Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.10(Lakukan satu kali)


__ADS_3

Biru memperlambat laju kendaraannya lalu tidak lama menepi. Membuat Dara sedikit lega.


"Pakai!" ujarnya dengan menyerahkan helm dengan kasar.


"Gak usah lah, nanti rambutku lepek!"


"Dara! Kau bukan anak kecil yang tidak punya fikiran kan!" dngus BIru dengan kasar.


"Ya ... Baiklah, demi keselamatan kan?" ujarnya dengan wajah tanpa dosa, sedangkan Biru terlihat masih kesal.


Dara pun memakai helm, dan tak lama Biru kembali melajukan kendaraan roda dua itu dengan kecepatan tinggi, melesat membelah jalanan yang kala itu cukup lenggang, kemampuannya dalam berkendara tidak perlu di ragukan lagi. Tubuhnya ikut bergerak ke kiri dan ke kanan sesuai dengan ruas jalan yang tengah dia belah. Walaupun jalanan itu tidak cukup dia kenali.


Sedangkan Dara harus berpegangan erat saking takutnya,


Biru kini tidak lagi membawa Dara kembali ke apartemen, terlalu mudah di cari jika mereka kembali kesana.


"Sebenarnya kamu mau bawa aku kemana? Kalau gak jelas ini namanya penculikan! Kamu bisa dilaporkan ke polisi." ancam Dara.


Bertepatan dengan berhentinya motor yang melaju itu di depan sebuah hotel, hotel bintang lima yang cukup terkenal.


"Silahkan laporkan, polisi tidak akan menerima laporan penculikan yang di lakukan seorang suami pada istrinya!" sahut Biru yang langsung mematikan mesin motor.


Sementara Dara hanya terperangah saat melihat hotel tersebut sampai tidak sadar ucapan Biru.


"Ngapain kamu ajak aku ke hotel?"


"Kau fikir kan saja sendiri! Kau sudah tidak menepati janjimu, apa aku harus terus berbaik hati padamu?" ujarnya kembali melaju masuk ke dalam basement hotel.


Dara terperanjat kaget, dia ingat betul apa yag di tulis Biru dalam surat perjanjian itu jika dirinya yang membatalkan maka dia harus menemaninya di ranjang dalam satu hari saja. Dan semuanya akan berakhir.


Buhg!

__ADS_1


Gadis itu memukul punggung Biru menggunakan helm yang dia pakai. "Jangan mimpi ya ... kamu tahu aku ini lagi hamil. Bagaimana dengan kehamilanku ini. Kau mau aku keguguran?" ujarya polos.


Biru menghentikan laju motornya dan menolehkan kepalanya. "Itu bagus, kalua kau keguguran semua akan lebih mudah. Urusanmu dan pria pengecut itu berakhir."


"Wey ... jangan gila kau! Rian sudah mau bertanggung jawab dan menikahiku. kamu lah yang harusnya tahu diri, tidak ada urusan denganmu, harusya kamu seneng kalau aku batalkan semuanya. Tapi yang kamu inginkan hanya uang, dasar matre!"


Biru terlihat berang, dia turun dari motor sementara Dara masih di atas motor dan kesulitan untuk turun.


"Bagaimana semua semudah itu! Apa kau tidak punya perasaan hah?" ujarnya dengan langsung menarik Dara untuk turun.


"Lepas gak... Aku bisa jalan sendiri." serunya dengan memukul lengan Biru yang terus menyeretnya masuk ke dalam.


Mereka berjalan ke arah resepsionis, Biru langsung menunjukkan sebuah kartu pada petugas resepsionis itu.


"Tolong aku, pria ini mu menculikku! Tolong lapor polisi Mba?" seru Dara menohok.


Namun Resepsionis itu justru menoleh pada Biru dengan sedikit takut.


"Maaf kami tidak bisa membantu anda Nona!" ujarnya dengan menyerahkan kembali kartu milik Biru.


Biru mengangguk tanpa bersuara, dia lantas menarik kembali tangan Dara yang masih menolak untuk ikut dengannya,


"Brengsekk ... Apa yang kamu lakukan, kenapa gak ada yang mau nolongin aku. Kalian semua sekongkol pasti ..."


"Berhentilah berteriak. Kau ini berisik sekali."


"Apa ... Kau takut kan, aku akan terus berteriak sampai ada orang yaang nolongin aku!"


Dan bnar saja, Dara terus berteriak minta tolong dan mengatakan jika dia di culik pada semua orang yang kebetulan berpapasan dengannya dan Biru terpaksa membekap mulutnya.


Mereka tiba di sebuah pintu bernomor 112 dan Biru langsung membukanya. Dengan sedikit kasar dia menghempaskan tubuh Dara.

__ADS_1


Dara semakin takut jika Biru semakin marah dan tidak terkendali lagi.


"Biru ...please maafin aku! Aku salah dan aku udah gak nepatin janjiku. Tapi tolong jangan lakukan ini." akhirnya rengekan itu kembali terdengar, wajahnya hampir menangis


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, dia hanya menatapnya dengan tajam saja.


"Please Biru ... Jangan lakukan ini, kita tidak akan tahu resiko apa yang akan terjadi , aku sedang hamil dan kata dokter kehamilan ku ini masih rentan, kau tahu itu kan?" ucap Dara dengan manik manik yang mulai berkaca kaca.


Namun Biru terlihat tidak peduli, dia justru membuka melemparkan sepatu, lantas membuka jaketnya dia juga membuka T-strt yang dikenakannya. Hingga Dada dan perut penuh otot miliknya terpangpang nyata dan hanya menyisakan celana panjangnya saja.


Dara semakin ketakutan, dia terus berjalan mundur saat Biru terus melangkah maju dalam kebisuan, dengan jelas terlihat kekesalan dan juga kemarahan di wajahnya


Sampai akhirnya tidak ada lagi ruang untuk Dara mundur, dia jatuh terjerembab di atas ranjang, tubuhnya terus beringsut seriring Biru yang ikut naik dengan terus mengunci pergerakan Dara.


"Biru .. Aku mhon, jangan lakukan ini!" lirih Dara dengan menangis.


"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh. Jawab Dara!" Sentaknya marah.


"Itu karena ...! Aku tidak memiliki perasaan apa apa padamu. Ini ... Ini salah!"


"Jadi kau memiliki perasaan pada Rian. Hm?" ujarnya dengan mengkungkung tubuh Dara di bawah tubuhnya. "Itu karena dia ayah dari anak yang aku kandung Biru, dia memang sudah harusnya bertanggung jawab!"


"Jadi kau memaafkan dirinya semudah itu?"


Dara menggigit bibirnya sakit takutnya, tubuh Biru menindihnya dan tidak menyisakan ruang sedikitpun. Dan gadis itu semakin takut saat jemari Biru mengelus pipinya dengan lembut. "Aku akan melakukannya pelan pelan!"


Dara menggelengkan kepalanya. "Jangan lakukan itu Biru ... Jangan ... Aku mohon, aku minta maaf padamu. Aku tidak ...!"


Sentuhan lembut Biru di pipinya kini berubah menjadi cengkraman kuat dengan dua jari mengapit pipinya keras.


"Semua ada resikonya Dara! Lakukan satu hari dan kita impas! Bukankah kau dan Rian melakukannya juga? Jadi tidak perlu menangis! Aku tidak akan lagi kasihan padamu!"

__ADS_1


__ADS_2