Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Santet Online


__ADS_3

Meskipun dengan gemetar, aku berbalik menghadap pada bapak berjas hitam itu. Bergaya seperti orang gila, aku tertawa-tawa garing dan mendekat ke arahnya. Terlihat dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, jangan-jangan pistol? Aduh ... belum juga kawin, masa udah mati duluan?


Tanpa diduga, selembar uang seratus ribuan ia berikan padaku.


"Sana, buat beli makan. Ada sisanya buat makan besok," ucapnya seraya menyerahkan uang itu kearahku.


Sesaat aku merasa terharu, benar kata pepatah, jangan lihat orang hanya dari covernya, bapak ini contohnya berwajah preman tapi berhati malaikat. Seperti aku juga, berwajah minimalis tapi berhati sangat manis.


Seraya berpura-pura tersenyum girang, aku mengambil uang itu. Kucoba untuk mencium telapak tangannya, dia pun tak menolak. Dia tak jijik atau pun berusaha menghindari. Untung saja sudah berumur, kalau tidak sudah kulamar dia.


Setelah itu ia segera menyuruhku pergi. Aku terus berjalan sembari sesekali menoleh kearah lelaki tadi, tentu saja dengan sikap berlagak seperti orang gila. Dia terlihat menjalankan tugasnya, mengamati keadaan sekitar.


Sesampainya di warung tempat Dini bersembunyi, gadis itu langsung menarikku keluar dari warung lewat pintu belakang. Warung ini adalah tempat langganan kami, jangankan untuk makan, untuk nebeng wifi pun kami kemari, selain murah tentu saja karena bisa ngutang, jadi tak heran jika kami bisa lewat pintu mana pun.


"Kamu tadi dikasih apa?" selidik Dini sesampainya kami di kos.


"Ini," jawabku bangga seraya memamerkan uang seratus ribuan pada Dini.


Gadis itu beranjak meletakkan Langit ke tempat tidur, setelah itu kembali mendekat ke arahku seraya merampas uang yang tadi kupegang. Diletakkannya uang itu di bawah, lantas dia mengitarinya tiga kali, aku hanya mengeryitkan dahi tak tau apa maksudnya.


"Ngapain, Jum?" tanyaku yang mulai penasaran.


"Ngilangin sihir. Sapa tau di duit ini ada apa-apanya, kata orang dulu harus di kelilingi dulu biar selamat," jelasnya yang membuatku menepuk dahi.


"Ini tahun berapa, Jum? Masih percaya aja yang gituan, dukun sekarang udah pakai laptop, santetnya dikirim pakai wifi, gak pake yang aneh-aneh lagi," jawabku seraya tertawa puas.


Heran saja, di jaman yang seperti ini masih ada saja manusia yang percaya dengan ilmu-ilmu gaib seperti itu, seperti tak punya Tuhan saja.


"Ya, kan aku ngikutin kepercayaan orang dulu, Ras."

__ADS_1


"Sudah, jangan aneh-aneh. Mending itu duit kita pakai makan siang, pan jadi kenyang," usulku sembari menaik-turunkan alis.


Terlihat Dini langsung semangat. Berhubung tugas menjadi orang gila sudah aku ambil alih, jadilah tugas mencari makan siang menjadi urusan Dini. Kami memutuskan makan di rumah saja, kasihan Langit jika diajak kelayapan terus.


"Jadi, apa yang kamu dengar dari percakapan bapak tua tadi?" tanya Dini seraya menikmati nasi padang yang terbeli setahun tak lebih dari dua kali.


"Gak ada percakapan yang aneh sih, cuma lihat ekspresinya kayak bukan orang yang bahagia mau ketemu cucunya. Mana ngumpat terus itu mulutnya, bukan contoh kakek yang baiklah menurutku," uraiku yang membuat Dini manggut-manggut.


"Mangkanya, benar kan saran aku buat gak langsung kasih Langit ke orang itu, takutnya malah salah sasaran." Aku mengangguk menyetujui ucapan Dini.


"Terus, kalau orang itu masih nyari kita gimana?" Kini giliran aku yang bertanya.


