
Aku dan Arin menyiapkan segala keperluhan Langit. Kebutuhanku sendiri sudah tertata rapi dalam ransel. Sesuai rencana Kakek, sepertinya kami akan menginap dua hari ini. Ah, tak sabar rasanya bisa bersenang-senang lagi, terakhir aku ke Malang dua tahun lalu, waktu acara rekreasi dari toko.
Celana pendek sedengkul, kaos oblong dengan topi ala koboi, pagi ini kakek benar-benar tak terlihat seperti umurnya. Super duper keren. Dibantu Mbak Indri, aku dan Arin memasukkan kebutuhan Langit ke dalam bagasi mobil.
Mas Damar datang dari dalam, like grandchild like grandfather, yang ini justru jauh luar biasa. Tak jauh beda, celana jeans pendek sedengkul dengan kaos hitam yang lebih pres body, baru lihat aja sudah berdebar seperti ini, bagaimana kalau bisa pegang?
"Mar, hari ini aku gak mau pakai sopir, aku mau kamu yang nyetir," perintah Kakek yang langsung di protes oleh Mas Damar.
"Loh, Kek. yang bener saja, Malang jauh, kenapa harus aku yang nyetir?"
"Cuma empat jam, jangan berlebihan!"
Mas Damar hanya tersenyum kecut mendengar perintah sang kakek. Lelaki tua itu memang terkadang kelewatan, yang benar saja, punya sopir tapi di suruh mengemudi sendiri. Mas Damar itu cocoknya mengemudikan rumah tangga kami berdua, dan sebagai penumpang, jangankan dikemudiin, dinaikin aja aku juga mau, di naikin ke mobil maksudnya. Iih ... pikirannya pada ketularan mesum nih.
Empat jam perjalanan telah di tempu, dan selama itu pula, tak cuma Langit, kakek pun yang duduk di samping Mas Damar tertidur dengan pulas. Benar-benar seenaknya sendiri itu kakek, cucunya di suruh nyetir, eh dia asik ngorok.
Sebuah villa di puncak kota Batu menjadi pilihan Mas Damar. Memang tidak terlalu besar, tapi cukup lengkap fasilitas di dalammya. Hawa dingin mulai menyerap, hanya saja karena ini masih siang, sinar matahari masih cukup membantu, gak tau kalau malam. Eeh ciye, pada mau bilang kalau malam dibantu menghangatkan Mas Damar, kan? yes, kita sepemikiran.
Hanya ada tiga kamar di sini, satu untuk kakek, satu untuk Mas Damar dan satu lagi untukku dan Arin, tentu saja akan ada Langit di tengahnya. Aku dan Arin dibantu Mas Damar memasukkan barang-barang Langit ke dalam kamar, hawa dingin sepertinya membuat bayi gembul itu enggan sekali membuka mata, dia sudah tertidur lelap sejak di perjalanan tadi.
"Loh, kakek mana? kok dari tadi gak kelihatan?" tanya Mas Damar seraya memperhatikan sekeliling.
Benar kata Mas Damar, setelah sampai dan berkeliling villa sebentar, Kakek sudah tidak kelihan lagi.
Mas Damar memutuskan menuju kamar kakek yang terletak di paling ujung Villa, dan benar saja lelaki tua itu malah sedang asyik tidur di kamarnya.
"Katanya ke sini ngajakin jalan-jalan, ini malah tidur, jauh-jauh ke sini numpang tidur doang," oceh Mas Damar seraya menuju dapur.
Villa ini hanya berlantai satu, tiga kamarnya berjejeran, ada ruang tamu kecil untuk menonton televisi, sedangkan di ruang tengah ada sebuah ruang keluarga sepertinya, jadi tak heran percakapan sekecil apapun pasti terdengar, kecuali kalau di dalam kamar.
__ADS_1
Bosan, aku memutuskan untuk keluar kamar. Arin yang katanya lelah, memutuskan untuk menemani Langit di kamar. Halaman Villa ini cukup luas, ada taman kecil di depannya, belum lagi letakknya yang berada di puncak teratas membuat villa ini semakin indah saja. Pemandangan alam yang indah langsung disuguhkan saat aku berjalan ke samping villa, benar-benar tempat yang cocok untuk bulan madu.
"Kamu gak istirahat, Ras?" Entah kapan datangnya, lelaki tampan dan menggemaskan saudara kembar Lee Min Hoo itu tiba-tiba saja berada di sampingku.
