Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Draff01


__ADS_3

"Daddy fikir aku bodoh, Daddy tidak mungkin tidak tahu soal itu. Secara mata Daddy dimana mana!"


Biru merasa kesal melihat ayahnya di kantor polisi, dan dengan hati yang penuh kekecewaan, ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Sudah hampir satu pekan lamanya ia tidak mengunjungi rumah untuk menemui ibunya, Agnia, dan mereka berdua butuh waktu untuk bicara. Terlebih tentang tingkah laku Zian yang selalu ikut campur.


Mobil melaju dengan cepat menuju rumah kediaman Maheswara. Setelah memutuskan datang ke indonesia dan berencana kembali ke luar negeri namun sampai saat ini mereka tidak kunjung kembali ke luar negeri.


Mobil menepi begitu saja di depan rumah, Biru keluar dari mobil dengan tergesa ges dan langsung memasuki rumah.


"Bi ...?" Agnia menunjukkan sikap yang kaget dan tidak menyangka kalau Biru datang tanpa rencana. Agnia menatapnya dengan senyum di wajahnya.


"Mami! Apa Mami tahu apa yang dilakukan Daddy tadi?" tanyanya singkat dan Biru mencoba menjelaskan segala kejadian yang terjadi di kantor polisi, termasuk keterlibatan Zian yang ia anggap pura-pura tidak tahu. Agnia hanya bisa tertawa mendengarnya, seolah-olah menangkap nuansa kejadian dengan cepat.


"Aku tahu, Nak," kata Agnia sambil tersenyum lembut. "Kamu tahu kan kalau Daddy seperti itu. Dia memang selalu seperti itu. Dia suka bermain peran dan pura-pura tidak tahu saat hal-hal yang sebenarnya dia tahu dengan jelas. Tapi itu adalah caranya menghadapi apa yang menurutnya masalah."Terangnya dengan membawa Biru untuk duduk. "Tapi jangan hiraukan Daddy, Daddy hanya khawatir padamu Nak!"


Biru merasa lega mendengar kata-kata ibunya. Meskipun Zian mungkin berperilaku seperti itu, setidaknya ia memiliki ibu yang bisa memahami dan mendukungnya. Mereka duduk bersama, berbagi cerita dan memberikan dukungan satu sama lain.


Dalam momen itu, Biru menyadari betapa beruntungnya memiliki ibu seperti Agnia. Mereka berdua menguatkan satu sama lain dan bersama-sama menghadapi tantangan yang ada. Meskipun Ziandra mungkin terus ikut campur, mereka berdua menemukan kekuatan dan dukungan dalam hubungan mereka yang kokoh.


"Tapi aku tidak suka sikap Daddy yang selalu ikut campur. Aku juga tidak suka sikap Daddy karena selalu tahu apapu masalahku!"


Biru menyatakan keberatan dan yakin bahwa ayahnya, Ziandra Maheswara, sebenarnya mengetahui masalah yang dihadapinya, dia dapat mengungkapkan perasaannya dengan jujur.


"Kenapa tidak kau katakan seperti ini pada Daddy.


Kamu bisa mengatakan, "Daddy, aku merasa bahwa Daddy sebenarnya mengetahui tentang masalah ini. Aku bisa melihat tanda-tanda dan indikasi yang menunjukkan bahwa Daddy telah mengetahuinya secara diam-diam."


"Mana bisa, Kita bertemu di kantor polisi. Mommy tahu persis apa yang terjadi kalau aku bicara hal seperti itu. Daddy akan marah dan menyemprotku di depan banyak orang!"


"Kalau begitu abaikan Daddy hm? Itu Daddy lakukan hanya ingin memastikan kamu baik baik saja!"

__ADS_1


Dengan mengungkapkan perasaannya secara terbuka pada sang ibu, Biru memberikan kesempatan bagi ibunya untuk memberikan penjelasan atau merespons kekhawatirannya. Ini juga dapat membangun kesadaran bahwa Biru menganggap ibunya memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang situasi tersebut. Pengungkapan perasaan harus dilakukan dengan kehati-hatian dan dengan komunikasi antara keluarga mereka sangatlah bagus.


"Sudah tidak perlu kau fikirkan lagi yaa!" tukas Agnia mengusap lengannya.


Biru yang duduk di ruang keluarga mengangguk, ia memandangi wajah ibunya yang penuh kelembutan. Tatapan hangat Agnia memancarkan cinta dan kebijaksanaan yang tak terhingga. Hatinya penuh dengan rasa haru dan kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Agnia adalah sosok yang istimewa baginya. Dia melihat betapa Agnia dengan penuh kasih menyambutnya di dunia ini, merawatnya dengan penuh dedikasi dan memberikan segala yang terbaik. Agnia selalu ada di setiap langkah hidupnya, memberikan dukungan, nasihat, dan kebijaksanaan yang tak ternilai.


