Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Ngilu


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


part 79


Aku menggeliat, ruang gerakku sedikit tertahan karena ada tangan kekar yang melingkar di pinggangku. Ah, jam berapa ini? gara-gara nyuruh Mas Damar matiin lampu, jadi kagak bisa lihat ini jam berapa.


Aku mendongak, melihat Mas Damar yang masih tertidur. Tanganku terulur membelai pipinya. Ah, masih sulit kupercaya, beberapa jam lalu, aku telah menyerahkan seluruh hidupku untuk lelaki ini.


Kalian penasaran bagaimana ceritanya? Janji jangan baper yak. Gara-gara kelamaan puasa, aku digempur habis sama Mas Damar, alhasil badanku berasa remuk sekarang.


Namun Sejujurnya, menurutku Mas Damar sangat lihai untuk hal ini, aku bahkan tak mampu menjerit karena lagi-lagi dia membungkam mulutku dengan bibirnya. Perlakuan manisnya tak hanya membuatku melayang ke langit ke tujuh, aku bahkan serasa lupa jalan pulang. Ah, jadi pingin lagi kan.


Dia bahkan sempat mengajariku bagimana meninggalkan jejak kepemilikan, jadi kalian jangan sekali-kali bermimpi bisa dekat dengan Mas Damar, karena tanda kepemilikanku tertampang jelas di setiap inci tubuhnya. Kalian lagi bayangin? jangan deh, nanti pingin.


Cup


Sebuah kecupan mendarat ke bibirku, membuat aku kembali menatap lelaki di hadapanku ini.


"Ngelamunin apa? yang barusan, ya? mau lagi? ayok!" ajak Mas Damar semangat.


Aku langsung menggeleng, tak bisa kubayangkan jika harus mengulangnya lagi. Enak sih, enak. tapi aku butuh asupan makanan dulu biar bertenaga.


"Nggak mau, Mas. Capek. ini juga masih sakit banget, mana laper lagi," omelku dengan mulut mengerucut.


Lagi-lagi Mas Damar mendaratkan ciuman.


"Kamu gak mau tapi malah mancing-mancing gini."


"Ih, sapa yang mancing-mancing, Mas Damar aja yang pikirannya kesono mulu." Mas Damar justru tertawa lebar mendengar ucapanku.


"Mas, laper," rengekku yang diangguki Mas Damar.


"Oke kita mandi dulu, baru nanti kebawah buat makan, atau mau mandi bareng aja biar cepet?" Mas Damar menaik turunkan alis. Aku langsung memukul lengannya, lelaki itu justru terbahak.


"Aku akan mandi terlebih dahulu sembari menyiapkan air hangat untukmu." Aku mengangguk setuju.


Sebelum bangkit lelaki itu lebih dulu mencium keningku. Mas Damar bangkit, hendak berjalan menuju kamar mandi.


"Mas! porno banget, sih, pakai baju dulu kenapa sih?" omelku saat melihat Mas Damar berjalan dengan tubuh tanpa sehelei benang pun.


Lelaki itu justru berbalik, menghadapku tanpa rasa malu.


"Memangnya kenapa? kan kamu juga sudah lihat. Lagian lihat! kamu juga sedang menikmati kan?" goda Mas Damar yang membuatku malu bukan kepalang.

__ADS_1


Aku menarik selimut, menutup penuh mukaku. Aku memang senang melihatnya, tapi gak usah di omongin juga kali.


"Iya, emang sudah lihat, tapi kan tadi. Sekarang malu, Mas." ucapku dibalik selimut. Lelaki itu terbahak, terdengar langkahnya menjauh hingga akhirnya terdengar suara pintu kamar mandi si tutup.


Aku membuka selimut, tersenyum kecil mengingat ulah jahil mas Damar barusan. Tak menyangka, dulu dia yang tegas banget, ternyata begitu menyebalkan jika di dalam kamar, mana manja banget.


Aku hendak bangun, tapi merasa begitu sakit di ************ bawah. Semalam memang sudah terasa, tapi semua tersamarkan dengan aksi lembut Mas Damar.


Aku meriah jubah Mandi yang berada diujung ranjang. Memakainya dan bersiap untuk mandi setelah Mas Damar keluar.


Pintu kamar mandi terbuka, Mas Damar keluar dengan tubuh dan rambut yang basah, tubuh bagian bawahnya dililit handuk, menampilkan roti sobek yang dulu hanya bisa kupandang. Melihat itu lagi, jadi pingin meraba-raba deh.


"Ada apa ngelihat begitu? baru tahu kalau suamimu ganteng," ujar Mas Damar dengan tersenyum.


"Mas Damar sekarang PDnya sudah over." Aku berdiri, hendak menuju kamar mandi.


