Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.24(Beri Waktu)


__ADS_3

Nyatanya kesempatan itu memang digunakan Biru dengan baik, kehadiran dua orang tua Alex yang benar benar memberinya banyak keuntungan, tidak hanya Dara, tapi juga Baskoro yang belingsatan akan sikap Biru yang seenaknya pada sang putri, tatapan tajamnya bahkan rahang yang kian mengeras terlihat jelas. Dan Biru hanya bisa tersenyum puas.


Biru keluar dari ruangan mengikuti tuan dan nyonya Anderson.


"Biar aku yang mengantarkan mereka, papa mertua pasti capek bukan?" ujarnya dengan mencegah Baskoro untuk ikut.


Tuan Anderson mengangguk, menepuk nepuk pundak Biru dengan kuat. "Menantumu sangat bisa diandalkan Baskoro."


Baskoro hanya bisa mengangguk kecil dengan suara tertahan, delikan matanya tajam tertuju pada sosok pria tinggi disampingnya.


"Mari kita pulang sayang," cetus nyonya Anderson. "Dara ... Sampai jumpa!" ujarnya lagi pada Dara yang berada disamping kiri Baskoro.


"Sampai jumpa Tante ... Om!"


Keduanya pun akhirnya berjalan ke arah lift, dengan Biru yang berada di belakang mereka. Dan nyonya Anderson menoleh ke arahnya saat mereka menunggu pintu lift terbuka.


"Apa yang kau rencanakan Nak? Sampai melibatkan kami ini? Bagaimana kalau ayahmu sampai tahu? Urusannya akan sangat panjang."


Biru terkekeh, dengan ujung mata meliril Baskoro dari kejauhan. "Tante tenang saja, masalah ini akan selesai sebelum Daddy tahu, dan aku berharap kalian membantuku sampai akhir."


Ting


Pintu lift terbuka, bertepatan dengan suara decakan dari tuan Anderson, "Semua orang di rumah kami sudah terlibat, pertama dua orang pekerja yang dipaksa seolah olah kedua orang tuamu dan sekarang kami. Lalu apa masih kurang kami membantumu? Dasar bandel ...!"


Kekehan Biru semakin terdengar keras, saat keduanya masuk ke dalam lift. Sementara Biru hanya berdiri di depannya saja. Pria itu tidak ikut masuk, setelah tahu Baskoro dan Dara sudah masuk ke dalam ruangannya.


"Om dan Tante tenang saja, aku akan selesaikan dengan cepat! Dan aku pastikan kalian dapat promosi besar besaran. Terima kasih sudah membantu." ujarnya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya saat pintu lift bergerak dan tertutup.


Tidak lama kemudian Biru kembali ke ruangan Baskoro, namun baru saja hendak masuk dia sudah disuguhi pukulan tepat di wajahnya.


Bugh!


"Jangan main main denganku Biru!"

__ADS_1


"Pap?" Dara yang tersentak kaget dan tidak menyangka ayahnya langsung memukul Biru tanpa aba aba, dia langsung menarik tangan sang ayah namun terlambat, Baskoro menghentakkan tangannya tanpa sadar dan membuat Dara terjatuh.


Biru yang melihat hal itu bergegas langsung membantunya untuk bangun, terlihat Baskoro pun ikut kaget melihatnya.


"Dara ... Kau tidak apa apa?"


Dara menggelengkan kepalanya, dia meraih tangan Biru namun lagi lagi Baskoro berulah. Pria paruh baya itu langsung menepiskan tangan Biru.


"Enyah kau! Baskoro tidak membiarkan Biru menyentuh Dara sedikitpun, bahkan hanya untuk membantunya saja. "Jangan harap aku bisa menerima perlakuanku hari ini! Ayo Dara, ikut Papa!" ucapnya dengan kesal.


Biru masih tersenyum, dengan sedikit luka di pipi atas. Dia menyusutnya dengan ibu jari dan menatap Baskoro.


"Tenang saja, aku hanya berakting di depan nyonya dan Tuan Anderson. Dan itu aku lakukan agar semua urusan Papa mertua selesai. Dan aku lihat Dara pun tidak keberatan dan dia menikmatinya. Bukan begitu Dara?"


"Kurang ajar! Jaga mulutmu itu ya!" Ucap Baskoro dengan wajah semakin kesal saja.


