Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.77(Punya uang dan kuasa)


__ADS_3

"Sayang ... Kau tidak apa apa? Apa sebaiknya kita kembali saja. Biru benar, dia pasti akan membantu kita!"


Biru berseringai mendengarnya, tentu saja dia akan terus membantu Baskoro. Itu dia lakukan dengan tulus hanya untuk Dara dan hanya memikirkannya saja, sementara hal itu justru akan membuat Baskoro mati gaya, Biru ingin Baskoro malu sampai ubun ubun, merasakan bagaimana posisinya saat itu.


"Sudah aku bilang aku ingin pulang, tidakkah ada yang mengerti!" sentak Baskoro.


"Pap ...!"


"Hey ... Hey Dara, sudah ... Biarkan papamu dulu, mungkin itu akan membuatnya tenang. Kita ikuti apa maunya Papa yaa!" sahut Biru menenangkan Dara, mencoba mengerti namun tujuannya membuat Baskoro tidak berdaya.


Dara akhirnya mengangguk, melirik ke arah belakang dan menatap ayah dan ibunya bergantian. Tatapannya seolah berkata jika apa yang dilakukan saat ini benar benar luar biasa, tidak hanya mengerti dirinya namun memikirkan kedua orang tuanya juga.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, mengarah ke rumah Baskoro. Sesekali Biru bersiul siul seraya melirik Dara dan tersenyum kemudian melirik ke arah belakang melalui spion kaca.


"Apa ada yang dibutuhkan sebelum sampai rumah?" tanyanya.


Dara menggeleng, sudah cukup hari ini berjalan lancar berkat Biru.


"Om ... Apa Om butuh sesuatu?"


"Tidak!" ucapnya datar.


"Apa Tante juga tidak butuh sesuatu?" tanya Biru lagi, kali ini melirik ke arah Sophia.


"Hm ... Sebenarnya---"


Namun ucapannya langsung terhenti sampai di situ, Baskoro memegang tangannya dan melarangnya bicara apapun lagi.


Sophia menatapnya, dia tidak mengerti apa maksud dari suaminya.


"Sebenarnya apa Tante?"


Tangan Baskoro semakin mengerat, menatap istrinya dengan tajam, dan Dara menoleh ke arah keduanya karena penasaran.


"Pap ... Mam ... Kenapa?"


"Mungkin Tante ingin sesuatu tapi merasa tidak enak padaku. Tenang saja, aku sudah punya pekerjaan dan uangku banyak. Jangan sungkan padaku Tante ... Om, ya walaupun dulu kalian tidak pernah percaya padaku kalau pekerjaanku bukan menipu!" sindirnya dengan kedua alis turun naik.


"Biru ... Maafkan Tante dan Om ya!" celetuk Sophia.


"Tidak apa apa kok Tante, aku sudah tidak mengingatnya lagi, tapi melihat sikap Om dan Tante yang sungkan begitu membuatku ingat hal itu lagi." terangnya semakin puas.


Sampai akhirnya mobil tiba di pekarangan rumah Dara, semua orang turun begitu juga Biru.

__ADS_1


"Tunggu Om! Aku akan ambil kursi roda dulu!" ucapnya mencegah Baskoro untuk melangkahkan kakinya masuk.


Biru jelas tidak akan mengambilnya sendiri, dia memiliki orang yang bisa dia suruh apapun, dan satu orang pria yang bersama Alex membawakan kursi roda untuknya.


"Kau masuk saja bersama Tante, sepertinya Tante juga lelah dan butuh istirahat. Biar aku yang membawa ayahmu masuk nanti." ujar Biru pada Dara.


Dara pun mengangguk, lantas mengajak ibunya masuk lebih dulu. Namun sedetik kemudian dia menarik lengan Dara lagi. "Apa kita terlihat sepasang suami istri yang sedang mengurus kedua orang tua kita?"


Dan seperti biasanya, wajah Dara terlihat memerah dengan mata yang mengerjap ngerjap melirik sang ibu. "Biru ... Ih!"


Biru tersenyum, mencuil ujung hidung Dara yang mancung. "Istirahat sana!"


Dara pun mengangguk dan langsung masuk menyusul ibunya yang lebih dulu masuk. Sementara Baskoro kini sudah terduduk di kursi Roda. Biru pun mencondongkan tubuhnya membenahi pakaian Baskoro yang terlipat.


"Aku pernah berniat baik dan menganggap Om layaknya orang yang harus aku hormati karena aku melihat Dara. Tapi sayang, Om menyia nyiakan hal itu. Tapi Om tenang saja, aku tidak dendam ... Tapi seperti yang aku katakan tadi kalau ada yang harus Om bayar satu hari nanti." Gumam Biru pelan dan tentu saja hanya bisa di dengar oleh Baskoro saja.


