
Biru mengucapkan kata-kata itu dengan tekad yang kuat, mencoba menenangkan Dara yang gelisah dan waswas akibat kaburnya Rian. Dalam keadaan yang sulit seperti ini, Biru berusaha memberikan keyakinan pada Dara bahwa masalah dengan Rian akan segera diatasi.
"Apa ... Maksudmu, Rian pergi walaupun sekarang ini statusnya sebagai tersangka?"
Biru mengangguk mantap. "Dara, aku memahami kekhawatiranmu. Namun, percayalah bahwa pihak berwenang akan melakukan segala upaya untuk menemukan Rian. Dalam situasi seperti ini, tidak ada tempat yang aman bagi pelaku yang melarikan diri dari keadilan. Semua kasus yang menjeratnya akan mempersempit ruang geraknya, dan pada akhirnya, dia tidak akan bisa pergi jauh," ujar Biru dengan penuh keyakinan.
Biru mengingatkan Dara bahwa Rian sudah ditetapkan sebagai tersangka, artinya pihak berwajib telah menemukan cukup bukti untuk menjeratnya dalam kasus-kasus yang melibatkan dirinya. Hal ini memberikan harapan bahwa keadilan akan segera terwujud.
"Saat ini, yang terpenting adalah kita tetap tenang dan fokus. Biarkan hukum menjalankan prosesnya dan kita akan memberikan dukungan sepenuhnya. Jangan biarkan kekhawatiran dan ketakutan menguasai kita. Bersama-sama, kita akan menghadapinya dan mengatasi semua masalah ini," lanjut Biru dengan penuh tekad.
Dara melihat keberanian dan kepercayaan Biru, dan perlahan-lahan rasa gelisahnya mulai mereda. Dia menyadari bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi situasi ini dan memiliki pasangan yang siap berjuang bersamanya.
"Ya, Biru. Aku percaya padamu. Kita akan menghadapinya bersama-sama, cepat atau lambat," jawab Dara dengan suara lembut, menunjukkan rasa syukur dan keyakinannya pada Biru.
Keduanya saling memandang, menemukan kekuatan dan dukungan dalam hadirnya satu sama lain. Mereka tahu bahwa mereka harus bersatu dan tetap kuat di tengah badai yang sedang melanda. Dengan keyakinan dan tekad yang sama, mereka siap menghadapi segala tantangan yang ada, termasuk menghadapi konsekuensi dari perbuatan Rian.
Perlahan lahan namun pasti keduanya saling mendekat dan bersiap menempelkan benda basah satu sama lain. Dengan perasaan was was namun menyimpan kerinduan yang teramat besar, keduanya saling merekatkan pelukan.
Namun baru saja hendak menyecap bibir Dara yang basah, pintu terbuka. Sophia yang tersentak begitu juga dengan keduanya yang sama sama berusaha melepaskan dirinya masing masing.
__ADS_1
Ketika Dara dan Biru sedang terlibat dalam momen intim, tiba-tiba Sophia, secara tidak sengaja melihat mereka. Wajah Sophia terlihat terkejut dan malu saat menyaksikan adegan tersebut. Dia merasa seperti melanggar privasi Dara dan Biru, dan perasaan malu menyelimuti dirinya.
"Mami!" lirih Dara.
"Maaf ... Mami hanya ingin mengambil ponsel Mami yang tertinggal!" Ucap Sophia yang menjadi salah tingkah di depan anak dan menantunya sendiri
Dara dan Biru, yang terkejut dengan kehadiran Sophia, segera menghentikan momen tersebut dan saling memandang, merasa tersipu dan malu atas situasi yang terjadi. Mereka berdua menyadari bahwa keintiman mereka seharusnya tetap menjadi hal yang pribadi.
Perasaan malu melanda Dara, merasa seperti dia telah melanggar batas dan mengorbankan privasi mereka. Dia merasa tidak nyaman dengan situasi ini dan berharap dia bisa mengembalikan waktu untuk menghindari detik-detik yang memalukan ini. Dia menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan Biru saat sang ibu berdiri di depan mereka.
"Ahh ... Aku malu Bi!" cicit Dara.
"Aku juga!"
Sophia, di sisi lain, merasa sangat malu dan tidak nyaman karena tanpa sengaja menyaksikan adegan tersebut. Dia tidak bermaksud untuk mengintip atau mengganggu, namun situasi yang terjadi membuatnya merasa seperti dia telah melanggar batas sebab bagaimanapun juga mereka adalah suami istri.
Ketiga orang tersebut, terbungkus dalam suasana yang canggung, Biru dan Dara saling memandang dan tidak tahu harus berkata apa. Ada keheningan yang kaku di antara mereka, dan perasaan malu terus menghantui mereka. Mereka berharap dapat melupakan insiden ini dan mengembalikan suasana yang nyaman di antara mereka.
Sophia berdiri terpaku di belakang pintu dengan hati yang berkecamuk. Tangannya masih memegang erat ponsel di dadanya, namun pikirannya melayang jauh dari perangkat tersebut. Dia merasa tidak enak hati karena tanpa sengaja menjadi saksi momen manis antara Dara dan Biru yang terjadi di depan matanya.
__ADS_1
Rasa tak nyaman memenuhi pikiran dan hati Sophia. Dia merasa seperti seorang pengganggu, seolah-olah telah melanggar privasi dari anak anaknya. Tidak ada niat jahat di dalam hatinya, namun tetap saja situasi ini membuatnya merasa bersalah.
Sophia berusaha mengumpulkan keberanian untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Dia ingin mengatakan bahwa dia tidak bermaksud mengintip atau mengganggu mereka, bahwa kehadirannya hanyalah kebetulan yang tidak disengaja. Namun, kata-kata terasa macet di bibirnya. Rasa malu dan rasa takut membuatnya ragu untuk melangkah maju.
Dia memandangi ponsel di tangannya, berharap ada pesan atau panggilan yang memecah keheningan dan memberinya alasan untuk mengalihkan perhatian dari momen yang memalukan ini. Namun, dalam keheningan yang tegang, ponselnya tetap diam.
Sampai Biru berinisiatif bangkit dan berjalan menuju lemari es kecil yang berada di sudut ruangan kamar VIP itu.
Biru mengambil satu botol air putih kemasan dan memberikannya pada Dara. Namun Dara yang juga salah tingkah justru memberikannya pada sang Ibu.
Biru benar benar malu, tanpa alasan yang jelas dia memilih pergi untuk menghindari rasa canggung yang mendera jiwanya. Tak lama Sophia pun mengikuti jejaknya.
"Biru ... Masuklah! Mami tidak mungkin menjadi penghalang kalian. Masuklah dan habiskan waktu kalian berdua. Maafkan Mami yang tanpa sengaja masuk ke dalam."
Biru menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia pun merasakan hal yang sama. "Maafkan Biru yang tidak tahu tempat Mami!"
Sophia mengangguk anggukkan kepalanya berulang kali. Dengan perasaan yang jelas berkecambuk aneh dan juga canggung.
Biru pun kembali masuk, dan Dara menyambutnya dengan gelak tawa. Yang membuat Biru terperangah karena sudah lama Dara tidak seperti ini.
__ADS_1
"Kau menertawakan aku?" Biru menghampirinya dan langsung menggelitik pinggangnya hingga Dara yang tengah duduk di ranjang rumah sakit terjerembab.
"Biru ... Geli, jangan lakukan itu! Gara gara kamu, kita jadi ketahuan!"