Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab. 87(Masih suami istri)


__ADS_3

Dara kembali pulang, dia masih belum faham dengan apa yang dikatakan Intan, kenapa Intan menyalahkannya dan bicara seolah olah dia bersalah, pun dengan ucapan Intan yang mengatakan jika dia tidak pernah menganggap Dara sebagai sahabatnya.


Dara berjalan dengan berlinang air mata menuju rumah, sampai dia tidak fokus saat hendak menyebrang. Begitu sedih tanpa tahu kesalahannya apa. Sampai sampai suara klakson pun tidak dia dengar dengan jelas, beruntung Biru yang melihatnya sigap menarik tangannya.


"Apa kau gila, kau menyebrang tanpa lihat kiri dan kanan?"


"Biru. Kenapa kamu ada di sini?" Ujar Dara yang buru buru menyusut air mata.


"Aku dari rumahmu, orang rumah bilang kau pergi tanpa mengatakan apa apa! Kau menangis?" ucap Biru dengan mendongkakkan kepala Dara.


"Enggak kok, aku gak apa apa!"


"Jangan bohong padaku Dara, katakan ... Siapa yang membuatmu menangis?"


Dara tetap menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan pada Biru tentang Intan dan ketidak fahaman tentang persoalannya.


"Baiklah. Kalau kau tidak mengatakannya, aku yang akan mencari tahunya sendiri!" Tegas biru lagi.


"Jangan ... Jangan , itu bukan apa apa kok, aku cuma ...?"


Biru mengernyit, "Cuma apa?"


"Ya ... Tadi aku hanya ketemu temen sekolahku aja, aku sedih karena dia ... kami baru ketemu tadi, dan itu, itu ... kok.." jawabnya dengan ragu dan tampak aneh.


Tentu saja Biru tidak mudah percaya begitu saja, mengingat dia tahu apa yang terjadi semalam saat melihat gadis bernama Intan dan apa yang di katakan saat meracau.


"Siapa temanmu., apa yang dikatakannya?"


"Aku ... gak tahu!" Dara melenggang pergi.


"Dara, tidak perlu mengatakannya kalau kau tidak ingin, tapi aku pastikan aku akan tahu nanti!"


Dara terkesiap, dia saja bingung dengan ucapan sahabatnya, bagaimana mungkin dia memberi tahu Biru yang pasti juga tidak mengenal Intan apalagi tahu tentang mereka.


Sekarang kita pulang, semua orang sudah menunggu kita!?" Ujar Biru yang menarik tangan Dara hingga Dara kini kembali berjalan dengan megikuti langkah Biru di depannya.


"Semua orang nunggu kita?"


"Ya ... Semua orang," jawab BIru dengan tersenyum, tidak sabar untuk memberikan kabar yang pastinya menggembirakan bagi semua orang orang termasuk Dara.


Keduanya masuk ke dalam rumah, dan benar saja, kedua orang Dara sudah menunggunya, begitu juga dengan kedua orang tua Biru dan juga adik satu satunya yang tidak sabar menunggu mereka.

__ADS_1


"Akhirnya kalian pulang juga!"


Dara tersentak kaget melihta semuanya berkumpul, terlihat kedua orang tuanya yang tampak canggung di depan mereka.


"Om ... Tante, hari ini juga aku akan membawa Dara pulang!!" celetuk Biru dengan tidak sabar.


"Maksudmu apa Biru?" tanya Agnia, khawatir pada putra sulungnya itu. "Kau tidak mengatakannya hari ini juga kan?" tanya nya lagi.


"Kalian harus menikah ulang baru bisa tinggal bersama lagi!" suara Zian terdengar lebih keras dibandingkan sang istri, membuat Bakoro maati kutu.


"Anda benar Pak!!"


Zian tertawa mengdengar Baskoro yang terlampau sopan padanya daan terlihat canggung. "Santai saja, kita akan segera menjadi besan."


Baskoro mengangguk lirih serya tersenyum bangga mendengarnya, "Iya Pak Zian."


"Tidak perlu Dad, aku akan membawa Daraa hari ini juga, dan aku tidak akan melakukan pernikahan ulang lagi!"


Daraa terkesiap, menoleh pada Biru dengan wajah kecewa, "Apa maksudnya, kamu gak mau nikahin aku?"


"Ya ... Untuk apa aku menikahimu lagi Dara?"


Deg!


