
"Zakki? Kamu pulang, Nak?"
Juragan Ipan menyambut ponakannya itu dengan semringah, di rentangkan tangannya lebar-lebar menyambut pelukan dari si ponakan tersayang.
Zakki yang awalnya masih mengeluarkan koper dari dalam bagasi langsung menatap pakliknya. Dengan sedikit berlari, pemuda itu mendekati sang paman dan langsung memeluknya erat.
"Paklik sehat?" tanya Sakit saat mereka mengurai pelukan.
"Sehat-sehat. Kadang darah tinggi yang kambuh, tapi biasalah penyakit orang tua," jawab Juragan Ipan sembari terkekeh.
"Obat yang aku kirim rutin di minum kan?"
"Jelas dong. Paklik masih mau sehat, masih pingin gendong cucu dari kamu."
Kedua lelaki tersebut lantas tertawa bersama. Sea yang sedari tadi merasa belum dikenalkan itu menatap interaksi paman dan ponakan itu sembari tersenyum. Zakki memang selalu penuh kejutan, siapa yang menyangka tiba-tiba saja dia bertemu dengan satu-satunya keluarga Zakki. Benar-benar pemuda yang mengutamakan tindakan dari pada janji-janji manis.
"Ayo masuk!" ajak Juragan ipan sembari merangkul ponakkannya.
"Sebentar, Paklik."
Zakki menoleh ke belakang, berjalan mendekati Sea dan menggandengnya mendekat kepada juragan Ipan.
Juragan Ipan yang sedari tadi memang belum sadar kehadiran Sea menatap gadis itu dengan mata sedikit menyipit.
Diperhatikannya gadis itu lekat-lekat, cantik. Hanya saja, apakah tidak terlalu muda untuk ukuran pacar keponakannya? Juragan Ipan bisa langsung memastikan mereka berdua ada hubungan.
Zakki bukan tipe pemuda yang mau membawa perempuan lain ke rumah kalau mereka hanya sebatas teman. Selain Saras, tak pernah ada gadis lain yang pemuda itu kenalkan secara resmi padanya.
"Dia siapa, Nak?" tanya Juragan Ipan.
"Dia Sea, Paklik. Calon istriku," jawab Zakki dengan posisi masih menggandeng tangan Sea.
Gadis yang merasa disebut namanya itu langsung menoleh cepat ke arah Zakki. Dokter kesayangannya itu sukses membuatnya berbunga-bunga sekarang. Sekarang dia semakin yakin, tak perlu banyak orang tahu tentang hubungan mereka, tak perlu sebuah pengakuan untuk menjabarkan perasaan. Dengan sebuah pengakuan langsung di depan keluarganya seperti sekarang ini, Sea sudah benar-benar merasa berarti.
"Benarkah? Ayo masuk! Kita bicara di dalam." Juragan Ipan semringah mendengar kabar tersebut, di persilahkannya dua anak manusia tersebut untuk masuk ke rumah terlebih dahulu.
"Kalian mau istirahat dulu? Apa mau makan? Kalian pasti capek kan diperjalanan?" tawar Juragan ipan.
"Biar dia istirahat dulu saja, Paklik. Lagipula kami sudah makan tadi di jalan."
"Baiklah kalau begitu. Bawa dia ke kamar tamu atau ke kamar kamu saja. Tiap hari sudah di bersihkan sama Mbak Rami."
Zakki mengangguk. "Biar dia di kamarku aja, Paklik."
Juragan Ipan ikut mengangguk, Dia menatap Sea dan Zakki bergantian.
__ADS_1
"Saya istirahat dulu, Paklik." pamit Sea yang lagi-lagi diangguki oleh Juragan Ipan.
"Hei, Calon suami, kita sekamar?" tanya Sea saat mereka tiba di depan kamar yang kemungkinan milik Zakki.
Zakki yang hendak membuka pintu menoleh, ditatapnya gadis di sampingnya itu dengan pandangan jengah. Zakki tak menjawab, dia melanjutkan membuka pintu kamar dan menarik koper milik Sea ke dalam.
Sea mengikuti langkah Zakki, diperhatikannya kamar yang bercat serba putih. Gak di apartemen gak di sini, Zakki memang selalu rapi. Sayangnya kerapiannya itu tak sejalan dengan hobinya yang suka ngeberantakin hati Sea.
"Ada kamar mandi di pojok sana kalau kamu mau mandi dulu."
"Kita gak jadi sekamar?" tanya Sea lagi.
Zakki kembali menatap Sea. Dia melangkah mendekat, Sea yang awalnya cengar-cengir mendadak salah tingkah saat Zakki justru semakin mendekat. Sea mundur beberapa langkah, tapi Zakki justru terus maju.
Zakki menatap lurus ke arah Sea tanpa ekspresi. Gadis itu sudah tersudut sekarang, wajahnya yang putih mendadak memerah, entah malu atau justru ketakutan. Benar-benar gede omong doang.
"Kalau memang sekamar, kamu mau ngapain, Hmm?" tanya Zakki masih dengan menatap lurus Sea.
Jika ada berpikir Zakki sedang merentangkan tangan dan mengurung Sea dalam kukuhan kedua lengannya persis seperti adegan-adegan di novel romance, kalian salah!
Zakki cukup berdiri tenang di depan Sea dengan kedua tangan menyilang di belakang punggungnya. Hanya ditatap dengan jarak sedekat ini saja, Sea sudah kalang kabut, apalagi kalau ada adegan kurung-kurungan, Sea mungkin langsung bales peluk. Eh.
