Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Cinta dalam Secobek penyetan


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


Part 73


Kami saling diam, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Mas Damar menggenggam tanganku erat, sesekali tangan lainnya mengelus-elus punggung tanganku.


Bibirku tak berhenti tersenyum sejak tadi. Tak menyangka hal seindah ini akan terjadi padaku, Beberapa bulan lalu, Mas Damar adalah sosok yang hanya bisa kukagumi, dan siang ini dia melamarku, memintaku menjadi istrinya, menjadi ibu untuk Langit dan calon anak-anaknya kelak.


Saat kami masih sama-sama diam, sebuah bunyi yang tak biasa terdengar. Aku langsung duduk tegap, menatap Mas Damar yang saat ini sedang garuk-garuk kepala dan nyengir tak jelas. Melihat rupanya yang begitu merasa malu membuatku langsung terbahak.


"Mas Damar laper?" tanyaku di selingi tawa.


Pria itu mengangguk, "Aku cuma makan di pesawat semalam, sampai sini tadi wes gak kepikiran makan, pingin langsung ketemu kamu dulu," jelasnya dengan muka yang? ah, entah menggemaskan.


"Ya, sudah, ayo aku masakin!" ajakku seraya menariknya masuk ke dalam.


Mas Damar kusuruh duduk di samping meja makan. Sedangkan aku melihat persediaan bahan yang ada.


"Mas, ini cuma ada akan mujaer sama tempe, sayurnya gak ada, mau makan sambel penyetan gak?" tawarku yang diangguki Mas Damar.


"Tapi kamu yang masak, ya? aku pingin nyobain masakanmu, masa kalah sama Langit."


"Siap, tapi maaf cuma masakan desa, ya, Mas?"


"Gak papa. Asal sama kamu, sih, enak-enak aja," rayunya dengan menaik turunkan alis.


Aku mulai sibuk meracik bumbu untik menggoreng ikan. Sedangkan Mas Damar sibuk juga dengan ponselnya, mungkin menghubungi patner bisnisnya.


Ikan telah matang, kini ganti aku meracik bahan untuk sambal. Mas Damar bersin-bersin tak karuan saat aku mulai menggoreng sambal, wajahnya memerah menahan aroma sambal, aku tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresinya, dan akhirnya dia menatapku dengan tajam.


"Ras, lapo nduk? kok sampe mas'e bersin-bersin ngunu?" Ibu datang dari dalam, mungkin penasaran dengan keributan yang terjadi.


"Ndak papa, Buk. Ikuloh Mas Damar bersin-bersin pas aku goreng sambel," cerita sambil tertawa.


Ibu melihat ke arah Mas Damar, lelaki itu hanya tersenyum kikuk.


"Yo ngunu iku Mas'e suruh nunggu diluar aja, toh. Maaf, loh, Mas. Saras memang gitu, kadang sembrono," ucap Ibu kepada Mas Damar.


Aku tak menyangka, meskipun terlihat ada keraguan tentang status Mas Damar, Tapi Ibu bisa menerima dan memperlakukan Mas Damar dengan baik.


"Ndak papa, Bu. Justru itu yang membuat Saras unik," jawab Mas Damar dengan senyum.


"Bu, ini nanti bapak maem apa? gak mungkin kan maem sambel?" tanyaku saat ibu mendekat.


"Iya, ibu ya, bingung. Jam segini tukang sayur ya, gak, ada. Adit juga belum pulang, mau tak beliin bubur di depan puskesmas sana loh,"


"Tak beliin ae, Buk," tawarku seraya mengambil bumbu sambel yang selesai digoreng.


"Wes ndak usah, kamu buatin maem buat masnya saja, kasihan keburu laper."


"Biar saya yang beli aja gimana, Bu?" Mas Damar menawarkan diri.


"Ndak usah, Mas. Wong pean tamu kok, gak ngerti jalane. Wes ibu tak nyuruh Aji ae." Ibu berjalan keluar. Mungkin menuju rumah Aji sepupuku yang rumahnya selisih tiga rumah dari sini.


"Sambel penyet mujaer dan tempe, siaap," ujarku seraya mengangkat cobek ke depan.


Mas Damar berdiri, melangkah mendekat ke arahku. Dia melihat makanan yang aku pegang, entah dia akan suka atau tidak, semoga saja rasanya gak ancur.