Biru merasa beruntung dan bersyukur atas hadiah terbesar dalam hidupnya, yaitu ibunya yang luar biasa. Agnia bukan hanya seorang ibu yang penuh kasih, tapi juga seorang wanita yang bijaksana, tangguh, dan inspiratif. Dia mampu melihat keindahan dalam setiap situasi dan memberikan pandangan yang mendalam.


Dalam kehidupannya, Biru sering kali menemui rintangan dan tantangan yang sulit. Namun, dengan hadirnya Agnia di sisinya, dia merasa memiliki kekuatan yang tak tergoyahkan. Agnia memberikan dukungan moral dan emosional yang tak ternilai harganya, membantu Biru melewati masa-masa sulit dan tumbuh menjadi pribadi yang kuat.


Setiap kali Biru melihat ibunya, ia merasakan kehangatan dan cinta yang meluap dari setiap senyuman dan pelukannya. Rasa bangga dan haru mengisi hatinya, karena memiliki seorang ibu seperti Agnia adalah berkah yang tak ternilai. Dia merasa terinspirasi dan termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik, seperti yang telah ditunjukkan oleh ibunya.


Biru merasa bersyukur atas segala hal yang telah diajarkan oleh Agnia. Dia berjanji untuk terus menghormati dan menjaga ibunya, serta melanjutkan warisan kebijaksanaan dan kasih sayang yang telah diberikan. Perasaan bangga dan haru mengalir melalui setiap hela nafasnya, mengingatkannya betapa beruntungnya dia memiliki seorang ibu yang luar biasa seperti Agnia.


"Kenapa kamu menatap Mommy seperti itu?" tanya nya dengan heran.


"Oh ... Bayi kecil Mommy!"


"Mommy aku bukan anak kecil lagi! Aku sudah menikah dan aku punya anak. Mommy sudah jadi seorang nenek! Dan kakek Zian yang selalu ingin ikut campur!"


Agnia tersenyum, ia mengulurkan tangannya dengan penuh kelembutan dan menempatkannya di atas tangan Biru. Dia melihat putranya dengan penuh kasih sayang, menyadari kekhawatiran yang ada di dalam hati Biru.


"Nak, jangan pernah meragukan cinta seorang ayah pada anak-anaknya," ucap Agnia dengan suara lembut. "Aliran darah yang mengalir di urat nadi kita adalah bukti nyata dari ikatan batin yang tak tergantikan."


Biru mengangguk lirih, ucapan sang ibu benar benar merasuk ke dalam sukma.


"Tapi ingatlah bahwa cinta tidak hanya tergantung pada ikatan darah. Ada cinta yang tumbuh dan berkembang di dalam hati, tidak peduli darah apa yang mengalir di dalam tubuh kita." lanjutnya lagi. Mengingatkannya pada bayi kecil di ruang inkubator.

__ADS_1


Kata-kata Agnia membuat Biru terdiam sejenak. Bayi mungil yang masih berada di inkubator itu memang bukan darah dagingnya, tetapi ia telah merasa ikatan emosional yang kuat dengan anak itu. Hati Biru teriris saat ia menyadari bahwa bayi tersebut bukanlah hasil hubungannya dengan Dara.


"Maaf Mami tidak bermaksud bicara seperti itu!" ralat Agnia setelah sadar jika ucapannya menyinggung perasaan Biru ynag kini berada di posisi seperti itu.


"Aku mengerti, Mami," ujar Biru dengan suara serak. "Tapi terkadang, aku merasa sedih dan terpukul saat menyadari bahwa bayi itu bukanlah darah dagingku. Aku ingin memberikan yang terbaik untuknya, namun terkadang rasa tidak adil menghampiriku."


Agnia meletakkan tangan lainnya di atas tangan Biru, memberikan dukungan dan kehangatan. "Biru, cinta itu tidak memandang asal usul atau darah. Yang penting adalah bagaimana kita merawat, melindungi, dan memberikan kasih sayang kepada anak-anak kita. Bayi itu mungkin bukan darah dagingmu, tetapi dia akan merasakan cintamu dan kehadiranmu dalam hidupnya. Jadilah ayah yang penuh kasih, Biru, sebab cinta sejati tidak mengenal batasan darah."


Biru mengangguk perlahan, merasakan kekuatan dan kebijaksanaan dalam kata-kata ibunya. Ia menyadari bahwa meskipun bayi itu bukan darah dagingnya, ia bisa menjadi ayah yang penuh kasih dan memberikan pengaruh positif dalam kehidupan anak itu.


