Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Masih POV Zakki


__ADS_3

Masih POV Zakki


"Hei, Kalian! Lepasin dia! Kalau nggak, kalian tanggung akibatnya!"


Seorang gadis kecil berteriak dari ujung gang.


Nampak dia begitu berani dan dengan percaya diri datang mendekat.


"Hei, kamu anak perempuan! berani-beraninya melawan kami, sana pulang! minum susu langsung tidur!" jawab salah seorang dihadapanku dengan diselingi tawa oleh yang lainnya.


"Kalian kan sudah besar, jangan cuma beraninya sama anak kecil dong," jawab bocah perempuan itu lagi saat telah tiba di sampingku.


Aku hanya bisa menangis terseduh karena ketakutan. Bukan hal biasa aku menjadi korban palak para kakak kelasku seperti ini, bahkan bisa dibilang kejadian ini tiap hari terjadi. Hanya saja, setiap hari aku lebih memilih langsung memberikan uang sakuku tanpa banyak bicara dan melawan, selain karena tak mungkin melawan, aku juga tipe penakut.


Hari ini, karena bangun kesiangan, aku lupa meminta uang saku. Saat menjelaskan kepada mereka, tak ada satupun yang percaya, jadilah aku menjadi bulan-bulanan sampai gadis yang kukenal dengan nama Saras itu muncul.


"Kamu siapa berani nyuruh-nyuruh? kamu pacarnya anak cengeng ini, ya?" jawab mereka lagi tetap dengan di selingi tawa.


"Enggak! Sudah kalian pergi, sebelum aku bertindak," ancam Saras kepada tiga orang di hadapanku.


Mereka semua saling pandang, sebelum akhirnya menatap kami berdua secara intens. Saras mendekat padaku dan mengenggam tanganku. Aku yang tak tahu maksudnya hanya diam saja tak protes.


"Memangnya kamu mau ngapain, hah?" tanya salah seorang dari mereka seraya mendekat kepada kami.


"Kami mau ... Kabuuuuur," teriak Saras seraya menarikku dan berlari kencang dari sana.


Aku hanya mengikuti kemanapun Saras berlari.


"Hei, Tunggu kalian!" teriak mereka lagi sembari mengejar.


"Tolong ... tolong!" teriak Saras dengan tetap berlari.


Aku memperhatikan gadis itu secara diam-diam. Awalnya aku kira dia akan mengajakku melawan mereka, tapi ternyata dia hanya mengajak berlari, benar-benar diluar prediksi.

__ADS_1


Aku menoleh kebalakang, kami sudah sampai di tempat yang ramai. Perlahan tiga anak tadi berhenti, mungkin takut dengan teriakan Saras. Setelah memastikan mereka tak mengejar lagi, aku dan Saras pun berhenti.


"Aku pikir, kamu akan menghajar mereka tadi, tapi ternyata malah ngajak lari" ucapku seraya napas terengah-engah.


"Kamu pikir aku senekat itu? aku perempuan, mana bisa melawan mereka bertiga. Sudah syukur aku tolongin, daripada kamu dihajar mereka," omel Saras seraya mengambil tempat duduk di bawah pohon, napasnya pun sama sepertiku.


"Terima kasih sudah membantuku," ujarku lagi.


"Aku tidak membantumu, aku hanya tidak mau ada orang lain yang membullymu. Yang boleh membullymu hanya aku dan teman-teman satu desa, selain itu tidak boleh," ucapnya seraya bangkit.


"Lain kali belajarlah membela diri, Mbah Ciplek!" lanjutnya lagi sebelum pergi. pergi dengan membawa separuh hati yang tercuri.


Saras memang benar, selama ini aku memang menjadi bahan bullyan di desa. Aku yang terlampau cengeng dan hanya bisa pasrah menjadi bahan empuk ejekan mereka. Padahal dari segi usia dan kelas, aku jauh diatas Saras, aku memang semenyedihkan itu.


Sejak saat itu, entah kenapa pandanganku berbeda terhadap Saras. Gadis itu masih bersikap seperti biasa, membully dan mengejekku, hanya saja sekarang aku justru menanggapinya dengan hati yang berbunga.