__ADS_1


"Kayaknya enak nih. Gak salah ini aku cari calon istri," ucap Mas Damar seraya melihatku dan mengelus pucuk kepalaku.


Aih, aku jadi malu-malu gimana gitu, jadi pingin terbang.


"Ayo, makan," ajakku seraya menuju meja makan.


"Makan diluar itu kayake lebih enak, Ras. Lebih seger," ucap Mas Damar seraya menunjuk balai yang sebelumnya kami duduki.


Aku mengangguk, membawa serta cobek ke luar.


"Mas Damar duduk dulu, biar aku ambilin nasi sama minumnya dulu," ujarku yang diangguki oleh lelaki itu.


Aku membawa dua piring nasi keluar, tak lupa membawa sebotol air dingin untuk minum.


Aku menyerahkan piring yang berisi nasi kepada Mas Damar, tak lupa satu baskom untuk tempat dia cuci tangan nanti.


Tanpa menungguku, lelaki itu langsung saja mengambil sepotong mujaer dan melahapnya. Aku memperhatikan ekspresinya, dia terlihat sedang merasakan.


"Gimana? enak, Mas?" tanyaku.


"Enak, Ras tapi pedes," ucapnya dengan muka sudah mulai merah, padahal baru sesuap.


"Mas Damar gak doyan pedes?" tanyaku memastikan.


"Gak seberapa."


"Kalau emang kepedasan gak usah dimakan, Mas."


Lelaki itu menggeleng, meskipun pedas, tapi Mas Damar terlihat menikmati. Aku diam seraya mengingat-ingat, kira-kira berapa cabe yang kusambal tadi, dan done! Aku gak ingat saking banyaknya.


Keringat Mas Damar bercucuran, tak hanya wajah, bibirnya pun memerah. Aku langsung masuk ke dalam mengambil tisue.


"Udah kepedesan gitu masihbaja ganjen, makan dulu," omelku yang membuat dia tersenyum sekilas.


Selera makanku tiba-tiba menghilang melihat Mas Damar makan dengan lahapnya. Aku tak menyangka, makanan sederhana begitu bisa membuat lelaki itu senang. Jika Mas Damar saja bisa masuk ke duniaku, kenapa aku tak mencoba masuk juga ke dunianya? Aku akan mencoba untukmu, Mas.


"Ras, gak makan?" tanyanya dengan napas tersenggal-senggal.


"Nanti, Mas. Lihat Mas Damar makan kok seru."


"Yawes, nanti kamu ambil nasi lagi." Tanpa di duga lelaki itu justru mengambil nasi milikku.


Aku melongo seketika, perasaan biasanya Mas Damar tak makan sebanyak ini, kenapa sekarang jadi orang kalap begini?


"Doyan apa laper, Mas?"


"Dua-duanya. Habis enak." jawabnya dengan mulut penuh nasi.


Aku terus mengamati tingkah Mas Damar, secobek penyetan mujaer berhasil menambah porsi cintaku padanya.


Piring kedua tandas, Mas Damar menghabiskan satu gelas air dingin. Setelah semua habis dia duduk dengan memegang perut, Ya Allah kenapa dia semakin menggemaskan begini.


"Kenyang banget, Makasih, Sayang. Lain kali masakin aku gini lagi, ya?" ucapnya dengan peluh masih membasahi dahi.


Aku mengangguk mengiyakan. AKu bangkit membereskan bekas makanan Mas Damar.


"Loh, gak jadi makan?"

__ADS_1


"Sudah kenyang lihat Mas Damar makan."


"Kok gitu?"


"Kan cinta itu melengkapi, Mas. Kamu kenyang, aku pun sama," ucapku sembari nyengir.


"Hmm ... makin kenyang ini," jawabnya polos, aku terbahak sembari membawa bekas makanan ke dalam.


Saat masuk ke dalam, terlihat Bapak sudah duduk di ruang tamu. Lelaki hebatku itu sedang makan bubur yang mungkin ibu belikan tadi. Ibu duduk di sampingnya, menuangkan minuman untuk bapak. Ah, membuat iri saja, semoga Aku pun merasakan cinta seperti mereka, sampai tua, sampai menutup mata.