Pria paruh baya itu hanya bisa diam menahan diri, dan menatapnya dengan tajam. "Aku sudah minta maaf padamu berkali kali Biru!"


"Siapa bilang aku tidak memaafkan Om. Aku sudah memaafkan Om!"


"Lalu kenapa kau berbuat seperti ini?"


Biru tersenyum lalu mendekatkan kepalanya ke arah telinga Baskoro, menepuk pundaknya beberapa kali. "Karena aku punya uang dan kuasa!"


Terlihat Alex mengetikkan sesuatu di ponselnya setelah itu barulah dia menghampiri Biru.


"Kau sudah selesai dengannya?" tanyanya pada Biru.


"Ada apa?"


"Ada sesuatu yang harus kita urus lagi."


***


Sementara itu Prasetya terlihat marah saat Rian pulang kerumah dengan babak belur, bahkan kancing kemejanya terlihat berantakan dan terlepas begitu saja.


Plak!


Prasetya mendaratkan tamparan keras di pipi Rian, pria itu mengerjap. Darah dari luka dan rasa perih yang dia dapatkan dari Biru saja masih terasa dan kini harus ditambah sebuah tamparan dari sang ayah.


"Kau benar benar bodoh. Dimana otakmu Hah. Apa kau tidak punya fikiran saat melakukan hal itu Rian? Papa kecewa padamu!"


"Pap ... Aku hanya main main, aku hanya sedikit menggertak Dara saja karena aku kesal." sahutnya dengan memegangi pipinya yang terasa panas.

__ADS_1


"Kau bilang apa. Hanya main main ... Hanya menggertak saja? Kau tahu orang G.G corps langsung menghubungi Papa dan mengancam akan menghentikan pekerjaan karena kau berulah. Hah?" sentaknya dengan marah. "Ingat Rian, kalau semua jadi berantakan itu karena ulahmu!"


Rian tercengang, tidak percaya Biru bisa melakukan apapun bahkan bisa membuat ayahnya sendiri jadi tidak mendukung dirinya. Padahal, sejak lama mereka lah yang selalu memperdaya Biru.


Rian masuk ke dalam kamar dan membantingkan semua benda di dalam sana. "Benar benar brrengsek!"


Prasetya benar benar geram melihat kelakuan Rian yang membuat jerih payahnya berantakan, dan dia langsung menghempaskan tubuh di sofa dengan memegangi pelipisnya.


Drett


Drett


Ponselnya kini berdering, Prasetya tersentak saat melihat siapa yang meneleponnya saat jam sudah menunjukan pukul 10 malam.


'Keluarlah!'


Prasetya semakin tersentak saat suara di ujung telepon menyuruhnya untuk keluar. Dia pun menyibakkan tirai dan melihat ke arah luar rumahnya.


Sebuah mobil hitam terparkir di sana, dan Prasetya bergegas memanggil dua pengawal untuk berjaga jaga.


Pria paruh baya itu berjalan keluar, di ikuti oleh pengawal yang setia menjaganya.


Alex keluar dengan dua orang pria yang sama tegapnya sementara Biru tetap berada di dalam mobil.


"Ada apa?"


"Kalau kau tidak bisa mengajari anakmu cara berbisnis dengan baik dan tidak berbuat curang, jangan salahkan kami yang akan langsung menghajarnya! Kau ingat perjanjian kerja sama kita berbeda dan kau diistimewakan?"


"Ya ... Kau tidak usah takut, karena aku akan mengajari putraku cara berbisnis dengan baik!" dengus Prasetya, melirik ke dalam mobil dimana Biru bahkan tidak peduli padanya. Dia hanya diam saja tanpa berkata kata.


Alex memberikan sebuah map merah pada Prasetya dan pria itu membukanya. Terlihat didalamnya foto foto Rian yang sedang menarik paksa Dara dan mengancamnya.


"Apa apaan ini?" Prasetya melemparkan map merah itu begitu saja hingga lembaran foto foto berserakan.


Alex yang memposisikan dirinya asisten yang dingin dan ingin terlihat kejam pun mendengus kesal, sementara Biru menggerakkan jari telunjuknya dengan posisi ke atas, menyuruh Prasetya mendekat padanya.


Pria itu hanya bisa menurut begitu saja, pun dengan dua orang pengawal yang dijaga oleh dua orang pengawal Alex.


Prasetya sedikit membungkuk ke arah kaca jendela mobil yang terbuka dimana Biru duduk.


"Foto itu adalah bukti pelanggaran poin pertama! Kalau dia melakukannya lagi, aku akan bertindak tegas."


Prasetya terbeliak tajam menatap Biru saat mendengarnya.

__ADS_1


"Ingat Pras ... Aku punya uang dan kuasa!"


__ADS_2