"Eh, gak capek, Mas. Sayang banget kalau ada pemandangan seindah ini ditinggal mendengkur di kamar. Mas Damar sendiri gak istirahat? gak capek habis nyetir?"
"Gak bisa tidur, tempat ini justru mengingatkanku kepada Rachel. Dulu, sebelum ada Langit, kami sering sekali kemari, kebetulan juga pemilik Villa ini adalah temanku sendiri, jadi sangat gampang untuk booking"
Memang ini bukan waktu yang tepat, Mas Damar sedang bersedih, tapi jujur aku iri kepada Mabk Rachel, bayangkan saja, berdua di tempat sejuk dan romantis seperti ini mau ngapain lagi kalau gak skidadap awe-awe? Mas Damar, kawinin aku dong.
Mas Damae berjalan menuju halaman Villa, aku sengaja mengikutinya sembari membiarkan dia menceritakan kisah sedihnya. Aku memang belum bisa memeluk dan menenangkannya, tapi semoga saja kehadiranku bisa cukup untuk meredakan kesedihannya.
"Maaf kalau aku jadi curhat," ucapnya sembari terkekeh. Manis sekali.
"Tak apa, Mas. Mungkin hanya dengan cara ini aku bisa membantumu meredakan kesedihan."
Hari ini kita hanya berbagi cerita, besok kita akan berbagi ...? ah, tak perlu kusebutkan, bukan?
"Aku? tidak ada yang istimewa, Mas. Aku hanya anak petani yang kebetulan merantau kesini untuk menyambung hidup. Aku berasal dari desa kecil di ujung kota Madiun."
"Berapa jumlah saudaramu?" tanya Mas Damar kembali duduk di teras Villa.
"Aku tiga bersaudara, seorang kakak lelaki, da adik lelaki. Aku satu-satunya yang paling imut di rumah, setelah ibu tentunya," jawabku yang membuat Mas Damar tersenyum.
"Kamu tidak pernah pulang kampung?"
"Aku ...." Kalimatku menggantung begitu saja, tidak mungkin aku jujur bahwa aku tidak pulang karena takut dengan lamaran Juragan Ipan.
"Aku memang jarang pulang, Mas. Setiap gajian, hanya uang yang kutransferkan kepada orang tua."
__ADS_1
"Memangnya kamu tidak rindu?"
"Tentu saja rindu, Mas. hanya saja rindu ini terkalahkan oleh materi yang harus kucari."
"Eh, lelaki yang tempo hari di kosmu itu, apa itu pacarmu? tapi kok aku gak pernah lihat dia lagi?" tanya Mas Damar yang kini berubah posisi duduknya menjadi menghadapku.
Kalau dengan posisi seperti ini, ingin rasanya aku maju saja, bercerita sambil merebahkan tubuhku di dadanya, aaah syahdunya, persis lagu penyanyi dangdut Ike Nurjanah.
"Dia bukan pacarku, Mas. Dia hanya buaya yang kebetulan mendapat target yang salah."
"Maksdunya?"
"Iya, dia ketahuan saat aku masih belum resmi menjadi pacarnya."
"Syukurlah kalau kamu belum sampai terjebak bujuk lelaki seperti itu. Kamu harus lebih waspada, Ras, Surabaya ini keras, dan kamu terlalu polos untuk sekedar menjadi bahan mainan."
Aaah ... terharu rasanya Mas Damar memperhatikanku seperti itu. Saat kami asik berbincang, suara tangis Langit membuatku beranjak.
"Ras ...." panggil Mas Damar saat aku hendak melangkah menuju kamar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ras, will you merry, Me?" hayoooo siapa yang pingin Damar ngomong kayak gini ke Saras? Aku juga pingin sih, tapi kok, bijimane ya?? aku belum ridho, hehe ...
Maafkan kalau akhir-akhir ini aku update dua hari sekali, yakk. Ada beberapa naskah lain yang juga harus aku kelarin. Tapi tenang saja, aku bakal tetep usahain update sehari sekali kalau sempat.
So, jangan pelit like, coment dan vote, yakk. Jangn cuma mampir, baca, eeeh likenya kagak ditinggalin, pan kayak sudah sayang tapi dianggurin.
Selamat membaca, Dear ....
__ADS_1