Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Pelarian


__ADS_3

Zakki berjalan gontai menuju apartemennya. Sesuai perkataan Reno, hari ini pasien tak seberapa banyak, dia pun pulang tepat waktu sekarang tapi entah kenapa tubuhnya terasa amat lelah. Mungkin bukan hanya tubuhnya, tapi juga hatinya.


Usai meletakkan kunci mobilnya, zakki langsung memasuki kamar. Jika boleh jujur, perutnya teramat lapar sekarang, tapi entah kenpa dia seperti tak punya selera untuk mengisi perut. Sea benar-benar berhasil menjungkir balikkan hidupnya.


Usai mandi dan berganti baju, Zakki memutuskan untuk tidur. Suasana hati yang tak menentu membuatnya sangat lelah. Semoga saja saat dia bangun tidur nannti semuanya sudah membaik. Tak terkecuali hati Sea.


Zakki merasa tidurnya belum terlalu lama. Lelaki itu memutar tubuh, menengok ke arah dinding tepat pada jam yang menggantung di sana. Baru pukul lima sore, dia tertidur jam empat tadi, hanya satu jam.


Tidur zakki terusik karena sebuah aroma hidangan lezat yang menerobos masuk hidungnya. Mungkinkah karena pengaruh dia amat kelaparan hingga hidungnya saja ikut berhalusinasi?


Zakki sudah tak kuat menahan lapar, pemuda itu memutuskan keluar kamar, mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Setidaknya sampai makanan yang akan dia pesan dari gojek tiba di sana.


Zakki mematung di tempat saat melihat satu sosok yang sibuk menata piring di meja makan. Beberapa kali pemuda itu mengucek matanya, memastikan bahwa halusinasinya tak separah ini.


Perlahan tapi pasti Zakki mendekat. Gadis yang tadinya serius dengan kegiatannya itu mendongak sejenak. Setelah beberapa detik saling menatap, Sea lebih dulu memutus pandangan. Tak ada sapaan, tak ada gurauan dan tak ada rengekan yang biasa dia perlihatkan.


“Sea, kamu di sini?” Akhirnya, setelah kembali tersadar hanya itu pertanyaan yang Zakki ucapkan.


“Makanan sudah siap. Makanlah dulu sebelum kembali tidur, setelah ini aku akan kembali pulang.”


Sea berbicara tanpa sedikit pun menoleh ke arah Zakki. Tangannya masih sibuk merapikan ini itu.


“Kamu pulang kemana?” tanya Zakki tanpa bergeser sedikitpun dari tempatnya.


“Ke rumah papa mama.”


“Tunggulah setelah aku selesai makan, biar aku antar.” Zakki mencoba menawarkan diri.


“Gak usah. Kamu lagi sakit, lagipula aku membawa mobil.”


Zakki benar-benar bingung melihat tingkah Sea hari ini. Gadis itu tak banyak bicara dan bercanda seperti biasanya. Dia sendiri bingung bagaimana harus bersikap, karena menurutnya kesalahannya tak sefatal itu.

__ADS_1


Memang benar-benar tai itu si Zakki. Mari kita musnakan bersama-sama.


“Semua sudah siap, aku kembali dulu.”


Sea melangkah menuju sofa tamu, dia mengambil tas dan beberapa bukunya di sana. Zakki hanya mengawasi gerak-gerik gadis itu, tanpa mencegah apalagi melarang. Baru saat Sea hendak mencapai pintu kesadaran lelaki itu kembali lagi.


“Sea, tunggu!”


Zakki langsung menahan gagang pintu yang hampir terbuka itu. ditutupnya kembali rapat-rapat pintu tersebut. Kedua orang itu kini saling berhadapan, tanpa bicara dan tanpa tindakan apapun.


“Jangan seperti ini. Aku minta maaf,” pinta Zakki masih dengan posisi yang sama.


Sea terdengar menghela napas sejenak. “Sudahlah, Dok. Lupakan saja. Kamu makanlah dan biarkan aku pulang.”


Zakki menggelengkan kepala beberapa kali. “Kamu bahkan masih memanggilku dengan sebutan itu, bagaimana bisa kamu bilang lupakan?"


“Bukankah biasanya aku juga memanggil seperti ini?”


“Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf. Jangan seperti ini.” Zakki meraih tangan Sea, menggenggam kedua tangan itu erat.


“Boleh aku bertanya satu hal?”


“Apa?”


Sea menatap lekat manik mata coklat milik Zakki. “Selama ini, kamu anggap apa aku?”


Pertanyaan ini sudah amat lama Sea ingin tanyakan, tapi Sea terlalu takut. Sea takut dengan jawaban Zakki. Sea takut jawaban yang dia dengar tak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Sea terlalu takut.


zakki yang mendapat pertanyaan tiba-tiba seperti itu hanya menunduk, dia tak tahu harus menjawab apa. Bibirnya mendadak keluh, otaknya tak bisa berpikir jernih.


Sea menunggu.

__ADS_1


Hampir lima menit lamanya, Zakki masih terus bungkam, hingga akhirnya sebuah helaan napas keluar dari bbir Sea.


“Pelarian. Seseorang yang kamu butuhkan untuk membantu melupan seseorang. Apa seperti ini aku di matamu?”


Singkat, tapi entah kenapa begitu menyakitkan. Tak hanya Sea yang harus membesarkan hati saat mengucapkan ini, zakki pun merasa kesakitan.


Sekali lagi Sea menunggu jawaban Zakki, tapi lelaki itu masih bersikap sama. Dia hanya mengankat wajah, memandang Sea tanpa mengucapkan spetah kata pun.


Sea tersenyum masam. Dia sudah mendapatkan jawabannya. Gadis itu menarik tangannya yang masih dalam genggaman Zakki. Dia maju selangkah, mencoba membuak pintu yang terhalang oleh tubuh tegab Zakki.


Zakki tetap diam saat Sea mulai melangkah melewatinya. Sebelum benar-benar keluar, Sea berhenti sejenak dan menatap ke arah Zaki.


“Tadinya aku pikir sikapmu kemarin adalah bentuk rasa cemburu, tapi ternyata aku salah. Kamu hanya tak mau kalah untuk kedua kali." Sea menarik napas sekali lagi, mencoba menghalau sesak yang mulai menguasai hati.


"Aku jatuh cinta, tapi kamu tak pernah menganggapku ada. Makan dan istirahatlah.”


Usai berkata demikian, Sea melangkah pergi meninggalkan Zakki yang bahkan tak mencegahnya sedikit pun. Sea melangkah dengan hati bergetar hebat, sesakit inikah rasanya? Kenapa rasanya tak sebanding dengan manisnya mencintai? Jika memang mencintai sesakit ini, kenapa Tuhan justru menjadikannya sebuah anugrah?


Lagi-lagi Zakki terlambat untuk tersadar. Sea sudah pergi bahkan gadis itu sudah tak terlihat.


Bukan!


Sungguh bukan Zakki tak peduli!


Dia diam hanya ingin memastikan keadaanya. Dia tak ingin salah ucap yang akhirnya akan menyakiti kembali hati gadis itu.


Zakki mencintai Sea.


Sea bukan pelariannya.


Zakki tak pernah mau kehilangan gadis itu.

__ADS_1


Dan bodohnya, saat dia merasa cemburu tanpa sadar Zakki malah menyakiti hati gadis yang dia cintai.


Lagi dan lagi, Zakki dikalahkan oleh keadaan.


__ADS_2