Prerlahan Dara melepaskan tangan Biru yang sejak tadi menggenggamnya, setelah bertemu Intan dan itu membuatnya sedih , kali ini ada yang lebih sedih lagi dibandingkan dengan tadi.


"Biru ... Apa yang kamu katakan, kenapa tidak membicarakannya dulu dengan kami?" seru Baskoro yang terlihat kecewa.


Agnia bangkit daari kursi dan menghampirinyaa, dia menariknya dua langkah ke belakang. "Apa yang kamu lakukan, apa kaamu mau membuat Daddy dan Mami malu di depan keluarga Dara, kenapa kamu seperti itu Bi . Mami kecewa sama kamu."


"Mi ... Dengar dulu, Biru kan belum selesai bicara! Kenapa kalian tegang begitu, Biru hanya bilang tidak akan menikahi Dara lagi!"


Agnia mremukul bahu sang putra dengan keras, "Itu msalahnya, kenapa kamu berubah fikiran, bukankah kamu bilang kamu mencintai Dara bahkan menerima anaknya juga, kenapa sekarang tidak ingin lagi menikahinya."


"Mami ... Mami dengarkan Biru dulu!"


"Mami gak maau tahu, ppokoknya Mami kecewa sama sikap kamu. "Agnia mendengus lalu melirik ke arah suaminya.


"Dad ... Bagaiman aini?"


Zian menatap BIru, dia benar benar tidak mengerti pada putranya itu, namun melihat Biru tersenyum dia tiba tiba faham begitu saja .

__ADS_1


"Oh astaga ... Istriku termyata sudah semakin tua, kemarilah Baby, duduk di isni dan kita tunggu bocah nakal itu selesai bicara!" ujarnyaa dengan menepuk sofa tempatnya duduk.


Agnia semakin mendengus kasar saat mendengar ucapan suaminya, namun dia lantas duduk juga. Sementara Dara sudah hampir menangis, faktor kehamilanya yang membuat dirinya sensitif dan haal hal yang membuatnyaa sedih.


"Aku gak percaya kamu lakuin ini sama aku Bi?" cicitnya.


"Dara ... Kita masih resmi suami istri, kenapa aku harus menikahi istriku sendiri?" ucapnya bangga


Deg.


TIdak hanya Dara yang terlihat kaget, namun semua orang yang duduk menunggu di sana pun kaget, bahkan AIr yaang hendak minumpun hampir tersedak mengdengarnyaa.


"Apa kamu bilang?"


Biru mengaangguk, mengeluarkan amplop kuning dari dalam saaku jasnya dan membukanya. "Ya ... Aku sudah memastikannya, surat pemabatalan itu tdaak sah jadi mereka tidak bisa memprosesnya, aku serius"


Zian tettawa, dia sudaah bis mnebaknya sejak meihat senyuman Biru tadi, ternyata baru kali ini Zian merasa jika Biru tidak sepertinya melainkan seperti ibunya.


"Dad ...kamu sudah tahu itu?" tanya Agnia.


"Tidaak, aku baru saja tahu,"


"Terus kenapa kamu ketawa, gak ada yang lucu soalnya"


"Aku tertawa karena Biru ternyata mirip denganmu dalam satu dua hal, seperti ini?"


Dara masih tidak percaya, dia mengambil surat dari tangan Biru dan melihatnya sendiri,dn benar saja jika surat itu tidak di setujui oleh pihak pencatatan sipil karena satu dua hal ganjal.


"Bagaimana, kamu masih ingin aku nikahi padahal kita suami istri?"


Senyuman Dara pun semakin meekah, dia meantap kedua orang tuuanya dengan perasaan yang suit dia rtikan dan memberikakan siurat itu pada ayahnya. Baskorro mengambilnya da melihatnya, begitu juga gdengan Sophia yang ingin kepastian kebenarannya.


"Apa benar?' Kalian masih suami istri secara sah?" gumam Bskoro yang lansgung menoleh pada sang istri.


"Iya Pap, surat ini surat resmi dari kantor catatan sipil."


Senyuman BIru tidak berubah sedikipun, dia menantap ke arah Dara dan juga kedua orang tuanya dengan senang.


"Jadi karena Aku masih suami Dara yang sah, maka hari ini aku akan membawa Dara pulag, Om tenang aja, aku akan menjaganya dengan baik!"


.

__ADS_1


Makasih udah sabaar nungguin othor yang lagi galau ini, maksih juga buat yang gak bosen kasih dukungan sam nove receh ini, yang pada belum up .... di tunggu ya, othornya lagi banyak PR.


__ADS_2