Dalam keheningan yang penuh makna, mereka berdua merenungkan tentang pentingnya cinta, kehadiran, dan pengasuhan yang baik dalam membentuk ikatan keluarga yang kuat. Darah bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan cinta seorang ayah atau ibu, tetapi bagaimana mereka membentuk hubungan yang penuh kasih dan pengertian dengan anak-anak mereka.


Agnia menjelma menjadi seorang ibu yang memiliki kebijaksanaan yang luar biasa. Ia mampu melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang, dan hal ini merupakan sifat yang sangat berharga. Dalam menghadapi masalah atau konflik, seringkali terdapat banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Dengan melihat dari berbagai sudut pandang, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih jelas dan melihat solusi yang lebih baik.


Melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda juga membantu kita untuk memahami perspektif orang lain. Setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, dan nilai-nilai yang berbeda-beda, sehingga sudut pandang mereka pun dapat beragam. Dengan memiliki kebijaksanaan untuk melihat dari sudut pandang orang lain, kita dapat memperluas pemahaman kita, mengurangi konflik, dan mencapai kesepakatan yang lebih baik.


Keberagaman sudut pandang juga dapat membantu kita dalam mengambil keputusan yang lebih baik. Dengan mempertimbangkan berbagai perspektif, kita dapat melihat manfaat dan risiko yang terkait dengan suatu keputusan. Hal ini membantu kita dalam membuat keputusan yang lebih rasional dan bijaksana, serta mengurangi kemungkinan terjebak dalam pemikiran yang sempit.


Dengan sikap terbuka dari Biru terhadap ibunya dapat melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda yang merupakan sifat yang penting dalam membangun pemahaman, kerjasama, dan kedamaian. Sang ibu telah menunjukkan kebijaksanaannya dalam melihat masalah dari sudut pandang yang beragam, dan hal ini merupakan contoh yang baik bagi anak anaknya untuk menghadapi tantangan dalam hidup dengan pikiran yang terbuka dan bijaksana.


Tidak semua orang dapat melakukan apa yang Biru lakukan dengan menerima anak yang bukan darah dagingnya dengan tulus tanpa alasan yang jelas. Terkadang, menerima anak yang bukan darah daging dapat menjadi tantangan emosional dan psikologis yang besar.


Sikap dan kemampuan untuk menerima anak yang bukan darah daging dengan tulus tanpa alasan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa orang mungkin terikat pada konsep tradisional tentang ikatan darah dan keturunan, dan sulit untuk melampaui batasan tersebut. Ada juga yang mengalami rasa takut, ketidakpastian, atau bahkan kecemasan terkait dengan hubungan yang berbeda dengan anak yang bukan darah dagingnya.


Menerima anak yang bukan darah daging dengan tulus tanpa alasan juga membutuhkan kemampuan untuk melihat kekuatan dan keunikan dari ikatan keluarga yang tidak hanya didasarkan pada hubungan biologis. Itu melibatkan pembukaan hati, kesediaan untuk belajar dan tumbuh bersama, serta komitmen untuk memberikan cinta, perhatian, dan dukungan yang sama seperti kepada anak biologis. Dan itu semua terjadi di keluarga Maheswara. Tidak hanya Biru yang menerima Dara. Tapi juga Zian yang menerima Jasmine dan sang kakek Mahesa yang memperlakukan Ayana hakim seperti layaknya cucunya sendiri.


Apa yang diajarkan kedua orang tua pasti akan melekat dalam diri mereka, menjunjung tinggi kepercayaan pada seseorang meski tidak ada ikatan darah. Apalagi menerima anak yang bukan darah daging dengan tulus tanpa alasan membutuhkan ketulusan cinta dan pengorbanan yang besar. Ini adalah pilihan yang dilakukan dengan keyakinan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan anak adalah prioritas utama, bahkan jika itu berarti mengatasi batasan-batasan atau norma sosial.


"Percayalah Biru. Ini bukan persoalan mudah. Tidak hanya berkonflik dengan orang orang luar tapi kamu juga akan merasakan konflik batin dengan dirimu sendiri. Kamu harus ingat Biru, setiap ucapan dan tingkahmu akan di tiru. Hm ... Jadi tetaplah seperti ini sayang! Mommy akan selalu mendukungmu. Ya!"

__ADS_1


Biru mengangguk lagi. Meskipun tidak semua orang dapat melakukan hal ini, penting untuk diingat bahwa setiap keluarga dan individu memiliki keunikan dan keadaan sendiri. Apa yang penting adalah menciptakan lingkungan yang penuh cinta, saling pengertian, dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, terlepas dari ikatan darah.


"Terima kasih. Mommy memang terhebat."


__ADS_2