuk makan siang.


"Darimana, Ras? Kok baru pulang?" suara sapaan dari pintu belakang membuatku menoleh.


Mas Damar berdiri di sana. Kemeja yang di pakai sudah ditanggalkan, berganti dengan kaos oblong. Biasanya dia memang selalu membawa baju ganti di mobilnya.


"Eh, Mas. Kirain masih tidur. Aku dari rumah teman tadi, lima hari di sini belum sempat menyapa siapapun," ucapku sembari mendekat padanya.


"Bener dari rumah teman? Bukan dari rumah dokter itu?"


Aku sedikit terkejut, bagaimana bisa lelaki ini tahu? Andai saja kamu tahu bahwa lelaki itu sudah mau mengalah demi kebahagian kita, Mas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ya Allah, Guys. Aselik aku mewek nulis part ini. Aku sering ikut tertawa dan baper saat menulis part-part bahagia. Tapi menangis di saat part sedih? Jujur saja baru kali ini aku merasakannya.


Di versi awal, Zakki hanya muncul beberapa part akhir, jadi aku belum menemukan feel yang pas untuknya. Tapi di sini, aku ciptakan lagi dia dengan sifat yang berbeda. Zakki songong, tapi dia bersinar dengan caranya. Zakki tak bisa serius, tapi dia unik dengan segala tingkahnya. Aku jatuh cinta dengan karakter Zakki, dan kini dengan tanganku sendiri aku membuat dia harus mengalah dengan keadaan. Aku patah hati, Guys.


Ada yang sama denganku? Ayook kita nangis online.

__ADS_1


Kalian kesel? Sabar toh, kan ceritanya belum ending. Nanti kita bikin semua bahagia, yak. Karena othornya juga pingin bahagia😂


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘😘


__ADS_2