
Rian melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Dara yang duduk disampingnya terdiam seraya melihat ke arah ruas jalan, memandangi pohon pohon yang mereka lewati.
Bayangan pertemuan kali pertamanya dengan Biru kembali membayang, pria yang melajukan moyor sport yang hampir menabraknya, tidak ... Dia sendiri yang hendak menabrakkan diri. Dan menyeretnya dalam masalah hidupnya.
"Aku yang telah menghamili Dara Om!"
Dara dan ayahnya menoleh ke arah pria yang kini maju dua langkah. "Aku yang akan menikahinya!" ujarnya lagi.
"Jadi benar itu kau! Kau yang menghamili putriku. Siapa kau hah?"
"Aku...."
Baskoro marah dan berada di puncak emosi melayangkan pukulan hingga mengenai ujung bibirnya dan berdarah.
"Katakan siapa kau! Akan aku bunuh kedua orang tuamu yang telah gagal mendidik anaknya!"
"Orang tua ku tidak ada hubungannya dengan semua ini, aku sendiri yang akan bertanggung jawab!"
"Lancang kau!"
"Aku ... Biru Sagara Maheswara!"
"Kau melamun?"
"Dara? Kau mendengarku?" Rian kembali mengajaknya bicara namun Dara tetap tidak bereaksi.
"Dara?"
"Kenapa kamu melakukannya?" cicitnya.
Rian tersentak. "Apa?"
Dara mengerjap, hampir saja lupa karena terlalu memikirkan Biru, tak lama dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa apa, aku hanya lagi mikirin sesuatu aja!" Ucap Dara dengan kembali membuang wajahnya ke arah lagi
Suasana mobil kembali hening, Dara terdiam hingga mobil berhenti di persimpangan jalan. Dan bayangan Biru kembali hadir.
"Dasar matre!"
"Jaga mulutmu ya, aku ini lebih tua dan kau tidak punya sopan santun, aku tidak mat___"
"Ya .. Baiklah tuan. Aku ngerti ... Kamu gak matre, tapi kamu belingsatan saat lihat uangku kan!"
__ADS_1
Biru berdecih, dengan kuat mencubit pipi Dara sampai memerah. "Jangan sembarangan bicara ya!"
"Ah ... Baiklah, oke, sakit tahu! Bisakan kita gak berantem dulu, aku gak mau ya keluarga ku curiga ataupun berfikir yang aneh aneh."
"Itu karena kau sendiri, aku sudah membantumu tapi kau terus menghinaku."
"Aku tidak menghinamu, itu fakta kan, kamu emang matre kok udah jelas!" dengusnya.
"Ya .. Terserah lah!"
Dara membayangkan wajah Biru saat akhirnya dia mau membantunya dalam persoalan itu, dan sampai saat ini Dara tidak tahu apa tujuan Biru.
"Mas ... Kenapa malam itu kamu ninggalin aku? Dan baru muncul di hari pernikahanku. Kenapa ...?"
Rian mengernyit tidak mengerti, tidak ada yang bisa dia katakan. Hal itu terjadi secara kebetulan saja.
"Maaf aku tidak bermaksud membuatmu kaget, aku ingin bicara padamu Dara."
"Maaf .. Siapa ya, aku gak kenal denganmu. Permisi aku mau ke toilet dulu." Dara kembali melangkahkan kakinya.
"Tapi aku mengenalimu. Kau Dara dan kau gadis yang aku temui malam itu! Bahkan aku ingat tahi lalatmu yang berada di sana!" ujarnya dengan menunjuk dada Dara yang menonjol.
Dara terkesiap, dengan langkah yang terhenti saat itu juga, dia juga langsung menoleh lagi kearah belakang. Kedua alisnya mengernyit seolah tengah sibuk berfikir.
"Maaf Dara, aku hanya ingin memastikan sesuatu denganmu. Apa kau benar benar hamil setelah malam itu?" tanya Rian kembali.
Dara terbeliak kaget dengan pertanyaannya, dia tidak menyangka seseorang selain keluarganya tahu hal itu, dtambah pria yag berdiri di depannya tahu soal malam itu.
"Hotel xx? Tangggal15?" Ujarnya lagi.
"Kamu?" lirih Dara dengan mengambil kancing berwarna gold yang selalu dia bawa kemana mana. "Ini?"
"Kancing ini?"