"Auuw," pekikku saat merasakan sakit yang luar biasa di bawah sana. Aku duduk kembali, meringis sembari menahan sakit.


"Kenapa, sakit, ya? Maaf, ya, tadi aku gak bisa ngontrol diri," ucap Mas Damar sembari berlutut di hadapanku.


Lelaki itu menatapku dengan penuh penyeselan.


"Gak papa, Mas. Udah jadi kewajibanku nyenengin kamu," ucapku sembari membelai pipinya.


"Masa? Memang sakit sih, Mas, tapi ada enaknya juga." Mas Damar terbahak, dia bangkit dan mengacak-acak rambutku.


"Nanti saat kamu sudah terbiasa, pasti lebih terasa enaknya, kamu pasti gak bisa jauh-jauh dari aku," goda Mas Damar dengan gaya khasnya.


"Itu sih mau kamu aja, Mas. Aku mau mandi," rengekku yang langsung membuat Mas Damar mendekat.


Lelaki itu membungkukkan tubuhnya, tanpa di duga dia menggendongku dalam pelukannya, aku memekik kaget, sebelum akhirnya melingkarkan tangan di bahunya.


"Sudah, Mas sini aja, aku bisa jalan sendiri."


"Yakin? aku juga mau kok mandiin kamu."


"Modus. Aku gak yakin kalau cuma sekedar mandi." Mas Damar terbahak.


"Sudah mulai pinter, ya, sekarang."


"Sudah sana pergi." Mas Damar keluar dari kamar mandi, sedangkan aku sembari tertatih menuju bath up.


Air hangat benar-benar mujarab, selain bisa sedikit mengurangi nyeri, dia juga membuatku sedikit lebih rilex.

__ADS_1


Aku keluar dari kamar mandi dengan sedikit ragu, pasalnya aku hanya memaki jubah mandi, takut Mas Damar menyerangku lagi seperti tadi. Tapi mau bagaimana lagi, hanya ada ini di sini.


Aku keluar saat pintu kamar terketuk, Mas Damar sudah duduk dipinggir ranjang dengan baju yang sebelumnya dia pakai.


"Ras, Saras, kamu masih tidur?" terdengar teriakan Arin dari luar.


Mas Damar mengisyaratkan agar aku tetap diam ditempat, sedangkan dia berdiri dan membuka pintu.


"Tumben banget, sih, Ras pintunya di kun ...." omelan Arin menggantung, sepertinya dia sedikit kaget melihat Mas Damar keluar dari kamar.


"Ada apa, Rin? Saras sedang mandi," jawab Mas Damar singkat.


Dari celah kecil aku bisa melihat wajah Arin yang begitu kaget, tapi dia tahan.


"Hmm ... cuma mau panggil Saras aja sih, Pak buat makan. Dari tadi dia gak keluar, kirain kenapa-kenapa," jelas Arin sembari mencuri-curi pandang ke dalam.


"Saras memang lagi gak enak badan, nanti suruh Mbak indri bawa makanannya ke sini aja, ya? setelah itu nanti seperti biasa, kita gantian buat makan dan jagain Langit." Arin mengangguk kemudian berlali dari sana.


Mas Damar kembali masuk, menutup pintu dan berjalan ke arahku.


"Mas, nanti kalau Arin mikir macem-macem gimana?"


"Itu pasti, Sayang. siapa yang gak kaget tahu-tahu aku keluar dari kamar kamu. Tapi secepatnya aku akan beritahu mereka, entah nanti atau besok," ucap Mas Damar sembari membelai rambutku.


"Masih sakit?" tanyanya lagi.


"Lumayan, tapi sudah mulai berkurang."


"Syukurlah, karena aku tak yakin bisa berlama-lama menunggu sampai sembuh."


"Mas!" lagi-lagi kupukul lengan lelaki itu. Suamiku itu justru menarikku dalam pelukannya.


Duh, Gusti, aku bahagia, sangat. Jangan rengut kebahagian ini dari hamba. Kalaupun harus, ambil saja dari Nia Ramadhani, wajahnya sebelas dua belas dariku. Sapa tahu bisa menggantikan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ciye, yang lagi berharap ada adegan ***-***. Sensor, Guys, sensor.


Udah pada ngerti kan rasanya? bayangin sendiri aja deh. Gak baik nulis terlalu vulgar, selain akan menimbulkan baper, riviewnya juga jadi lama, 😂😂😂


Saras wes nikah, Guys, berarti diselingi cerita Zakki sitik gak papa, ya? tenang, dia muncul bukan sebagai pelakor. Cukup si Al dan Andin saja yang hidupnya ruwet, Damar Saras jangan.😂😂


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2