
Sampai ke esokan pagi Dara tertidur pilas dalam dekapan hangat Biru. Pria menyebalkan tapi selalu membuatnya rindu.
Dalam kesadaran yang masih setengahnya dan nyawa yang masih belum genap berkumpul, Biru tersentak dengan kedua mata yang membola sempurna saat melihat Dara yang tidur berpangku lengannya. Dadanya bergemuruh hebat saay menatap paras cantik dan elok miliknya. Bibirnya berwarna natural, tipis dan dan menggoda. Bulu mata berjejer dengan lebatnya. Bahkan Biru menikmati setiap hembusan nafas Dara yang hangat menerpa.
Bibirnya melengkung tipis, namun tidak berlangsung lama saat suara alarm berbunyi dari jam yang berada di atas meja. Dengan terburu buru Biru mematikan alarm otomatis itu karena tidak ingin ketahuan oleh Dara.
"Bisa mati aku kalau Dara tahu aku tidur di kamarnya, bahkan ..." cicitnya seraya melirik ke arah dada dan paha yang terlampau menempel tanpa jarak.
Perlahan lahan namun pasti, Biru melepaskan pelukannya, tidak lupa mengganti lengannya dengan bantal agar Dara kembali nyaman.
Dan perlahan lahan juga Biru berbalik dan langsung bangkit dari ranjang, saat itu juga Dara membuka kedua matanya dan langsung berdehem.
Ekhem!
Biru terhenyak, menoleh ke arah belakang seraya memperlihatkan deretan gigi putih ke arahnya.
"Ini salah faham ... Tolong jangan marah! Aku tidak sengaja masuk dan tertidur!" jelasnya dengan cepat, takut jika Dara akan marah dan membuat semuanya kembali runyam, terlebih jika Dara mengatakan semuanya pada sang Papa.
Dara terdiam, dirinya yang menahan malu dan juga tawa bersamaan tidak mampu mengatakan apa apa, dibanding Biru yang tiba tiba bangun dan kaget, Dara lebih dulu bangun dan terkaget saat melihat Biru memeluknya. Tapi entah kenapa, tubuhnya tidak bereaksi apalagi menghindar. Justru menikmati kehadiran Biru.
"Berani sekali kamu masuk dan tidur disini!"
"Aku bisa jelaskan ... Semalam aku mabuk dan tidan sadar, aku tidak bermaksud un___"
"Jadi kamu masuk ke dalam kamar ini dalam keadaan mabuk?" sentaknya, merasa tidak rela jika Biru melakukannya tanpa kesadaran penuh.
"Ya ... Aku terlalu banyak minum dan tidak terkendali. Maafkan aku!" kata Biru dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sialan ... Kenapa harus minta maaf segala coba, kenapa harus masuk disaat mabuk. Itu artinya dia gak sadar ngelakuinnya kan. Astaga Dara ... kamu gila ya, bisa bisa nya kamu berfikir seperti itu! Batin Dara bermonolog.
"Maaf ... Aku akan keluar!"
"Ya udah sana pergi! Awas aja kalau kesini lagi dalam keadaan mabuk!" ujar Dara kesal. Kesal karena Biru mengingatnya dalam keadaan mabuk. Sama aja bohong.
"Ya ... Baiklah aku juga akan pergi!" sahut nya dengan langsung menyambar jas miliknya.
__ADS_1
Tok
Tok
Suara ketukan sebanyak dua kali terdengar sangat jelas, Biru tersentak begitu juga Dara yang langsung turun menarik lengan Biru.
"Ngumpet! Cepat ... Aku gak mau ya Mami tahu kamu tidur di sini. Buruan ....!"
"Kemana ... Aku sembunyi di mana?" Biru membuka lemari pakaian.
Namun tidak mungkin sembunyi di dalam lemari pakaian, secara lemari itu dipenuhi oleh pakaian dan tidak ada sekat untuk bersembunyi.
Tok
Tok
"Dara ... Kamu sudah bangun nak?"