"Pap ... Udah Pap!" Dara masih berusaha mencegah Baskoro lebih marah lagi pada Biru.


"Kenapa? Kenapa Papa Mertua marah pada orang yang jelas jelas menantumu sendiri sementara bersikap baik pada pria yang sudah menodai dan tidak bertanggung jawab?" tukas Biru menohok.


Biru berseringai tajam, "Apa karena aku tidak memiliki harta sepertinya? Atau aku bukan dari orang kaya dan pewaris keluarga?"


Baskoro berdecih, "Kau jelas sudah sudah tahu! Dan aku pun tidak yakin jika proyek ini akan berhasil ditanganmu!"


Biru tertawa, membuat Dara takut karena tawanya sama persis saat dia di bawa ke satu kamar hotel dan diancamnya habis habisan.


"Pap ... Udah lah, ini udah seberapa kalinya kita bahas dan jadi masalah terus! Kita udah sepakat untuknya hanya satu tahun saja, dan proyek ini juga bisa Papa awasi langsung bukan?" Dara masih terus berusaha meyakinkan Baskoro karena memang tidak ada cara lain selain menjalankan kontrak satu tahunnya.


"Dan kamu! berhenti bikin masalah dan cukup diam saja, semuanya bisa semakin kacau kalau kamu banyak bicara!" ujar Dara dengan telunjuk yang mengarah pada Biru.


Bukan Biru namanya jika takut pada ancaman orang lain, dia tidak akan gentar apalagi menyerah sampai mendapatkan apa yang dia mau.


"Beri aku waktu sampai proyek ini berakhir, dan jika proyek ini berhasil ... Maka aku akan minta imbalan!" ucap Biru dengan kedua alis turun naik.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu Biru kemudian beranjak keluar dari ruangan Baskoro, membuat pria paruh baya itu menatapnya dengan dengusan kasar. Sementara Dara bisa bernafas lega.


"Jangan dengar kan dia Dara! Dia hanya pintar membual dan membalikkan ancaman, mana bisa dia menangani proyek sebesar ini tanpa memiliki kekuasaan." Terang Baskoro.


Dara mengangguk lirih dengan menatap daun pintu yang kini tertutup rapat, namun dihatinya ada kekaguman sendiri karena sikap Biru yang gentle. Dia tidak takit bahkan saat berhadapan dengan ayahnya.


Setelah berhasil menenangkan sang ayah, Dara keluar dari ruangan ayahnya dan mencari keberadaan Biru. Dia mencarinya dihampir ruangan divisi divisi namun tidak menemukannya.


Sampai Dara tiba di area taman kecil yang berada di lantai 7 kantor milik sang ayah, taman yang kerap di pakai istirahat atau sekedar duduk duduk dan mengobrol saja.


Dan Dara terbeliak saat melihat Biru sedang menyulut sebatang roko yang dia sempilkan di sela jarinya.


"Kamu ngerokok?" tukasnya tanpa basa basi.


Membuat Biru tersentak kaget namun tidak menghentikan kegiatannya.


"Kau bisa lihat dengan dua mata mu yang besar itu kan?"


"Aku gak suka ya kamu ngerokok deket deket aku!"


Biru menautkan kedua alisnya, "Ya terus ... Bukankah kau yang datang kemari dan menggangguku?"


"Maksudku ... Matikan gak!"


"Tidak! Memangnya siapa kau berani berani melarangku?" tukas Biru menohok. Memutar mutar batang tembakau di jarinya tanpa dia cecap.


"Rokok itu berbahaya! Memghancurkan masa depan ... Kamu ingin mati muda ya?" kata Dara dengan kesal.


Dan Biru memicingkan kedua mata hitamnya sampai terlihat segaris dengan senyum yang tipis.


"Jadi kamu takut kehilangan aku?"


Dara mengerjap ngerjapkan kedua matanya lalu dengan cepat merebut rokok di tangannya dan menginjaknya sampai hancur.

__ADS_1


"Jangan salah faham ya. Aku gak takut kehilanganmu sama sekali. Jangan ngaco dan jangan so!"


"Lantas kenapa kamu marah? Ganti rokok ku, asal kamu tahu kalau itu rokok sangat mahal!"


__ADS_2