
Bab 19
Saingan Berat
"Calon istri?" tanyaku lagi memastikan kalau kuping ini memang tak salah dengar.
"Itu sih katanya dia sendiri, tapi selama ini aku ngelihat Pak Damar kayak gak tertarik gitu. Gimana mau tertarik lah wong dia pegang Den Langit aja kayak jijik gitu," celoteh Arin seraya mengajakku masuk kembali ke kamar.
"Aku saranin sebisa mungkin hindari interaksi sama dia,"
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Dia jelmaan Nyi Blorong, judesnya juga ngalahin ayam geprek Mang Soetta," ucap Arin setengah berbisik, aku langsung tertawa mendengarnya. Ternyata gadis ini tak kalah absurd denganku.
"Tadi, saat kamu pertama kali masuk dan Pak Damar memberitahu kebijakan istimewa yang dia berikan padamu, aku kira kamu calon ibu baru Langit," lanjut Arin lagi seraya menggoyang-goyangkan tubuhnya, bukan mau joget lebih tepatnya menidurkan Langit. Aku hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Arin, dan tentu saja aku mengamini dalam hati.
"Atau jangan-jangan kalian memang punya hubungan?" tanyanya lagi dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak! Tidak!" elakku dengan menggelengkan kepala berkali-kali. "Kami benar-benar tidak punya hubungan, aku saja baru mengenalnya," lanjutku yang membuat Arin justru tertawa terbahak.
"Kalau enggak ya, biasa aja, Ras. Lihat mukamu! Sudah kayak tomat." Seketika aku memalingkan muka, malu rasanya jika mukaku benar-benar memerah.
"Sudah ... sudah. Kamu ini malah menggoda terus. Aku mau bekerja, biar dikira gak makan gaji buta," ucapku sembari berdiri, berjalan ke sana ke mari tapi bingung mau melakukan apa.
"Memangnya kamu mau kerja apa? Tugas kamu, kan jagain Langit, lah ini bocahnya sudah tidur digendonganku, yawes kamu duduk aja di situ," jelas Arin yang akhirnya membuatku tertawa sembari menggaruk kepala yang tak gatal.
Arin bilang semua keperluan Langit sudah ia siapkan sejak kemarin, biasanya dia berbelanja seminggu sekali dan sepertinya mulai minggu depan tugas itu aku ambil alih. Tak ada yang perlu dikerjakan, aku dan Arin pun akhirnya asyik mengobrol hingga pintu kamar terbuka dan munculah orang yang sebelumnya kami bicarakan.
"Enak sekali duduk-duduk, kalian pikir di sini tempat nongkrong? Jangan makan gaji buta!" Wanita yang kata Arin mengaku calon istri Mas Damar itu tiba-tiba masuk dan mengomel seperti burung beo.
__ADS_1
Aku dan Arin yang semula kaget langsung berdiri melihat kedatangan tiba-tiba jelmaan Nyi Blorong itu. Mungkin merasa tak kenal, dia memindaiku dari atas hingga bawah.
"Kamu siapa? Kenapa ada di kamar ini?" tanyanya dengan tatapan seolah-olah ingin menerkam.
"Aku Saras. Penjaga Langit," ucapku sesantai mungkin.
"Langit? Langit siapa? Jangan mengada-ngada!" bentaknya yang membuatku tersenyum miring.
"Langit, anaknya Mas Damar, lah anda siapa kok malah gak kenal dengan Langit?"
"Jangan berani-berani mengganti nama. Namanya Bintang dan satu lagi, kamu panggil Damar apa tadi? Mas? Beraninya pembantu manggil majikan dengan sebutan mas." Wanita itu maju beberapa langkah mendekat padaku, tangannya hampir saja terangkat jika tak ada panggilan dari belakang.
"Angel! Ngapain kamu di sini?" Suara Mas Damar membuat kami serentak menoleh kearahnya. Wanita itu pun mundur beberapa langkah dariku.
"Aku cuma mau melihat Bintang, Mar. Aku merindukannya," ucap wanita itu dengan nada sok manis.
"Kenapa? Kenapa harus ganti? Kok aku gak tau?" tanyanya bertubi-tubi.
"Ya, karena aku mau menggantinya. Lagipula apa aku harus ijin padamu dulu jika mau mengganti nama anakku?"
