Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.129(Pria pengecut)


__ADS_3

Sophia mengangguk seraya melihat Dokter yang terus berjalan pergi. "Dokter saja bisa menilai sebaik apa Biru padamu dan anakmu Dara!"


Dara tersenyum mendengar kata-kata dari sang ibu. Dia memang menyadari jika dia sangat beruntung dan merasa terharu melihat dukungan dan pengertian yang diberikan oleh Biru.


"Mami benar," ucap Dara dengan tulus. "Aku sangat beruntung memiliki Biru sebagai suami dan ayah bagi anakku. Dia yang selalu ada untuk kami, yang kasih aku cinta, perhatian, dan dukungan yang tak tergantikan. Rasanya sungguh menenangkan memiliki seseorang seperti Biru di sisi kita. Dan aku baru sadar,"


Sophia tersenyum dan mengangguk. "Syukur lah Mami juga bisa melihat bagaimana Biru dengan penuh kasih sayang merawatmu dan bayimu. Dia benar-benar luar biasa. Kalian berdua adalah keluarga yang istimewa, Dara. Kalian pantas mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati."


Dara merasa hangat di dalam hatinya mendengar kata-kata tersebut. Dia merasa bersyukur memiliki sosok seperti Sophia yang mendukung dan menghargai kebahagiaan keluarganya.


"Kami akan terus berjuang dan tumbuh bersama, Mami. Keluarga kami adalah prioritas utama kami, dan Biru sudah janji untuk berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi anak kami," ujar Dara dengan tekad.


Sophia tersenyum lagi, kali ini dengan tatapan penuh harapan. "Aku yakin kalian akan menjadi keluarga yang luar biasa. Teruslah saling mendukung dan menjaga cinta kalian, Dara. Jika ada yang bisa Mami bantu, jangan ragu untuk mengatakannya."


Dara mengangguk dengan tulus. "Terima kasih, Mami Aku sangat menghargai semua dukunganmu. Kita akan melewati semua ini bersama-sama."


Kedua wanita itu saling tersenyum, merasa kuat dalam kebersamaan dan ikatan mereka. Mereka tahu bahwa dengan cinta, dukungan, dan kebersamaan, mereka mampu menghadapi setiap tantangan dan menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan.


Biru memasuki kantor polisi dengan perasaan tegang. Dia ingin mengetahui perkembangan terbaru mengenai penangkapan Rian, orang yang telah membuat kekacauan dalam kehidupannya dan keluarganya. Dia berjalan menuju meja penerima tamu dan memberikan identifikasi dirinya kepada petugas di sana.


Petugas mengenali Biru dan memberikan kabar bahwa Rian telah ditangkap beberapa jam yang lalu.


"Pak Biru?"


"Ya ...."


Mereka menjelaskan bahwa setelah upaya pencarian intensif, Rian akhirnya berhasil diamankan oleh tim penegak hukum. Dia sedang dalam proses penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap semua kasus yang menjeratnya.

__ADS_1


Biru merasa lega mendengar kabar tersebut. Walau masih ada proses hukum yang harus dijalani, penangkapan Rian memberikan sedikit ketenangan bagi dirinya dan keluarganya.


"Terima kasih atas kerja sa ma kalian yang luar biasa. Aku akan memberikan effort yang besar untuk pekerjaan kalian semua!" ucap Biru. Pada kepala rumah polisi dalam upaya mereka yang menjalankan tugas dengan baik.


Setelah mendapatkan informasi yang dia butuhkan, Biru melangkah keluar dari kantor pimpinan dengan perasaan lega namun tetap waspada. Dia tahu bahwa proses hukum akan membutuhkan waktu dan dia harus siap menghadapi apa pun yang akan datang. Namun, satu hal yang pasti, Rian tidak akan bisa melarikan diri lagi dan harus bertanggung jawab atas tindakannya.


Biru kembali memikirkan keluarganya, khususnya Dara. Dia ingin memberikan kepastian dan keamanan bagi mereka, serta membantu Dara melewati masa sulit ini. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi pelindung dan pendukung yang kuat bagi keluarganya.


Dengan langkah mantap, Biru meninggalkan kantor polisi dan memulai perjalanan pulang. Dia tahu bahwa masih ada banyak yang harus dia hadapi, namun dengan tekad dan cintanya untuk keluarganya, dia yakin mereka akan dapat mengatasi semua rintangan yang ada di depan mereka.


Biru melihat ke sekeliling dan perkembangan terkait penangkapan Rian.


Mereka duduk bersama di ruang konferensi yang disediakan oleh kantor polisi. Kuasa hukum dan pengacara memberikan informasi terkini tentang proses hukum yang sedang berjalan terkait kasus Rian. Mereka menjelaskan tentang tindak pidana yang dilakukan oleh Rian dan bukti-bukti yang sudah terkumpul.


