Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.82(Itu rahasia)


__ADS_3

"Ada apa dengan pria pria itu! Kemarin keliatan kayak ada yang aneh tapi sekarang mereka tertawa justru makin aneh. Apa yang terjadi?"


Biru menoleh ke arah Dara lantas tersenyun dengan sangat manis, membuat jantung Dara berdegup kencang. Tidak lama pria itu menghampirinya dari belakang saat Dara terkesiap dan memutar kan tubuhnya, Biru juga langsung mencondongkan tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu di atas meja dan mengkungkung Dara ditengahnya.


"Kamu pasti sedang memikirkan aku?" ucapnya dari aeah belakang.


"Heh ...!"


"Jujur saja ... Karena aku melihatnya Dara," bisiknya di telinga Dara,


Gadis itu menjadi salah tingkah dibuatnya, berkali kali mengulum bibir dan juga tersipu. Sangat menggemaskan.


"Lihat dari mana ... Dari hongkong?"


"Kau fikir aku tidak bisa melihatmu dari hongkong?" Jujur Biru tidak tahu perihal candaan anak anak indonesia sebab di luar negeri tidak ada yang seperti itu.


"Heh ...?"


"Kau ingin pergi ke hongkong?" Tanya Biru yang sama sekali tidak mengerti kata kata candaan Dara.


"Ih susah ... mana bisa kamu ngerti! Udah ah sana ... kamu gak lihat ada papa di belakang?" Dara menyikutnya tepat di dada.


Biru mengaduh, namun semakin menekannya dari belakang. "Asal kau tahu Dara, restu kedua orang tuamu sudah aku kantongi!"


"Benarkah?" Dara terbeliak sempurna dengan menoleh ke arah belakang. Kaget atas apa yang yang dia dengar barusan. "Kamu yakin?" katanya lagi untuk memastikan.


Biru mengangguk, mengecup pucuk rambut Dara dengan lembut. Dan wajah Dara kini tersipu sipu, merasa malu dan juga sulit dia katakan.


"Jadi kau ingin aku bawa dari sini kapan?"


"Heh?"


"Kita menikah Dara ... Menikah sungguhan dan aku akan menagih harga yang pantas darimu!"


"Bayar apa? Emangnya aku punya hutang padamu. Ah ... Kamu ini perhitungan karena banyak nolong aku ya?!"


Biru kembali mendekat tepat di telinga Dara. "Bukan iyu maksudku!"


"Terus apa maksudmu?"


"Semalam denganku belum kau bayar?"


"Biru!?" sentak Dara dengan suara tinggi.

__ADS_1


Membuat Baskoro dan Sophia yang sedang berbicara berdua itu tersentak akibat suara Dara yang keras.


"Ada apa Dara?"


Biru langsung mengurai kungkungannya, dia juga langsung terkekeh saat Sophia memapah Baskoro dan menghampiri keduanya.


"Ada apa Biru?"


"Gak ada apa kok Mam ... Biru tadi cuma bercanda!" sela Dara sebelum Biru mengangkat bicara, bisa dibayangkan semalu apa dirinya kalau kedua orang tuanya tahu se in tim apa pembicaraan mereka.


Biru menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia tersenyum pada Baskoro juga pada Sophia, dia juga menatap Dara yang kini mendelik ke arahnya.


"Berbaik hatilah pada Biru, Dara!" tukas Baskoro, "Biru calon menantu rumah ini! Iya kan Mam?"


"Heh...?"


Ternyata apa yang dikatakan Biru beneran, Papa benar benar menerimanya sekarang. Apa itu sebabnya Papa minta bicara berdua sama Biru tadi ya. Tapi aku gak tahu apa yang mereka katakan sampai fikiran papa terbuka sekarang. Batin Dara.


Setelah Baskoro dan Sophia berlalu dari hadapannya, Biru kembali menghampiri Dara yang masih kaget melihat perubahan Ayahnya juga Biru. Dia masih tidak percaya jika akhirnya papa merestui keduanya.


"Ingat apa yang dikatakan Dokter. Ibu hamil dilarang banyak fikiran. Apa yang sekarang ada di fikiranmu. Hm?"


"Gak ada ... Cuma aku masih gak percaya aja kalau aku akhirnya akan nikah sama kamu dan papa setuju! Ingat sebelumnya kalau Papa lebih suka Rian."