"Bukannya begitu, aku kan juga pingin tahu semua tentang Bintang, eh Langit maksudku."
"Kamu tak perlu repot." jawab Mas Damar begitu cueknya. Wanita itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ikut-ikutan mencium Langit yang sedang digendong Mas Damar.
"Eh, iya, Mar. Dia siapa?" tanyanya seraya menunjuk ke arahku. "Masa tadi mereka berani duduk-duduk loh, Mar. Untung aja aku datang, bisa makan gaji buta mereka." Lagi-lagi dia berucap dengan nada sok manja. Aku dan Arin berpandangan mendengar aduhan si Angel itu.
"Yang pertama, dia Saras. Orang yang memegang kendali soal Langit," ucap Mas Damar seraya mengarahkan dagunya padaku.
"Yang kedua, kenapa memang kalau mereka duduk-duduk? Emang orang kerja harus berdiri terus? Lagian mereka ini pengasuh Langit, kerjaan mereka, ya, di sini jagain Langit." Ingin rasanya aku tertawa keras saat mendengar Mas Damar mengucapkan itu. Namun, dasar wanita tak tahu diri, lagi-lagi dia masih berlagak sok manja dengan Mas Damar.
__ADS_1
"Pengasuh tetap saja pembantu, kan? Masa dia panggil kamu, Mas? Ngelunjak itu namanya," ucap penyihir itu dengan muka bangga. Namun, lagi-lagi jawaban yang dia dapat diluar perkiraan.
"Dia bukan pengasuh, ada hak khusus yang aku berikan padanya. Lagi pula kenapa jika dia memanggilku, Mas? Lebih sopan kan dari pada hanya panggil nama?"
Mas Damar pergi setelah berpamitan padaku dan Arin. Sedangkan Angel menatapku dengan penuh amarah, jari telunjuknya mengarah tepat di hadapanku.
"Urusan kita belum selesai! Jangan senang dulu!" ucapnya penuh ancaman sebelum akhirnya pergi keluar kamar.
"Haduuh cari perkara kamu, Ras. Aku, kan, sudah bilang jangan cari masalah sama dia," ucap Arin sembari duduk kembali.
"Lah emang aku ngapain? Kan jawab pertanyaannya? Salahku dimana coba?" Arin hanya menepuk dahi mendengar jawabanku.
Tak mau kejadian seperti tadi terulang kembali, aku pun berjalan-jalan keluar kamar. Bagian tengah lantai dua ini terdapat ruang menonton TV, mungkin bisa juga dipakai untuk ruang keluarga. Di atas TV, terdapat foto pernikahan yang di cetak dengan ukuran yang besar, sebesar pintu kamar mandi di di indekos.
Ada Mas Damar yang sedang memeluk wanita dari belakang, itu pasti Mbak Rachel, almarhumah istrinya. Wajahnya begitu bayu dan teduh, belum lagi jilbab yang ia kenakan menambah kesan kalemnya. Benar kata Mas Damar kalau istrinya begitu lemah lembut.
Dalam foto itu, baik Mas Damar maupun istrinya terlihat begitu bahagia, senyum tanpa beban terpancat dari keduanya. Mbak Rachel, restui aku menggantikanmu di foto itu, aku janji tak akan menurunkan fotomu ini, karena aku akan memasang foto yang lebih besar lagi untuk di tempatkan di ruang tamu. Biar semua orang tahu, akulah nyonya Damar yang baru.
"Ngapain melototin foto mereka?" Tepukan di pundak hampir saja membuatku melompat karena kaget. Arin datang dengan membawa Langit yang sudah terbangun.
"Untung ini jantung buatan Gusti Allah, buatan China sudah tak loakin besok," gerutuku yang membuat Arin tertawa.
"Hai, Nak. Sudah bangun? Sini sama Mama Saras," ucapku seraya mengambil Langit dari gendongan Arin.
"Mama? Kenapa dia harus memanggilmu mama?" tanya Arin dengan dahi berkerut.
"Ya, karena aku biasa memanggilkannya begitu."
"Biasa? Emang sebelumnya kalian pernah ketemu? Atau jangan-jangan kamu cewek yang katanya nemuin Langit pas dia diculik? tanya Arin masih dengan rasa penasarannya. Aku hanya tersenyum sembari menggangguk.
__ADS_1