Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Sudah siap?


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


Part 78


Mas Rama melepaskan ciumannya, dia menatapku intens, aku makin kikuk dibuatnya. Dia tersenyum, sekali lagi mendaratkan kecupan singkat di bibirku.


"Ayo tidur!" ajaknya.


"Tapi gak muat, Mas. Aku tidur sofa aja, ya?"


"Kata siapa? Sini!"


Aku berdiri dari pangkuan lelaki itu, di merebahkan diri, merentangkan tangan kirinya kemudian menarikku. Aku naik ke atas ranjang, menjadikan tangan Mas Damar sebagai bantal. Lelaki itu lantas menarikku ke dalam pelukan, aku merebahkan kepala pada dada bidangnya. Ya Allah, nyaman banget.


"Muat, kan? malah lebih enak gini anget." Aku mengangguk setuju.


"Hmm ... Mas, gak jadi malam pertamanya? tanyaku ragu-ragu.


Mas Damar justru terbahak, sembari mengeratkan pelukannya.


"Aku sudah susah payah membuat yang dibawah sana tertidur, Ras. Jadi jangan mancing-mancing."


"Tapi kan aku cuma tanya," ucapku seraya mendongak melihatnya.


"Emangnya mau?" Aku nyengir, sembari menggeleng. Lelaki itu terkikik lagi.


"Sudah, tidurlah! kamu pasti lelah, masih banyak waktu, Ras. Lagian kalau di sini, aku takut jeritanmu akan menganggu bapak sama ibu."


"Emang sampe menjerit gitu?" tanyaku sembari mendongakkan kepala.


Mas Damar menunduk melihatku, lagi-lagi dia menciumku tanpa aba-aba. Bedanya, sekarang tak cukup lama.


"Tidurlah! Besok kita akan buktikan. Jangan banyak bicara, atau aku akan benar-benar membuatmu tidak tidur malam ini."


Aku bergidik ngeri membayangkan tidak tidur semalaman. Tak mau banyak bicara, aku langsung menelusupkan kepalaku di dada Mas Damar. Sesaat kemudian, kenyamanan ini membuatku terbang ke alam mimpi.


***


"Bu, Pak, Saras pamit nggeh," ucapku kepada ibu dan bapak. Aku mencium tangan mereka dan memeluk erat ibu.


"Ati-ati, ya, Nduk disana. Jadi istri yang baik," pesan Ibu yang kuangguki.


"Nggeh, Bu. Insya Allah."


"Mas, bapak titip Saras, ya? dia memang masih ceroboh, tapi jika dibimbing baik-baik, dia pasti cepat mengerti." Nasihat bapak kepada Mas Damar.


"Iya, Pak. Nasihat bapak akan saya ingat terus."


Usai berpamitan, aku dan Mas Damar masuk mobil. Berat sebenarnya berpisah dengan mereka, tapi apalah daya, sekarang aku bukan tanggung jawab mereka lagi, aku sendiri sudah punya tanggung jawab untuk berbakti kepada suamiku.


Mobil mulai berjalan merambat meninggalkan desa. Kami sudah dijalan utama sekarang, Mas Damar memilih lewat tol, biar lebih cepat sampai katanya.


"Gak sabar pingin ketemu Langit, kangen banget aku sama dia," ucapku semringah sembari menatap jalanan lewat jendela.


"Ini sudah ada bapaknya, aku bersedia banget nih mewakili Langit untuk mendapat pelampiasan kengenmu."

__ADS_1


Mendengar ucapan Mas Damar, aku langsung menoleh ke arah lelaki itu. Dia malah tersenyum sembari menaik turunkan alis.


"Ish, Mas Damar lama-lama ganjen sih," omelku sembari memukul lengannya.


"Kamu sendiri, sekarang kerjaannya mukul, KDRT ini namanya."


"Eh, emang sakit, Mas?" tanyaku yang diangguki Mas Damar.


Lelaki itu mengangguk, Aku spontan mengelus tangan yang tadi kupukul.


"Sakitnya bukan di situ, Ras," ucapnya sembari tetap melihat ke depan.


"Lah, dimana?"


"Ini." ucapnya sembari menujuk pipi kirinya. Dia menoleh sejenak, sembari tersenyum penuh arti.


"Itu sih kamu modus, Mas." Mas Damar terbahak, sedang aku kembali bersandar ke kursi.


Entah aku tertidur berapa lama, saat aku bangun, kami sudah berada di jalan yang tak terlalu jauh dari rumah.


"Loh, kita sudah sampai? Maaf, ya, Mas bukannya nemenin, aku malah tidur," ucapku sedikit menyesal.


"Gak papa, kamu memang harus istirahat yang cukup, karena setelah ini aku tidak yakin membiarkanmu tidur dengan tenang." goda Mas Daamr sembari terkikik.


Aku yang sudah seperti kepiting rebus memilih menatap luar jendela. Ah, kenapa jadi kaku banget begini sih, padahal biasanya aku yang bikin rusuh, tapi kalau sudah berhadapan dengan Mas Damar gini, malah ganti aku yang seperti kanebo kering.


Mobil tiba didepan pintu gerbang, Pak Ikhsan membuka pagar. Di halaman samping, terlihat Arin sedang bermain dengan Langit. Tak menunggu Mas Damar aku langsung turun dan menuju Arin dan Langit.


"Langiiit!" seruku seraya mengambil bocah itu dari stollernya.


Aku sibuk menciumi dan bermain dengan bocah itu. Arin berdiri dari duduknya saat terlihat Mas Damar mendekat.


Mas Damar mencium Langit yang masih dalam pelukanku.


"Langit sehat-sehat, aja, Rin?" tanya Mas Damar kepada Arin.


