
Lelaki itu masih menatapku, kali ini lebih lembut daripada tadi. Sesaat kami masih saling pandang, hingga akhirnya lelaki itu makin mendekatkan wajahnya.
Duh, Gusti, dia mau ngapain? apakah ciuman pertamaku kali ini benar-benar terjadi?
Kalau di televisi, adegan seperti ini biasanya si perempuan akan tutup mata, dicoba apa enggak ini? Coba ah.
Aku menutup mata, mencoba senatural mungkin tapi entah kenapa tak bisa. Bisa kupastikan tubuhku sedikit bergetar sekarang.
Lama terdiam kenapa tak ada sesuatu yang menyentuh bibirku? apa Mas Rama ngerjain aku?Jangan-jangan sekarang dia malah ninggalin aku? Tapi sepertinya tak mungkin, aku bisa merasakan napasnya.
Tiba-tiba saja justru sesuatu menyentuh keningku. Aku membuka mata, persis di hadapanku ada Mas Damar dengan menutup mata pula. Dia menyatukan keningnya dan keningku juga, bahkan menurutku ini lebih manis.
Tubuhku sepertinya merasa lebih rilex, Napaspun tak memburu seperti tadi. Gini kok maunya buru-buru minta kawin, lah mau dicium aja udah panas dingin. Gedabrus, Ras ... Saras.
"Mas," panggilku lirih. Masih dengan posisi seperti tadi.
"Hmmm," jawabnya bergumam.
"Hareudang," jawabku singkat.
Mas Damar menarik wajahnya, kini dia membuka mata dan menatapku dengan tatapan tanya.
"Hareudang itu apaan?"
"Ada lagunya, Mas. Bentar. Hareudang ... hareudang, hareudang, panas-panas- panass," jawabku sembari menirukan lagu yang sekarang sedang tranding topik.
Mas Damar tiba-tiba langsung terbahak, tanpa menjauhkan sedikitpun tubuhnya.
Ditengah tawa lelaki itu, aku memperhatikannya diam-diam. Lelaki tampan dan mempesona ini sekarang berstatus pacarku, rasanya semua masih seperti mimpi bagiku.
Namun, apakah ini benar adanya? pantaskah aku yang hanya gadis desa seperti ini bersanding dengan lelaki yang nyaris sempurna sepertinya? Mungkin Mas Damar memang menerimaku, tapi akankah Dunia juga?
"Kebiasaan deh, ngerusak moment terus." usapan di pipi dari tangan Mas Damar membangunkanku dari mimpi.
Aku hanya membalasnya dengan cengiran.
"Maaf, ya?" lanjut Mas Damar lagi.
"Maaf untuk apa?"
"Maaf jika membuatmu takut. Aku selalu seperti ini jika cemburu. Aku pernah kehilangan sekali, dan aku tak mau itu terulang lagi. Berjanjilah untuk terus bersamaku," ucapan manisnya menghipnotisku.
Lagi-lagi pandangan kami terkunci, lelaki itu mendekat, mendaratkan ciuman pada dahiku. Aku menutup mata, merasakan sentuhan lain yang belum pernah aku rasakan.
"Apakah hubungan kita ini benar, Mas?" tanyaku saat Mas Damar melepas ciumannya.
"Maksudmu?"
"Apakah pantas aku bersanding denganmu?" Mas Damar terdiam, tangannya bergerak meraih rambut yang menutupi sebagian pipiku. Di selipkannya rambut itu ke belakang telinga.
__ADS_1
"Tak ada yang berhak menilaimu. Aku menyukai apapun yang ada di dirimu, segala kurang dan lebihmu. Mereka boleh berpendapat, tapi tak boleh mendikteku. Yang menilai pantas atau tidaknya bukan orang lain, Ras. Tapi hati. Dan hatiku berkata kami lebih dari layak untuk bersamaku."
Duh, Gusti, meleleh hati adek, Bang. Manis banget, sih. Padahal biasanya kaku banget kayak kanebo kering. Aku tersenyum menanggapi ucapannya, meskipun tak sepenuhnya membuatku merasa yakin, tapi setidaknya aku cukup lega mendengar pengakuannya.
"Mas," panggilku lagi.
"Apa? Hareudang, lagi?" canda Mas Damar yang berganti membuatku tertawa sekarang.
"Enggak sih, cuma ini mie pesennya Arin kayake udah gak hareudang lagi gara-gara aku dikurung di sini," jelasku sembari mengangkat bungkusan kresek yang sedari tadi menggantung di tanganku.
"Nanti aku ganti, dua bungkus bila perlu."
"Serius? Aku juga mau, ya?" tanyaku antusias.
"Ish, jaim dikit kenapa? depan pacar blak-blakan banget." Kali ini Mas Damar menoel hidungku.
"Lah, kan mumpung gratisan," jawabku dengan cengiran.
"Iya, iya, kalau buat kamu sih, serestorannya aku beliin."
"Itu sih lebay, Mas. Gombalan receh malahan." Lagi-lagi Mas Damar tertawa mendengar ucapanku.
Aku menghentakkan kaki pelan beberapa kali, pacaran sih pacaran gak berdiri juga kayak gini, kan pegel.
"Kenapa goyang-goyang gitu?" Ternyata Mas Damar melihat tingkahku barusan.
