
"Bukan begitu Daddy, Biru hanya khawatir. Tapi Daddy tahu kan kalau Biru tidak akan membuat Daddy kecewa?"
"Tapi tetap saja, Daddy tidak suka kalau kau hanya diam saja saat Baskoro meremehkanmu, lawan dia kalau perlu kau buat tunduk padamu! Jangan hanya karena dia ayah dari wanita yang kau cintai kau hanya bisa diam saja," ucapnya di akhiri dengan dengusan kasar, "Kalau Daddy jadi kau, sudah ku sumpal mulutnya dengan kaos kaki!"
Biru menahan tawa, ayahnya memang pemarah, semua orang tahu itu,
"Ya ... Biru tahu itu Dad, bahkan Daddy seperti itu pada Opa!!"
Zian mendengus, mengingat pria yang merupakan kakek Biru dan Air. "Jangan selalu ingin menyamai Daddy, jelas jelas hubungan Daddy dan Opa mu termasuk Oma mu itu rumit, tidak ada duanya, Baskoro bukan temanku, bahkan aka tidak mengenalnya."
"Ya Dadd, aku faham ... Maafkan aku, seperti yang Daddy tahu kalau aku sudah katakan aku bisa mengatasinya. Dan aku hanya ingin Daddy dukung semua langkah aku."
"Ya ... kau harus bisa mengatasi Baskoro, Daddy tahu dia belum bisa menerima mu setulus hati."
"Daddy tenang saja! Semua bisa dia atur, Daddy cukup dukung Biru saja!" Ujar Biru yang mengatakannya beberapa kali.
"Ya tentu Daddy dukung selama langkahmu berada di jalurnya, dan Daddy juga lah yang akan menarikmu saat langkahmu sudah berada di luar jalur!"
Biru mengangguk, mengulurkan tangan ke arah ayahnya dengan tubuh yang dia tegakkan.
"Daddy jangan marah marah lagi, aku tidak akan mengecewakan Daddy!"
Zian menoleh, menatap tangan yang terulur di depannya lalu menjabatnya dengan kuat.
"Kau akan selalu jadi anak yang membanggakan!"
Sementara itu, diam diam Agnia memperhatikan keduanya dari kamar Air yang berada di atas, dia memang tidak mendengar pembicaraan mereka dengan jelas, namun bibir nya tersenyum hanya karena melihat raut wajah suami dan putranya tidak lagi datar dan tegang seperti tadi.
Baginya, keluarga adalah nomor satu. Pengalaman hidupnya saat remaja menjadikan ibu dua anak itu menjadi semakin paham dan mengerti bagaimana memposisikan dirinya.
__ADS_1
Sebagai ibu jelas dia akan selalu ada, menjadi tameng dan pasang badan untuk anaknya, dia tidak ingin apa yang dialaminya dulu dialami anak anaknya, hingga mencurahkan kasih sayang sekaligus kepercayaaan sejak dini. Hingga kedua anaknya mendapatkan segala hak nya.
Begitu juga dengan Zian, sifatnya keras dan kasar namun dia memiliki hati yang lembut, memiliki cara yang berbeda dalam menyayangi kedua putranya. Sifat tegasnya nya memang tidak berubah, tapi tidaklah egois seperti saat muda.
"Mami ... Ngapain senyum senyum? Emang mereka gak jadi berantem?" celetuk Air tiba tiba dibelakangnya, ikut melongo menatap ayah dan kakaknya.
"Berantem untuk menyelesaikan masalah, lebih tepatnya mereka sedang bicara. Dan semua masalah bisa selesai jika dibicarakan dengan kepala dingin!"
Ait mengangguk, dia selalu bangga memiliki ibu yang selalu bisa berkomunikasi dengan baik, menjadi tempat terbaik untuk curahan hati anak anaknya sekaligus teman segala kondisi.
"Tapi Air dukung Daddy, kakak bisa aja cari cewek lain yang lebih Ok. Tapi kakak lebih pilih kak Dara. Dan Mami dukung dukung aja!"
Agnia menoleh pada sang putri bungsu lalu tersenyum. "Kira kira apa yang akan Kakak mu lakuin kalau gak ada dukungan orang tua?"
"Hm ... Ya Air gak tahu, bisa aja Kakak berontak atau kabur."
Agnia kembali tersenyum seraya mengelus kepala Air.
Keduanya akhirnya kembali turun, setelah Agnia merasa dua pria istimewa dalam hidupnya itu sudah terlihat tenang.
"Dadd ... Bi ...?"
"Mami ... Biru harus pergi, Biru sudah janji pada Dara untuk menjemputnya dan membawanya hari ini. Dan untuk sementara Biru akan tinggal di apartemen bersama Dara!"
Kedua mata Zian terbeliak sempurna, "Kenapa harus ke apartemen, kalian bisa tinggal di sini!"
"Dad...?" Agnia meremas bahu suaminya dengan kuat."Daddy lupa kalau putra kita sudah jadi suami orang? Biar dia yang putuskan masalah itu, "
Zian lagi lagi mendengus, " Kau benar sayang, Aku pun tidak suka serumah dengan Dave dan juga Kim, mereka akan merepotkan. Tapi apa aku akan merepotkan mereka kalau mereka tinggal di sini bersama kita?"
__ADS_1
"Sudah ... Biarkan Biru pergi, dia harus mengurus keluarganya dengan baik, Kau hanya tidak ingin Biru pergi dari rumah ini atau berpisah dengan kita Dad?" Agnia terkekeh, mungkin itu yang di rasakan Zian saat ini sebenarnya, melepaskan putra pertama mereka yang tiba tiba menikah dan keluar dan rumah.
Biru terkekeh juga. "Apa Daddy belum rela kalau BIru jadi kepala rumah tangga?"
"Haiisshh ... Kalian ini sama saja, ya udah sana pergi, urus istrimu dengan baik!"
Akhirnya permasalahan diantara mereka bisa di atasi dengan cara baik baik, Biru kembali ke rumah Dara untuk menjemputnya dan tinggal bersama.
Terlihat Dara menunggu di balkon rumahnya, dengan 2 koper yang siap dia bawa, hatinya sedikit was was menunggu Biru, takut jika masalah yang timbul di antara keluarganya dan keluarga Maheswara kembali mengganggu hubungan mereka yang baru saja mulai.
Tok
Tok
Suara pintu kamarnya di ketuk dari luar, Dara langsung membukanya dan melihat ayahnya berdiri di hadapannya.
"Ada apa Pap?" tanyanya datar.
"Apa sebaiknya kalian tinggal di sini saja bersama kami?"
Dara tidak menjawabnya, dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka berdua kembali tinggal bersama di rumahnya.
"Maafkan Papa Nak, papa hanya tidak menyangka saja, bukan berarti papa tidak suka pada Biru."
"Apa Papa sekarang jadi suka sama Biru karena latar belakang keluarganya, apa karena Biru lebih kaya dari kita. Kalau kayak gitu berarti Papa jahat, Papa gak sayang sama Dara. Dan Dara akan ikut sama Biru kemanapun bIru bawa Dara!!"
"Dara bukan begitu maksud Papa!"
"Memang harusnya bukan kayak gitu, Papa harusnya bersyukur karena ada laki laki yang mau nerima Dara dalam keadaan kayak gini, dan itu cuma Biru. Dara malu Pap ... Harusnya yang ngelakuin ini adalah Rian, bukan Biru!"
__ADS_1
"Iya ... Papa mengerti Dara, maafkan Papa!!"