"Sehat, Pak. Malah selera makannya lagi banyak-banyaknnya sekarang," jelas Arin yang diangguki oleh Mas Damar.


"Kamu doyan makan, ya? pantes tambah berat sekarang," ucapku kepada Langit, bocah itu hanya tersenyum, menggemaskan sekali.


"Aku kekamar dulu, ya?" pamit Mas Damar sembari membelai pucuk kepalaku. Aku mengangguk tanpa melihatnya.


"Cepat nyusul," bisiknya tepat dibelakangku. Aku menoleh sekilas, tapi lelaki itu sudah berbalik dan melangkah masuk.


"Eh, ada apa ini pamit aja sembari elus-elus rambut?" tanya Arin menatap curiga.


"Kepo!" jawabku sembari terkikik.


"Lah, wajar dong, Pak Damar kan jarang begitu, mana sampe nyusulin ke Madiun. Waah, jangan-jangan peluang menjadi ibu sambung Langit makin didepan mata nih?" tanya Arin penuh selidik.


"Nanti juga tahu sendiri," ejekku seraya mengajak Langit menjauh.


Usai bermain-main, Langit sepertinya mulai lelah. Bocah itu tertidur di gendonganku. Aku dan Arin akhirnya membawa bocah itu naik ke kamarnya.


Usai menidurkan Langit, aku kembali ke kamar. Lengket sekali badanku, rasanya mandi akan menjadi pilihan terbaik.

__ADS_1


"Belum diapa-apain udah keramas aja." Aku melonjak kaget saat melihat Mas Damar sudah duduk di ranjang tepat saat aku baru keluar dari kamar mandi.


"Loh, Mas, Sejak kapan di situ? nanti kalau ada yang lihat gimana?"


"Lah emang kenapa? kamu lupa kita suami istri? Lagian udah ditungguin daritadi malah gak muncul-muncul."


"Kan tadi gerah banget, Mas. Pingin mandi dulu."


"Sini!" perintah Mas Damar.


"Aku mau pakai baju dulu, Mas," jawabku yang malah digelengi olehnya.


"Iya, nanti. Sini dulu."


Mau tidak mau aku mendekat ke arahnya. Lelaki itu langsung saja menarikku yang lagi-lagi membuatku terduduk di dipangkuannya. Duh, piye iki. Mana aku masih pakai jubah mandi.


"Kamu banyak bicara banget sih, bikin gemes."


Belum sempat aku menjawab, lelaki itu susah membungkam mulutku dengan bibirnya. Tanpa melepaskan ciuamannya, Mas Damar membawa tanganku ke bahunya, sontak aku membelai rambut belakangnya.


Mas Damar makin menarik tengkukku, memberikan ciuman yang makin dalam. Tangannya menelusuri jubah mandiku yang tipis, membuat aku makin meremang.


Tangan Mas Damar turun ke bawah, ciuman panasnya membuatku sudah melambung jauh. Tanganya menelusup masuk ke jubah mandi, membelai pahaku yang masih polos.


Ada gelenjar aneh yang terasa, Kemarin aku hanya merasakan belaiannya dari luar bajuku, sekarang saat kulitku bertemu kulitnya langsung, ada sengatan tersendiri, hingga tanpa sadar satu desahan lolos dari mulutku.


Tanpa melepaskan pagutannya, Mas Damar mengangkat tubuhku, merebahkan ke ranjang. Dia naik ke atas tubuhku, menindih dengan sedikit menopang badannya dengan tangan. Aku sedikit gugup, mungkin sekaranglah saatnya memberikan apa yang menjadi hak Mas Damar. Sakit atau tidaknya nanti entahlah, yang jelas sekarang tubuhku sudah mulai meminta lebih, entah rasa apa ini sebenarnya.


Mas Damar melepas ciumannya, lelaki itu turun kebawah, berhenti tepat dibelakang telingaku.


"Sudah siapkah?" tanyanya pelan dengan suara yang sedikit serak. Dia menatapku sejenak, aku bisa melihat aura lain dari wajah Mas Damar,


Aku yang sudah hampir melayang, mengangguk seketika. Mas Damar tersenyum, lalu kembali lagi menciumi leherku.


Entah kapan itu terjadi, tiba-tiba saja aku merasa hawa dingin menyergap, aku meraba tubuhku. Duh, Gusti, kapan dia melakukannya? ikatan jubah mandiku sudah terlepas, jika Mas Damar tidak diatasku, mungkin tubuh polosku ini sudah terekspos.


Spontan aku merapatkan kaki, tanganku menyilang ke dada, menutupinya. Entahlah aku masih sangat malu.


"Kenapa ditutupin?" tanya Mas Damar mengangkat wajahnya, sekilas dia melirik ke bawah terus menatapku lagi.


"Aku malu," jawabku seraya menunduk, tak ingin lelaki itu melihat mukaku yang pasti memerah.


"Kenapa malu? kita sudah halal, lagian, aku bakal sering melihatnya," ucap Mas Damar masih dengan suara seraknya.


"Bukan begitu, aku malu jika ada reader yang ngintip. Matiin dulu lampunya, Mas. Biar mereka gak makin baper. Kasihan lawannya lagi pada kerja," jelasku yang membuat Mas Damar tersenyum.


"Baiklah, aku matikan lampunya, kamu buka tanganmu." Aku mengangguk, bersiap menerima sebuah rasa yang kata orang-orang bikin nagih.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sensor woee sensor, demen amat dikasih adegan beginian๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Kasyikan baper boleh, tapi jangan lupa tinggalin like, coment dan votenya yakk, biar Si Damar makin semangat genjotnya, eeh๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ


Selamat berbaper ria, jangan mikir yang iya-iya, yak. Dosa๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

__ADS_1


Kecup jauh untuk kalian semua๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2