"Pegel, Mas." jawabku jujur.
"Bukan aku yang mau godain, Mas Damar noh, yang ngegodain. Anak perawan dimasukin ke kamar, kan bahaya," omelku yang membuat Mas Damar terkikik.
"Kamu keberatan?"
"Kalau keberatan daritadi udah pergi, Mas. Lagian katanya kalau laki dan perempuan berduan, orang ketiganya setan. Alh daritadi ditungguin setannya juga gak nongol-nongol, kalah pamor dia sama aku." Mas Damar makin terbahak mendengat ucapanku. Bahkan dia sampai mundur beberapa langkah saking semangatnya untuk tertawa.
"Oke, lain kali kita undang atau telepon dulu setannya, biar mampir. Tapi kalau sekarang aku mau siap-siap dulu, nanti setelah ini aku mau ke Bali, Ada proyek di sana."
"Berapa hari?"
"Paling dua hari, gak papa kan ditinggal?"
"Lebay, biasanya juga Mas Damar kan jarang di rumah."
"Kan beda, sekarang takutnya kalau lama-lama, kamu malah kangen." jawab Mas Damar dengan menaik turunkan alis.
"Ya sudah, sana, kamu ditungguin Arin, kan? Aku mau mandi dulu, kecuali kalau kamu mau sekalian ikut." Astaga, benarkah yang aku dengar? sejak kapan Mas Damar jadi mesum begini? Ternyata dibalik sifat dinginnya kulkas dan kakunya kanebo, lelaki ini menyimpan banyak sifat yang baru aku terkuak.
"Duh, Gusti. Ternyata Mas Damar mesum." Mas Damar tertawa lagi.
"Sudah ah, aku ke kamar dulu, ya?" pamitku yang diangguki mas Damar dengan sisa-sisa suara tawanya.
__ADS_1
Aku keluar dari kamar dengan hati yang berbunga. Tanpa sadar mulutku mesem-mesem sendiri. Kalau tau Mas Damar semanis ini, dari dulu aku tembak duluan dia.
Aku masuk kamar Langit dengan pelan-pelan. Terakhir kulihat bocah itu sedang tidur, ternyata sekarang pun sama. Aku menyerahkan bungkusan mie punya Arin kepada sang pemilik.
"Lama bener sih, Ras? perasaan kamu turun dari sini sudah setengah jam yang lalu?" tanya Arin sembari menerima bungkusan mienya.
"Eh, itu, tadi bantuin Mbak Indri nguras kolam dulu," jawabku ngelantur.
"Bersihin kolam? kok gak basah?" tanya Arin lagi curiga.
Duh, gadis ini, kadang memang kelewat pinter, kadang juga kelewat somplak. Untuk kali ini aku pingin dia somplak, tapi kenapa pinternya yang keluar.
"Udah, ih, jangan tanya mulu, keburu dingin itu mie. ayo makan." Arin berpikir sejenak, kemudian dia menggidikkan bahu tanda acuh.
Sekarang, kami sama-sama sibuk dengan makanan masing-masing.
***
Jam menunjukan pukul tujuh malam, setelah makan malam tadi, Langit sudah tidur dan kembali ke kamar bersama Arin.
Mas Damar pun sudah berangkat ke bandara sejak setengah jam yang lalu. Jangan tanya lagi bagaimana waktu pamit. Kalau di kamar bisa seromantis itu, beda lagi kalau di luar. Dia hanya memberikan kartu kredit untuk belanja kebutuhan Langit besok. Dan, yah, ada satu lagi pesan dia yang membuatku bergidik.
"Pakai kartu kreditnya buat beli kebutuhan kamu juga, kalau mau nabung beli lingerie merah dulu, juga gak masalah," bisiknya saat Arin sedang disibukkan dengan Langit. Tak lupa, sebuah kedipan pun dia tinggalkan.
Duh, Gusti, lelaki ini makin mesum saja, dan aku semakin suka. Emak, kawinin aku, Mak. Kawinin!
Handphone berdering tepat saat aku akan memulai salat Isya. Kulirik layar sejenak, ternyata nama Ibu tertera di sana. Kuputuskan untuk mengangkat telepon ibu dulu, nanti aku biarlah aku bilang akan menelponnya lagi nanti, setelah salat Isya.
"Halo, Asslammualaikum, Bu," jawbaku mengangkat panggilan.
"Waalaikumsalam, Ras. Nduk, bapakmu nduk," jawab ibu terbata, ada suara isak tangis dia suaranya.
Ada apa ini?
"Bapak kenapa, bu?" desakku khawatir.
"Bapakmu masuk rumah sakit, tadi jatuh di sawah." Tanpa terasa Air mata jatuh menetes.
Bapak, lelaki cinta pertamaku, apa yang terjadi denganmu, Pak? Semoga semuanya akan segera membaik.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hayoo ... siapa yang kemarin bayangin ciuman Saras sama Damar? Kapook kalian kena prank๐๐๐
Gak boleh macem-macem dulu, woe, bukan muhrim. Jangan mesum deh, cukup Damar aja yang mesum, kalian jangan.
Eh, ayo dong minta votenya, jangan cuma di baca doang, sekalian jangan lupa like sama comennya, biar kita bisa saling melengkapi gitu๐
Wes ah,
__ADS_1
kecup jauh untuk kalian semua๐๐