Dara menggelengkan kepalanya. "Aku ... Entahlah!"
"Kancing ini milikku Dara! Aku... aku lah pria itu, pria yang melakukan sesuatu denganmu malam itu dan aku pergi karena terdesak, aku tidak ..."
"Jangan gila, kau pasti mengada ngada!" Dara sudah hampir menangis mendengarnya.
"Itu benar Dara. Aku masih ingat wajahmu dengan jelas, aku juga mencarimu namun aku tidak tahu dari mana aku harus mencarimu setelah itu! Dara ...!"
"Gak mungkin!"
__ADS_1
"Dara ... Please percaya padaku. Aku ... Aku ingat wajahmu dan aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian malam itu! Aku menyesal."
"Terus kenapa kamu pergi? Kenapa gak balik lagi kalau kamu nyesel!"
"Aku kembali tapi aku tidak menemukan siapapun di sana, dan aku tidak tahu mulai dari mana. Kita berdua sama sama mabuk saat itu! Maafkan aku Dara."
Bulir bening sudah mulai runtuh, meskipun sekuat tenaga Dara menahannya.
"Apa bayi yang kau kandung itu adalah bayiku?" Rian bertanya untuk kedua kalinya dan kali ini dengan suara lirih.
Dara mengangguk. Membuat Rian sedikit menunduk menyesali perbuatannya dan pria itu meraih tangannya. "Maafkan aku, seharusnya aku tidak meninggalkanmu begitu saja,"
Dara masih terdiam, gadis itu hanya menatapnya nanar. Dan sejurus kemudian dia memukuli tubuhnya bertubi tubi.
"Kamu yang udah bikin hidupku hancur, masa depanku hancur dan cita citaku hancur! Kamu pria brengsekk!"
"Maafkan aku Dara, aku sungguh menyesal, aku tahu aku salah dan aku akan bertanggung jawab!"
"Bertanggung jawab? Aku bahkan udah nikah sama orang lain. Bagaimana kamu mau tanggung jawab hah? Bagaimana ." sentaknya dengan marah.
Rian berhasil menangkap kedua tangannya lagi. Dan menatap Dara dalam dalam."Kau bisa batalkan pernikahan ini, pernikahan ini baru beberapa jam saja, kamu masih bisa mengajukan pembatalan ke kantor catatan sipil."
Dara kembali terdiam, jujur saja dia juga menginginkan pria yang telah menghamilinya yang bertanggung jawab, bukan orang lain yang tidak ada sangkut pautannya, terlebih pernikahan ini hanya sebatas kontrak yang sudah mereka sepakati.
"Tapi ... Apa yang harus aku bilang pada Papa. Pernikahan ini sudah di gelar bahkan semua keluarga udah tahu aku nikah sama Biru terus tiba tiba aku batalkan?"
"Tapi aku yang harusnya bertanggung jawab, dan kau tahu Dara? Sebelumnya Papa Mu juga yang berencana untuk menjodohkanmu dengan ku, tapi kau malah memilih pria lain untuk kau nikahi. Kalau saja kau sedikit sabar sedikit saja."
"What! Kok kamu jadi nyalahin aku?" Dara menepiskan kedua tangan Rian yang mencengkram kuat.
"Maaf ... Aku tidak menyalahkanmu. Tapi ... Pokoknya, kita harus bicara pada Papamu dan kita ajuan pembatalan pernikahan, setelah itu aku yang akan menikahimu!" ujar Rian yang terlihat tidak peduli pesta yang sedang berlangsung.
"Tidak bisa!"
Suara bariton terdengar dari arah belakang, dimana Biru kini berjalan ke arah mereka dan menarik tangan Dara.
"Kau tidak bisa seenak jidatmu melakukan pembatalan pernikahan. Dara sekarang sudah jadi istriku!"
"Tapi aku adalah ayah anak yang dikandungnya, aku yang lebih berhak bertanggung jawab dan menikahinya."
Kali ini Rian yang membayangkan saat melihat Dara dihari pernikahannya, betapa kagetnya saat dia tahu jika Dara adalah gadis yang dia temui malam itu. Dan saat melihat Biru, entahlah. Dia harus melakukan sesuatu.
"Kebetulan?" Tanya Dara.
__ADS_1
"Sudahlah sayang, kenapa terus membahas masa lalu, kita sekarang memiliki masa depan kita sendiri!"