Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Butuh Buku Panduan


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


Part 75


"Nak Damar, serius?" tanya bapak meyakinkan. Aku sendiri kaget dengan usulan Mas Damar.


"Insya Allah saya serius, Pak. Setelah pernikahan besok, saya dan Saras akan kembali ke Surabaya. Saya janji, dalam waktu dua minggu kami akan menyiapkan pesta pernikahan. Bapak dan Ibu tunggu di sini saja, nanti saya juga akan mengirim sopir untuk menjemput kalian," terang Mas Damar mantap.


"Ras, gimana? tanya ibu yang langsung menodongku.


"ehm ... Saras manut ibu bapak saja," jawabku pelan. sedikit shock lebih tepatnya.


"Tapi kalau mendadak begini, apa, ya, bisa? bapak juga gimana? setuju?" tanya ibu sembari melihat bapak dan aku.


"Kalau memang keputusannya begini, bapak setuju saja. Lagipula niat baik gak boleh ditunda-tunda," ujar Bapak bijaksana.


"Gimana kalau kita suruh Aji saja mengurus semuanya? Dia kan bekerja di kecamatan," usul Ibu.


"Itu juga gak papa. Ibu bilang Aji suruh urus secepatnya, besok atau lusa biar bisa langsung di laksanakan," titah bapak yang langsung diangguki kami semua.


"Yawes kalau gitu, kita undang saudara dekat saja."


"Kalau butuh apa-apa, ibu bilang Saras saja, nanti biar saya tranfer sejumlah uang ke rekening Saras," Mas Damar menyahut.


Ibi mengangguk setuju, sekilas aku melirik kepada lelaki itu. Senyum merekah di bibirnya, tak lupa sebuah kedipan mata dia luncurkan. Dasar ganjen. Untung cinta.


"Yawes, Pak. Sampean istirahat dulu, setelah ini biar ibu ke Aji. Nanti kalau sudah selesai kamu antar ibu ke pasar, ya, Ras?" perintah ibu yang kuangguki.


Aku membantu bapak bangkit, memapahnya sampai ke kamar. Sedangkan ibu langsung keluar menuju rumah Aji.


Kubantu bapak berbaring, menyelimuti sebagian tubuhnya. Bapak tersenyum melihatku.


"Nduk, besok kamu bukan lagi tanggung jawab, Bapak. Maaf jika selama ini bapak belum bisa bahagikan kamu," ujar Bapak yang membuat mataku berkaca-kaca.


Aku berlutut di sebalah ranjang bapak, menggenaggam tangannya erat.

__ADS_1


"Bapak, Jangan bilang begitu. Bagi Saras, Bapak adalah orang tua yang luar biasa. Bapak sudah membesarkan Saras dengan sangat baik. Justru Saras yang minta maaf, belum bisa bikin Bapak bahagia."


Bapak mengelus rambutku, Entah kapan terakhir kami menghabiskan waktu berdua seperti ini. Semenjak kerja ke Surabaya, aku hanya pulang sesekali, itupun tak lama, hingga tak ada lagi waktu untuk berdua seperti ini.


"Kamu baik-baik ya, di sana nanti. Suami itu kepala keluarga, meskipun sumber kebahgiaan dari keluarga itu dari Istri, tapi tetap saja patuh kepada suami itu adalah kewajiban istri.


Bapak gak bisa ngasih kamu apa-apa selain wejangan ini. Bapak hanya bisa berdoa kamu bahagia, menjadi sakinah, mawadah, warrahmah."


"Amin, Pak. Bapak dan Ibu sudah mau merestui Saras saja, Saras sudah sangat bahagia. Jangan capek untuk membimbing Saras nggeh, Pak. Saras tetap putri kecol Bapak," ujarku dengan senyum.


"Tentu, Nduk. Kamu tetap anak kesayangan Bapak. Jangan lupa sering main kesini, jenguk bapakmu ini."


"nggih, Pak. Bila perlu, Saras pingin bawa bapak dan ibu kesana. Bapak pasti seneng, rumahnya gede, Pak. Bisa buat jemur padi." Bapak terkekeh mendengar ucapanku.


"Kamu memang bener-bener anak bapak, nduk. Jiwa petaninya sudah mendarah daging," ucap Bapak masih dengan terkekeh.


"Yawes, bapak istirahat nggeh. Saras mau nungguin ibu, habis ini Saras mau ke pasar. Nanti Saras beliin baju yang bagus, ya?"


"Ndak, usah, Ras. Baju bapak banyak."


"Biarpun gitu kamu harus hemat, rajin menabung juga, buat biaya anak-anakmu nanti."


"Siap, bos. Bapak tidur nggeh."


Usai merapikan selimut, aku keluar dari kamar bapak. Pak ... Bapak, nikah aja belum, sudah diajak mikir masa depan anak, pan jadi pingin langsung bikin.Uhuyy


Aku menuju ruang tamu, disana Mas Damar sudah menyambutku dengan senyum manis. Lelaki itu menepuk tempat kosong di sampingnya. Aku menurut, mendudukkan diri disampingnya.


"Sudah siap jadi nyonya Damar?" tanyanya sembari menarik sebelah tanganku.


"Mas Damar ini yang ngebet, sampai langsung ngajakin nikah aja," jawabku sembari terkikik.


"Biarin, daripada ketikung. Sainganku berat."


"Ouw, so sweet. Tapi aku tetap padamu, Mas."

__ADS_1


"Ya, untungnya aku datang tepat waktu, telat sehari sudah kalah aku," ujar Mas Damar sembari cemberut.


"Cinta banget, ya, sama aku? Takut kehilangan, ya?" tanyaku sembari menaik turunkan alis.


Mas Damar menarik ujung hidungku.


"Emang cinta. Jadi, jangan coba-coba untuk berpaling."


Aku terkekeh, sungguh aku bahagia dengan sikap Mas Damar yang sekarang.


"Aku sudah transfer uang ke rekeningmu, Beli semua kebutuhan pernikahan kita besok. Belikan ibu dan bapak baju baru juga, kalau perlu semua keluargamu, biar seragam."


"Siap, Jangan khawatir, aku siap menghabiskan uangmu, Mas." Mas Damar tertawa, mengelus lembut pucuk kepalaku.


"Eh, kamu mau Mahar apa?" tanya Mas Damar yang membuatku berpikir.


Mahar apa, ya? Bapak pernah cerita, jangan meminta mahar yang memberatkan, Jangan sampai membebani suami yang nanti berujung dosa. Terus mahar apa?


"Aku pikirin dulu, ya, Mas? Sapa tahu nanti dapat inspirasi." Mas Damar mengangguk.


"Eh, cincin gimana? ada toko perhiasan kan, disini?"


"Ngece banget, sih, Mas. ya, ada dong, di sini, atau Mas Damar ikut aja kepasar, biar bisa ngukur lingkarnya nanti," usulku yang langsung diangguki Mas Damar.


"Gitu juga lebih baik, Siapa tahu kamu butuh pendapatku soale Lingerie." Aku melongo mendengar ucapan Mas Damar. Lelaki itu justru menaik turunkan alis.


Biuuh, alamat besok gak diijinin tidur ini. Emak, anakmu butuh panduan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Wuhuuu ada yang mau kasih rekomendasi lingerie yang cakep?? Noh, sekalian Saras lagi butuh ilmu😂😂😂😂



Undangan harap dibawa, jangan lupa sekalian amplopnya.

__ADS_1


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘


__ADS_2