Biru mendengarkan dengan serius, mengambil catatan, dan mengajukan beberapa pertanyaan terkait proses hukum tersebut. Dia ingin memastikan bahwa Rian akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas tindakannya, serta memastikan bahwa tidak ada celah hukum yang dapat digunakan untuk menghindar dari tanggung jawabnya.


Biru merasa lega mendapatkan dukungan dari kuasa hukum dan pengacaranya. Dia merasa memiliki tim yang solid yang akan membantu menjalani proses hukum ini dengan baik. Mereka berdiskusi lebih lanjut tentang strategi hukum yang akan diambil dan langkah-langkah selanjutnya yang perlu dilakukan.


Setelah pertemuan selesai, Biru mengucapkan 8 akan terjadi selama proses hukum ini.ìdengan langkah mantap. Dia tahu bahwa perjalanan hukum ini tidak akan mudah, namun dengan dukungan timnya dan keteguhan hatinya, dia akan berjuang untuk keadilan dan melindungi keluarganya.


"Apa aku bisa bertemu langsung dengan Rian?"


Biru meminta waktu pada pihak polisi untuk bisa bertemu dengan Rian. Dia ingin berbicara langsung dengan Rian untuk menyelesaikan masalah ini secara pribadi. Pihak polisi mempertimbangkan permintaan Biru dan setuju untuk mengatur pertemuan antara keduanya.


"Mungkin sebentar saja, Penyidik sedang memeriksanya."


Biru mengangguk lirih, "Ya ... Hanya bsneberbhsjddjbbnď

__ADS_1


Tak berselamg lama kemudian, Biru diberi kesempatan untuk bertemu dengan Rian di ruang interogasi yang telah disiapkan oleh pihak polisi. Saat pertemuan itu tiba, Biru memasuki ruangan dengan perasaan campur aduk antara kekhawatiran, kekesalan, dan harapan untuk menyelesaikan masalah ini.


Rian duduk di sana dengan tatapan muram dan wajah yang tegang. Ada ketegangan di udara saat Biru dan Rian saling melihat. Biru mencoba mengontrol emosinya dan berbicara dengan tenang.


"Mungkin sudah saatnya kita bicara, Rian," kata Biru dengan suara rendah namun tegas. "Apa yang telah kamu lakukan sangat serius dan memiliki konsekuensi besar. Aku berharap kita bisa menyelesaikan ini dengan baik."


Rian menatap Biru dengan tatapan dingin. Ada kebencian yang terpancar dari matanya. Namun, Biru tetap berusaha untuk tetap tenang dan menjaga sikap yang terkendali.


"Apa yang kamu inginkan, Biru?" tanya Rian dengan nada sinis. "Apakah kamu ingin memastikan bahwa aku mendapatkan hukuman yang setimpal? Apakah kamu ingin melihatku hancur?"


Biru menggelengkan kepala. "Tidak, Rian. Aku tidak ingin melihatmu hancur. Aku ingin kamu bertanggung jawab atas tindakanmu dan belajar dari kesalahanmu. Apa yang telah kamu lakukan sangat menyakitkan bagi banyak orang, termasuk Dara dan keluargaku."


Rian menghela nafas berat. Dia terlihat ragu dan terpecah antara pertahanan diri dan penyesalan.


Biru melanjutkan, "Aku tidak akan membiarkan kamu menghancurkan hidupku dan keluargaku. Aku akan melawanmu dalam proses hukum ini, tapi aku juga ingin memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri."


Tanpa disangka, Rian berseringai. "Sikapmu sungguh di luar dugaan Biru. Kau fikir dengan seperti ini kau merasa paling hebat?"


"Tidak ... Aku tidak hebat, kau saja yang lemah dan pengecut Rian. Kau mengisi otakmu dengan kebodohan saja! Kau melarikan diri dan justru itu lah yang membuat hukuman bertambah berat!"


Percakapan antara Biru dan Rian berlangsung selama beberapa jam. Ada perdebatan, emosi yang terlibat, dan berbagai pertanyaan yang diajukan. Biru berusaha untuk membuat Rian menyadari konsekuensi dari tindakannya dan mengambil tanggung jawab atas perbuatannya namun semua sia sia, Rian tidak juga memahami apapun.


Setelah pertemuan itu selesai, Biru meninggalkan ruang interogasi dengan perasaan campur aduk. Dia tahu bahwa perjalanan ini masih panjang, namun dia juga merasa lega karena telah memiliki kesempatan untuk berbicara langsung dengan Rian.


Biru berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan terus berjuang untuk keadilan dan melindungi keluarganya. Dia akan menggunakan semua sumber daya yang dimilikinya, termasuk proses hukum, untuk menghadapi Rian dan memastikan bahwa tindakan yang dilakukan Rian tidak akan berpengaruh pada putranya.


"Bagaimanapun pria pengecut itu adalah Ayahnya!"

__ADS_1


__ADS_2