Suara Sophia jelas terdengar, handle pintu pun dia putarkan. Namun beruntung karena Biru sempat mengunci pintu kamar semalam.
Sepasang suami istri diatas kertas itu sibuk wara wiri mencari tempat yang paling tersembunyi. Hingga Dara mendorong Biru ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.
Biru mengangguk, bak seekor kerbau dicocok hidungnya. Mengangguk begitu saja dengan ucapam Dara. Panik dan kalut seolah kedapatan mencuri dan tidak termaafkan apalagi ampunan.
Dara berjalan ke arah pintu, sementara Biru baru sadar jika dirinya sangat bodoh. Mereka suami istri, kenapa harus takut. Bahkan seluruh semesta pun tidak akan bisa berkata kata karena mereka pasangan resmi.
"Sial! Kau bodoh sekali Biru!"
Dara membuka pintu dengan wajah yang terlihat lesu namun juga tersenyum pada sang ibu padahal kedua lututnya gemetar hebat.
"Mam...?"
"Kok tumben kamarnya di kunci sayang?" tanya Sophia dengan heran, karena tidak biasanya Dara mengunci pintu kamarnya.
Dara terkekeh, mencoba menghilangkan rasa was was dan rasa takutnya. "Hm ... Iya Mam, aku juga gak ingat ngunci pintu semalam."
__ADS_1
Sophia mengangguk, melangkah masuk dengan menatap Dara.
"Mami siapkan air hangat untukmu mandi. Mengerti?" ucap Shopia yang hendak menbuka pintu kamar mandi.
"Jangan ... Maksudku enggak mau ... Biar aku siapkan nanti sendiri saja. Iya Mam!" Seru Dara yang langsung menarik tangan sang ibu dari handle pintu kamar mandi.
"Lho kenapa?"
"Enggak apa apa ... Mami kan ngelakuinnya tiap hari, jadi hari ini gak usah ya ... Aku aja, Mami mending temenin Papi dibawah, yaa. Kalau udah mandi, aku nyusul ke bawah!" kilah Dara dengan wajah tidak karuan.
"Baiklah kalau begitu, kamu yakin tidak butuh bantuan Mami?"
Dara mengangguk dengan cepat secepat keinginannya sang ibu meninggalkan kamarnya.
Dan keduanya tampak lega setelah Sophia keluar dari kamar. Dan Biru langsung membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar. Namun tanpa dia sadar jika Dara yang kini berasa di dalam kebimbangan justru juga dibuatnya bingung saat berada di depannya.
"Astaga ...!" ucap Dara saat keduanya hampir bertabrakan di ambang pintu kamar mandi.
Biru yang sigap langsung terpaku, dia bisa saja membuat Dara terhuyung kebelakang karena menabrak tubuhnya.
Jarak keduanya lagi lagi sangat dekat, membuat keduanya terdiam dengan kedua mata saling beradu pandang.
"Aku harus pergi!"
"Tunggu! Kamu gak bisa pergi sekarang, mami dan papi ada di meja makan, dan kau tahu itu? Kita bisa ketahuan." Terang Dara, karena posisi kamarnya berada ditengah tengah hingga bisa dilihat dari ruang makan.
Biru berdecak, "Lalu bagaimana?"
"Tunggu di sini sampai mereka selesai sarapan."
"Hah? Kau gila...!" sentak Biru.
Bukan apa, semakin lama berduaan semakin kikuk dan mati gaya saja. Biru tidak ingin terlihat salah tingkah di didepan Dara.
"Heh ... Justru kamu yang gila, ngapain coba minum minum sampe mabuk dan masuk sembarangan. Bikin repot tahu gak!" ucapnya kebalikannya. Tidak repot sama sekali.
__ADS_1
Biru yang menahan malu memasang wajah datar dan langsung menarik pinggangnya hingga tubuh Dara kini menempel padanya.
"Maksudmu kalau tidak mabuk aku boleh masuk. Hm?"