Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.93(Benar benar licik)


__ADS_3

"Apa mereka melakukannya agar bisa dapat perusahaan Papa?"


Biru mengangguk lirih, itu bisa saja terjadi. Dan untuk membuktikannya jelas ada yang harus bicara, baik Rian maupun Intan sendiri.


"Mungkin saja Dara, tapi kau tenang saja. Aku akan pastikan mereka menyesali perbuatannya!"


Dara masih menyusut air matanya yang terus menetes di pelupuk mata seraya mengganggukan kepala nya dengan lirih.


"Ayo kita pulang dulu!" cicit Biru lagi.


Akhirnya keduanya naik kedalam mobil bertepatan dengan keluarnya Intan dari arah pintu lain gedung.


"Tunggu Bi ... Apa itu Intan?"


"Ya itu memang dia!" sahut Biru pelan, ia merogoh ponsel dari dalam saku celana nya.


Terlihat Biru bicara dengan seseorang sebelum dia memanaskan dan melajukan mobilnya. Dengan Dara yang hanya diam saja, hingga perbincangan Biru dengan seseorang itu berakhir.


Terlihat pria berusia 22 tahun itu tersenyum tipis Dan Dara mengerenyit melihatnya.


"Kenapa senyam senyum?"


Biru menggelengkan kepala, "Tidak, aku hanya merasa sedikit lucu setelah berbicara dengan Alex."


"Alex? Ada apa dengan Alex. Apa dia ada masalah juga?" Tanya Dara dengan penasaran.


"Kau akan tahu nanti Dara!"


***


Sebuah mobil hitam berdecit tajam di depan seorang gadis dengan kedua mata terbeliak melihat mobil itu hampir saja menabrak di depan nya dru mesin kendaraan roda empat itu terus mengerung dengan asap putih keluar dari kedua sisi roda Vlek, dengan suara klakson yang memekik genderang telinga.


"Astaga ... Apa ini, gila banget!" gumam Intan yang sontak melompat dengan dua kaki kecilnya.


Tidak lama kemudian pintu mobil terbuka tiga orang pria bertubuh tinggi tegap keluar dari sana dan seseorang yang paling mencolok diantara ketiganya pun ikut keluar.


Intan mengernyitkan kedua alisnya karna merasa tidak mengenal semua pria yang membuat nya sedikit takut "Hei siapa kalian! Mau apa kalian!" teriaknya dengan memeluk tasnya di depan dada, "Gila!!"

__ADS_1


"Kamu tidak usah takut kami tidak akan menyakiti mu! Kita hanya akan bersenang senang sedikit saja!"


"Siapa kalian! Jangan macam macam ya aku bisa teriak" seru Intan yang mulai takut.


Terdengar suara tawa pria yang paling mencolok dengan tatapan tajam yang dimilikinya sementara tiga pria lain hanya mengulum bibir dan juga ada yang berseringai.


"Kalian pikir ini Lucu?" seru intan lagi


Trek


Trek


Terdengar suara buku buku jari yang dibunyi kan secara keras, "Rupanya kamu pemberani Intan Aurora?" Intan sendiri terperanjat karna mengetahui nama nya "Siapa kamu? Aku tidak mengenal kamu." Pria itu perlahan lahan melangkahkan kedua kaki dan berhenti di hadapan intan.


Brak!


Intan terkesiap saat kedua tangan pria itu mengenai wajahnya.


"Woahhh kamu sedikit takut?" serunya dengan keras. "Kamu benar benar gila! Minggir aku mau pulang!"


Bruk!


"Kamu fikir semudah itu pergi dari sini Intan?"


"Apa yang kamu lakukan, aku akan lapor polisi!" Intan segera merogoh ponsel dari dalam tas miliknya dengan tangan bergemetaran.


Namun pria itu langsung merebut ponsel dari tangannya. "Kamu bisa melaporkan pada polisi nanti, tapi ada sesuatu yang harus kau ketahui, bagaimana kalau laporkan dulu tentang pemukulan yang sangat kejam pada seorang pria di klub malam xx dua hari yang lalu?"


Intan terperanjat, kedua matanya membola sempurna, dia ingat betul kejadian malam itu yang di lakukannya pada Rian. "Siapa kamu?"


"Aku? Aku saksi mata ...!"


"Apa yang kamu mau?"


Pria itu kembali tertawa, "Ayolah, harusnya kamu berakting lebih dramatis lagi Intan agar ini menjadi seru, jangan terlalu mudah seperti ini! Tapi karena kamu sudah faham, jadi aku tidak perlu lama lama berbasa basi!"


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Aku akan melaporkanmu pada polisi, selain itu kamu juga kehilangan pekerjaanmu bukan?"


Intan semakin terbeliak mendengarnya, tapi dia semakin yakin jika pria di depannya ada hubungan dengan pria yang bersama Dara tadi.


"Apa yang terjadi malam itu akan menjadi rahasia kita berdua! Tapi katakan apa yang terjadi di malam tanggal 17 4 bulan yang lalu?" ucap pria itu dengan tangan mengunci pergerakan tubuh Intan.


"Hah?"


"Katakan Intan ... Apa yang terjadi? Kalau kamu bohong, maka malam ini aku pastikan kamu tidak akan selamat!"


Intan benar benar takut, terlebih saat tangan pria itu menyentuh ujung rambutnya seraya tertawa.


"Kamu benar benar gila!"


"Anggap saja seperti itu ... Aku bisa gila bisa juga tidak, semua tergantung lawan!"


Lamat lamat tubuh Intan semakin mengendur, terlebih saat dua pria kini maju dengan wajah sangarnya.


"Kamu tinggal pilih, mereka lebih kejam dariku!" Bisiknya pada telinga Intan. "Dan aku janji akan melepaskanmu kalau ceritamu itu jujur!"


"Aku ... Aku ...!"


Alex terperangah mendengar cerita yang dikatakan Intan, dia tidak pernah menduganya sebelumnya. Dugaannya dan juga dugaan Biru benar kalau Intan dan Rian merencanakan semuanya sejak awal, dan Intanlah yang menjebak Dara malam itu dengan memberinya minuman yang sudah dicampur obat tidur.


Intan menceritakannya dengan takut, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, begitu pula dengan jemarinya yang saling merekat satu sama lain.


Tidak lupa Alex merekam semua ucapannya pada ponsel yang sudah dia siapkan dan Setelah mendapatkan rekaman itu mereka berempat meninggalkan Intan begitu saja.


"Kita pergi!" serunya pada tiga pria yang dia bawa untuk menakut nakuti Intan. "Aktingku sangat bagus, apa kalian merekamnya juga tadi?"


"Tidak Bos!"


"Haisssh ... Sayang sekali, aku berusaha keras agar terlihat kejam dan dingin macam mafia mafia di film!" cicit Alex seraya menutup pintu mobil dengan keras.


Menatap Intan sekali lagi dengan tajam, terlihat tubuh gadis itu masih bergemetar dengan kepala yang tertunduk, berbeda sekali saat bicara di depan Dara tadi.


"Benar benar gila ... Jadi semua rencananya berantakan karena Biru muncul, jika tidak ada Biru mereka sudah pasti berhasil merebut perusahaan Baskoro dengan memperdaya Dara. Licik ... Benar benar licik!"

__ADS_1


__ADS_2