Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Saya, Pamit


__ADS_3

"Aku akan ke rumah sakit setelah ini, kamu mau di sini apa pulang?" tanya Zakki saat hendak masuk ke dalam.


"Kalau di sini saja, boleh?" jawab Sea dengan mengedip-kedipkan mata.


"Kenapa tidak pulang saja?"


"Ish! Tadi nawarin mau di sini apa pulang, giliran di jawab sekarang malah diusir. Dasar dokter tak peka!"


"Lagian kenapa dengan rumahmu? Kalau aku dituduh menculikmu bagaimana?"


"Rumahku gak kenapa-kenapa, Dok. Lagian siapa yang mau menuduh, aku kesini atas dasar suka sama suka, jadi tidak ada pasal yang melarang."


Zakki mendelik. "Suka sama suka dengan siapa?"


"Dokter dan aku," jawab Sea lagi-lagi tanpa dosa.


"Ngimpi!"


Tak mau ambil pusing, Zakki masuk ke kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, sudah waktunya dia kembali ke rumah sakit.


Masih ada yang mengganjal di hati Zakki, ada apa sebenarnya yang terjadi dengan gadis itu. Apa masalahnya? Namun, rasa cueknya mengikis rasa penasarannya. Dia hanya tak mau terlibat terlampau jauh. Dia juga tak mau pemberi harapan palsu. Cukup memberi tumpangan saja, tidak lebih.


Zakki keluar kamar saar dia sudah siap berangkat. Sea terlihat sedang duduk di atas sofa dengan menonton televisi. Mendengar pintu kamar Zakki berderit, gadis itu menoleh.


"Sudah mau berangkat, Dok?" tanyanya.


"Hmm." jawab Zakki hanya bergumam.


Sea berdiri, mendekat ke arah Zakki.


"Boleh kan aku masih di sini? besok setelah dokter kembali aku akan pulang."


Zakki berpikir sejenak, kemudian mengangguk. Zakki melangkahkan kaki menuju pintu.


"Eh, Dok itu apaan?" tunjuk Sea tiba-tiba ke arah atas.


Zakki yang hendak membuka pintu mendongak melihat ke arah yang di tunjuk Sea. Saat Zakki mmgarahkan pandangan ke atas, Sea dengan sigap meraih tangan kanan Zakki dan menciumnya.


Zakki melonjak kaget dengan tindakan tiba-tiba Sea. Lelaki itu mundur beberapa langkah, mendelik taja kepada arah Sea.


"Ngapain sih?" tanya Zakki dengan nada kesal.


"Kan biar kayak istri-istri yang nganter suaminya berangkat kerja," jawab Sea dengan tanpa dosa.

__ADS_1


Dia tersenyum lebar sedang Zakki geleng-geleng kepala dan tak berniat berbicara lagi. Zakki keluar dari apartemennya, tanpa menoleh sedikitpun.


Sea hanya menatap punggung Zakki yang sudah menjauh dengan pandangan sendu.


Andai saja kebahagian sederhana ini bisa terus dia rasakan.


***


Zakki melangkah masuk ke dalam rumah sakit saat hendak menuju ruangannya terlihat dari jauh gadis yang dia kenal.


Gadis itu menampilkan raut muka khawatir. Dia bahkan mondar-mandir seperti orang bingung.


"Saras." panggil Zakki saat sudah dekat dengan gadis itu.


"Eh, Zakk. Mau pulang?"


"Enggak. Aku baru datang. Kerja malam. Kenapa di sini? siapa yang sakit?" tanya Zakki bertubi-tubi.


"Anakku. Badannya panas sejak pagi, sudah di kasih obat bukan turun malah makin naik, jadi aku bawa saja kesini," jelas Saras dengan nada sedikit cemas.


"Anak?" Zakki kembali bertanya bingung.


"Iya. Langit anakku."


"Ah, maaf. Aku lupa. Kamu sendiri saja?"


"Dengan Arin. Dia sedang ke toilet sekarang. Mas Damar sedang keluar kota, tapi udah balik juga. Mungkin sedang dalam perjalanan," urai Saras yang diangguki oleh Zakki.


Sesaat Zakki menatap gadis di depannya ini. Ah, dia bukan gadis sekarang, dia istri orang. Saras lebih terlihat berisi sekarang, aura kecantikannya pun makin terlihat. Penampilannya juga mulai berubah, jika dulu dia sering memakai celana jeans dan kaos oblong, malam ini wanita itu memakai dress selutut. Pas sekali di badannya dan begitu terlihat manis.


Rambutnnya dibiarkan terurai, bahkan ujungnya sedikit di curly. Saras telah bermetamorfosa secantik kupu-kupu sekarang. Upik abu sudah berubah menjadi cinderella.


"Zakk!" panggilan Saras membuat Zakki tersadar.


"Melamun?"


"Maaf. Hanya sedikit takjub dengan penampilanmu sekarang." terang Zakki jujur.


Sarasa tersenyum simpul. "Iya, karena Mas Damar."


"Dia menyuruhmu berubah?"


"Tidak sekalipun. Dia bahkan selalu bertanya apakah aku nyaman dengan penampilan ini. Karena kalau tidak aku berhak menjadi diriku sendiri."

__ADS_1


Zakki masih mendengarkan ucapan Saras dengan seksama.


"Erika orang WO pernikahan kami menjadi sahabatku sekarang. Dia banyak mengajariku bagaiamana hidup seorang pengusaha. Aku yang berkeinginan berubah. Aku tidak mau mempermalukan Mas Damar meskipun dia sering kali bilang aku selalu sempurna di matanya." Saras terkekeh sendiri.


"Lagipula, berubah seperti ini membuatku terlihat cantik dan nyaman, jadi kenapa tidak?"


Zakki mengangguk mendengar ucapan Saras. Dia bisa lihat kalau Saras memang benar-benar bahagia dan tidak terpaksa.


Zakki cukup senang, Saras baik-baik saja. Setidaknya dia bisa mulai hidup baru sekarang. Saras jatuh di orang yang benar, dan tak ada alasan lagi untuk Zakki tetap diam di tempat.


Jika Saras bahagia, dia pun berhak hidup bahagia.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halooo selamat siang menjelang sore๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


Terima kasih untuk yang selama ini masih setia menunggu. Namun dengan segala rasa hormat dan kasih sayangku kepada kalian semua. Cerbung ini aku tamatin sampai di sini, yakk.


Untuk cerita Zakki dan Sea, Insya Allah akan aku lanjut di cerita baru nanti. Tapi nunggu aku free dulu๐Ÿ˜… Tapi untuk cerita Denis dan Mutia insya Allah masih lanjut, silahkan yang masih mau mampir.


Terima kasih sudah setia bersamaku.


Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca karyaku


Terima kasih untuk setiap doa yang pernah kalian berikan untukku


Terima kasih untuk segala rasa sayang dan apresiasi dari kalian semua yang tak pernah putus untukku.


Maaf jika sering membuat kecewa


Maaf jika pernah menyinggung


Maaf jika ada kata yang menyakiti


Maaf karena tidak bisa maksimal selama ini.


Karena kalian aku merasa dihargai dan di sayangi. Sekali lagi, Terima kasih.


Semoga kita bisa ketemu di cerbung lain.


Semoga kebahagian dan kesehatan juga selalu menyertai kalian. Jangan lupa cuci tangan dan pakai masker.


Salam sayang dan kecup jauh untuk kalian semua๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2