"Lihatin apa? kok bengong?" Mas Damar tiba-tiba berdiri di sampingku, ikut melihat arah pandanganku.


"Sudah selesai beres-beresnya? mumpung ada bapak, ayo aku mau ngomong sama mereka." lanjut Mas Damar yang membuatku melongo.


"Lah mau ngomong apa?"


"Ayolah, nanti juga tahu."


Mas Damar berjalan mendahuluiku. Aku masih diam di tempat, masih kepikiran apa yang akan lelaki itu katakan.


Mas Damar terlihat mengambil tempat duduk di kursi samping ibu dan bapak. Entah apa yang mereka bicarakan, ibu terlihat menahan senyum sembari mengucapkan sesuatu, jadi penasaran.


Aku mendekat, ikut mengambil tempat duduk di bawah bapak. Lelaki itu tersenyum, dan mengelus kepalaku sejenak.


"Pak, Buk, mumpung saya di sini, saya mau menyampaikan sesuatu yang penting," ucap Mas Damar memulai percakapan.


Aku mendengar sembari mengambil kaki bapak, mulai memijit kaki yang telah membiayi hidupku sejak kecil.


"Monggo, Masnya mau bilang apa? kami siap mendengarkan," ibu menjawab pertanyaan Mas Damar. memusatkan perhatian penuh pada lelaki itu.


"Saya mau melamar Saras untuk menjadi istri saya." Mas Damar berhenti sejenak.


Aku melihat ekspresi bapak dan ibu yang sepertinya terkejut. Aku pun tak kalah kaget, tak menyangka Mas Damar akan melamarku secepat ini.


"Saya memang baru mengenal Saras, tapi saya sudah mantap untuk memilihnya. Memang istri saya baru meninggal tujuh bulan lalu, tapi perasaan saya tidak main-main dengannya.


Selain saya, anak saya pun membutuhkan Saras. Dia sudah sangat dekat dengan Saras, oleh karena itu, sekarang saya meminta restu ibu dan bapak untuk menyetujui hubungan ini."


Aku makin deg-degan. Ibu terlihat menghela napas.


"Masnya sudah mikir bener-bener? Kami ini orang kecil, tak sebanding dengan masnya. Lagian sampean tahu sendiri Saras orangnya gimana, dia kadang masih kayak bocah, masih sembrono, apa bisa mendampingi masnya?" Kali ini, bapak angkat suara.


Biasanya, bapak hanya akan menurut kata ibu. Bukan karena bapak tipe lelaki takut istri, tapi bapak pernah bilang, Wanita itu orang yang paling peka, memang terkadang dia sangat perasa, tapi karena sifatnya itulah wanita selalu waspada. Jika lelaki memakai kekuatan untuk bertahan hidup, maka wanita akan memakai otaknya untuk menyelamatkan kehidupannya, bahkan tak hanya hidupnya, tapi juga hidup seluruh keluarganya.


Oleh sebab itu, Bapak tak pernah mau mendebat ibu. Bapak yakin segala keputusan ibu sudah pasti dia pikirkan baik-baik. Dan jika sekarang bapak sudah angkat bicara, aku yakin karena ini berkaitan dengan hidupku, anak gadis satu-satunya, kembaran si Nia Ramadhani.


"Saya tak hanya mencintai kelebihaN Saras, Pak. Saya juga cinta segala kurangnya. Saya tidak bisa menjamin Saras untuk terus bahagia, tapi saya berjanji akan berusaha tidak menyakiti hatinya," ucap Mas Damar dengan mantap.


Ah, Mas Damar, meleleh rasanya aku mendengar ucapanmu. Selain menjadi tukang bangunan yang berhasil mengaduk-aduk hatiku, kamu juga seperti tukang kebun, sukses membuat benih-benih cinta dihatiku makin tumbuh subur, indah mewangi sepanjang masa.


Bapak dan Ibu saling pandang lagi. Berasa kayak di persidangan saja, menunggu hasil putusan hakim.


Buk, bapak, Anakmu ini sudah sangat siap kawin, restui kami, Pak, Buk.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Oyeee ... kawin kagak nih? Besok kalau mereka jadi kawin, jangan lupa pas kondangan bawa amplop yang tebel, yak? Awas aja kalau malah bawa batako๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

__ADS_1


Kecup jauh untuk kalian semua๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2