Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.25(Jangan macam macam)


__ADS_3

Dara berdecak kesal, dia kembali merebut bungkus rokok yang Biru katakan sangat mahal itu dan meremasnya hingga hancur lalu melemparkannya ke dalam tong sampah yang berada tidak jauh dari sana.


"Makan Tuh rokok mahal ...!" ujarnya.


Biru terbeliak, mendorong kedua bahu Dara hingga tubuhnya terdorong kebelakang dan bersandar di dinding. Gadis itu tersentak kaget dengan gerakan tiba tiba dari Biru.


"Apa yang kamu lakukan? Jangan gila ya, ak--- Hmmmmppp!!"


Ucapan Dara terhenti begitu saja saat Biru yang langsung menyambar bibirnya yang terbuka, meluapkan kemarahannya dengan mencecap bibir tipis yang sejak tadi menggerutu itu.


Dengan kedua tangan yang berusaha mendorong dada Biru, Dara berusaha melepaskan diri. Namun sia sia, tenaga Biru bukan tandingannya. Hingga Biru melepaskannya dengan kasar.


"Itu sebagai ganti karena kamu sudah merusak barang milikku dan mengganggu kesenanganku!" ujar Biru dengan kesal.


Dara memukul bahunya dengan kasar, "Hey ... Mana bisa begitu!"


Biru kembali mendekatkan wajah ke arahnya, membuat Dara melakukan hal sebaliknya dengan memundurkan kepalanya ke arah belakang.


"Kalau begitu Diam dan jangan menggangguku! Karena aku bisa melakukan apapun padamu."

__ADS_1


Pria itu langsung meninggalkan Dara begitu saja setelah menciumnya dan mengatakan hal yang membuatnya takut, sementara Dara masih berusaha mengatur nafasnya yang tidak karuan.


"Brengsekk banget ... Makin berani dia!" gumamnya dengan menyusut bibir dengan punggung tangannya, tidak menyangka ciuman kedua darinya sangatlah berbeda.


Dara pun keluar dari sana dengan kesal, tidak lupa merapikan rambutnya yang berantakan dengan kedua tangannya, mencoba terlihat baik baik saja walaupun debaran jantungnya masih belum normal saat melihat punggung tegap milik Biru.


Terlihat Biru semakin jauh dengan langkah tegap miliknya, satu tangan dia masukkan ke dalam saku celana dan membuat Dara terkesima walau hanya melihatnya dari belakang.


"Dara?" panggil seseorang.


Dara menoleh ke arah suara, ternyata Rian tidak menyerah begitu saja terhadap wanita yang mengandung benihnya.


"Aku hanya mengkhawatirkanmu, bukankan aku sudah bilang akan mengantarkanmu ke Dokter sore ini. Kau lupa?" Rian menyusul langkahnya.


"Oke ... Mas, tapi kita bertemu di sana saja ya, aku pergi sama Biru!"


Rian tersentak, menghentikan langkahnya saat mendengar Dara mengatakannya, terlebih pria yang disebutkan namanya kini menatapnya dengan datar.


"Oke Dara. Ini karena kamu yang minta, dan aku menghargainya." ujar Rian yang berhenti mengikuti langkah Dara.

__ADS_1


Tumben banget langsung nurut Mas. Batin Dara seraya mengangguk lalu berjalan masuk kedalam lift dimana Biru pun ada didalamnya.


Lift yang asalnya kosong melongpong dan hanya ada mereka berdua kini perlahan mulai penuh, Dara yang mundur kebelakang akhirnya terhimpir oleh beberapa pria, dan tanpa dia duga Biru menggeser tubuhnya tepat berada di depannya, membuatnya terlindungi dengan orang yang semakin banyak.


Dara menelan saliva, teelebih tatapan Biru tidak juga beralih darinya, bahkan kedua tangan Biru kini mengunci tubuhnya. Hingga dia aman tanpa ada yang menyentuhnya.


Deg


Lift bergerak naik dengan sedikit terguncang menyebabkan beberapa orang didalamnya oleng, tapi tidak dengan Biru dan juga Dara, keduanya saling bertatapan dalam dalam, dan tidak terpengaruh oleh banyaknya orang.


"Terima kasih!" cicit Dara, merasa Biru benar benar tulus melindungi sekecil apapun itu.


Tatapan Biru semakin dalam, dengan ujung bibir yang dia angkat ke atas.


"Aku rasa ucapan terima kasih saja tidak cukup!"


Glek!


Moment syahdu kembali berubah, Dara memicingkan kedua mata ke arahnya.

__ADS_1


"Kamu udah aku traktir makan, terus apalagi? Jangan macam macam ya!"


__ADS_2