Zakki mengangkat lagi dagunya, menunggu jawaban atas pertanyaannya tadi. Sea bukannya menjawab tapi justru cengar-cengir tak jelas.
"Otak kok ngeres mulu. Pel sana!" Zakki mendaratkan sebuah ketukan kecil di dahi Sea. Usai berkata demikian dia melenggang pergi keluar dari kamar.
***
Zakki menghembuskan napas pelan. Mau ditutupin seperti apapun, rasanya tetap sama. Sakit.
Ditempat ini, beberapa bulan yang lalu dia melepaskan Saras dengan hati nelangsa. Tempat ini memang sudah sedikit berbeda, musim kemarau membuat padi-padi menguning. Beberapa pohon pun ditumbangkan, entah apa alasannya.
Namun, hanya satu yang belum berubah. Rasanya. Dia mungkin memiliki Sea sekarang, tapi takhta tertinggi tetap saja Saras yang menempati.
"Bantu aku buat lupain kamu, Ratu! Bantu aku!" Zakki mengusap wajahnya kasar.
Kenapa masih teramat sakit?
"Harusnya aku udah bahagia sama Sea, harusnya cuma dia satu-satunya di hati. Tapi kenapa kamu tetap saja bertahan di sana, Ratu!"
Kali ini Zakki memekik cukup keras. Pertahanannya jebol, selama ini dia berusaha untuk kuat, sayangnya tempat ini kembali menggores lukanya.
Luka itu belum sepenuhnya sembuh. Selama ini dia ditutup paksa. Zakki menjejalinya dengan obat berupa senyuman Sea, tapi tetap saja. Luka itu terlampau dalam, dia tak hanya butuh di tutup, tapi juga di jahit ulang dari dalam. Dan belum sempat dia menjahitnya, luka itu terbuka lagi dengan sendirinya.
Zakki terduduk, dia bertumpuh dengan kedua lututnya, memandang lurus ke depan dengan hati berantakan.
__ADS_1
Zakki menoleh saat mendengar suara daun kering yang tak sengaja terincak. Dia sedikit terkejut saat melihat Sea berdiri di sana dengan menatapnya datar.
Sea berbalik, menahan air mata agar tak luruh begitu saja. Dia sudah sangat paham dengan hati Zakki, mau sekuat apapun dia berusaha menyembuhkan luka hati pemuda itu, tetap saja Saras akan jadi pemenang.
Sea berusaha memahami, sepenuhnya ini bukan salah Zakki. Dia sendiri sudah mempersiapkan diri jika suatu saat menyaksikan kebenaran ini. Namun, tetap saja. Dia kesakitan.
Langkah Sea terhenti saat sebuah lengan melingkari pinggangnya. Zakki memeluknya dari belakang, membuat kepala gadis itu terdampar di dadanya.
"Maaf. Maaf. Maaf," ucap Zakki lirih. Dia benar-benar merasa menyesal sekarang.
Sea tak bergeming, dia masih diam tanpa bicara sedikitpun.
"Maaf sudah sering menyakitimu. Jangan pergi, Sea. Jangan tinggalkan aku." rengek Zakki dengan suara sedikit parau.
Sea menahan sesak di dadanya. Ketimbang melihat Zakki meneriakkan nama Saras, Sea lebih merasa kesakitan saat melihat Zakki memohon seperti ini.
Ya, Sea hanya butuh bersabar. Hanya bersabar.
"Dok," panggil Sea lirih.
Zakki melepas pelukannya, memutar tubuh Sea untuk menghadap ke arahnya. Dua psaang mata itu saling bertemu, terlihat jelas di sana mereka berdua saling menahan kesakitan.
"Aku mohon jangan pergi," pinta Zakki sekali lagi. Sea tersenyum, mengangguk pela n menjawab pertanyaan Zakki.
Zakki meraih gadis itu dalam pelukan. Terbuat dari apa hati gadis muda di pelukannya ini. Kenapa dia begitu pemaaf?
"Mungkin ini memyakitkan dan gak adil untukmu. Tapi aku mohon, bertahanlah sedikit lagi, sedikit lagi Sea. Aku janji akan membuatmu menjadi satu-satunya di hatiku," ujar Zakki lagi masih dengan posisi memeluk Sea.
Sea mengangguk lagi. Bohong jika dia tak ragu, tapi entah datang dari mana, ada sebuah kekuatan yang mendorongnya untuk percaya. Dan dia menuruti.
Sea hanya butuh memahami. Benar kata Zakki, sedikit lagi. Dia hanya butuh bersabar sedikit lagi.
Perlahan tangan Sea terangkat, dia membalas pelukan Zakki. Dihembuskan napasnya pelan. Jika menggoyahkan hati Zakki saja dia sanggup, sekedar bertahan saja dia pasti lebih dari sanggup.
"Aku akan tetap di sini. Menunggumu dengan hati yang tak akan pernah terbagi."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Yuhuuu .... maaafkan udah ingkar janji, ya, Guys. Ternyata kesibukan membuatku tak bisa menulis siang kemarin, dan sorenya buku si Arjuna tiba di rumah, jadilah aku sibuk packing agar cepat terkirim.
Tapi, sekarang aku tepatin janji. Biarpun gak sepanjang kamarin, tapi ini lumayan menguras otak๐ ๐
Kita masuk part sedih-sedih dulu. Capek aku ngebucin mulu, Guys. Apalagi bucinnya sambil halu, Ya Allah kuatkan otakku biar tetap waras๐ ๐ ๐
Sudah yakk, semoga part ini bisa nemenin hari minggu kalian.
__ADS_1
Sekian terima kasih, terima gaji, terima THR dan terima bingkisan sesaji๐ ๐