"Tenang saja, data yang aku pakai buat daftar dikartu perdana kemarin punya saudara aku yang di Sumatra, jadi aman," ucapnya seraya menjilati sisa nasi di tangannya. Jorok!


Usai makan siang, kami kembali pada aktifitas masing-masing. Dini kembali ke kamarnya untuk siap-siap berangkat kerja, sedangkan aku menemani Langit jalan-jalan ke alam mimpi.


***


Menggendong Langit dan bersendau gurau dengannya sepanjang jalan sudah menjadi hal biasa bagiku sekarang. Dulu, saat ada yang menatapku menggendong Langit, aku merasa kikuk, merasa terintimidasi, padahal secara usia kalau pun aku punya anak itu juga bukan hal yang salah. Kini, semua berbeda, saat ada yang menatap, aku pun balas dengan senyuman, reaksi mereka pun balas tersenyum, semua memang tergantung sikap kita sendiri.


"Anak siapa, Ras?" tanya Heru yang kaget saat melihatku bersama Langit.


"Anakku, boleh, ya, hari ini dia aku ajakin kerja," jawabku sembari memasang muka memelas. Bukan sok melas sih, aslinya memang lemes gara-gara belum sarapan.


"Serius? Kapan bunting dan brojolnya? Sama siapa?" tanya Heru penasaran.


"Kepo!" jawabku enteng dan masuk ke toko.


"Jangan-jangan kamu nyulik bayi, ya? Gara-gara pingin nikah kagak ada calonnya?" Ya Allah, ini laki mulutnya gak beda jauh sama speakernya tahu bulat.

__ADS_1


"Sapa bilang aku gak punya calon, sok tau!"


"Emang sudah punya? Siapa?"


"Lee min Hoo," jawabku dengan tersenyum miring.


"Orang mana? Kok namanya aneh?" Gusti, kebanyakan bergaul dengan barang kadaluwarsa, otaknya minta diretur juga ini orang.


Tahu bulat ... digoreng dadakan, lima ratusan, enak ....


Pas sekali, soundtrack penjual tahu bulat terdengar sedang lewat di depan toko.


"Noh, orangnya datang. Lee Min Hoo itu penjual tahu bulat," jawabku seraya pergi meninggalkannya. Terdengar dia ber-oh ria dan mencoba melihat wajah si penjual tahu bulat. Tak goreng juga itu orang.


Mungkin karena tidur terlalu pagi, Langit pun tertidur. Kuletakkan sementara dia di gudang, kutata kardus dan selimut tebal yang sengaja aku bawa dari rumah. Pintu gudang sengaja kubuka lebar agar nanti jika Langit terbangun dan menangis aku bisa langsung tahu.


Selagi bayi itu tidur, aku membersihkan dan menata toko dengan dibantu Heru. Saat buka dan tutup toko, Heru mendapatkan tugas yang sama sepertiku, bersih-bersih. Jika selesai, dia akan kembali ke gudang.


"Her, bantuin aku, ya? Jangan bilang ini sama si bos, kasihan dia di rumah gak ada yang jaga, mangkanya aku ajak. Ntar aku traktir deh," ujarku pada Heri sebelum dia masuk gudang.


"Ditraktir apaan dulu?"


"Tahu bulat," jawabku singkat.


"Ashiap ...," jawabnya dengan berbalik masuk gudang.


Heran, baru kali ini lihat orang girang cuma ditraktir tahu bulat. Meskipun kadang Heru lemot, tapi dia bisa dipercaya dan diandalkan. Beruntung aku mempunyai teman-teman seperti Dini dan Heru, meskipun aku jauh dari orang tua, ada mereka selalu mengerti dan tak ragu menolongku.


Suara pintu toko terbuka, menandakan ada customer masuk.

__ADS_1


"Selamat datang, selamat berbelanja," sapaku sebelum melihat ke arah pintu.


Saat ingin melihat siapa yang datang, spontan mulutku menganga. Gusti, mimpi apa semalam pagi-pagi dapat sarapan seenak ini.


__ADS_2