"Biru ... Kamu gak pernah serius kalau aku ngomong! Sebel deh!"


Biru tertawa melihat Dara yang merengus. "Aku juga serius Dara, aku ini tampan kan. Kau juga tahu itu!"


"Iya aku tahu, tapi bukan itu masalahnya. Masa Papa setuju hanya lihat wajah kamu aja!"


Biru semakin tergelak, sedetik kemudian dia menarik Dara dan merengkuh pinggangnya.


"Apapun alasannya jangan kau fikiran, kau cukup fikirkan tentang aku dan masa depan kita saja!"


"Biru!"


"Kenapa wajahmu memerah saat aku bicara. Apa kau semalu itu?"


"Iya iya lah aku malu ... Kau ini!"


Biru terkekeh, mengelus pipi Dara dengan lembut. "Aku tidak pernah menyangka bertemu gadis sepertimu dan menikahimu!"


Dara ikut melingkarkan tangan di pinggang Biru. "Aku juga gak pernah nyangka kalau kamu lah jawaban dari doa doa aku!'

__ADS_1


"Benarkah. Memangnya apa doa mu?"


"Itu rahasia!" Dara melepaskan diri dari Biru dan bergegas ke arah depan.


Biru mengejarnya dan menarik pergelangan tangannya seraya terkekeh. "Apa kau serius ... Apa doa mu adalah meminta pria tampan dan kaya?"


"Dan pria yang menerimaku apa adanya!" cicit Dara kemudian.


Biru tersenyum, menarik tubuh Dara dan memeluknya erat. Begitu pun dengan Dara yang memeluknya kembali.


"Aku menerimamu setulus hati begitu pula dengan anak ini," cicit Biru dengan mengelus perut Dara.


"Makasih Biru!"


Biru mengangguk, dan perlahan menyambar bibir Dara yang tipis dan sedikit basah. Mencecapnya dengan sangat lembut. Ciu man kali ini rasanya sedikit berbeda di rasakan keduanya. Hubungan yang semakin baik juga restu kedua orang tua Dara yang menjadi alasan utamanya, hingga ci uman itu dirasa cukup lama barulah mereka berhenti.


"Setelah urusan pekerjaanku selesai, aku ingin kita mengurus pernikahan secepatnya. Tidak perlu lagi pesta, hanya perlu mendaftarkan kembali pernikahan bukan?" tukas Biru dengan menggenggam kedua tangan Dara.


Dara mengangguk, "Aku setuju aja dengan mu, tapi gimana dengan orang tuamu? Apa mereka gak akan keberatan putra sulungnya menikah seperti itu?"


Biru tersenyum. "Mereka tidak akan peduli hal itu, asalkan aku mau dan aku setuju mereka udah pasti setuju."


"Enak banget punya orang tua kayak gitu! Bener bener support anaknya."


Biru merengkuh bahu Dara, dan memeluknya. " Karena mereka saja hanya menikah di kantor catatan sipil, tanpa tamu undangan dan tanpa persiapan apa apa!"


"Benarkah?"


Biru mengangguk, "Bahkan mereka menikah saat Mami pulang sekolah!"


"Hah? Kamu jangan ngada ngada! Masa iya pulang sekolah."


"Aku serius Dara ...! Mereka pasangan yang unik, padahal jarak umur keduanya sangat jauh sekali! Kau juga lihat secantik apa Mami aku?"


Dara mengangguk, "Kamu benar, Mami mu cantik dan awet muda banget!"


"Tentu saja ... Usianya bahkan masih sangat muda dibanding Daddy, dan mereka bahagia sampai sekarang. Usia memang bukan masalah kalau ada cinta bukan?"


Dara kembali mengangguk. "Kayak kamu yang gak peduli aku hamil anak orang lain!"


"Ya ... Walaupun aku bukan ayah anakmu, tapi anak ini gak berdosa sama sekali. Hanya saja dia hadir lebih cepat!" ujarnya terkekeh.


Begitu juga dengan Dara. "Kamu benar, selain lebih cepat dia juga tahu siapa yang lebih pantas jadi ayahnya. Buktinya aku gak pernah mual mual deket kamu! Beda saat aku bersama orang lain sekalipun orang yang mengaku ayah kandungnya!"

__ADS_1


"Maksudmu siapa orang lain?"


__ADS_2