Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Berkolaborasi


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


Part 97


Saras menatap takjub melihat kamar pengantinnya yang dirias begitu indah. Padahal dulu, saat di malam pertama pengantinnya, dia dan Damar bahkan tidur di kasur sempit miliknya di desa.


Saras terkekeh geli, padahal hampir setiap hari dia melewatkan malam bersama dengan Damar, tapi melihat kamar yang dihias sempurna begini, dia jadi merasa seperti akan melakukan malam pertama saja.


Saras masuk kamar terlebih dahulu, suaminya masih di luar untuk menemui beberapa tamu. Usai dibantu Erika melepaskan gaun pengantinnya tadi, Saras memilih masuk kamar dan membersihkan diri.


Saras sejenak melihat totebag yang dia pegang. Dia sedikit ragu, tapi gara-gara ulah Erika, dia sangat terpaksa menyetujui.


Saras membawa totebag itu ke kamar mandi.


"Saras?" panggilan dari luar tendengar.


"Lagi di kamar mandi, Mas. Mau mandi dulu," jawab Saras kepada suaminya.


"Oke."


Beberapa menit berlalu, Saras dengan ragu membuka pintu kamar mandi. Saras mendongakkan kepalanya keluar kamar mandi. Dia ingin memastikan bahwa Damar sudah tertidur lelap, tapi sayangnya keinginannya itu tidak terkabul.


Mendengar suara kamar mandi terbuka, lelaki itu langsung menoleh kearah sumber suara. Bukannya keluar, istrinya itu malah menyembulkan kepalanya saja.


"Ngapain sih? gak bawa baju?" tanya Damar yang melihat sikap aneh istrinya.


"Bawa kok, Mas," jawab Saras sembari nyengir.


Damar kembali mangarahkan pandangannya ke arah TV. Merasa tidak ada pilihan, Akhirnya Saras pun keluar dari persembunyiaanya.


Damar kembali melihat ke arah istrinya yang berjalan mendekat kearahnya. Sebelah alisnya terangkat melihat apa yang dipakai istrinya itu.


"Kok masih pakai jubah mandi? katanya sudah bawa baju, atau kamu sengaja mau godain aku, ya?" tanya Damar dengan senyum jahil.


Awalnya, lelaki itu berniat untuk istirahat saja. Dia tahu pasti, istrinya itu pasti sangat lelah. Tapi melihat Saras yang memakai jubah mandi dengan wajah bersemu merah membuat jiwa kelakiannya bangkit.

__ADS_1


"Enggak-enggak, kok! beneran!" jawab Saras dengan gugup.


"Lah terus?"


"Ini juga sudah pakai baju, cuma aku malu," jawab Saras sembari menunduk.


Damar makin menatap istrinya curiga sekaligus gemas. Lelaki itu bangkit dari ranjang. Jas pengantin dan kemeja sudah dia lepas sedari tadi, menyisahkan kaos putih tipis dengan celana yang masih melekat.


"Malu kenapa?" Denis berpindah duduk diranjang persis di depan Saras.


Lelaki itu membawa istrinya mendekat, melingkarkan tangan di pinggangnya dan merebahkan kepala di perut rata istrinya.


Saras hanya berdiri kaku, persis saar dulu akan melakukan malam pertama. Padahal, dia bahkan sudah jebol berkali-kali.


"Kamu kalau capek bobok gih, Mas," ucap Saras mengalihkan pembicaraannya.


"Iya, tapi sebentar ya, pingin meluk kamu dulu kayak gini," jawab Damar dengan semakin mempererat pelukannya.


Saras tersenyum, tangannya terulur membelai kepala Damar. Dia memijat pelan kepala suaminya itu, membuat Damar makin merasa rilex.


"Makasih, ya? sudah ayo tidur, kamu pasti capek." Saras mengangguk.


Damar melepas pelukannya, dia berdiri hendak berjalan menuju samping ranjang. Namun melihat istrinya hanya diam di tempat tanpa melepas jubah mandinya, langkah Damar akhirnya terhenti.


"Kenapa? kok gak dilepas jubah mandinya? nanti kamu masih angin loh," ucap Damar lagi.


"Aku malu, Mas."


"Malu kenapa sih? Emang kamu pakai apaan?"


Gemas dengan sikap istrinya itu, Damar mendekat lagi ke arah Saras. Tangannya menarik ikatan tali jubah mandi yang sedari tadi hanya di genggam oleh Saras.


Damar sedikit terkejut melihat baju yang ada di balik jubah mandi istrinya. Bibirnya sedikit tersungging, tak menyangka Saras berani memakai ini di depannya.


Damar melepas seluruh jubah Mandi dan melemparnya asal. Dia kembali mengambil tempat duduk didepan Saras dan melihat penampilan istrinya yang sangat menggoda itu.

__ADS_1


"Kenapa lihatin begitu?" tanya Saras sedikit sebal dengan respon suaminya.


"Kan lagi menikmati, Sayang. Kenapa sih gak bilang kalau kamu pakai ginian? tahu gitu kan tadi gak pakai acara pijat-memijat." Damar menaik-turunkan alis, membuat Saras yang sudah sangat malu memilih berjalan menjauh.


Damar dengan sigap menarik tangan Istrinya. Saras terpekik kaget, dengan cepat Damar sudah merubah posisinya manjadi terkungkung di bawah tubuh suaminya itu.


"Tadinya, aku pingin kita istirahat saja. Aku tak tega jika harus melakukannya sekarang, karena aku tahu kamu pasti capek," ucap Damar seraya menatap wajah istrinya.


"Ya, sudah, ayo kita tidur aja kalau gitu."


"Gak bisa, Sayang. Kamu sudah membangunkan singa yang telah lama puasa. Jadi, bersiaplah untuk kuajak kolaborasi."


"Kolaborasi?" Ulang Saras bingung.


"Iya, berkolaborasi untuk membuat adeknya Langit."


Damar tersenyum jahil, sebelum akhirnya di membelai wajah Saras dengan kecupan-kecupan dari bibirnya.


Saras mengangkat tangan, mengalungkan tangannya pada leher Damar saat ciuman suaminya itu sudah berpusat di bibirnya.


Damar terus menyerang bibir istrinya itu dengan gemas, tak lupa dengan tangan yang sudah mulai meremas apapun yang berhasil dia pegang. Sebuah desahan keluar dari bibir Saras, membuat tubuh Damar makin memanas dan bersemangat.


Entah kapan itu terjadi, Sebuah lingerie merah telah terlepas dari tubuh Saras dan tergelatak tak berdaya di bawah ranjang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Yuhuuu ... hawanya sedikit hareudang, yakkπŸ˜…πŸ˜…


Saras dan Mutia update barengan, yakk. Bedanya kalau di sini lagi skidadap awe-awe, di sana malah lagi sesi perpisahan. eh, aku spoiler kanπŸ˜…πŸ˜…


Mampir gih, kalau penasaran


Wes ah, ada satu lagi yang mesti dikelarin.


Kecuo jauh untuk kalian semua😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2