Jika dulu aku lebih memilih jalan memutar saat melihat Saras dan teman-temannya, kini aku justru datang mendekat. Saras tak pernah main fisik, dia hanya mengejek dan menertawakanku. Bahkan kini, aku rindu bila sehari tak mendengar ejekannya. Sumpah demi apapun, Aku jatuh cinta di usia dua belas tahun.


Saat ini Saras duduk di kelas lima Sekolah dasar, sedangkan aku di kelas delapan. Namun karena ini di desa, gedung sekolahan hanya satu. Jika pagi, sekolah ini akan dipakai untuk sekolah dasar, siang dipakai untuk sekolah SMP. Itulah sebabnya tak jarang aku datang lebih awal hanya untuk sekedar melihat Saras pulang. Cinta memang sebuta itu.


Awalnya, aku mengira ini hanya cinta monyet, hingga setelah lulus SMP, semenjak ibu meninggal, ayah mengajakku pindah ke Surabaya. Sedih memang, tapi Ayah adalah orang tuaku satu-satunya, sudah sepantasnya aku berbakti padanya.


Di sekolah SMA, aku memutuskan untuk belajar bela diri, selaian untuk berjaga-jaga, aku juga ingin berubah, aku ingin menjadi ornag yang bisa melindungi Saras nantinya. Ya, seiring berjalannya waktu, ternyata perasaanku terhadap Saras pun tak pernah luntur. Bahkan bisa kupastikan, hatiku telah terikat padanya.


Masuk kuliah semester satu, Ayah dipanggil Sang pencipta. Tak mungkin aku kembali ke desa sedangkan kuliah baru saja dimulai. Berkat nasihat para kerabat di desa, akhirnya aku tetap melanjutkan kuliah dan dibiayai oleh mereka.


Meskipun jauh, aku tak pernah lupa menanyakan kabar Saras di desa. Aku bahkan tahu saat dia memutuskan bekerja di Surabaya, sejak itulah aku mulai mencarinya di sela-sela waktu kuliah. Nyatanya, harapanku tak semulus itu, Surabaya terlalu luas untuk aku taklukan.


***


Dering handphone berbunyi, membuyarkan lamunanku tentang Saras dan masa kecilnya.


Bibir tersungging saat melihat nama yang tertera di layar. Orang yang selalu menjadi sumber informasiku tentang Saras, dan orang yang mendukung penuh perasaanku kepada gadis sangklek pujaanku itu.

__ADS_1


"Assalammualaikum," sapaku menerima panggilan.


"Aku sudah menemukannya," lanjutku saat salam telah terjawab. Tak sabar rasanya menceritakan bahwa rencana kami yang selalu tertunda akan segera terwujud.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halooo ... Apa kabarnya di hari senin? Semoga makin semangat, yaak.


Masih POV Zakki? Iya dong, kan aku bilang noatalgia duluπŸ˜…πŸ˜… Nanti akan ada POV Damar, tapi sabar yaakk. Semakin cepat POV Damar aku keluarin, maka cerita ini akan semakin mendekati ending, mau? kalau aku sih, niatnya mau tak bikin 100 bab gitu, biar puasπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Hayoo, kita main tebak-tebakan dulu, sebenarnya Zakki ini siapa sih?


siapa mata-matanya? bocoran nih, orang tua Zakki ini salah satu orang berpengaruh di desa. hayoo siapa?



Pak Kades


Pak Lurah


Pak Camat


Pak Ogah


Pak Unyil


Bapaknya Nia Ramadhani



Hayoo siapa? Mulai baca dan pahami pelan-pelan, yakk. Karena dari sini akan timbul clue satu-persatu tentang kemana hati Saras nanti akan berlabuh. Tetap ke Damar kah? Atau berpaling ke Zakki? atau justru balik ke Alvin? doain saja Authornya waras, biar ceritanya gak dibikin makin somplakπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Kecup Jauh Untuk Kalian😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2